Cinta Seorang Mantan TKW

Cinta Seorang Mantan TKW
Jangan Goyah


__ADS_3

"Apa luka itu belum juga sembuh?". Tanya Firman


Degg..degg...!


"Apa...?". Jawabku, sambil meremas remas samping celanaku karena aku tidak tau apa yang harus aku jawab.


Firman tidak mengulang pertanyaannya lagi, dia terus memandangku tubuhnya yang saat itu hanya berjarak 15 cm dariku, sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas betapa ia sekarang menjadi laki-laki yang gagah dan tampan juga berkarisma, aku memundur satu langkah dari hadapanya agar dia tidak mendengar detang jantungku yang sedari tadi berdetak sangat kencang.


"Duduklah..!". Kata Firman, ia berjalan menuju sofa yang ada di samping meja.


"Tapi pak, saya masih banyak pekerjaan". Ucapku yang saat itu ingin rasanya cepat keluar dari ruangan.


"Apa kamu tau kalau aku tidak suka pengulangan..?". Kata Firman dengan nada tegasnya.


"Baiklah..!". Jawabku dengan nada terpaksa.


"Apa kamu sudah sarapan?"


"Sudah pak". Jawabku dengan cepat


"Aku belum..!". Kata Firman


"Lantas..?". Jawabku lagi dengan sedikit menegakkan kepalaku dan menatapnya.


"Tok...tok...tok...!!"


"Pak ini sarapan yang tadi bapak minta". Kata mbak Susi yang tiba-tiba saja membuka pintu dan membawa nampan yang berisi nasi goreng dan secangkir teh.

__ADS_1


Saat itu juga mbak Susi langsung melirik ke arah ku, Susi nampak heran dengan lirikan sinis matanya yang tertuju ke arahku mungkin dia penasaran atau juga mungkin sedikit kecewa karena bukan dia yang ada di posisiku saat itu.


"Kalau begitu saya permisi pak!". Aku beranjak dari duduku karena aku tidak mau Susi salah faham, namun saat mau melangkah tiba-tiba Firman memegang pergelangan tangan kananku dan menahanya.


"Mau kemana kamu?, aku bilang duduk ya duduk, kamu nggak boleh keluar dari ruangan ini tanpa seizinku!!!". Ucap Firman, dia menarik tanganku kembali otomatis aku langsung terduduk di hadapanya lagi.


Aku kembali melirik ke arah Susi, kulihat dia semakin membulatkan matanya dan sekarang dia juga menaikan kedua alisnya, mungkin dia tidak percaya atas apa yang dia lihat saat itu.


Beberapa menit kemudian sarapanya sudah habis, lalu dia meminum tehnya.


Aku terbangun dari duduku berniat membereskan nampan bekas sarapanya, namun,


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?". Ucap Firman


"Maaf pak, saya tidak mengerti dengan pertanyaan bapak, saya permisi mau bereskan ini dulu". Sebelum mendengar kata-kata yang akan di ucapkan olehnya aku bergegas keluar dari ruangan Firman, kulihat dia hanya menghela nafas dan sesekali mengusap wajahnya.


"Tiinngg...!". Pintu lift terbuka


Aku berjalan menuju gudang dengan santai namun entah kenapa sepertinya semua orang sedang memandang ke arahku.


"Ahh.., mungkin hanya perasaanku saja". Pikirku dengan terus berjalan.


Setelah beberapa kali aku menelpon tidak ada jawaban dari adiku, aku lihat jam tanganku pukul 9 pagi.


"Ohh.., iya dia mungkin masih di sekolah". Gumamku


Lalu aku hanya terduduk diam dengan menyenderkan pungguku ke kursi belakang. Terlintas bayangan saat berada di ruangan Firman, melihat Firman sekarang memang berbeda jauh dari Firman yang dulu pantas saja banyak para karyawan wanita yang mengidam-idamkannya.

__ADS_1


"Ahhh, ya ampun!, kenapa aku malah jadi memikirkanya?, uuhhhh..., nggak boleh ini nggak boleh!". Pikirku dengan terus mengusap-ngusap wajahku lalu memukul-mukul kepalaku sendiri aku harus berusaha agar hatiku tidak goyah.


"Aku tidak mau semua terulang lagi dia hanya masa lalu buatku dan sekarang dia hanya seorang direktur yaitu bossku". Dengan menepu-nepuk dadaku sendiri mencoba meyakinkan hati ini supaya tetap kuat.


Jam sudah menunjukan pukul 5 sore saatnya untuk pulang, seperti biasa sebelum pulang aku membereskan semua pekerjaan yang tersisa lalu bersiap untuk pulang. Tidak ada lagi orang yang menyuruhku menunggu karena itu aku segera turun kebawah berharap bertemu Nia dan bisa pulang bareng lagi.


Harapanku ternyata tidak sia-sia kulihat Nia berjalan santai menuju pintu luar,


"Nia...!!!". Panggilku dengan melambaikan tangan.


Niapun menyambutnya dengan senyum serta melambaikan tanganya juga.


"Kamu sudah selesai bekerja". Tanya Nia


"Hmm...", dengan menganggukan kepala


Kamipun berjalan dengan bergandengan tangan menuju pintu keluar.


Namun tiba-tiba saja seseorang memberhentikan langkah kami dengan menarik pergelangan tangan kiriku, sontak saja aku dan Nia berhenti lalu menoleh kebelakang karena rasa ingin tahu siapa yang melakukanya.


Aku dan Nia sama-sama terkejut begitu tau siapa orang yang memberhentikan kami.


"Pak Firman..!". Ucap Nia dengan nada kaget sedangkan aku hanya terdiam dan berusaha melepaskan tangan Firman dari tanganku.


Nia yang melihat tangan Firman memegang tanganku seakan tidak percaya, lalu dia melihat ke arah wajahku dia memiringkan wajahnya serta membulatkan matanya seakan-akan perlu penjelasan dengan kejadian yang dilihatnya saat itu.


Tidak hanya Nia, semua orang yang ada di sana juga berekspresi wajah yang sama denganya,mereka berbisik-bisik entah apa yang mereka katakan ada juga yang melihat kami dengan sinis terlihat dari wajah mereka yang penasaran atas apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2