
Firman memegang tanganku dengan erat sedangkan Nia dia memolototiku dengan sinis aku yakin dia ingin penjelasan dariku, di tambah lagi semua orang yang dari tadi melihat kami seperti ada pertunjukan sircus
"Hhmm, maaf pak ada yang bisa saya bantu?, tapi tolong lepasin dulu tangan saya!!". Aku berusaha melepaskan tanyanya namun kini malah ia semakin erat memegangnya.
Firman lalu melihat ke arah id card milik Nia
"Nia, apa itu namamu?". Tanya Firman memastikan nama orang yang sedang aku gandeng tanganya dengan tangan kananku.
"I..iya pak, ada apa ya?". Nia menjawab dengan keadaan bingung.
"Boleh saya bawa Vida keluar sebentar?". Pinta Firman
"A..apa?!, i..iya silahkan pak". Ucap Nia yang dari tadi sangat kebingingan.
Lalu aku ditarik dan sedikit di paksa untuk berjalan bersama Firman menuju keluar, Firman membukakan pintu mobil dan menyuruhku untuk masuk. Kali ini tanpa bantahan atau penolakan dariku karena aku ingin cepat-cepat pergi dari sini agar tidak jadi tontonan orang terus, meski aku tau kalau nanti bakal ada gosip tentangku.
Di dalam mobil aku dan Firman hanya terdiam tanpa ada yang bersuara, Firman hanya fokus menyetir yang saat itu sedang macet karena jam pulang kerja, sedangkan aku hanya melihat ke samping jendela.
"Saya mau di bawa kemana ya pak?". tanyaku yang penasaran karena setelah beberapa menit di dalam mobil belum juga sampai ke tujuan.
"Apa kamu bisa berhenti memanggilku dengan sebutan pak?". Tanya Firman.
"Bapak adalah boss saya, jadi saya harus menghormati bapak sama seperti karyawan bapak yang lainya". Ucapku dengan sesekali melihat ke arah Firman.
__ADS_1
"Oke, terserah kamu!!!". Firman menghela nafas dalam-dalam lalu menginjak gas mobil agar melaju sedikit lebih cepat karena jalanan sudah mulai lancar. Entah kenapa saat aku melirik ke arahnya ada sedikit rasa kemarahan dari wajah Firman.
Setela beberapa menit berlalu akhirnya sampailah kami di sebuah caffe yang bertemakan santai karena saya lihat di situ ada kursi dan ada juga beberapa sofa. Firman berjalan terlebih dahulu menuju sofa dan aku mengikutinya dari belakang lalu duduk di hadapanya.
"Kamu mau makan apa?". Tanya Firman
"Ahh, tidak usah pak, saya nggak lapar". Jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa?, aku tau kamu belum makan karena kita baru pulang dari kantor". Ucap Firman
"Nggak usah pak, saya makan di rumah aja". Kataku yang masih saja menolak ajakanya.
Firman lalu terdiam dia tidak berkata apa-apa lagi, lalu dia menatapku kali ini dari tatapanya ada rasa kekesalan di wajahnya.
"Saya memang tidak mengenali bapak, tapi yang saya tau bapak adalah seorang direktur di tempat saya bekerja". Ucapku kepalaku menunduk agar tidak melihat tatapan Firman
"Dengan kamu bersikap seperti ini, aku yakin kalau luka itu belum juga sembuh". Lirih Firman
"Luka itu sudah sembuh pak, meskipun aku tidak bisa menghilangkan bekas lukanya tapi setidaknya saya sudah mencoba untuk menghapusnya meski saya tau kalau bekas luka itu tidak akan pernah hilang". Jawabku dengan terus menunduk lalu tanpa disadari mata ini sudah berkaca-kaca aku berusaha untuk tegar karena aku tidak mau memperlihatkanya pada Firman.
"Jadi, kamu belum bisa melupakan semuanya?". Lirih Firman dengan rasa penyesalanya.
Aku tidak menjawab pertanyaan Firman kali ini, aku hanya terus menunduk meskipun aku sudah berusaha tapi tetap saja aku tidak bisa menahan air mataku untuk jatuh, karena itulah dengan cepat aku mengusapnya dengan tanganku, aku sudah nggak sanggup lagi kalau terus berhadapan dengan Firman, bisa-bisa air mataku akan terus mengalir dengan deras.
__ADS_1
"Maaf pak, saya permisi!!!". Aku berlari keluar dari dalam caffe lalu Firman mengejarku dengan cepat dia berhasil menahanku dengan menarik tanganku kembali namun kali ini
"Brruukk...!"
Aku masuk ke dalam pelukanya, Firman memeluku dengan sangat erat sehingga aku tidak bisa berontak, lalu aku pasrah dan terdiam kepalaku yang berada tepat di dada Firman sehingga aku bisa mendengar detak jantungnya.
Namun entah kenapa saat itu juga aku malah menangis sejadi jadinya bahkan mungkin baju yang di pakai Firman saat itu basah terkena air mataku. Apa aku menagis karena luka itu belum sembuh atau aku menangis karena aku terlalu merindukanya.
"Hiks..hiks..hiks..!"
"Mengapa aku belum bisa melupakanya meski sudah 10 tahun lamanya?, dan mengapa hatiku masih terluka jika aku berada di dekatnya?, tapi mengpa aku juga masih selalu mengharapkanya?, mungkinkah aku masih ...?". Lirih batinku.
"****Maafkan aku yonk**...". Bisikan Firman
...?!
*As..
Sebelumnya aku ucapin makasih buat yang udah baca trs dukung aku ya, like dan comennya biar outhor lebih semangat lagi nulisnya๐๐
Jangan lupa votenya ya..๐๐
Ws***..
__ADS_1