
~Sebagai tanda perpisahan. Ini saya ada sesuatu buat kamu.~
.
.
.
Shasya melangkahkan kakinya terburu-buru karena dia sudah ditunggu oleh Dosennya. Entah ada apa, Dosen pembimbingnya tiba-tiba meminta Shasya untuk menemuinya dengan cepat di Kampus. Untung saja, jarak antara Kampus dengan kostannya tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu 15 menit jalan kaki.
Sesampainya di Kampus, dia langsung menuju ruangan Dosennya. Sesampainya di depan ruangan Dosennya, Shasya langsung merapikan pakaian syar’inya, agar terlihat rapi dihadapan Dosennya. Karena Dosen Shasya tidak suka jika melihat orang yang dibimbingnya berpenampilan berantakan.
“Assalammualaikum, Pak.” Ucap Shasya yang memasuki ruangan Dosennya.
“Wa’alaikumussalam, silahkan duduk.” Ucap Yusuf, Dosen pembimbing Shasya.
“Maaf, Pak. Ada apa? Bapak meminta saya untuk segera ke Kampus hari ini? Bukannya saya nggak ada kelas hari ini?” Ucap Shasya dengan sopan dan sedikit menundukkan pandangannya.
“Begini, Sha. Saya tidak akan menjadi Dosen pembimbing kamu lagi.” Ucap Yusuf dengan datar.
“Kenapa, Pak? Apa salah saya?” Tanya Shasya yang sekarang berani melihat Dosennya.
“Ini bukan salah kamu, saya dikirim ke luar negeri untuk mengajar disana.”
“Benarkah, Pak? Selamat iya, Pak.” Ucap Shasya sambil menyatukan kedua telapak tangannya untuk memberi selamat kepada Dosennya tanpa bersentuhan.
“Iya. Makanya dari itu, hari ini adalah hari terakhir saya disini. Jadi, saya akan memberitahu kamu kalau besok akan ada Dosen baru yang akan membimbing Skripsi kamu.”
“Kalau boleh tau siapa, Pak?”
“Namanya Hadi, dia baru saya menyelesaikan studinya di Jerman. Dia Dosen baru disini. Besok dia sudah mulai mengajar.”
“Apa Bapak yakin, kalau dia bisa membimbing Skripsi saya? Bukannya dia adalah Dosen baru disini?”
“Saya yakin sama Dia, karena saya sudah pernah bertemu dengan dia sebelumnya.”
“Baiklah, Pak. Kalau Bapak bilang seperti itu.”
“Oh iya, sebagai tanda perpisahan. Ini saya ada sesuatu buat kamu.” Ucap Yusuf sambil mengambil sebuah kotak berwarna merah dari dalam tasnya dan dia berikan kepada Shasya.
“Apa ini, Pak?” Ucap Shasya sambil menerima sebuah kotak dari Dosennya.
“Hanya hadiah perpisahan dari saya.”
“Jadi merepotkan, Bapak.”
“Nggak repot sama sekali.”
“Saya ingin minta maaf, Pak. Kalau selama Bapak membimbing saya, saya buat Bapak kesal atau marah dengan perilaku saya. Terimakasih banyak Pak, atas bimbingannya.” Ucap Shasya dengan sedikit menundukkan kepalanya.
“Iya, sama-sama. Maaf, saya harus pergi karena saya harus ke Bandara sekarang.” Ucap Yusuf sambil membereskan barang-barangnya dan melangkah pergi meninggalkan Shasya di ruangannya sendirian.
“Iya, Pak. Hati-hati.”
__ADS_1
Shasya pun melangkan kaki dengan lemas keluar dari Kampus untuk pulang kekostannya.
“Kenapa setelah gue bisa berinteraksi dengan Dosen laki-laki pembimbing gue, malah dia harus dipindahkan? Gue terlalu susah buat berkomunikasi dengan orang yang baru gue kenal apalagi seorang laki-laki. Gue aja hanya punya dua teman laki-laki yang mengerti dengan sikap gue.”
Shasya duduk di bangku Taman yang ada didekat kostannya. Shasya nampak termenung dengan apa yang dilihat disana. Shasya melihat seorang Ibu yang tengah bermain dengan anaknya di Taman.
“Tiba-tiba, gue kangen sama Ibu. Gimana iya keadaannya Ibu sama Bapak di kampung?” Ucap Shasya yang terharu melihat kedekatan seorang Ibu dan anaknya tadi.
Memang Shasya adalah gadis desa yang harus merantau ke kota untuk melanjutkan studinya. Shasya memang dari keluarga terpandang dan terkaya di desanya, tapi dia sangat tertutup dan Insya Allah Sholihah.
Setelah puas berada di Taman, akhirnya Shasya kembali kekostannya.
Sesampainya di kostan, ponsel Shasya berbunyi dan tertulis nama Khaira disana. Khaira adalah sahabat Shasya selama dia kuliah. Hanya dia yang mengerti Shasya selama ini.
Shasya mengangkat telfon dari sahabatnya.
“Assalammualaikum, Sha.” Ucap Khaira dari telpon.
“Wa’alaikumsalam, ada apa?” Tanya Shasya.
“Sha, gue nginep di kostan lo iya.”
“Dengan senang hati, gue tunggu.”
“Oke, gue kesana sekarang.”
Khairan langsung mematikan telponnya tanpa mengucapkan salam.
Khaira memang tidak seperti Shasya. Khairan lebih berpenampilan seperti muslimah kekinian yang modern dan sikapnya yang sedikit bar-bar, sedangkan Shasya lebih syar’i dalam berpenampilan. Shasya juga sedikit dingin dan cuek dengan laki-laki.
Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Khaira sampai di kostannya Shasya.
“Assalammualaikum.” Salam Khaira dari balik pintu.
“Wa’alaikummussalam.” Ucap Shasya sambil membuka pintu kostannya.
“Ya ampun, Sha.” Ucap Khaira yang langsung memeluk erat Shasya dan menumpahkan semua hal dia rasakan.
Shasya faham dengan Khaira, kalau dia ingin menginap di kostannya pasti ada masalah dengan orang tuanya.
Shasya hanya mengelus punggung Khaira untuk memberi ketenangan.
“Coba, lo cerita ke gue.” Ucap Shasya.
“Nggak gue ceritain ke lo, pasti lo udah tau kan.” Ucap Khaira sambil melepas pelukannya dan mengusap air mata yang ada dipipinya.
Memang benar, Shasya sudah tau. Dan seperti biasa, Shasya harus bisa membuat Khaira tersenyum dan melupakan sejenak masalah yang orang tuanya alami.
“Iya, udah. Lo jangan nangis, nanti cantiknya hilang loh.” Goda Shasya yang membuat khaira sedikit tersenyum.
“Oke, gue disini nggak mau sedih-sedih lagi. Sekarang gue mau bersenang-senang sama lo disini nonton film.” Ucap Khaira dengan kegirangan.
“Mau nonton film lokal?”
__ADS_1
“Boleh, soalnya gue suka yang lokal-lokal.”
“Oke, gue siapin semuanya sampai ke cemilannya juga.”
“Wah, lo tau aja sama apa yang gue pikirin.”
“Pastilah.”
Shasya menyiapkan cemilan untuk menemani mereka menonton film Korea, sedangkan Khaira melihat-lihat koleksi buku milik Shasya.
Mata Khaira terhenti pada sebuah kotak merah dengan ukuran sedang yang terselip di beberapa buku yang ada disana. Khaira yang sudah penasaran pun membuka kotak tersebut.
Khaira sedikit kaget dengan apa yang dia lihat, dengan tiba-tiba Shasya langsung merampas kotak yang dibuka oleh Khaira.
“Eh..”
“Lo ngapain buka-buka kotak gue?” Tanya Shasya.
“Gue penasaran aja dan gue juga baru lihat kotak itu dikostan lo. Kok isi dari kotak lo itu ada foto lo sama Pak Yusuf?” Tanya Khaira.
Sebuah kotak dari Yusuf memang berisi fotonya dan Yusuf yang diedit dengan sempurna agar terlihat seperti berdampingan. Tidak hanya itu, didalamnya juga ada sebuah buku, hijab dan sepucuk surat. Namun, Syasha sudah menyimpan semua itu di almarinya kecuali foto yang masih ada didalam kotak.
“Itu hanya foto yang Pak Yusuf edit, katanya sebagai hadiah terakhir darinya.” Ucap Shasya.
“Emangnya Pak Yusuf mau kemana?” Tanya Khaira.
“Dia dipindahkan ke luar negeri.”
“Apa? Yang benar lo?” Tanya Khaira yang kaget dengan apa yang ucapkan oleh Shasya.
“Iya, gue nggak bohong.”
“Yah, Dosen termuda dan terganteng di Kampus udah nggak ada. Pasti besok adalah hari tersedih Mahasiswi di Kampus termasuk gue. Karena Pak Yusuf udah dipindahkan.” Ucap Khaira dengan lesu dengan sedikit lebay.
“Lo ini lebay banget, biarlah Pak Yusuf dipindahkan disana. Mungkin dia ingin mencari pengalaman baru.”
“Iya, tapi kan..”
“Lo suka sama Pak Yusuf?” Tanya Shasya.
“Suka sih nggak, Cuma ngefans aja.”
“Oh, gitu. Kata Pak Yusuf, besok ada Dosen baru yang bakal gantiin dia.” Goda Shasya.
“Yang benar lo?” Tanya Khaira dengan berbinar-binar.
“Iya. Dia lulusan dari Jerman.” Ucap Shasya yang sedikit berlebihan seperti agedan sinetron.
“Wah, bakal ada idola baru nih.” Ucap Khaira sambil bertepuk tangan.
“Iya, terserah lo.”
“Oh, iya. Jadi, apa aja yang Pak Yusuf kasih buat lo?” Tanya Khaira.
__ADS_1