Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Tepat Waktu


__ADS_3

~Lo nggak salah, Sha. Emang guenya aja yang pengecut. Gue belum berani menemui orang tua lo. Gue merasa belum lantas buat bersanding sama lo.~


.


.


.


.


.


"HENTIKAN..."


Hasan langsung menarik tangannya yang sedari tadi berjabatan dengan Penghulu untuk mengucapkan ijab kabul.


"Alhamdulillah, Ya Allah." Batin Shasya.


Shasya langsung berdiri dan berlari memeluk sahabatnya itu. "Makasih, udah datang tepat waktu." Ucap Shasya sambil meneteskan air mata.


"Iya, Sha."


Hasan menatap lekat kepada seseorang yang berani menghentikan acara pernikahannya dengan Shasya. Tetapi, apa daya Hasan yang tidak bisa berbuat apa-apa. Karena didalam lubuk hatinya, tersimpan begitu besar rasa ketakutan kepada orang itu. Yang tidak lain adalah Kakeknya, Bondan Nughoro.


Iya, Kakek dan Namanya Hasan beserta Khaira, Kevin dan Bayu, datang tepat waktu untuk menghentikan pernikahan itu.


Kakek Bondan berjalan menghampiri Hasan yang masih duduk ditempat. "Berani-beraninya kamu menikah dengan Shasya. Masih kurang? Penderitaan yang selama ini Shasya alami karena kamu? Cucu macam apa kamu?" Bentak Kakek Bondan kepada Hasan.


Hasan tertunduk diam. Karena entah kenapa, saat berada didekat Kakeknya, dia tidak berani berbuat apa-apa.


"Selama kamu SMA, kamu selalu membuat Shasya tidak nyaman dan menderita berada di sekolah. Itu karena keegoisanmu untuk mendapatkan cintanya. Kamu itu bisa berpikir tidak? Udah 4 tahun kamu di penjara, masih aja nggak berubah. KAMU JANGAN MENURUNI SIKAP PAPA KAMU YANG TIDAK TAU ATURAN."


Hasan masih diam seribu bahasa. "SEKARANG, KAMU TINGGAL SAMA KAKEK. KAKEK AKAN MEMBUATMU MENJADI ORANG YANG BERGUNA DIMASA DEPAN." Ucap Kakek Bondan sambil menyeret Hasan keluar dari rumah itu.


"Nak Shasya, maafkan sikap anak Tante. Tante nggak tau kalau Hasan bakal berbuat senekad ini." Ucap Nyonya Gunvita, Mamanya Hasan.


"Nggak pa-pa, Tante. Yang terpenting, semuanya sudah aman terkendali." Ucap Shasya sambil tersenyum.


"Tante, ayo kita kembali ke Kota." Ajak Khaira.


"Nggak usah. Kalian berempat aja yang balik ke Kota. Tante ingin disini dulu sama Bibi Una."


"Baiklah, Tante. Kami permisi dulu." Ucap Shasya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


*********************


Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Kini Shasya dan Khaira sudah bersantai diatas ranjang kamar Khaira.

__ADS_1


"Sha, lo nggak kasih tau soal ini ke orang tua lo?" Tanya Khaira.


"Nggak usah, Khai. Gue juga nggak pa-pa kok. Lagian, Lusa kan hari kelulusan kita. Orang tua gue juga bakal kesini kan."


"Iya, Sha. Lusa adalah hari kelulusan kita." Khaira mendadak sedih saat membayangkan momen kelulusannya, tidak didampingi oleh kedua orang tuanya.


Shasya menatap Khaira yang terlihat sedih. "Khai. Lo jangan sedih. Masih ada gue, Kevin, Bayu dan orang tua gue juga bakal selalu ada buat lo. Anggap saja, orang tua gue sebagai orang tua lo. Mereka juga pasti senang, Khai. Kalau dapat anak perempuan yang cantik kayak lo." Shasya berusaha menggoda Khaira.


Khaira langsung memeluk Shasya. "Terimakasih, Sha. Lo emang sahabat terbaik gue."


"Iya, Khai. Lo juga sahabat terbaik gue."


.


Malam harinya, Shasya dan Khaira baru saja selesai memasak. Tiba-tiba pintu rumah Khaira ada yang mengetuk.


Ceklek.. Khaira membuka pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Khai." Salam Bayu dan Kevin.


"Wa'alaikumussalam. Kalian ngapain kesini?"


"Kita mau makan malam bareng sama kalian." Ucap Kevin.


"Tumben, ada apa nih? Kok kalian tiba-tiba pengin makan malam bareng gue sama Shasya?"


"Pengin aja, Khai. Nggak boleh apa?" Tanya Bayu.


"Oke, kita tunggu."


Khaira masuk kedalam untuk mengambil tikar dan mengajak Shasya ke Taman depan rumah.


Shasya dan Khaira menghidangkan semua masakan yang mereka masak tadi. Mereka berdua memang masak banyak, karena mereka pikir buat makan besok lagi. Tapi, karena ada Kevin dan Bayu, jadinya masakannya bakal habis nih.


"Nih, cobain masakan gue sama Shasya." Ucap Khaira.


"Palingan Shasya yang masak, lo cuma duduk-duduk doang." Cibir Kevin.


"Enak aja. Gue juga ikutan masak tau. Iya nggak, Sha?"


"Iya kok. Khaira ikutan masak juga." Ucap Shasya.


"Tuh dengar kan."


"Iya iya." Ucap Kevin.


"Eh Guys. Gue tadi gue bawa cemilan di mobil." Ucap Bayu sambil menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya sendiri.


"Kok lo nggak bilang?" Tanya Kevin.


"Kalau gue bilang dari tadi, pasti cemilannya udah habis kali. Lo pasti makan tuh semua cemilan."

__ADS_1


"Enak aja. Gue nggak serakus itu juga kali."


"Mungkin."


"Iya udah. Gue ambilin di mobil lo. Mana kuncinya?" Tanya Shasya.


"Nih." Batu melempar kunci mobilnya kearah Shasya. Dan langsung ditangkap olehnya. Shasya berjalan menuju mobil Bayu yang terparkir didepan garasi rumah Khaira.


Shasya membuka pintu mobil yang belakang. Dia melihat dua paperbag yang lumayan besar disana. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengambilnya. Saat Shasya mengambil dua paperbag tadi, mata Shasya menangkap sesuatu dibawah paperbag itu.


Awalnya Shasya tidak penasaran dengan selembar kertas itu. Tetapi, tiba-tiba saja tangannya tergerak untuk mengambilnya.


Dikertas itu, tertulis.


*Cinta memang selalu membuat gue bingung. Iyah, gue mencintainya. Bahkan dari gue kenal dia, gue udah jatuh cinta padanya.


Rasa cinta gue bukan berasal dari wajahnya, namun dari hati, sikap dan perbuatannya yang membuat gue kagum padanya.


Dia adalah wnaita yang sempurna bagi gue. Matanya yang selalu sulit untuk gue tatap, senyumnya yang selalu jarang terlihat, itulah yang membuat gue tertarik untuk mengenalnya.


Namun takdir memang mempermainkan gue. Gue berusaha untuk mendekatinya, namun gue hanya bisa dianggap sebagai sahabat, nggak lebih.


Dan di malam itu gue dengar sendiri yang mulutnya. Bahwa dia mencintai seseorang yang gue kenal. Hancur? Retak? Atau patah? Iya, hati gue merasakan semuanya dimalam itu.


Shasya Syafa'atun Nissa. Apakah aku tidak pantas untuk bersanding denganmu? Apakah aku ini tidak berhak memilikimu?


Dan untuk kedua kalinya. Gue merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan.


BAYU*.


"Bayu. Selama ini lo cinta sama gue? Kenapa gue nggak tau? Dan kenapa lo nggak pernah ngomong ke gue? Seandainya lo bilang lebih awal sebelum gue membuka hati untuk Kak Yusuf, pasti gue akan mempertimbangkan semuanya. Tapi maaf, Bay. Gue udah cinta sama Kak Yusuf. Walaupun gue nggak tau, jodoh gue nantinya siapa? Tapi untuk sekarang, aku sudah mencintai Kak Yusuf dalam diam." Gumam Shasya.


"Lo nggak perlu minta maaf, Sha." Ucap seseorang.


Shasya dengan refleks langsung membalikkan badannya. "Bayu." Shasya menatap sekilas kearah Bayu dan langsung menunduk.


"Lo nggak salah, Sha. Emang guenya aja yang pengecut. Gue belum berani menemui orang tua lo. Gue merasa belum lantas buat bersanding sama lo. Awalnya gue berencana untuk memperbaiki diri gue dulu. Tapi, karena lo udah cinta sama Pak Yusuf. Insya Allah gue ikhlas, Sha. Yang penting, lo bisa bahagia bersama Pak Yusuf."


"Makasih, Bay. Nantinya lo bakal menemukan seseorang yang lebih baik dari gue."


"Aamiin."


"Aamiin."


"Ayo, gue bantu bawa paperbag nya." Bayu mengambil dua paperbag ditangan Shasya.


"Yang satu, gue aja yang bawa." Shasya mencegah tangan Bayu yang akan mengambil satu paperbag yang tersisa ditangannya.


"Oke." Bayu melangkahkan kakinya duluan.


"Bayu." Panggil Shasya. Langkah Bayu langsung terhenti tapi dia tidak membalikkan badannya.

__ADS_1


"Gue harap. Lo bisa merahasiakan ucapan gue tadi." Ucap Shasya yang mendapat anggukan dari Bayu.


__ADS_2