
~Bukan aku yang merencanakan, tapi Allah Ta'ala yang menakdirkan.~
.
.
.
Dengan langkah sedikit berlari, Shasya berangkat ke Kampusnya jam 8 pagi.
"Astaghfirullah hal adzim, gue kok bisa telat iya." Ucap Shasya sambil terus berlari.
Sesampainya di Kampus, Shasya langsung pergi ke kelasnya.
Tok... Tok... Tok.. Shasya mengetuk pintu kelas yang sedikit terbuka.
"Assalamu'alaikum. Maaf Pak, saya telat." Ucap Shasya sambil menunduk.
"Wa'alaikumussalam, silahkan masuk." Ucap Dosen yang mengajar.
Shasya kenal jelas dengan suara Dosen yang mengajar itu. Shasya langsung melihat siapa yang mengajar, untuk memastikan tebakannya.
"Kak Yusuf? Eh maaf, maksudnya saya Pak Yusuf." Ucap Shasya dengan gugup. Sedangkan Yusuf hanya tersenyum melihat tingkah Shasya.
Shasya masuk ke kelasnya menghampiri Yusuf dengan menunduk.
"Kenapa telat?" Tanya Yusuf dengan tegas. Padahal dalam hatinya bahagia melihat tingkah Shasya tadi.
"Maaf, Pak. Saya ketiduran saat selesai Sholat Tahajjud." Ucap Shasya dengan jujur.
"Nanti selesai kelas, kamu ke ruangan saya. Saya akan memberi hukuman kepada kamu." Ucap Yusuf.
"Baik, Pak." Ucap Shasya yang masih menunduk.
"Kamu boleh duduk."
"Terimakasih, Pak." Ucap Shasya yang langsung berjalan mencari bangku kosong.
"Sha.." Panggil Khaira dengan menunjuk bangku kosong disebelahnya. Shasya hanya berjalan kearah Khaira.
"Lo kenapa bisa telat?" Tanya Khaira.
"Nanti gue kasih tau." Ucap Shasya.
"Oke."
Tidak terasa, jadwal kelasnya Shasya sudah selesai.
Shasya langsung berjalan menuju ruangannya Yusuf, karena jam sudah menunjukkan pukul 11:30.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, masuk." Ucap Yusuf.
Shasya memasuki ruangan Dosennya itu.
"Maaf, Pak. Apa hukuman saya?" Tanya Shasya dengan gugup.
"Hukuman kamu, silahkan kamu rangkum materi ini. Besok serahkan ke saya melalui email." Ucap Yusuf dengan memberikan 3 dokumen yang lumayan tebal.
"Baik, Pak. Saya permisi. Assalamu'alaikum." Ucap Shasya menerima dokumen itu, dan langsung meninggalkan ruangan Yusuf.
"Wa'alaikumussalam." Ucap Yusuf dengan tersenyum.
"Aku tidak akan membebani kamu, Sha. Aku hanya ingin bersikap adil." Batin Yusuf.
__ADS_1
Sesampainya di kostan. Shasya langsung membersihkan badannya, mengerjakan kewajibannya dan setelah itu, Shasya langsung mengerjakan apa yang Yusuf perintahkan kepadanya.
"Oh iya, gue belum sarapan tadi. Dan ini sudah jam 1 siang." Ucap Shasya.
"Lebih baik, gue ke Kafe sekarang. Sekalian makan dan lanjutin tugas ini." Lanjutnya.
Shasya langsung bersiap pergi ke Kafe dekat Kostannya.
Shasya memesan makanan dan duduk dibangku sendirian. Shasya mulai berkutik dengan laptopnya, sambil menunggu pesanannya.
Pesanan Shasya, tiba. Dia menyantap makanannya sambil melanjutkan tugasnya.
Tiba-tiba..
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab Shasya yang sudah mengetahui suara itu, yaitu Yusuf.
"Boleh aku duduk?" Tanya Yusuf.
"Silahkan." Ucap Shasya yang sedikit canggung dan menebar senyumannya.
"Gimana, hukumannya? Udah selesai?" Tanya Yusuf.
"Belum selesai, Pak. Eh maksud saya, Kak." Ucap Shasya dengan gugup. Sedangkan, Yusuf hanya tersenyum melihat tingkah Shasya.
"Kurang berapa dokumen?" Tanya Yusuf.
"Masih 2 dokumen lagi yang belum saya kerjakan." Ucap Shasya.
"Mau saya bantu?" Tanya Yusuf.
"Tidak usah, Kak. Insya Allah saya bisa sendiri." Ucap Shasya yang melanjutkan tugasnya dari Yusuf.
Pesanan Yusuf sudah datang, Yusuf menyantapnya sambil menatap Shasya yang makan sambil mengerjakan tugasnya.
10 menit berlalu, tidak ada obrolan sama sekali.
"Sha." Ucap Yusuf.
"Ada apa, Kak?" Tanya Shasya yang masih fokus menghadap ke Laptopnya, bukan ke arah Yusuf.
"Maaf."
Shasya langsung menghentikan aktivitasnya,
"Maaf kenapa, Kak?" Tanya Shasya.
"Maaf, karena aku kasih kamu hukuman begitu banyak. Sampai makan aja sambil ngerjain tugas." Ucap Yusuf sambil menatap Shasya.
Shasya terdiam sesaat, dengan menatap Yusuf sekejap. Shasya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Laptopnya.
"Nggak pa-pa, Kak. Kakak nggak salah kok, ini salah saya. Karena saya telat pergi ke Kampus." Ucap Shasya.
"Tapi aku merasa bersalah." Ucap Yusuf.
"Kak Yusuf nggak salah sama sekali. Ini kan, udah jadi tugasnya Kak Yusuf untuk menjadi Dosen di Kampus." Ucap Shasya.
"Kalau kamu yang pengen aku merasa bersalah, aku ingin bantu kamu." Ucap Yusuf dengan berusaha mengambil Laptopnya Shasya.
"Eh nggak usah, Kak." Ucap Shasya sambil mencegahnya. Namun, tidka sengaja tangan Shasya malah memegang tangan Yusuf.
Dengan cepat, Shasya langsung menarik tangannya.
"Astaghfirullah hal adzim. Maaf, Kak." Ucap Shasya.
__ADS_1
"Nggak pa-pa." Ucap Yusuf sambil tersenyum.
"Biar saya aja, Kak. Yang ngerjain tugasnya." Ucap Shasya.
"Udah biar aku aja. Nanti kamu yang bilang ke aku dan aku tinggal ketik di Laptop kamu. Biar cepat selesai." Ucap Yusuf yang langsung membuat senyuman terpancar diwajah Shasya.
********************
Di kostan, Shasya masih fokus dengan Laptopnya. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 23.00.
Shasya telah mengirim tugas yang diberikan oleh Yusuf kepadanya. Sekarang, Shasya sednag mengerjakan tugas yang lainnya. Yang harus dikumpulkan besok.
35 menit kemudian.
"Alhamdulillah, akhirnya udah selesai juga." Ucap Shasya.
Shasya langsung menutup Laptopnya, dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu, Shasya melakukan Sholat Witir 3 Rakaat sebelum tidur.
Setelah selesai, Shasya langsung merebahkan tubahnya ke kasur dan memejamkan matanya untuk tidur.
Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Astaghfirullah, siapa yang telpon jam segini?" Tanya Shasya kepada dirinya sendiri sambil meraih ponselnya yang ada dimeja disampingnya kasur Shasya.
"Assalamu'alaikum, ini siapa?" Tanya Shasya, dia tidak melihat siapa yang menelpon, karena matanya susah untuk terbuka.
"Wa'alaikumussalam, Sha. Lo nggak simpan nomor gue?" Tanya orang yang menelpon Shasya.
"Maaf, tadi gue nggak lihat namanya. Mata gue baru aja merem dan lo malah telpon gue. Ada apa? Gue ngantuk, Khai." Ucap Shasya. Iya, yang menelpon Shasya ditengah malam adalah Khaira.
"Maaf, gue ganggu lo. Soalnya, ada hal penting yang mau gue omongin." Ucap Khaira dengan panik.
"Ada apa, Khai?" Tanya Shasya yang langsung bangun dari kasurnya, dan matanya terbuka lebar mendengar kepanikan Khaira.
"Tolong gue, Sha. Tolong." Ucap Khaira.
"Lo kenapa? lo baik-baik aja kan?" Tanya Shasya dengan panik.
"Tolong, Sha. Gue harus gimana ini. Gue sendirian di depan Kampus. Mobil gue dicuri, Sha." Ucap Khaira dengan menangis.
"Kok bisa? Lo ngapain di Kampus jam segini?" Tanya Shasya.
"Tadi gue ada janji sama Dosen jam 8 malam di Kampus. Selesainya jam 11 tadi. Tapi gue....." Ucap Khaira yang belum selesai.
"Halo, Khai. Khai, Khaira. Halo." Ucap Shasya dengan panik. Karena telpon dari Khaira tiba-tiba terputus.
Tanpa berpikir panjang, Shasya langsung bersiap-siap menuju Kampus.
Shasya berlari menuju Kampus.
Sesampainya di depna gerbang Kampus, Shasya lamgsung mencari Khaira.
"Khai, Khaira. lo dimana?" Ucap Shasya sambil terus berteriak dan mencari Khaira.
"KHAIRA.." Teriak Shasya dengan meneteskan air mata. Entah kenapa, Shasya tidak ingin terjadi apa-apa kepada sahabatnya itu.
"KHAIRA, LO DIMANA?" Teriak Shasya hingga Shasya terduduk didepan gerbang Kampus. Shasya menunduk sambil menangis.
"Gue nggak guna sebagai sahabatnya Khaira. Ya Allah, semoga Khaira nggak kenapa-kenapa." Ucap Shasya yang menangis sambil memeluk kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya.
"Khaira, lo dimana?" Rintih Shasya.
Shasya hanya terus menangis dengan suasana sepi yang menyelimutinya. Di dalam Kampus tidak terdengar apa-apa. Malam yang semakin dingin. Tanpa ada kendaraan lewat disana. Karena jalan depan Kampusnya Shasya, bukan jalan utama atau jalan raya.
"Khai, lo dimana?" Rintih Shasya yang masih dalam posisi yang sama.
__ADS_1