Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Siapa yang Kecelakaan?


__ADS_3

~Andai saja aku bisa memilikimu, pasti aku akan menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia. Karena aku memiliki gadis Sholehah seperti kamu. Semoga aja, aku bisa memilikimu..~


.


.


.


.


.


"Owh iya, Astaghfirullah hal adzim. Gue lupa." Ucap Shasya.


"Kenapa?" Tanya Khaira.


"Maaf Khai, gue ada janji sama Pak Hadi. Nggak pa-pa kan?" Tanya Shasya.


"Ciieeeeeeee, mau dinner sama Pak Hadi iya?" Goda Khaira.


"Apaan sih, Khai. Nggak kok, cuma makan malam aja." Ucap Shasya dengan malu.


"Sama aja kali. Iya udah, lo siap-siap gih."


"Bentar gue telpon Pak Hadi dulu." Ucap Shasya yang berlari menuju kamar Khaira untuk mengambil ponselnya.


Shasya langsung menelpon Hadi.


Call On.


"Assalamu'alaikum, Pak." Salam Shasya.


"Wa'alaikumussalam. Saya ini udah mau jalan ke kostan kamu." Ucap Hadi.


"Maaf, Pak. Saya sekarang ada di rumahnya Khaira. Mendingan kita ketemu langsung di Restorannya aja."


"Iya udah kalau gitu, nggak pa-pa. Saya jemput kamu aja, nggak baik kalau kamu pergi sendirian. Dan iya, kamu tenang aja kita nggak berdua kok."


"Pak Hadi ajak siapa?"


"Saya ajak keponakan saya, kamu tenang aja. Kamu tinggal share lokasi rumahnya Khaira."


"Baik, Pak. Maaf merepotkan."


"Nggak sama sekali kok."


"Iya sudah, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Call Off.


Setelah beberapa menit, Khaira masuk ke kamarnya. Dia melihat Shasya yang sudah berdandan rapi didepan cerminnya.


"Masya Allah, cantik banget. Gue aja sampai terpesona melihat kecantikan lo, Sha." Ucap Khaira.


"Makasih, tapi nggak usah se-lebay gitu juga kali. Gue cuma pakai make up tipis aja, biar nggak kelihatan pucat."


"Have fun iya. Kalau ada kabar baik, jangan lupa traktirannya." Goda Khaira.


"Apaan sih, Khai. Lo nggak jelas banget. Ini kan cuma makan malam biasa."


"Siapa tau, tiba-tiba Pak Hadi ngelamar lo."


"Ish nggak mungkin." Ucap Shasya yang tertunduk malu.


"Ciieeeeeeee, malu nih." Goda Khaira sambil mencolek dagu Shasya.


Tiba-tiba ponsel Khaira bergetar.

__ADS_1


Drrtttt... Drrtttt... Drrtttt...


Khaira langsung mengangkat telpon dari seseorang.


Call On.


"Halo, selamat malam." Ucap seseorang diseberang sana.


"Iya, malam."


"Apa benar nomer ini atas nama Khaira, anak dari Bapak Jefandio dan Ibu Vivian?"


"Iya benar."


"Kami hanya memberitahukan bahwa sekarang, orang tua anda sedang kritis akibat kecelakaan beruntun."


"APA? KECELAKAAN?" Tiba-tiba Khaira pingsan seketika. Sedangkan Shasya panik melihat Khaira yang tiba-tiba pingsan.


Shasya mengambil ponsel Khaira, yang masih terhubung dengan pihak Rumah Sakit.


"Halo, siapa yang kecelakaan?" Tanya Shasya dengan panik.


"Orang tua dari Khaira."


Deg..


Tubuh Shasya lemas seketika.


"Sekarang, mereka ada di Rumah Sakit mana?" Tanya Shasya.


"Rumah Sakit Pelita Indah."


"Oke, terimakasih infonya." Ucap Shasya yang langsung mematikan telponnya secara sepihak. Karena dia benar-benar gugup dan khawatir dengan orang tua Khaira dan Khaira yang pingsan sekarang.


Call Off.


Shasya langsung mencari minyak kayu putih untuk dioleskan dibawah hidung dan pelipis Khaira.


"Khai, lo udah bangun?"


"Shasya, Mama Papa gue." Ucap Khaira yang langsung memeluk Shasya dengan air mata yang terus menetes.


"Sabar, Khai. Mendingan kita ke Rumah Sakit sekarang." Ucap Shasya sambil melepas pelukan Khaira. Khaira hanya mengangguk kecil. Dia berjalan dibantu oleh Shasya.


Shasya memapah Khaira sampai di depan rumah, terlihat sebuah mobil terparkir disana.


"Pak Hadi." Ucap Shasya melihat Hadi sedang bersender disamping mobilnya sambil menggendong anak perempuan berhijab yang usianya sekitar 3 tahun. Terlihat sangat cantik.


Shasya membawa Khaira menuju mobilnya Hadi.


"Assalamu'alaikum, Pak."


"Wa'alaikumussalam. Loh, Khaira kenapa?" Tanya Hadi yang melihat Khaira sangat lemas.


"Maaf, Pak. Sekali lagi saya minta maaf, saya harus menemani Khaira ke Rumah Sakit. Soalnya, orang tua Khaira kecelakaan." Ucap Shasya dengan hati-hati.


"Iya udah, saya antar aja ke Rumah Sakit."


"Nggak usah, Pak. Saya takut merepotkan. Saya juga bisa menyetir sendiri."


"Nggak, Sha. Ini udah malam. Saya antar aja."


"Iya sudah, Pak."


Shasya dan Khaira masuk ke mobil Hadi. Sedangkan keponakan Hadi, entah kenapa ingin bersama Shasya. Alhasil, Hadi didepan sendiri seperti supir.


30 menit berlalu.


Sesampainya di Rumah Sakit, Khaira langsung berlari meninggalkan Shasya, Hadi dan Keponakan Hadi.

__ADS_1


Khaira bertanya kepada resepsionis dan langsung berlari ke ICU.


Khaira terduduk lemas melihat dari balik kaca. Dia melihat kedua orang tuanya terbaring lemas dengan alat medis menempel ditubuh mereka.


"Khai. " Panggil Shasya.


"Lo boleh sedih, tapi jangan larut dalam kesedihan. Sekarang kita sholat dulu. Kita kan tadi belum sholat Isya'." Ajak Shasya. Khaira hanya mengangguk kecil dna menuruti perkataan Shasya.


Sedangkan Hadi, hanya mengikuti Shasya dan Khaira dari belakang sambil menggendong keponakannya.


Karena Hadi pun belum sholat, akhirnya Hadi menjadi imam saat sholat Isya'.


Pukul 20.30 Khaira, Shasya, Hadi dan Keponakannya pun menunggu diruang tunggu.


"Maaf, Pak. Sebaliknya Pak Hadi pulang aja, kasihan keponakannya Pak Hadi pasti sudah mengantuk." Ucap Shasya.


"Terus kalian gimana?"


"Kita bakal nunggu sampai dokternya kesini, Pak. Dan makasih udah nolongin saya tadi." Khaira kini mulai berbicara.


"Sama-sama."


"Kakak ikut, Kakak." Ucap Keponakannya Hadi yang menunjuk-nunjuk kearah Shasya.


Shasya pun terkejut melihat tingkah keponakannya Hadi. Karena dengan cepat, keponakannya Hadi langsung suka sama dia.


"Fanya, jangan ganggu Kak Shasya iya. Kamu digendong Uncle aja." Ucap Hadi kepada keponakannya yang bernama Fanya.


"Nggak mau. Ikut Kakak. Huuaaa...." Fanya menangis lumayan keras.


Hadi nampak bingung dengan sikap Fanya. Tapi tiba-tiba Shasya mendekatinya dan mengambil Fanya dan gendongannya.


"Fanya sayang nggak boleh nangis. Cup.. cup.. cup.." Ucap Shasya sambil menenangkan Fanya. Seketika Fanya terdiam saat berada dipelukan Shasya.


Hadi dan Khaira menatap Shasya yang masih berdiri sambil mengelus punggung Fanya yang berada di pelukannya. Tanpa sadar, Hadi tersenyum melihatnya.


"Andai saja aku bisa memilikimu, pasti aku akan menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia. Karena aku memiliki gadis Sholehah seperti kamu. Semoga aja, aku bisa memilikimu." Batin Hadi.


Shasya terus menepuk pelan bahu Fanya dan berjalan kesana-kemari. Hingga Fanya tertidur didalam pelukannya.


Sedari tadi, Hadi tidak memalingkan pandangannya dari Shasya.


"Ehem.." Deheman Khaira menghentikan aktivitas Hadi.


"Astaghfirullah." Ucap Hadi.


Shasya menghampiri Hadi.


"Ini, Pak. Fanya sudah tidur. Pak Hadi bawa Fanya pulang saja, nanti orang tuanya cari dia." Shasya berusaha memberikan Fanya kepada Hadi. Namun saat menyentuh tangan Hadi, Fanya tiba-tiba menangis.


"Huaa.... huaa..."


Shasya kembali menarik Bella kedalam pelukannya. Bella pun langsung tenang dan kembali tidur.


"Aduh gimana nih? Nggak mungkin kan kalau Bella tidur disini? Kalau dia sampai sakit gimana? Kan dia masih kecil?" Batin Shasya.


"Sha." Panggil Hadi.


"Iya ada apa, Pak?" Ucap Shasya yang masih menepuk pelan bahu Fanya.


"Kmau bisa nggak, kalau anterin Fanya pulang? Kamu tenang aja, nanti kamu saya anterin lagi kesini."


"Emmm.. gimana iya.." Shasya nampak bingung harus menjawab apa. Dia pun menoleh kearah Khaira dan mendapatkan anggukan darinya.


"Iya sudah, Pak. Saya ikut anterin Fanya pulang." Sambungnya.


"Terimakasih."


"Sama-sama, Pak."

__ADS_1


"Khai, gue anterin Fanya dulu. Nanti gue balik lagi kesini. Kalau ada apa-apa langsung hubungin gue." Ucap Shasya sambil menghampiri Khaira yang duduk diatas kursi.


"Iya, Sha." Ucap Khaira dengan tersenyum tipis.


__ADS_2