
~Mungkin itu hanya cara terbaik menumpahkan semua kerinduanku, dengan melibatkan Rabbku didalamnya.~
.
.
.
Setelah Shasya puas memandangi foto itu, dia memilih untuk melaksanakan sholat Dhuhur karena adzan telah berkumandang.
Setelah melaksanakan sholat, Shasya lebih memilih menulis dibuku hariannya tentang apa yang dia rasakan.
*Dear Diary
Aku tidak tau dengan apa yang aku rasakan sekarang, hanya Allah Swt. Yang Maha Tahu saja yang mengerti soal isi hatiku.
Ku titipkan saja hatiku kepada Rabbku agar hatiku tidak salah berpijak. Karena aku yakin, pasti Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untukku yang akan datang di waktu yang tepat.
Rasa ini mungkin hanya sedikit rasa kehilangan dari sosok Pak Yusuf yang biasa membimbingku dengan menyelipkan candaanya walaupun dengan ucapan datarnya.
Ma Fi Qolbi Ghairullah.
Lebih baik aku mendoakannya didalam sholatku walaupun belum tentu sholat yang ku lakukan sempurna. Tapi, mungkin itu hanya cara terbaik menumpahkan semua kerinduanku kepada Pak Yusuf dengan melibatkan Rabbku didalamnya.
Shasya Syafa’atun Nissa*.
Malam menyambut dengan kedinginannya yang tidak seperti biasanya. Tiba-tiba ponsel Shasya berdering, namun nomornya tidak tersimpan di kontak Shasya. Dengan ragu, Shasya mengangkat telponnya.
“Hallo, Assalammualaikum.” Ucap Shasya.
“Wa’alaikumussalam. Apa kabar?” Ucap seseorang dari seberang yang menelponnya.
Deg..... Shasya kenal dengan suara itu. Seakan dunia berhenti, Shasya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun dan langsung mematikan telponnya tanpa mengucapkan salam.
“Astagfirullah, apa gue sedang mimpi?” Tanya Shasya kepada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
Ponsel Shasya kembali berbunyi dari nomor yang sama. Dengan ragu, Shasya mengangkat ponselnya.
“Kenapa telponnya ditutup?” Tanya seseorang dari seberang sana.
“Maaf, Pak. Saya kira tadi saya sedang bermimpi.” Ucap Shasya dengan jujur.
“Kamu pengin mimpi ditelpon sama saya?” Goda Yusuf, iya yang menelpon Shasya adalah Pak Yusuf yang sedang dia pikirkan tadi siang.
“Bukan begitu maksud saya, Pak.” Ucap Shasya, memesang Shasya sudah bisa bersikap santai dengan Pak Yusuf.
“Gimana? Sudah ketemu sama Dosen pengganti saya?” Tanya Yusuf.
“Sudah, Pak.”
“Sudah bisa berinteraksi dengan baik sama dia?” Tanya Yusuf.
“Kalau itu, belum Pak. Saya agak risih ditanya-tanya soal urusan pribadi.”
“Pak Hadi memang seperti itu, dia itu kalau mau kenalan sama orang pasti dia cari sampai keakar-akarnya. Kamu harus memakluminya.”
“Saya akan coba, Pak. Tapi butuh waktu lama buat saya bisa beradaptasi dengan Pak Hadi.” Ucap Shasya yang mungkin terdengar cangung saat berbicara dengan Yusuf.
__ADS_1
“Saya faham sama sikap kamu. Yang terpenting kamu harus tetap semangat belajar.”
“Iya, Insya Allah, Pak. Hmmm, Pak..” Ucap Shasya yang sedikit ragu untuk menanyakan apa yang dia pikirkan sekarang.
“Iya ada apa?” Tanya Yusuf.
“Apa maksud dari surat itu, Pak?” Tanya Shasya yang memberanikan dirinya.
“Insya Allah, suatu hari nanti kamu akan tau dengan sendirinya.”
“Iya sudah kalau gitu. Saya tutup dulu telponnya. Assalammualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Shasya memang sengaja dengan cepat-cepat menutup telponnya karena dia sudah tidak tau, apalagi yang harus dia bicarakan.
Keesokan harinya, Shasya tampak duduk termenung di Taman yang ada di Kampusnya.
“Assalammualaikum, Shasya.” Ucap Khaira yang baru saja datang dan langsung memeluk Shasya.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Shasya.
“Kok lo nggak kaget?” Tanya Khaira yang melepas pelukannya dan langsung menatap wajah Shasya.
“Lo kenapa?” Khaira bertanya lagi pada Shasya.
“Tadi malam, Pak Yusuf telpon gue.” Ucap Shasya.
“Serius lo? Terus gimana? Lo nanya nggak soal isi suratnya?” Ucap Khaira yang terlihat menyukai topik yang akan mereka bahas.
“Terus lo mau nunggu Pak Yusuf?” Tanya Khaira yang sangat antusias.
“Hah, maksudnya?” Tanya Shasya yang tidak tau maksud omongannya Khaira.
“Gue kayaknya salah bicara sama lo kalau soal cinta-cintaan nih. Intinya, apa lo sering mikirin Pak Yusuf?” Tanya Khaira yang langsung keintinya.
“Jujur, kemarin gue mikirin Pak Yusuf. Tapi hanya karena gue tiba-tiba keinget aja sama Pak Yusuf.” Ucap Shasya yang sama sekali tidak ingin berbohong kepada Khaira.
“Gue faham sekarang. Lo itu cinta sama Pak Yusuf, tapi lo sendiri yang nggak tau dan nggak mau cinta datang ke hati lo.” Ucap Khaira.
“Gue hanya menitipkan hati gue kepada Allah swt. dan gue nggak mau terjebak dengan cinta yang seharusnya bukan milik gue. Karena gue yakin, kalau Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik buat gue.” Ucap Shasya dengan tersenyum.
“Oke, gue faham. Itu juga terserah hati lo karena hati lo yang rasain sendiri.”
“Iya, Khai.” Ucap Shasya dengan tersenyum.
“Oh iya, sebentar lagi bakal liburan. Yah walapun sebentar sih. Lo mau kemana?” Tanya Khaira.
“Insya Allah gue mau pulang kampung, gue kangen banget sama orang tua gue.”
“Gue boleh ikut?”
“Emangnya dibolehin sama orang tua lo?”
“Pasti boleh kalau gue perginya sama lo.”
“Iya udah kalau gitu, tapi kemungkinan kita cuma tiga disana.”
__ADS_1
“Nggak pa-pa, biar gue bisa refreshing juga. Selama ini kan, gue belum pernah ikut lo pulang kampung dan ketemu sama orang tua lo.”
“Iya udah, lo ikut gue. Sekalian silahturahmi ke orang tua gue.” Ucap Shasya dengan tersenyum.
“Pasti kalau itu. Eh yuk ke kelas, sebentar lagi kita masuk.” Ajak Khaira.
Mereka berdua memasuki kelas.
“Shasya.” Panggil Kevin.
“Ada apa?” Tanya Shasya.
“Kalau kelas kita udah selesai, lo ikut gue ke Taman iya.”
“Maaf, kayaknya..”
“Nggak ada penolakan, kita nggak hanya berdua kok. Khaira juga boleh ikut.” Ucap Kevin.
“Oke, nanti gue ikut lo.” Ucap Shasya.
Kevin kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang berbinar-binar.
Tidak beberapa, kelas mereka telah selesai.
“Sha, gue tunggu lo disana. Due duluan.” Ucap Kevin yang pergi meninggalkan kelas.
“Katanya gue disuruh ikut dia, kok gue ditinggal?” Gerutu Shasya.
“Kenapa, Sha?” Tanya Khaira.
“Nggak pa-pa.” Ucap Shasya dengan senyuman yang sedikit terpaksa.
“Iya udah, yuk kita ke Taman. Gue penasaran, kenapa Kevin ngajak kita kesana.” Ucap Khaira.
“Gue juga, ayo.” Ucap Shasya yang langsung menarik tangan Khaira untuk segera berjalan.
Khaira dan Shasya berjalan menuju Taman.
Sesampainya di Taman, Khaira dan Shasya kaget karena sudah banyak orang disana. Terlihat Kevin sedang berdiri membawa buket bunga ditengah-tengah lingkaran yang Mahasiswa dan Mahasiswi buat.
Tanpa keraguan, Kevin mulai berbicara didepan.
“Teman-teman, gue berterimakasih karena kalian mau membantu gue buat nyatain cinta gue ke seseorang yang sangat gue cinta.” Ucap Kevin dengan santai.
“Wah, siapa cewek yang beruntung dicintai sama Kevin?”
“Pasti cewek itu cantik banget.”
“Iyalah, secara seorang Kevin Mahasiswa terkenal disini. Mana mau dia sama orang yang biasa-biasa aja.”
Itulah sedikit omongan yang didengar oleh Khaira dan Shasya dari cewek-cewek yang ada disana.
Kevin berjalan kearah Shasya yang ikut dalam barisan. Kevin langsung berjongkok dihadapan Shasya yang masih tidak faham dengan apa yang terjadi. Kevin langsung menyodorkan buket bunga yang dia bawa kearah Shasya.
“Shasya, lo yang udah mencuri hati gue. Berkali-kali gue mengungkapkan cinta gue ke lo walaupun hanya lewat telpon. Dan disini, ditempat ini dengan segala keseriusan cinta yang udah gue berikan ke lo, lo mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Kevin yang menatap Shasya, namun Shasya malah menunduk dan tidak berani menatap mata Kevin yang tulus mengungkapkan semuanya ke dia.
“Shasya, gimana?” Tanya Kevin sekali lagi.
__ADS_1