Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Perkataan dan Perasaan


__ADS_3

~Kamu ini lemot banget kalau diajak bicara soal perasaan, itu udah jadi bukti yang kuat kalau Pak Yusuf itu suka sama kamu.~


.


.


.


“Assalammualaikum.”


“Wa’alaikumussalam.” Jawab Shasya dan Khaira yang bebarengan.


“Ngapain kesini?” Tanya Khaira.


“Gue mau pamit ke Pak Danang.” Ucap Bayu, iya seorang laki-laki yang mendatangi Shasya dan Khaira adalah Bayu.


“Pamit?” Tanya Shasya.


“Iya, gue mau balik ke Kota. Soalnya kerjaan orang tua gue udah selesai.” Ucap Bayu.


“Oh gitu, Bapak ada didalam. Masuk aja” Ucap Shasya yang mendapatkan anggukan dari Bayu.


Bayu pun melangkahkan kaki meninggalkan Shasya dan Khaira di teras.


“Sekarang, kamu harus cerita ke aku.” Ucap Khaira yang membalikkan topik pembicaraan yang sepotong tadi.


“Aku juga nggak tau, Khai. Tiba-tiba Pak Yusuf nanya ke aku, apakah didalam hatiku ini udah ada seseorang belum.” Ucap Shasya.


“Hah? Itu sih udah fiks banget kalau Pak Yusuf suka sama kamu.” Ucap Khaira dengan kehebohannya.


“Apa iya?”


“Kamu ini lemot banget kalau diajak bicara soal perasaan, itu udah jadi bukti yang kuat kalau Pak Yusuf itu suka sama kamu.”


“Nggak mungkin deh, Khai.”


Tiba-tiba..


“Gue balik, Assalammualaikum.” Ucap Bayu seperti orang yang marah dan langsung pergi tanpa mendengar jawaban salam dari Shasya dan Khaira.


“Wa’alaikumussalam.”


“Apa dia dengar semuanya?” Tanya Khaira.


“Terus, apa hubungannya dia dengar semuanya sama sikap dia tadi?” Tanya Shasya.


“Aku pikir dia cemburu, Sha.” Ucap Khaira dengan mengerutkan keningnya. Sedangkan Shasya hanya menatap aneh kearah Khaira yang terlihat sedikit menyeramkan.


Keesokan harinya, Shasya dan Khaira berjalan-jalan mengelilingi desa.


“Kalau aku disuruh memilih antara tinggal disini dan di Kota, pasti aku akan pilih tinggal disini.” Ucap Khaira sambil menikmati sejuknya angin pagi.


“Aku juga. Disini itu sejuk banget, masih asri dan penduduknya juga ramah sekali.” Ucap Shasya.


“Iya, Sha. Oh iya, rumah Neneknya Pak Yusuf yang mana iya?” Tanya Khaira.


“Aku nggak tau.”


“Loh, bukannya kamu ini asli penduduk sini? Kok nggak tau sih?” Tanya Khaira.


“Iya, soalnya aku itu nggak terlalu pengin tau sama orang-orang disini. Banyak orang yang tiba-tiba manggil nama aku dan aku pun cuma membalasnya. Aku hanya tau nama-nama penduduk disini, nggak silsilahnya.”


“Seharusnya kamu tau, keluarga kamu kan orang terpandang di desa ini.”


“Alhamdulillah, semua orang kenal sama keluarga ku. Tapi kalau aku harus mengingatnya kan susah, soalnya di desa ini bukan hanya satu atau dua keluarga.”

__ADS_1


“Iya juga, sih.” Ucap Khaira yang membenarkan omongan Shasya.


Tiba-tiba, ada seorang wanita yang terlihat lebih muda daripada Shasya dan Khaira, yang mendatangi mereka berdua.


“Assalammualaikum.” Salam wanita muda itu.


“Wa’alaikumussalam.” Ucap Shasya dan Khaira yang bebarengan.


“Mbak Shasya? Anaknya Pak Danang?” Tanya wanita muda itu.


“Iya, betul.” Ucap Shasya.


“Masya Allah cantiknya.” Ucap wanita muda itu.


“Terimakasih.” Ucap Shasya dengan tersenyum.


“Mbak Shasya, kenalin nama aku Aisyah.” Ucap wanita muda itu sambil memajukan tangannya untuk bersalaman dengan Shasya.


“Masya Allah, nama yang cantik kayak orangnya.” Ucap Shasya sambil membalas salaman tangan Aisyah.


“Terimakasih, Mbak.” Ucap Aisyah sambil tersenyum.


“Itu siapa Mbak?” Tanya Aisyah.


“Ini sahabat aku dari Kota. Kenalin, namanya Khaira.” Ucap Shasya.


“Hai Mbak Khaira.” Ucap Aisyah.


“Hai juga Aisyah.” Ucap Khaira.


“Aisyah sendirian?” Tanya Shasya.


“Nggak, Mbak. Saya sama Nenek saya.” Ucap Aisyah.


“Nenek kamu dimana?” Tanya Khaira.


“Bukannya itu Pak Yusuf?” Tanya Khaira yang melihat dengan teliti kearah pinggiran sawah.


“Mbak Khaira kenal sama Mas Yusuf?” Tanya Aisyah.


“Mas?” Tanya Khaira.


“Iya, Mas Yusuf itu Kakak aku Mbak.” Ucap Aisyah.


“Oh gitu.” Ucap Khaira.


“Ayo Mbak, kita kesana. Biar aku kenalin sama Nenek.” Ucap Aisyah.


“Maaf, Dek. Bukannya Mbak Shasya sama Khaira nggak mau. Tapi, kita masuk pulang buat siap-siap balik ke Kota lagi.” Ucap Shasya.


“Yah, baru aja Aisyah ketemu sama Mbak Shasya.” Ucap Aisyah yang terlihat kecewa dan menunduk.


“Kamu jangan sedih gitu. Nanti kalau Mbak Shasya udah jadi Sarjana, Mbak Shasya pasti pulang kesini kok.” Ucap Shasya dengan memeluk Aisyah seperti ada ikatan diantara keduanya. Sedangkan Khaira, hanya menatap Shasya dan Aisyah dengan terharu.


“Iya, Mbak. Aisyah akan menunggu Mbak Shasya pulang kesini.” Ucap Aisyah yang menangis.


“Udah, jangan nangis. Nanti cantiknya hilang.” Goda Shasya yang bisa membuat Aisyah tersenyum.


********************


Waktu berlalu begitu cepat, sekarang Shasya sudah dikostannya sendirian.


Shasya menatap dengan lekat seisi kostannya yang masih sama tidak ada perubahan. Shasya memilih tidur untuk mengistirahatkan badannya.


Keesokan harinya Shasya melakukan kebiasaannya setiap pagi. Karena besok dia baru masuk ke Kampus, jadi Shasya memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca novel dikostannya.

__ADS_1


Jam 9 pagi, terdengar suara ketukan pintu yang menghentikan kegiatan membacanya Shasya.


“Assalammualaikum, Shasya.” Salam Khaira dengan mengetuk pintu kostannya Shasya.


“Wa’alaikumussalam.” Jawab Shasya dengan membuka pintu.


“Sha, lo harus tau kabar terbaru.” Ucap Khaira yang terlihat panik.


“Kabar apa? Gue nggak mau ngegibah iya.” Ucap Shasya yang berjalan masuk ke dalam kostannya dan diikuti oleh Khaira.


“Kevin, Sha.” Ucap Khaira yang dramatis.


“Kevin kenapa?” Tanya Shasya.


“Tadi malam, Kevin datang kerumah gue. Dia bilang, kalau sekarang dia udah jadi mu’alaf.”


“Alhamdulillah, bagus dong.”


“Tapi Sha, gue heran sama dia. Masa iya, kemarin malam dia terang-terangan ngomong ke gue, kalau dia jadi mu’alaf itu karena lo.”


“Hah? Karena gue?”


“Iya, dia yang bilang sendiri ke gue. Katanya biar dia bisa memiliki lo. Soalnya dia pernah dengar omongan lo sama Bayu tentang kenapa lo nggak nerima Kevin waktu dia nembak lo didepan teman-teman. Dan salah satunya karena kalian nggak seagama kan, Sha?”


“Iya, memang salah satu alasannya itu. Tapi, gue juga nggak mau pacaran. Dan lo tau kan kalau gue nggak ada perasaan apa-apa sama Kevin, gue hanya anggap dia sebagai teman nggak lebih.” Ucap Shasya.


“Iya Sha, gue tau soal itu.”


“Jadi, gue harus gimana? Niat dia jadi mu’alaf udah salah dari awal.” Ucap Shasya.


“Mendingan lo ketemuan sama dia, lo kasih tau bahwa apa yang dia lakukan sekarang adalah sebuah kesalahan.”


“Tapi, lo harus menemani gue.”


“Pasti. Ayo kita ke depan.”


“Ke depan?”


“Iya, karena sekarang dia udah ada didepan gerbang kostan lo.”


“Hah? Kok bisa?” Tanya Shasya yang kaget.


“Dia tadi kesini sama gue, niatnya sih mau ngajak lo makan. Tapi kalau berdua aja kan pasti lo nggak mau, jadi dia ngajak gue.” Ucap Khaira.


“Iya udah, ayo kita ke depan.”


Shasya dan Khaira keluar dari kostan, menuju gerbang.


“Assalammualaikum.” Salam Kevin.


“Wa’alaikumussalam.”


“Pasti lo udah tau iya?” Tanya Kevin yang mendapat anggukan dari Shasya.


“Gue mau bicara sama lo.” Ucap Shasya.


“Iya udah, kita ke Kafe aja.” Ajak Kevin.


“Baiklah.” Ucap Shasya.


Shasya menaiki mobil Khaira, sedangkan Kevin mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di Kafe, mereka bertiga langsung memesan minuman.


“Langsung keintinya aja, Kevin kalau lo mau jadi mu’alaf itu harus karena Allah jangan karena gue. Memang sekarang lo cinta ke gue, tapi nggak akan ada yang bisa menjamin kalau selamanya lo akan cinta sama gue. Jadi, lo harus ubah niat lo itu kalau lo benar-benar mau jadi mu’alaf.” Ucap Shasya yang berbicara panjang lebar, namun tidak mau menatap mata Kevin. Sedangkan Khaira hanya menatap lekat Shasya dan Kevin yang terkesan menegangkan.

__ADS_1


“Gue cinta sama lo dan itu untuk selamanya. Ini salah satu bukti cinta ke lo.” Ucap Kevin.


__ADS_2