Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Indah Tak Berarti


__ADS_3

~Memang indah dilihat tapi tak seindah dirasakan.~


.


.


.


Hari ini, Shasya tidak ada kelas. Sehingga dia lebih memilih untuk memperbaiki Skripsinya. Tapi ponsel Shasya tiba-tiba berbunyi dan dengan cepat, Shasya pun mengangkat ponselnya.


“Assalammualaikum.”


“wa’alaikumussalam.” Jawab Shasya.


“Saya tunggu di kampus sekarang.” Ucap seseorang diseberang telpon yang tak lain adalah Hadi, Dosen Pembimbingnya. Setelah berbicara, Hadi langsung mematikan telponnya tanpa mendengar jawaban dari Shasya. Bahkan, Hadi tidak mengucapkan salam.


“Astagfirullah.” Ucap Shasya, karena ponselnya langsung berbunyi tutt..


Tanpa berpikir panjang, Shasya langsung bersiap-siap dan berjalan menuju kampus.


Sesampainya di Kampus, Shasya langsung pergi ke ruangannya Pak Hadi.


"Assalamu'alaikum, Pak." Salam Shasya.


"Wa'alaikumussalam, silahkan duduk." Ucap Hadi.


"Ada apa, Bapak memanggil saya kesini?" Tanya Shasya dengan ragu.


"Kamu pasti sudah mendengar tentang gosip yang beredar tentang saya, kamu dan Bayu."


"Iya, Pak."


"Maaf, karena saya baru tau. Soalnya saya tidak ada di Kampus waktu itu. Jadi, saya tidak bisa klarifikasi. Tapi, kamu tenang aja. Saya sudah atur semuanya." Ucap Hadi.


"Nggak pa-pa, Pak. Tanpa Pak Hadi klarifikasi pun, teman-teman saya Alhamdulillah percaya sama saya." Ucap Shasya.


"Iya sudah, saya senang dengarnya. Oh iya, hari ini kamu ada acara, nggak?" Tanya Hadi.


"Rencananya, saya mau revisi Skripsi di Kost." Ucap Shasya.


"Oh gitu. Tapi, kamu bisa nggak? Temani saya makan siang?"


"Maaf, Pak. Bukannya saya menolak, tapi saya nggak..." Ucap Shasya yang terpotong.


"Iya, sudah. Saya faham kok." Ucap Hadi dengan memberikan senyuman terpaksa.


"Kalau gitu, saya permisi. Assalamu'alaikum." Ucap Shasya.


"Wa'alaikumussalam."


Shasya langsung keluar dari ruangan Hadi.


Shasya malangkahkan kaki melewati jalanan yang biasa dia lalui jika ingin ke Kampus maupun pulang dari Kampus.


Shasya seperti menikmati suasana udara yang sejuk. Karena cuaca terlihat sedikit mendung.


"Masya Allah, sejuk banget udaranya. Rasanya relaks banget." Ucap Shasya dengan berjalan pelan sambil menutup matanya dan kedua tangganya dibuka lebar.


"Awww.. Astaghfirullah." Teriak Shasya yang tidak sengaja menabrak seorang laki-laki dari belakang.


"Ya Allah, maaf. Saya tidak sengaja." Ucap Shasya sambil menunduk dan langsung melangkah pergi.


"TUNGGU." Ucap laki-laki yang ditabrak Shasya.


Langkah Shasya langsung berhenti, yang dari tadi membelakangi laki-laki yang dia tabrak.


Shasya dengan ragu pun menengok dengan perlahan ke belakang.


Shasya masih menundukkan pandangannya karena Shasya sedikit takut dengan orang yang ditabrak. Shasya takut jika orang yang dia tabrak akan marah kepadanya. Karena Shasya tidak mau berurusan dengan orang yang tidak dia kenal, apa lagi dengan seorang laki-laki.

__ADS_1


"Shasya." Ucap seorang laki-laki itu.


Shasya langsung melihat siapa orang yang dia tabrak. Karena Shasya tau dengan suara laki-laki itu.


"Masya Allah, Kak Yusuf." Ucap Shasya dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Assalamu'alaikum, Shasya." Ucap Yusuf dengan tersenyum tulus kepada Shasya.


"Wa'alaikumussalam, Kak. Kakak kok bisa disini?" Tanya Shasya dengan kegirangan. Shasya seperti tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat Yusuf ada disana.


"Iya, saya ada panggilan dari Kampus kamu." Ucap Yusuf.


"Panggilan apa, Kak?" Tanya Shasya.


"(Tersenyum) Kamu kayaknya penasaran banget, iya?" Goda Yusuf.


Blush...


Pipi Shasya langsung memerah seperti kepiting rebus. Shasya menunduk malu mendengar godaan dari Yusuf.


"Kamu kenapa?" Tanya Yusuf.


"Nggak pa-pa, Kak. Saya permisi, Assalamu'alaikum." Ucap Shasya yang langsung pergi meninggalkan Yusuf.


"Wa'alaikumussalam." Ucap Yusuf dengan tersenyum.


Shasya berjalan menuju ke Kostannya dengan rasa yang sangat gembira setelah bertemu dengan Yusuf.


Sesampainya di depan pintu Kostan, Shasya kaget karena pintu Kostannya terbuka.


"Astaghfirullah hal adzim, apa gue lupa kunci pintu? Atau ada maling?" Tanya Shasya kepada dirinya sendiri.


Shasya dengan perlahan memasuki Kostannya.


"SURPRISE.." Teriak Khaira.


"Astaghfirullah hal adzim, Khai. Gue kira ada maling." Ucap Shasya dengan mengelus dadanya.


"Kejutan apa?" Tanya Shasya.


"Sebentar." Ucap Khaira dengan melepas pelukannya kepada Shaya.


"Ini dia." Ucap Khaira dengan memberikan sebuah kotak berwarna hitam dengan pita berwarna emas kepada Shasya.


"Apa ini?" Tanya Shasya dengan heran.


"Buka aja. Nanti juga tau sendiri." Ucap Khaira.


"Oke, gue buka iya." Ucap Shasya sambil membuka kotak yang diberikan oleh Khaira.


"Silahkan." Ucap Khaira.


Shasya dengan perlahan membuka kotak itu.


"Masya Allah. Ini dari lo, Khai?" Tanya Shasya yang terkejut dengan isi kotak itu.


"Bukan, Sha." Ucap Khaira.


"Terus dari siapa?" Tanya Shasya dengan keheranan.


"Gue juga nggak tau." Ucap Khaira dengan entengnya.


"Hah? Kok bisa?" Tanya Shasya.


"Iya, tadi gue nggak sengaja ketemu anak kecil di depan pintu gerbang Kostan lo. Terus dia kasih kotak itu ke gue. Terus gue nanya, itu dari siapa? Tapi dia malah jawabnya ngawur. Dia cuma bilang 'Kak Khaira, titip hadiah ini untuk Kak Shasya' gitu. Dia sampai bilang kayak gitu 3 kali." Ucap Khaira.


"Ini dari siapa? Nggak ada tulisannya." Ucap Shasya.


"Emangnya, apa isinya?" Tanya Khaira dengan penasaran.

__ADS_1


"Ini Mukena, Khai."


"Coba gue lihat."


"Ini." Ucap Shasya sambil menyodorkan kotak hitam itu kepada Khaira.


"Oh My God, motifnya bagus banget. Bahannya juga adem." Ucap Khaira dengan kegirangan. Setelah itu, Khaira langsung melihat merek Mukenanya.


"Demi apa? Ini brand terkenal, Sha. Ini mahal pasti." Ucap Khaira.


"Iya, gue tau. Soalnya, dulu gue pengin banget Mukena itu. Tapi gue pikir, ngapain mahal-mahal kalau ada yang murah dan berkualitas." Ucap Shasya.


"Sebentar, apa lo bilang? Dulu lo pengin Mukena kayak gini?" Tanya Khaira.


"Iya." Ucap Shasya sambil mengangguk.


"Kok yang kasih Mukena ini bisa tau, kalau lo pengin Mukena kayak gini?" Tanya Khaira dengan heran.


"Hah? Maksudnya?" Tanya Shasya.


"Ini." Ucap Khaira sambil menyodorkan sepucuk surat yang terselip dibagian dalam Mukena.


"Maaf baru bisa membelikan Mukena kesukaanmu." Ucap Shasya yang membaca isi surat itu.


"Kok dia misterius banget sih." Ucap Khaira.


"Menurut lo ini dari siapa?" Tanya Khaira.


"Apa dia tau semua tentang lo?" Tanya Khaira.


Semua pertanyaan Khaira tidak dijawab oleh Shasya. Karena Shasya terlihat bengong.


"Sha." Panggil Khaira dengan memegang bahunya Shasya.


"Eh iya?" Tanya Shasya yang baru tersadar.


"Lo kenapa bengong?" Tanya Khaira.


"Gue lagi mikir, siapa yang bawa Buku Harian gue yang hilang?"


"Kok Buku Harian sih?"


"Iya. Karena di situ, gue tulis semua keinginan gue, apa yang gue suka, apa yang gue nggak suka dan bahkan impian gue."


"Oh jadi, orang ini kemungkinan besar bawa Buku Harian lo. Karena lo udah berapa kali coba, lo dapat apa yang lo suka."


"Iya, bisa jadi. Tapi siapa?" Tanya Shasya dengan menyangga dagunya ditangan.


"Tapi, Buku Harian lo hilang dimana?" Tanya Khaira.


"Buku Harian gue, hilang di Kampus. Saat itu, kita baru semester 2."


"Udah lumayan lama iya."


"Iya."


"Apa lo butuh jasa detektif buat menyelidiki kasus ini?" Tanya Khaira dengan bergaya ala seorang detektif.


"Apaan sih, Khai. Lebay deh lo. Nggak usah segitunya kali." Ucap Shasya dengan memukul pelan bahu Khaira.


"Iya kali aja, lo butuh jasa gue." Ucap Khaira dengan terkekeh.


"Nanti deh kalau gue butuh." Ucap Shasya dengan tertawa.


"Oke, detektif Khaira selalu siap kapan saja." Ucap Khaira dengan bergaya.


"Oke." Ucap Shasya dan membuat keduanya tertawa.


Tiba-tiba..

__ADS_1


Tok.... Tok.... Tok..... Tok...


__ADS_2