
~ Di tempat inilah kita bertemu dan ditempat inilah kita berpisah.~
.
.
.
“Kok mau pulang nggak bilang dulu? Biasanya kan kamu nggak mau pulang kalau Bapak nggak jemput.” Ucap Danang.
“Iya, Pak. Ini Shasya kesini sama sahabat Shasya dari Kota. Yang sering Shasya bicarain itu loh, Pak, Buk.” Ucap Shasya.
“Oh, nak Khaira?” Tanya Lastri.
“Iya, Bu.” Ucap Khaira yang menyalami Ibu dan Bapaknya Shasya.
“Ayo masuk, biar Ibu masakin buat kalian.” Ucap Lastri.
“Bu, Shasya pengin makan Rendang buatan Ibu.” Ucap Shasya.
“Boleh, besok Ibu buatin Rendang buat kalian berdua.” Ucap Lastri.
“Yuk masuk, nggak enak diluar terus.” Ucap Danang.
Keesokan harinya, harinya Shasya mengajak Khaira pergi jalan-jalan bersama adik kecilnya Shasya. William, adalah adik Shasya yang masih berumur 5 tahun.
“Sha, kita mau kemana?” Tanya Khaira.
“Kakak cantik ikut aja, nanti juga tau kok.” Ucap William yang terkenal cerewet.
“Adiknya Shasya yang lucu dan imut, Kakak tanya ke Kakak kamu bukan tanya ke kamu.” Ucap Khaira sambil mencubit pipi William.
“Sama aja, Kak.” Ucap William yang nggak mau kalah.
“Iya, deh. Oh iya, Shasya adik lo cuma satu?” Tanya Khaira.
“Khai, aku mohon kalau disini jangan panggil gue-lo. Nggak enak didengar sama yang lain, apalagi anak-anak disini.” Ucap Shasya.
“Oh iya, maaf. Jadi, jawab dong pertanyaanku.” Ucap Khaira.
“Aku punya dua adik, dan William ini adalah adik aku yang paling kecil.” Ucap Shasya.
“Terus, kemana adik kamu yang satunya?” Tanya Khaira.
“Dia udah meninggal.” Ucap Shasya dengan menunduk.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Maaf, Sha aku nggak bermaksud buat kamu sedih.” Ucap Khaira yang memeluk Shasya.
“Iya nggak pa-pa. Lagian kamu kan nggak tau.” Ucap Shasya yang berusaha tegar.
“Kak, William kok nggak diajak pelukan sih.” Rengek William yang mengubah suasana sedih menjadi gembira kembali.
__ADS_1
“Oh iya, Sha. Kalau boleh tau, adik kamu yang meninggal itu umurnya berapa sekarang?” Tanya Khaira yang melanjutkan perjalanan bersama Shasya dan William.
“Sama kayak William. Sebenarnya mereka itu saudara kembar, cuma beda 10 menit aja.” Ucap Shasya.
“Oh gitu. William.” Panggil Khaira.
“Ada apa, Kak?” Tanya William.
“Nggak pa-pa, Kakak hanya pengin panggil kamu aja.” Goda khaira.
“Ih Kakak, William sebel sama Kakak.” Ucap William dengan cemberut.
“Jangan cemberut gitu, nanti gantengnya hilang loh.” Goda Khaira yang membuat Shasya tersenyum melihat tingkah Khaira dengan William.
Sampailah mereka di sawah milik orang tua Shasya.
“Disini suasananya masih asri banget, petak sawahnya juga rapi. Pemandangannya, Masya Allah cantik banget.” Ucap Khaira yang kagum.
“Makanya, kamu harus sering-sering kesini. Buat nenangin pikiran.” Ucap Shasya.
“Iya, ini sangat sangat sangat bisa buat aku menenangkan pikiran.” Ucap Khaira.
“Kak, kita kesana yuk.” Ajak William ke sebuah pohon yang lebat daunnya.
“Ayo.” Ucap Shasya.
Dibawah pohon yang rindang, mereka duduk bertiga.
“Khai, aku mau cerita.” Ucap Shasya yang mengelus rambut William yang tertidur dipangkuannya.
“Saat aku kecil, aku punya sahabat. Di tempat inilah kita bertemu dan ditempat inilah kita berpisah. Aku nggak tau nama aslinya siapa, tapi dia bilang, kalau aku harus panggil dia dengan sebutan Jay. Kenangan masa kecil itu, masih terasa sampai sekarang. Walaupun aku hanya dua kali bertemu dan menghabiskan waktu disini dengannya, tapi aku merasa dia kembali lagi.” Ucap Shasya yang memandang lurus ke dedauan pohon yang mereka singgahi.
“Saat aku kedua kalinya bertemu, aku pikir kita akan selalu menghabiskan waktu bersama di pohon ini. Tapi aku salah, itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Karena dia diajak pindah oleh orang tuanya.” Sambung Shasya.
“Apa kamu masih mengingat wajahnya?” Tanya Khaira yang sedari tadi diam mendengarkan cerita dari Shasya.
“Aku masih ragu, karena dulu aku baru berumur 5 tahun. Jadi, aku nggak begitu ingat dengan dia.” Ucap Shasya yang berbicara dengan menatap wajah Khaira.
“Tapi, kenapa kamu selalu ingat dengan cerita masa lalumu dengannya?” Tanya Khaira.
“Aku pikir, suatu saat aku bisa bertemu kembali dengannya. Aku selalu berdoa kepada Allah untuk mempertemukan kembali aku dengan pahlawanku itu.”
“Pahlawan?” Tanya Khaira yang terheran.
“Iya, dia yang menolongku kala aku nggak bisa turun dari pohon ini. Waktu kecil, aku suka banget manjat pohon tapi nggak tau caranya turun. Biasanya kalau aku manjat pohon, pasti Bapak yang nurunin aku. Pas waktu itu, aku izin sama Bapak buat main di sawah. Jadi, karena aku udah terbiasa kesini sendiri iya Bapak ngizinin. Dan iya, Bapak juga pernah bilang kalau aku nggak boleh main di pohon dekat sawah, yaitu pohon ini sendirian. Karena kebandelanku waktu kecil, jadi aku melanggar perintah Bapak.” Ucap Shasya yang tersenyum mengingat masa lalunya.
“Aku kira kamu itu dulunya alim banget, nggak pernah berbuat kayak gitu.” Ucap Khaira.
“Namanya juga anak-anak, Khai.” Ucap Shasya yang membuat tawa kecil keluar dari mulutnya dan Khaira.
“Oh iya, kenapa Bapak kamu nggak ngizinin kamu ke pohon ini? Apa ada penunggunya?” Tanya Khaira dengan menatap horor pohon yang menjadi tempat berteduh mereka.
__ADS_1
“Nggaklah, Khai. Bapak melarang aku kesini, itu takutnya aku manjat pohon dan nggak bisa turun. Iya, kalau ada yang nolongin, kalu nggak gimana? Kan disini temaptnya lumayan sepi.”
“Iya juga, Sha. Aku aja baru lihat beberapa orang tadi pas kita mau ke sawah. Disini penduduknya sedkit iya?” Tanya Khaira dengan rasa penasarannya.
“Nggak kok. Kebanyakan dari penduduk asli sini, itu merantau ke kota.”
“Oh gitu.”
Mereka berdua bersenda gurau disana, sedangkan William tertidur pulas dipangkuan Shasya. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki.
“Shasya.” Panggil seorang laki-laki yang baru datang menghampiri Shasya dan Khaira.
“Pak Yusuf.” Ucap Shasya dan Khaira bebarengan yang kaget, karena melihat Dosen mereka yang sudah dipindahkan ke luar negeri ada disana sekarang.
“Assalammualaikum.” Salam Yusuf.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Shasya dan Khaira yang bebarengan.
“Kalian, ngapain disini?” Tanya Yusuf.
“Harusnya kita yang nanya ke Pak Yusuf. Pak Yusuf ngapain disini? Bukannya Pak Yusuf udah dipindahkan ke luar negeri?” Tanya Khaira, sedangkan Shasya hanya duduk terdiam tanpa ingin mengucapkan sepatah kata pun.
“Iya, tapi saya nggak betah disana. Jadi saya mengundurkan diri, waktu pengundurannya ada batas waktunya. Jadi, baru sekarang bisa kesini.” Ucap Yusuf.
“Pak Yusuf ngapain ada disini?” Tanya Shasya yang memberanikan diri untuk bertanya kepada Yusuf.
“Saya pengin ketemu sama Nenek saya.” Ucap Yusuf.
“Nenek Pak Yusuf juga tinggal disini?” Tanya Khaira.
“Iya, kalian mau ketemu sama Nenek saya?” Tanya Yusuf.
“Nggak usah, Pak. Kita permisi pulang dulu. Assalammualaikum.” Ucap Shasya yang langsung menggendong William dan menarik tangan Khaira untuk pergi dari pohon itu.
Diperjalanan pulang.
“Sha, bukannya kamu dekat sama Pak Yusuf? Kenapa kamu bersikap seperti tadi ke Pak Yusuf?” Tanya Khaira.
“Aku gugup, Kha. Aku nggak tau harus ngomong apa didepan Pak Yusuf.” Ucap Shasya.
“Kamu suka sama Pak Yusuf?” Tanya Khaira seperti orang yang mengintograsi.
“Nggak, Khai.”
“Kamu tau kan, Sha. Kalau berbohong itu dosa.” Ucap Khaira.
“Astagfirullah hal adziim.” Ucap Shasya.
“Tuh kan, kamu nggak bisa bohong.” Ucap Khaira yang tersenyum penuh kemenangan.
“Aku nggak tau, Khai. Hanya Allah Yang Maha Tahu sama yang aku rasakan sekarang.” Ucap Shasya.
__ADS_1
“Oke. Apa yang kamu bilang, udah menjawab semuanya.” Ucap Khaira dengan tersenyum, sedangkan Shasya hanya menatap Khaira dengan heran.
Mereka memutuskan untuk pulang ke rumahnya Shasya.