Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Penuh Makna Cinta


__ADS_3

~Cintailah penciptanya baru ciptaannya.~


.


.


.


“Gue nggak suka cara lo maupun bukti keseriusan lo. Agama itu bukan mainan. Jadi saran gue, mantapin hati lo dulu untuk cinta ke Allah. Cintailah penciptanya baru ciptaannya.” Ucap Shasya yang langsung pergi tanpa mengucapkan salam, karena air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi. Sedangkan Khaira hanya mengejar langkah Shasya.


Shasya berlari ke Taman yang ada didekat Kafe. Dia duduk disalah satu bangku yang ada disana dan diikuti oleh Khaira.


“Sha, apa yang lo omongin tadi nggak salah. Kenapa lo harus nangis?” Ucap Khaira yang menarik Shasya untuk menyenderkan kepala Shasya dibahunya.


“Gue udah nyakitin hati orang, Khai. Gue merasa bersalah akan hal itu.” Ucap Shasya dengan menangis.


“Lo nggak perlu merasa bersalah, karena itu salah dia. Lo udah benar bicara kayak gitu tadi. Lo jangan nangis, nggak ada yang perlu ditangisi.” Ucap Khaira.


“Iya, Khai. Makasih lo udah jadi sahabat gue yang selalu bisa ngertiin gue.” Ucap Shasya sambil mengangkat kepalanya dan menatap mata Khaira.


“Iya, sama-sama. Udah jangan nangis, soalnya gue nggak punya balon.” Ucap Khaira sambil mengahapus air mata dipipi Shasya dan mendapat kekehan kecil dari Shasya.


Keesokan Shasya ada jam bimbingan dengan Hadi di ruangannya.


“Kemarin, kamu liburan kemana Sha?” Tanya Hadi.


“Saya pulang kampung sama Khaira, Pak.” Ucap Shasya sambil mengetik materi dilaptopnya.


“Wah, seru dong. Kapan-kapan saya boleh ikut iya?” Tanya Hadi yang tersenyum melihat Shasya.


“Em, Pak. Yang ini gimana iya?” Tanya Shasya yang mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk buku materi yang ada disampingnya.


“Oh yang itu..” Ucap Hadi yang menjelaskan dengan detail materinya.


Dua jam sudah, Shasya bimbingan dengan Hadi.


Saat ini, Shasya sedang duduk dibangku Taman dengan jari-jari yang terus mengetik materi dilaptopnya.


“Assalammualaikum, Sha.” Salam Khaira yang tiba-tiba mendatangi Shasya.


“Wa’alaikumussalam, Khai.” Jawab Shasya sambil tersenyum melihat kearah Khaira.


”Gimana bimbingannya?” Tanya Khaira.


“Alhamdulillah, lancar.” Ucap Shasya dengan menutup laptopnya dan beralih menatap Khaira.


“Ada apa?” Tanya Khaira yang heran melihat tatapan Shasya.


“Lo Lihat Bayu nggak?” Tanya Shasya.


“Gue nggak lihat Bayu dari tadi. Dia juga nggak ikut bimbingan.” Ucap Khaira.


“Dia kemana iya?”


“Kenapa? Lo kangen sama dia?” Goda Khaira.


“Bukan gitu, gue tiba-tiba ingat tingkah aneh dia di Kampung.”


“Oh iya, gue juga masih heran sama tingkah dia di Kampung. Ada apa iya?” Tanya Khaira sambil melihat keatas langit.

__ADS_1


“Itu dia, gue pengin nanya sama dia. Kenapa dia bersikap kayak gitu ke kita.” Ucap Shasya.


“Iya, sih. Gimana kalau kita ke rumahnya aja?” Usul Khaira.


“Jangan, nggak baik kalau kita ke rumah laki-laki kalau nggak ada sesuatu yang penting.” Ucap Shasya.


“Ini itu juga penting, Sha. Kalau dia marah gara-gara kita, kita harus minta maaf kan?”


“Iya sih. Tapi gue nggak mau ke rumah dia.”


“Iya iya. Iya udah.”


Setelah selesai kuliah, Shasya berjalan kaki menuju kostannya. Saat akan sampai digerbang kostannya, Shasya melihat sosok Bayu disana.


“Assalammualaikum, Bay.” Salam Shasya.


“Wa’alaikumussalam. Akhirnya lo pulang juga.” Ucap Bayu.


“Kenapa lo ada disini? Dan lo juga ke kampus tadi?” Tanya Shasya.


“Gue kesini karena mau ketemu sama lo. Dan gue nggak ke kampus hari ini, karena gue ada masalah keluarga.” Ucap Bayu.


“Oh gitu.”


“Maaf Sha, gue bohong sama lo. Gue nggak ke kampus hari ini karena gue belum siap buat ketemu sama lo. Tapi dengan segala kekuatan gue, gue kesini pengin ngomong sama lo.” Batin Bayu.


“Oh iya, lo mau ngapain ketemu sama gue?” Tanya Shasya.


“Gue kira disini, bukan tempat yang tepat deh. Gue tau sih, lo pasti capek banget baru pulang dari kampus. Tapi, luangin waktu lo sedikit buat gue. Gue mau ngomong sama lo di Taman.” Ucap Bayu dengan menatap wajah Shasya.


“Oke, kita ke Taman sekarang.” Ucap Shasya yang berjalan duluan menuju Taman dekat kostannya.


Sesampainya di Taman, Shasya dan Bayu duduk agak berjauhan dibangku Taman.


“Nggak kok, Bay. Gue nggak capek kok.” Ucap Shasya sambil menatap lurus kedepan. Sedangkan Bayu masih tetap menatap wajah Shasya dari samping.


“Oke, tapi gue pengin ngomong langsung aja ke lo.” Ucap Bayu.


“Silahkan.”


“Mungkin lo udah tau, apa yang bakal gue omongin sama lo. Ini soal apa gue dengar pas lo bicara sama Khaira di Kampung. Maaf mungkin gue lancang karena dengar apa yang lo bicarakan dengan Khaira. Maaf sekali lagi.” Ucap Bayu dengan menunduk.


“Nggak pa-pa kok, Bay. Gue malah heran sama lo, kenapa lo marah pas di Kampung waktu itu?” Tanya Shasya.


“Apa ini waktu yang tepat buat gue ngomong ke Shasya, kalau gue cinta sama dia?” Batin Bayu.


“Waktu itu, gue..” Ucap Bayu yang terpotong karena Hadi tiba-tiba mendatangi mereka berdua.


“Kalian ngapain disini?” Tanya Hadi yang tiba-tiba datang.


“Astagfirullah hal adzim.” Ucap Shasya dengan kaget dan berdiri dari bangku.


“Maaf, Pak. Lain kali ucapin salam dulu.” Sambung Shasya dengan menunduk.


“Iya, maaf. Saya tadi lihat kalian kayaknya serius banget, ada apa?” Tanya Hadi.


“Bukan urusan Bapak.” Ucap Bayu dengan ketus.


“Maaf, Pak. Ini urusan pribadi kami. Bapak kesini mau ngapain?” Tanya Shasya.

__ADS_1


“Saya kesini keingat sama kamu, kalau kamu suka baca novel. Tadi saya ke toko buku dan lihat ada buku bagus banget. Jadi, saya beli novelnya buat kamu. Nih.” Ucap Hadi sambil memberikan sebuah paperbag untuk Shasya.


“Terimakasih, Pak. Saya jadi merepotkan Bapak.” Ucap Shasya sambil mengambil paperbag dari tangan Hadi.


“Nggak repot sama sekali kok. Saya pengin melihat kamu selalu bahagia.” Ucap Hadi dan mendapat lirikan tajam dari Bayu yang berdiri disamping Shasya.


“Em, kalau gitu saya permisi dulu. Udah mau Magrib soalnya. Assalammualaikum.” Ucap Shasya yang meninggalkan Hadi dan Bayu di Taman. Karena Shasya sudah mulai nggak nyaman dengan pembicaraannya Hadi.


“Wa’alaikumussalam.” Ucap Hadi dan Bayu bebarengan.


Sesampainya di kostan, Shasya langsung mandi dan melaksanakan sholat. Shasya membaca Al-Qur’an setelah sholat Magrib hingga Isya’. Setelah Isya’, Shasya mulai berkutik dengan laptopnya untuk melakukan revisi skripsinya.


Tiba-tiba, ponsel Shasya berbunyi dan tertera nama Yusuf Sanjaya disana. Shasya langsung mengangkatnya.


“Assalammualaikum, Shasya.” Salam Yusuf.


“Wa’alaikumussalam, Pak.” Jawab Shasya.


“Panggil Kak aja.” Ucap Yusuf.


“Baiklah, Kak Yusuf.” Ucap Shasya.


“Gimana kuliahnya?” Tanya Yusuf.


“Alhamdulillah, lancar Kak.” Ucap Shasya.


“Oh iya, Kak Yusuf sekarang dimana?” Tanya Shasya yang sangat penasaran dengan keberadaan Yusuf.


“Aku masih di Kampung. Sekalian nemenin nenek disini dan kerja juga.” Ucap Yusuf.


“Kak Yusuf kerja apa disana?” Tanya Shasya.


“Aku kerja jadi guru disini, sekalian aku mengelola sawahnya nenek. Kasihan nenek udah nggak sekuat dulu, jadi aku harus jaga dia.” Ucap Yusuf.


“Masya Allah, mulia sekali hati Kak Yusuf.” Ucap Shasya dengan kagum.


“Oh iya, Kak Yusuf nggak pengin jadi Dosen lagi?” Tanya Shasya.


“Aku lebih nyaman disini. Disini aku bisa mengajari anak-anak yang pengin sekolah tetapi nggak punya biaya untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Walaupun, penghasilannya nggak sebesar jadi Dosen. Tapi aku tetap bersyukur, karena selalu ada aja nikmat dari Allah yang menghampiri aku dan nenek.”


“Masya Allah, saya juga pengin di Kampung aja. Disana suasananya nyaman banget, Kak.”


“Iya, betul. Tapi, kamu harus semangat sebentar lagi mau sidang kan?” Tanya Yusuf.


“Iya, Kak. Setelah hari kelulusan Insya Allah Shasya akan pulang ke Kampung.” Ucap Shasya.


“Benarkah?”


“Iya, Kak.”


“Kakak tunggu disini. Dan Kakak doakan, semoga sidang kamu lancar.”


“Amin. Udah dulu iya, Kak. Saya mau melanjutkan revisi.”


“Iya udah, semangat.” Ucap Yusuf.


“Makasih, Kak. Assalammualaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”

__ADS_1


Shasya pun mematikan telponnya. Tiba-tiba, hati Shasya berdegub tidak karuhan. Entah apa yang dia rasakan sekarang.


“Ya Allah, kenapa hatiku rasanya kayak gini?” Tanya Shasya dengan memegang dadanya.


__ADS_2