
~Kata Shasya, awalnya dia nggak terlalu bisa berinteraksi dengan Yusuf karena Yusuf terlalu cuek katanya. ~.
.
.
Sesampainya di rumah, Shasya dan Khaira dikagetkan dengan kehadiran Bayu yang sedang berbincang-bincang dengan Bapaknya Shasya.
“Assalammualaikum.” Salam Shasya dan Khaira bebarengan.
“Wa’alaikumussalam.”
“Bayu, kok lo ada disini?” Tanya Khaira dengan heran.
“Oh, gue ikut orang tua gue kesini. Katanya ada bisnis yang harus mereka urus disini. Jadi, gue langsung keingat Shasya pas sampai di desa ini.” Ucap Bayu.
“Kok, lo tau rumahnya Shasya?” Tanya Khaira.
“Dulu, gue pernah anterin Shasya pulang ke rumahnya.” Ucap Bayu.
“Beneran, Sha?” Tanya Khaira kepada Shasya.
“Iya, dulu pernah gak sengaja ketemu dijalan pas aku mau pulang. Ada kecelakaan sedikit, jadi Bayu anterin aku pulang sampai sini.” Ucap Shasya.
“Bukannya desa ini jauh banget iya.” Ucap Khaira sambil menatap Bayu dengan heran. Sedangkan Shasya hanya menaikkan kedua bahunya seakan tidak tau.
“Eh, sudah-sudah. Ibu sudah masak makanan kesukaan kamu nak.” Ucap Danang, Bapaknya Shasya sebagai penengah.
“Wah beneran, Pak?” Tanya Shasya dengan kegirangan.
“Iya, sini Bapak aja yang nidurin adik kamu di kamar.” Ucap Danang sambil mengambil William dari gendongannya Shasya.
“Ayo, masuk semua. Nak Bayu juga masuk, kita makan bersama.” Sambung Danang yang mendapat anggukan dari Bayu.
Mereka semua makan siang bersama.
************************
Waktu berlalu begitu cepat, matahri sudah menampakkan sinarnya. Sekarang, Shasya, Khaira, Danang, Lastri, dan William sudah ada di sawah milik Danang yaitu Bapaknya Shasya.
“William sekarang udah hafal berapa surat?” Tanya Shasya.
“Alhamdulillah, Kak. William sudah hafal 40 surat terakhir. Sekarang, William mau coba hafalin Al-Qur’an dari awal surat.” Ucap William dengan gemasnya.
“Masya Allah. Bagus banget, Dek.” Ucap Shasya sambil memeluk William.
“Ih, Kakak. Sempit tau, Kakak jangan peluk-peluk William nanti William nggak bisa nafas.” Ucap William yang mampu membuat Shasya, Khaira, dan kedua orang tua Shasya.
“Rahasianya apa sih, Sha. Punya adik kayak William, gemas banget tau.” Ucap Khaira sambil mencubit kedua pipi William.
“Nggak ada rahasianya kok, iya kan Pak, Buk.” Ucap Shasya sambil melihat kedua orang tuanya secara bergantian.
“Iya, Ibu juga heran. William itu nakal sekali, tapi dia itu selalu pengin belajar terus.” Ucap Lastri, Ibu Shasya.
“Harusnya kita bersyukur, Bu. Kita diberi anugrah terindah dari Allah.” Ucap Danang.
__ADS_1
“Iya, Pak. Kalau itu, sudah pasti.” Ucap Lastri.
Mereka berlima menghabiskan waktu di sawah, tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi mereka.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Yusuf?” Ucap Danang seperti orang yang kaget.
“Masya Allah, Pak Danang.” Ucap Yusuf yang langsung memeluk Danang. Semua yang disana hanya heran dan tidak tau dengan apa yang terjadi kepada Yusuf dan Danang, kecuali Lastri.
“Gimana keadaannya Pak Danang?” Tanya Yusuf yang melepas pelukannya.
“Alhamdulillah, kami sekeluarga baik. Terus, gimana keadaannya orang tua kamu?” Tanya Danang yang membuat keceriaan wajah Yusuf menghilang.
“Orang tua saya udah nggak ada, Pak.” Ucap Yusuf sambil menunduk.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Ucap semua yang ada disana.
“Maaf, Bapak nggak bermaksud buat kamu sedih.” Ucap Danang dengan mengelus punggung Yusuf.
“Nggak pa-pa, Pak. Bapak kan nggak tau.” Ucap Yusuf yang berusaha tersenyum.
“Ayo, ikut gabung kita.” Ucap Danang yang mendapat anggukan dari Yusuf.
“Maaf, Pak. Kalau boleh tau, apa hubungan Pak Danang dengan Pak Yusuf?” Tanya Khaira dengan rasa penasaraanya.
“Pak Yusuf?” Ucap Danang dengan kaget.
“Iya, Pak. Pak Yusuf ini, pernah jadi Dosen Pembimbingnya Shasya.” Ucap Khaira yang membuat Shasya terdiam. Sedangkan orang tua Shasya malah tertawa berbahak-bahak.
“Oh, jadi Yusuf ini yang sering kamu ceritakan ke Bapak sama Ibu?” Godan Danang yang seketika itu membuat Shasya malu dan menunduk. Sedangkan sang pemilik nama, hanya kaget mendengar ucapan Bapaknya Shasya.
“Bapak ini kenapa sih? Kok malah dikasih tau ke orang-orang.” Batin Shasya.
“Beneran, Pak? Jadi, Shasya cerita apa aja soal Pak Yusuf?” Tanya Khaira yang nampaknya sangat tertarik dengan topik yang akan mereka bahas.
“Ini kenapa lagi, Khaira malah penasaran sama cerita Bapak. Astagfirullah hal adzim, Shasya istigfar, Sha.” Batin Shasya.
“Shasya itu pernah cerita ke Bapak sama Ibu kalau ada Dosen pembimbingnya, namanya Yusuf Sanjaya. Kata Shasya, awalnya dia nggak terlalu bisa berinteraksi dengan Yusuf karena Yusuf terlalu cuek katanya.” Ucap Danang sambil melirik kearah Shasya yang menunduk dan juga kearah Yusuf yang sepertinya ingin mengetahui kelanjutannya seperti apa.
“Terus, Pak?” Tanya Khaira yang terlihat sangat penasaran dengan apa yang akan diucapkan Danang.
“Terus....” Ucap Danang yang mengantung.
“Teruuuus..” Ucap Khaira yang menirukan Danang.
“Terus, biarlah jadi rahasia kami, Shasya dan Allah.” Ucap Danang.
“Yah, Pak Danang. Saya penasaran sama kelanjutannya.” Ucap Khaira yang cemberut.
“Kalau mau tau kelanjutannya, lebih baik kamu tanya saja sama anak saya secara langsung.” Ucap Danang.
“Nggak mungkin Shasya mau kasih tau saya, Pak.” Ucap Khaira.
__ADS_1
“Kakak cantik nggak usah cemberut, sini aku suapi pisang goreng.” Ucap William yang membut semuanya tertawa.
Yusuf dan Shasya duduk sebuah pohon, karena Yusuf yang meminta karena dia ingin berbicara berdua dengan Shasya. Itu pun, sudah mendapat izin dari Bapaknya Shasya.
“Shasya.” Panggil Yusuf yang sedang duduk agak jauh dari Shasya.
“Iya, Pak.” Ucap Shasya yang melirik sebentar kearah Yusuf dan kembali menatap kedepan sana melihat Khaira dan William sedang bermain di sawah.
“Jangan panggil aku, Pak.” Ucap Yusuf.
“Maaf. Soalnya saya sudah biasa panggil kamu dengan sebutan Pak.” Ucap Shasya yang sekarang menunduk kearah Yusuf.
“Iya sudah, nggak pa-pa.”
“Pak Yusuf mau bicara apa?” Tanya Shasya yang langsung keintinya.
“Gimana bimbingan skripsi kamu sama Pak Hadi?” Tanya Yusuf.
“Alhamdulillah baik.”
“Alhamdulillah. Oh iya, saya pengin tau apa mimpi kamu.” Ucap Yusuf secara tiba-tiba.
“Saya hanya pengin melakukan apapun yang akan membuat orang tua saya bahagia, Pak. Mimpi saya nggak sebanding dengan kebahagiaan orang tua saya.” Ucap Shasya yang melihat orang tuanya yang sedang duduk dipinggiran sawah.
“Tapi, apa kamu nggak mau menggapai mimpimu?” Tanya Yusuf.
“Mimpi saya hanya ingin melihat orang tua saya selalu bahagia.” Ucap Shasya dengan tersenyum.
“Masya Allah. Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus kuliah?” Tanya Yusuf.
“Saya ingin membangun desa ini agar lebih maju, Pak. Dan juga melanjutkan usaha Bapak saya disini. Maaf, kenapa Pak Yusuf bertanya seperti itu?”
“Saya hanya ingin tau saja.” Ucap Yusuf yang mendapat anggukan dari Shasya.
“Shasya.” Panggil Yusuf.
“Iya, Pak?”
“Apakah sekarang sudah ada seseorang yang ada didalam hatimu?” Tanya Yusuf.
Deg.. Jantung Shasya berdetak hebat seketika. Tanpa menjawab pertanyaan Yusuf, Shasya langsung melangkahkan kakinya mengahmpiri William dan Khaira yang sedang bermain di sawah. Sedangkan Yusuf, hanya menatap langkah Shasya.
********************
Malam datang menjelang, Shasya dan Khaira sedang duduk di teras rumah.
“Sha, disini dingin banget iya.” Ucap Khaira.
“Iya, memang kayak gini udara malam disini.” Ucap Shasya yang terlihat sedikit tidak bersemangat.
“Sha, kamu kenapa?” Tanya Khaira yang faham dengan gerak-gerik yang aneh dari Shasya.
“Aku, nggak pa-pa.” Ucap Shasya yang berusaha tersenyum.
“Udah, Sha. Jujur aja sama aku.” Ucap Khaira.
__ADS_1
Tiba-tiba..
“Assalammualaikum.” Salam seorang laki-laki yang mendatangi Shasya dan Khaira.