Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Kehendak Tuhan


__ADS_3

~Semoga aja, Hadi bisa mendapatkan calon istri yang baik, seperti gadis yang ada dihadapanku ini.~


.


.


.


.


.


Dengan ikhlas, Shasya mengantar Fanya pulang ke rumah. Di dalam mobil, Shasya dan Hadi hanya terdiam. Sedangkan Fanya masih tertidur dipelukan Shasya. Shasya terus menepuk pelan punggung Fanya.


45 menit kemudian. Sampailah di rumah Hadi.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Ucap orang tua Hadi yang berjalan kearah pintu.


Ceklek.


Hadi langsung mencium tangan orang tuanya, sedangkan Shasya hanya mencium tangan Mama Hadi dan menunduk sopan kearah Papa Hadi.


"Mari masuk." Ucap Mama Hadi.


Shasya yang masih menggendong Fanya pun terlihat sedikit hati-hati.


"Nak, kamu bawa Fanya ke kamarnya iya. Soalnya orang tua Fanya, menitipkan dia disini." Ucap Mama Hadi.


"Iya, Tante. Tapi kamarnya dimana?"


"Mari Tante antar."


Mamanya Hadi mengantar Shasya ke kamar Fanya. Dengan perlahan, Shasya meletakkan tubuh Fanya ke ranjang kamarnya.


Huaa... Huaaa... Huaa....


Fanya menangis dengan keras. Seketika, Shasya menepuk-nepuk pelan bahu Fanya. Fanya langsung tertidur dengan pulas.


Mamanya Hadi melihat perilaku Shasya, hanya terkesima. Dan berharap anaknya bisa mendapatkan seorang gadis seperti Shasya.


"Semoga aja, Hadi bisa mendapatkan calon istri yang baik, seperti gadis yang ada dihadapanku ini." Batin Mama Hadi.


"Tante." Ucap Shasya dengan pelan.


"Sudah tidur lagi?"


"Iya, Tan. Maaf saya tidak bisa lama-lam disini, soalnya saya ada urusan."


"Iya sudah, ayo kita keluar." Ucap Mama Hadi yang langsung mendapat anggukan dari Shasya.


Disisi lain, ruang tamu.


"Siapa dia?" Tanya Papa Hadi.


"Dia salah satu Mahasiswi aku, Pa." Ucap Hadi.


"Kalau kamu sudah yakin sama dia, Papa hanya bisa mendukung kamu. Papa berdoa semoga kamu mendapatkan calon istri yang terbaik." Ucap Papa Hadi, karena dia tahu gerak-gerik anaknya yang terlihat suka kepada Shasya.


"Aamiin. Makasih, Pa."


Shasya dan Mamanya Hadi keluar dari kamar Fanya.


"Om, Tante, maaf. Shasya harus pergi, soalnya Shasya ada urusan." Ucap Shasya dengan sopan.


"Iya nggak pa-pa, Nak. Lain kali kamu boleh mampir kesini lagi." Ucap Papa Hadi.


"Insya Allah, Om."


"Iya sudah. Ma, Pa, Hadi antar Shasya dulu." Ucap Hadi.


"Hati-hati, iya." Ucap Mama Hadi.

__ADS_1


Hadi dan Shasya langsung bersalaman dan pamit pergi dari rumah Hadi.


********************


Sesampainya di Rumah Sakit, Hadi langsung pamit pergi meninggalkan Shasya dan Khaira yang masih terduduk lemas.


Pukul 23.30 Khaira masih belum merasa mengantuk. Sedangkan sedari tadi, Shasya berusaha untuk tetap terjaga.


Tiba-tiba ada dokter yang berlari masuk ke ruangan ICU. Khaira dan Shasya langsung terkejut melihatnya.


Beberapa saat kemudian, dokter langsung keluar dari ICU.


"Dok, gimana keadaan orang tua saya?" Tanya Khaira dengan gelisah.


"Maaf, saya sudah berusaha sekuat tenaga. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Orang tua anda telah meninggal dunia." Ucap Dokter itu dengan hati-hati.


"APA? Nggak mungkin, Dok." Khaira langsung menangis histeris.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Ucap Shasya yang langsung meneteskan air matanya dan memeluk Khaira agar sedikit tenang.


Beberapa perawat langsung mengeluarkan jenazah orang tua Khaira dari ICU.


"MAMA, PAPA. Jangan tinggalin Khaira sendirian. Khaira sayang sama Mama dan Papa." Khaira menangis sambil memeluk Mama dan Papanya secara bergantian.


********************


Keesokan harinya, semua orang telah meninggalkan area pemakaman setelah memakamkan dan mendoakan kedua orang tua Khaira. Tinggallah Shasya dan Khaira yang berada di tempat pemakaman kedua orang tua Khaira.


Khaira terus menangis sambil menatap nisan kedua orang tuanya. Sedangkan Shasya terus mengelus bahu Khaira untuk memberikan semangat.


"Khaira, lo nggak boleh larut dalam kesedihan. Semuanya udah takdir dari Allah. Lo harus ikhlas, agar orang tua lo tenang disana." Shasya menarik Khaira kedalam pelukannya. Khaira hanya mengangguk kecil sambil mengeratkan pelukan Shasya.


Setelah beberapa menit, akhirnya Shasya dan Khaira pulang ke rumah Khaira.


"Sha, lo bisa nggak? Kalau tinggal disini sama gue?" Tanya Khaira.


"Tapi..."


"Insya Allah, Khai. Tapi gue harus izin dulu sama orang tua gue."


"Iya, Sha. Gue harap lo dibolehin nemenin gue disini. Soalnya, gue terpaksa pecat Bibi, Sha. Gue nggak yakin bisa gaji dia."


"Insya Allah, Khai." Shasya memeluk Khaira.


Setelah puas mengobrol, Shasya memasak untuk Khaira.


Shasya memasak Opor Ayam dan Sambal Goreng Ampela.


"Masakan lo emang the best, Sha." Puji Khaira sambil memakan masakan Shasya.


"Syukurlah kalau kamu suka."


"Lain kali, ajarin gue masak iya." Ucap Khaira.


"Boleh." Shasya tersenyum tipis melihat Khaira yang sudah bisa ikhlas atas kepergian orang tua nya.


"Semoga akan ada kebahagiaan yang selalu menyertai lo, Khai. Gue nggak pengin, lo selalu sedih dan menangis." Batin Shasya.


Setelah selesai makan, Shasya dan Khaira menonton tv.


"Oh iya, gue telpon orang tua gue dulu iya."


"Iya, semoga aja dibolehin." Ucap Khaira.


Shasya langsung pergi menjauh dari Khaira.


Call On.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Nak."


"Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" Tanya Shasya.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Nak. Kamu sendiri gimana kabarnya?" Tanya Lastri, Ibu Shasya.


"Alhamdulillah, Shasya baik-baik saja disini."


"Alhamdulillah."


"Bu, Shasya mau izin. Boleh nggak kalau Shasya tinggal dirumahnya Khaira? Sahabat Shasya."


"Kamu ngapain tinggal di rumahnya Khaira? Nggak merepotkan?"


"Khaira sekarang tinggal sendiri, Bu. Orang tuanya baru saja meninggal. Dan Khaira menyuruh Shasya buat nemenin dia di rumahnya. Boleh nggak, Bu?"


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sampaikan bela sungkawa Ibu sama Bapak untuk Nak Khaira."


"Iya, Bu. Insya Allah. Jadi gimana, Bu?"


"Pasti Nak Khaira sangat membutuhkan teman, Nak. Ibu mengizinkan kamu tinggal di rumahnya Nak Khaira. Yang penting kamu harus bisa jaga diri dan selalu membantu Nak Khaira."


"Insya Allah, Bu. Shasya pasti selalu ada buat Khaira. Oh iya, Bapak kemana?"


"Bapak lagi ke Sawah, Nak."


"Oh iya sudah, salam buat Bapak. Shasya tutup dulu. Assalamu'alaikum."


"Iya, Wa'alaikumussalam."


Call Off.


Shasya menghampiri Khaira yang sedang asik menonton tv.


"Gimana, Sha?"


"Alhamdulillah, Ibu kasih izin."


"Alhamdulillah."


"Oh iya, tadi Ibu sama Bapak bilang kalau turut berduka cita atas meninggalnya orang tua lo."


"Iya, terimakasih."


"Iya sudah, gue pulang ke kostan dulu. Gue mau beres-beres sekalian pamit sama temen-temen di kost dan Ibu Kost."


"Gue anterin."


"Nggak usah, gue naik taksi aja."


"Nggak, Sha. Gue anterin aja. Nanti barang-barang lo ditaruh ke mobil gue. Terus lo bawa motor lo deh."


"Hm, baiklah."


Shasya dan Khaira pergi ke Kostannya Shasya.


35 menit kemudian, sampailah di kostan.


Shasya langsung membereskan barang-barangnya dengan cepat. 1 jam kemudian, semuanya sudah tertata rapi. Shasya dan Khaira keluar Kost dan berpamitan dengan temen-temen Shasya yang ada disamping kanan dan kiri kamar kost-an. Setelah selesai, Shasya langsung bergegas kerumah Ibu Kost-nya yang berada tepat disamping area kostan. Dan Khaira menunggunya di mobil.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Bu Kost Shasya keluar rumah.


"Lo, Shasya kamu mau pindah?" Tanya Ibu Kost.


"Iya, Bu. Maaf kalau mendadak."


"Ini belum genap satu bulan loh. Kamu kan sudah melunasi pembayaran bulan ini."


"Nggak pa-pa, Bu. Buat Ibu aja, Insya Allah saya ikhlas. Saya kesini cuma mau pamit sama Ibu."


"Oh iya sudah. Semoga kamu betah ditempat barumu."


"Aamiin. Saya permisi, Bu. Dan ini kuncinya. Assalamu'alaikum." Ucap Shasya sambil memberikan kunci Kostannya.


"Wa'alaikumussalam."

__ADS_1


__ADS_2