
~"Kenapa hati gue nggak karuan gini? Sebenernya gue suka sama siapa? Kenapa semakin ke sini, cinta gue ke Shasya semakin hilang? Apa ini jawaban dari Allah untukku?"~
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Shasya dan Khaira sedang duduk di teras rumah Khaira. Karena jadwal bimbingan mereka agak siang. Jadi, mereka memutuskan untuk menikmati pagi diteras rumah Khaira yang ada mini tamannya.
"Assalamu'alaikum." Salam Kevin yang tiba-tiba datang ke rumah Khaira.
"Wa'alaikumussalam. Duduk, Vin."
"Iya. Maaf Khai, kemarin gue nggak datang ke acara pemakaman orang tua lo. Soalnya gue juga ada urusan penting yang nggak bisa gue tinggal."
"Iya nggak pa-pa kok."
"Gue turut berduka cita iya, Khai."
"Iya, makasih."
Ternyata sedari tadi, Shasya sudah masuk ke rumah Khaira dan membuatkan minuman untuk Kevin, Khaira dan dirinya sendiri.
"Silahkan diminum." Ucap Shasya smabil memberikan secangkir teh kepada Khaira dan Kevin.
"Makasih, Sha."
"Makasih. Kok lo buatin kita minum? Bukannya lo tadi disini?" Tanya Khaira.
"Lo sih fokusnya ke Kevin, jadi nggak kan tau kalau gue udah pergi dari tadi pas Kevin duduk."
"Apaan sih? Nggak gitu juga kali." Khaira tampak tersipu malu mendengar ucapan Shasya.
"Tuh kan, pipi lo kayak kepiting rebus." Goda Shasya sambil tertawa melihat Khaira yang salah tingkah.
"Kenapa hati gue nggak karuan gini? Sebenernya gue suka sama siapa? Kenapa semakin ke sini, cinta gue ke Shasya semakin hilang? Apa ini jawaban dari Allah untukku?" Batin Kevin.
"Ehem..."
"Sekarang gue dicuekin."
"Apaan sih lo. Nggak jelas banget. Nggak dicuekin juga kali. Lo nya aja yang nggak ikut ngomong." Ucap Khaira.
"Nanti kalau gue ikut ngomong, salah lagi. Kan emang gitu, cowok selalu salah dimata cewek."
"Masa? Nggak tuh. Tergantung orangnya, bukan gendernya."
"Iya, biasanya gitu. Kalau cewek itu selalu pengin menang dari cowok. Dan cowok nggak bisa mengungkapkan pendapatnya, karena pendapat cewek itu selalu benar."
"Nggak semua cewek kayak gitu."
"Kebanyakan sih gitu. Semua cewek sama aja." Ucap Kevin yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Khaira. Sedangkan Shasya hanya diam dari tadi mendengar pertengkaran Khaira dan Kevin.
*****************
Di Kampus.
Shasya dan beberapa temannya, melakukan bimbingan dengan Hadi. 4 jam berlalu, akhirnya bimbingannya selesai.
Shasya membereskan semua buku-buku dan laptopnya. Dia ingin segera pulang karena sudah pukul 15.00. Tapi, langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Shasya."
__ADS_1
Shasya menoleh ke sumber suara. "Apa ada, Pak?" Tanya Shasya sambil menunduk.
"Fanya pengin ketemu sama kamu." Ucap Hadi.
"Insya Allah, saya akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan Fanya. Tapi maaf, hari ini saya tidak bisa."
"Ayolah, Sha. Fanya menangis terus pengin ketemu sama kamu. Kalau kamu nggak bisa ke rumah saya, saya deh yang akan ke kostan kamu."
"Maaf, Pak. Sekarang saya tinggal di rumahnya Khaira."
"Oh iya sudah, saya sama Fanya ke rumah Khaira aja nanti malam."
"Emmm... tapi, Pak."
"Nggak dibolehin iya?"
"Saya nggak tau, Pak. Tapi nanti malam, saya coba luangin waktu buat Fanya. Nanti malam Pak Hadi ajak Fanya ke pasar malam aja. Insya Allah nanti saya kesana."
"Oke kalau gitu. Saya tunggu kamu di pasar malam nanti malam."
"Iya, Insya Allah. Kalau gitu saya pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
.
45 menit berlalu, Shasya dan Khaira sudah sampai di rumah.
"Macet banget ternyata, mendingan gue jalan kaki." Gerutu Shasya.
"Iya mau gimana lagi. Kalau jalan kaki juga lumayan jauh."
"Iya juga. Eh, Khai."
"Apa? Lo mau curhat ke gue?"
"Kok lo tau?"
"Apa jangan-jangan lo dengar pembicaraan gue sama Pak Hadi iya?"
"Hehehe sorry, gue nggak sengaja dengar. Tapi cuma sedikit kok."
"Iya udah deh, nggak pa-pa."
"Nanti malam gue ikut iya, gue bosen di rumah sendirian."
"Boleh, lo ajak Bayu sama Kevin aja sekalian."
"Gue ajak Kevin aja, kalau Bayu lo aja yang ngajak dia."
"Kenapa?"
"Nggak mau aja."
"Lo suka sama Kevin?"
"Apaan dah, iya nggaklah." Khaira salah tingkah mendengar pertanyaan Shasya.
"Ngaku aja, Khai."
"Nggak, Sha."
"Iya udah kalau nggak mau ngaku. Tapi gue kasih saran, jangan mau diajak pacaran. Pacaran sama saja dengan perbuatan zina. Kamu paham kan?"
"Iya Bu Shasya yang cantik. Gue paham. Gue juga nggak mau pacaran, tapi kalau diajak nikah iya mau."
"Good girl." Akhirnya Khaira dan Shasya tertawa lepas.
__ADS_1
********************
Di Pasar Malam.
Karena Bayu nggak bisa ikut, akhirnya Shasya pergi dengan Kevin dan Khaira. Sesampainya di pasar malam, Shasya langsung mencari keberadaan Hadi dan Fanya. Sedangkan Khaira dan Kevin bermain berdua.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Hai, Fanya."
"Kakak.." Fanya ingin digendong oleh Shasya. Alhasil, Shasya menggendong Fanya yang sedari tadi berdiri disamping Hadi.
"Fanya kangen iya sama Kak Shasya?" Tanya Shasya dan mendapat anggukan dari Fanya.
"Iya udah, ayo kita main." Ucap Shasya.
"Yeeeeyy.... Ayoooo...."
Fanya turun dari gendongan Shasya, karena dia ingin berjalan sendiri. Tapi kedua tangan Fanya dipegang oleh Shasya dan Hadi satu-satu.
Mereka berjalan mencari permainan yang Fanya inginkan. Hadi tersenyum melihat Shasya yang begitu sayang kepada Fanya. Shasya dan Fanya terus berbicara sambil mencari-cari permainan yang pas untuk Fanya.
Shasya, Hadi dna Fanya tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Shasya dan Fanya yang terus bersenda gurau, sedangkan Hadi terus menatap keduanya.
"Anya.. pengin itu..." Fanya menunjuk sebuah boneka beruang berukuran sedang dan berwarna pink.
"Oke, ayo kita kesana." Ucap Hadi dna mendapat anggukan dari Shasya dan Fanya.
"Kakak.. gendong.." Rengek Fanya. Shasya langsung menggendong Fanta dan berjalan bersama Hadi ke tempat boneka yang didinginkan Fanya.
"Mbak permisi, saya mau beli boneka itu." Ucap Hadi sambil menunjuk boneka yang diinginkan Fanya.
"Bonekanya tidka bisa dibeli, Mas. Kalau Mas mau, silahkan Mas menangkan dulu permainannya." Ucap penjaga toko.
"Caranya?"
"Gampang Mas. Mas tinggal panah aja di buah pisang yang bergerak."
"Oke, saya beli 5 panah."
"Baiklah."
Penjaga toko langsung memberikan 5 anak panah dan 1 busur untuk Hadi. Hadi langsung membayarnya dan melakukan permainan itu.
"Ayoo... Uncle..." Sorak Fanya.
"Iya ayo, Uncle pasti bisa." Shasya menirukan suara Fanya untuk menyemangati Hadi. Sedangkan Hadi hanya tersenyum mendengar ucapan Shasya.
"Gemes banget." Batin Hadi.
Hadi mulai memanah dengan serius. Tetapi 4 kali memanah, selalu saja meleset. Alhasil, Hadi nampak sedikit kecewa karena dia gagal.
"Pak, Shasya boleh coba?" Tanya Shasya yang masih menggendong Fanya.
"Boleh." Hadi memberikan Busur dan sisa anak panah kepada Shasya. Dan Hadi langsung mengambil Fanya dari gendongan Shasya.
"Ayoo... Kakak..." Sorak Fanya. Shasya langsung tersenyum kearah Fanya.
"Manis banget Ya Allah." Batin Hadi.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucap Shasya.
Satu kali tembakan, anak panah Shasya tepat sasaran. Hadi melongo melihat kehebatan Shasya. Sedangkan Fanya langsung berteriak kegirangan karena mendapatkan boneka yang dia inginkan.
"Yeey... boneka... yeeyyy..." Teriak Fanya.
__ADS_1
"Kamu hebat." Hadi mengucapkannya dengan refleks.
"Hehe, terimakasih, Pak."