
~"Lo anggap gue ini apa? Sahabat kan? Sahabat itu akan selalu ada disaat susah mau senang. Bukan disaat senang aja."`
.
.
.
.
.
Pukul 16.00. Sekarang Khaira dan Shasay berjalan-jalan disekitar Kompleks.
"Sha?"
"Iya, Khai?"
"Setelah acara kelulusan, lo bakal pulang ke Kampung?"
"Iya, Khai. Gue udah janji sama orang tua gue. Oh iya? Sekarang lo juga menghandel Perusahaan Bokap lo iya? Tapi kok, gue nggak pernah lihat lo ke Perusahaan?"
"Perusahaan Bokap gue, udah gue jual Sha."
"Kenapa lo jual? Bukannya lo bisa menghandel Perusahaan Bokap lo?"
"Buat apa, Sha? Perusahaan Bokap gue udah mau bangkrut saat para Karyawan Bokap gue tau, kalau Bokap gue udah meninggal. Banyak yang ambil kesempatan untuk membawa kabur uang Perusahaan. Tapi gue bersyukur, masih ada Karyawan yang setia sama Bokap gue. Dan demi bisa bayar gaji mereka, gue jual Perusahaan itu daripada gue harus jual rumah orang tua gue. Karena itu satu-satunya peninggalan dari mereka." Khaira berusaha berbicara dengan tenang. Namun, batinnya tidak bisa dibohongi. Batinnya menangis, sejadi-jadinya.
Shasya langsung memeluk Khaira dari samping dan langkah kaki mereka berhenti. "Kenapa lo nggak pernah cerita ke gue? Gue kan bisa bantu, Khai." Sekarang Shasya menatap mata Khaira.
"Gue nggak mau merepotkan orang lain. Selagi gue bisa menanggung sendiri, kenapa harus minta bantuan sama lo?"
"Lo anggap gue ini apa? Sahabat kan? Sahabat itu akan selalu ada disaat susah mau senang. Bukan disaat senang aja."
"Iya, Sha. Maaf." Khaira langsung memeluk Shasya. Dan Shasya pun langsung membalas pelukannya.
"Gue nggak mau, kalau lo menanggung semuanya sendiri. Gue ada buat lo, jadi lo jangan sungkan buat minta pertolongan sama gue. Biar gue merasa sedikit berguna buat lo. Karena selama ini, lo yang selalu nolongin gue, Khai." Shasya tidak bisa membendung air matanya, untuk tidak turun dipipinya.
"Lo udah sangat membantu gue, Sha. Lo sangat berarti dalam hidup gue. Gue nggak tau, bakal seperti apa hidup gue selama ini tanpa lo." Khaira meneteskan air mata.
__ADS_1
Mereka berpelukan lumayan lama. Untungnya, jalanan di Kompleks itu terbilang sepi. Sehingga tidak ada kendaraan maupun orang yang lewat. Namun tiba-tiba..
"Mmpphh.." Ada dua orang yang membungkam mulut Shasya dan Khaira hingga mereka pingsan.
********************
Shasya bangun sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Matanya melihat sekeliling dan dia tersadar bahwa ini bukan kamar Khaira. Shasya melihat Khaira masih pingsan disampingnya.
"Khaira, bangun.." Lirih Shasya sambil menepuk-nepuk bahu Khaira. Khaira yang merasa terusik oleh Shasya pun langsung terbangun.
"Sha, kita dimana?" Kalimat pertama yang muncul saat Khaira terbangun. Karena dia tau persis, kalau ini bukan kamarnya.
"Gue juga nggak tau, Khai. Tadi kalau nggak salah.. kita kan ada di..."
"Di jalan Kompleks deket rumah gue." Ucap Khaira.
"Sekarang kita dimana? Apa kita diculik?" Sambungnya dengan panik.
"Tenang, Khai. Kita Sholat aja dulu. Ini udah mau jam tujuh dan kita belum sholat Magrib." Ucap Shasya sambil melihat kearah jam tangannya.
"Iya udah, ayo."
Shasya langsung pergi ke kamar mandi yang ada dikamar itu. Mereka begantian untuk membersihkan badan dan berwudhu. Mereka disekap, dikamar yang lumayan luas dan aesthetic. Bukan disekap di gudang, maupun ditempat-tempat kotor lainnya.
45 menit berlalu. Sekarang mereka duduk dipinggir ranjang.
"Sha, gue takut banget." Khaira mulai gemetar tidak karuhan.
"Tenang, Khai. Kita masih punya Allah yang akan melindungi kita. Lo nggak usah khawatir." Shasya menarik Khaira kedalam pelukannya.
"Iya, Sha."
"Sebenarnya gue juga takut, Khai. Tapi gue berusaha untuk tetap tenang, agar gue bisa membuat lo sedikit lebih tenang." Batin Shasya.
Ceklek...
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan menampakkan seorang laki-laki bertopeng disana.
"Kalian ditunggu Tuan dibawah. Mari saya antar." Ucap laki-laki bertopeng.
__ADS_1
Shasya dan Khaira berjalan keluar dari kamar itu dengan bergandengan tangan. Sedangkan laki-laki bertopeng itu mengikuti Shasya dan Khaira dari belakang.
"Ya Allah, hanya kepadamu lah kami menyembah dan meminta pertolongan. Engkau Tuhan kami Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba mohon lindungilah kami dari segala macam bahaya yang akan menimpa kami, Ya Allah. Aamiin." Shasya berdoa dalam hati.
Sekarang Shasya dan Khaira sudah duduk diruangan seseorang. Diruangan itu bernuansa gelap dan pencahayaan pun remang-remang.
Seorang laki-laki bertopeng memutar kursinya dan melihat kearah Khaira dan Shasya. Sedangkan Shasya dan Khaira menunduk ketakutan sambil berpegangan tangan.
"Hello, Sha. Udah lama nggak ketemu." Laki-laki itu membuka topengnya dan menghidupkan semua lampu. Sekarang baru tampak, siapa laki-laki itu. Shasya terkejut saat melihat laki-laki itu dan langsung mengalihkan pandangannya. Sedangkan Khaira? Hanya terdiam dan bingung akan situasi saat ini.
"Mau apa lo?" Sikap Shasya berubah 180° menjadi ketus dan datar saat berbicara dengan laki-laki itu. Sedangkan Khaira lumayan kaget dengan nada bicara Shasya. Namun dia tetap diam dan menunduk.
"Masih nanya gue mau apa? Iya gue maunya lo lah." Ucap laki-laki itu yang ingin memegang pipi Shasya, tetapi langsung ditepis olehnya.
"Jangan sentuh gue dengan tangan kotor lo itu, Hasan." Nada bicara Shasya sangat ketus.
"Owh lo masih ingat nama gue?" Tanya laki-laki itu, yang bernama Hasan. Hasan adalah teman Shasya, eh bukan lebih tepatnya seorang laki-laki brengsek yang tergila-gila kepada Shasya waktu zaman SMA.
"Udah lama kita nggak ketemu. Gue kangen sama lo." Hasan memangku mukanya dengan kedua tangannya dimeja.
"Oh iya? Gimana? Enak di penjara? Atau mau masuk kesana lagi?" Nada bicara Shasya seperti mengejek.
Memang Hasan baru keluar dari penjara 2 bulan yang lalu. Dan langsung mencari tau keberadaan Shasya. Hasan dipenjara karena terbukti melakukan pelecehan kepada Rika, sahabat Shasya waktu SMA, hingga Rika harus dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa karena trauma dan depresi.
"Hmmm, kalau gue di penjara karena lo, gue ikhlas." Sekarang Hasan berjalan menghampiri Shasya. Shasya langsung membuang muka, saat Hasan duduk dimeja yang berada sangat dekat dengannya.
Hasan berusaha menyentuh pipi Shasya, namun selalu ditepis olehnya. "JANGAN SENTUH GUE." Ucapan Shasya penuh dengan penekanan.
Sekarang Shasya sudah berdiri dan menghadap kearah Khaira yang masih diam. "Khai, lo nggak pa-pa?" Tanya Shasya yang langsung mendapat gelengan kepala dari Khaira.
Shasya beralih menatap Hasan yang masih tersenyum penuh arti. "Masalah lo sama gue. Ini nggak ada hubungannya sama sahabat gue. Jadi lepasin dia." Ucap Shasya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Hmmm, apapun akan aku lakukan untuk kamu, Sayang." Hasan berhasil mencolek dagu Shasya.
"Astaghfirullah hal adzim, maafkan hambamu ini Ya Allah. Hamba belum bisa menjaga diri hamba sendiri." Batin Shasya.
Hasan berjalan kearah Khaira. "Lo akan gue lepasin, tapi jangan sampai lo bukan mulut kalau Shasya ada ditangan gue. Kalau sampai itu terjadi, jangan harap lo bisa bertemu lagi dengan Shasya."
"Nggak, gue nggak akan biarin Shasya disini sendiri." Khaira langsung mengangkat wajahnya dan menatap Hasan.
__ADS_1
"Owh, lo sahabat yang setia juga rupanya. Shasya, gimana? Sahabat lo nggak mau dilepasin?"
"Gue mau bicara berdua dengan Khaira." Ucap Shasya dengan ketus.