
~Seakan Shasya tersadar, dia langsung membalikkan badannya dan melihat siapa yang dia tabrak.~
.
.
.
“Kevin, maaf. Gue hanya menganggap lo sebagai teman gue dan itu nggak lebih.” Ucap Shasya yang langsung berlari meninggalkan Taman.
Sedangkan Khaira yang tau dengan sikap Shasya pun membiarkan dia untuk menyendiri dan menenangkan dirinya sendiri. Karena disaat sedih, Shasya lebih memilih untuk menyendiri dan tidak menceritakan masalahnya kepada siapapun.
Shasya berlari pulang menuju kostannya, derai air mata membasahi pipinya karena Shasya merasa bersalah telah membuat Kevin malu.
“Maaf, Vin. Gue nggak bisa bersama sama lo. Kita ini berbeda agama dan gue juga nggak mau pacaran. Gue bahkan sudah berkali-kali bilang sama lo kan, tapi kenapa lo lakuin ini ke gue. Gue jadi merasa bersalah udah buat lo malu didepan banyak orang.” Ucap Shasya disepanjang perjalanan.
Bugh..
Shasya yang tidak terlalu memerhatikan jalan pun tiba-tiba dia menabrak seseorang dan terpental jatuh tersungkur.
“Aaww..” Teriak Shasya.
Seseorang yang ditabrak Shasya pun langsung menyodorkan bukunya, seakan tau kalau Shasya pasti tidak akan mau jika disentuh oleh lawan jenisnya.
Shasya memegang buku itu dan dibantu berdiri oleh seseorang yang dia tabrak.
“Maaf, saya tidak sengaja.” Ucap Shasya yang sudah berdiri dengan kepala yang dia tundukkan.
“Nggak pa-pa.” Ucap seseorang itu.
“Kalau gitu saya permisi.” Ucap Shasya yang langsung melangkahkan kakinya pergi.
“Kamu nggak kenal sama saya?” Tanya seseorang itu dan bisa membuat langkah Shasya terhenti.
Seakan Shasya tersadar, dia langsung membalikkan badannya dan melihat siapa yang dia tabrak.
“Pak Hadi.” Ucap Shasya.
Yah, benar. Yang ditabrak oleh Shasya adalah Hadi, Dosen pembimbingnya.
“Kamu kenapa? Sampai nggak kenal dengan saya.” Ucap Hadi yang menghampiri Shasya.
“Maaf, Pak. Tadi saya hanya banyak pikiran saja.” Ucap Shasya dengan menunduk karena malu.
“Kalau kamu nggak keberatan, kamu bisa cerita ke saya.” Ucap Hadi.
“Maaf, Pak saya harus pulang.” Ucap Shasya yang mengalihkan pembicaraan karena dia tidak terlalu suka dengan apa yang diucapkan Hadi.
“Oke, nggak pa-pa kalau kamu nggak mau cerita ke saya. Tapi, apa saya boleh mengantar kamu pulang?” Tanya Hadi.
“Nggak usah, Pak. Saya tidak mau merepotkan Bapak. Saya bisa pulang sendiri. Assalammualaikum.” Ucap Shasya yang meninggalkan Hadi.
“Wa’alaikumussalam.” Ucap Hadi yang mengerti dengan penolakan halus yang diucapkan oleh Shasya.
Sesampainya di kostan, Shasya langsung melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai, Shasya memilih untuk tidur sebentar agar pikirannya kembali fresh.
********************
Keesokan harinya terlihat begitu mencekam bagi Shasya karena semua mata Mahasiswi di Kampus tertuju padanya dengan tatapan tidak suka.
Sesampainya didepan kelasnya..
__ADS_1
Bugh..
Shasya didorong oleh Vina sampai jatuh tersungkur.
“Eh lo nggak usah munafik. Lo itu harus bahagia karena bisa dicintai sama orang yang terkenal di Kampus ini. Walapun gue lihat, lo itu nggak pantes kalau dibandingkan sama Kevin. Entah Kevin kerasukan apa? sampai dia suka sama lo.” Ucap Vina sambil menunjuk-nunjuk Shasya yang masih duduk diatas lantai.
Shasya mencoba untuk berdiri dan sekarang mereka jadi tontonan semua orang.
“Jangan sok suci lo. Ditembak Kevin lo tolak, lo itu mau cari yang kayak dia lagi di dunia ini nggak bakal ada. Dia itu sempurna.” Bentak Vina kepada Shasya yang masih terdiam.
“Manusia nggak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah Ta’ala.” Ucap Shasya yang meninggalkan Vina yang terus menjelek-jelekkan dia.
Shasya meminta izin kepada Dosennya dan memutuskan untuk pulang ke kostan setelah Shasya diperlakukan seperti itu oleh Vina.
Sesampainya di kostan, dia langsung menangis tak bersuara. Air matanya terus mengeluarkan air mata.
Tiba-tiba, ponsel Shasya berbunyi dan dia langsung mengangkatnya.
“Assalammualaikum, Sha.” Ucap Khaira yang menelpon Shasya setelah dia tau yang terjadi di Kampus karena saat kejadian, Dia dan Bayu ada urusan dengan Dosen pembimbing mereka.
“Wa’alaikumussalam.” Ucap Shasya yang berusaha bersikap seperti biasa.
“Gue baru tau kejadian lo sama Vina, lo nggak pa-pa kan?”
“Lo tenang aja, gue nggak pa-pa kok. Maaf Khai, gue tutup telponnya dulu. Assalammualaikum.” Ucap Shasya yang langsung menutup telponnya tanpa mendengar ucapan apapun dari Khaira.
Tiba-tiba, ponsel Shasya kembali berbunyi dan tanpa melihat siapa yang menelpon, dia langsung mengangkat telpon dari seseorang.
“Ada apa lagi, Khai? Iya, gue nggak baik-baik aja. Gue butuh lo sekarang. Hiks.. Hiks..” Ucap Shasya yang langsung menangis tanpa tau yang menelpon siapa.
“Shasya, kenapa kamu menangis?” Tanya dari seberang telpon yang tidak lain adalah Yusuf.
“Sha, kamu kenapa?” Tanya Yusuf sekali lagi yang terdengar agak panik.
“Saya nggak pa-pa, Pak.” Ucap Shasya yang menghapus air matanya.
“Saya nggak akan tenang kalau kamu nggak cerita, saya nggak pernah dengar kamu menangis. Coba cerita ke saya, siapa tau saya bisa bantu.” Ucap Yusuf.
“Ini hanya masalah kecil kok, Pak. Bapak nggak usah khawatir.”
“Baiklah kalau kamu nggak mau cerita ke saya. Tapi, apa saya boleh meminta sesuatu sama kamu?” Tanya Yusuf.
“Boleh, Pak.”
“Saya minta, kamu jangan panggil saya dengan sebutan Pak lagi. Saya ini masih muda, apa tampang saya udah kayak bapak-bapak.”
“Terus Pak Yusuf maunya dipanggil dengan sebutan apa?”
“Kalau nggak keberatan paanggil Mas aja.”
“Hah?”
“Saya bercanda, panggil saya Kak aja. Umur kita hanya beda tiga tahun.”
“Baiklah, Pak. Eh, maksud saya Kak Yusuf.” Ucap Shasya yang seakan lupa dengan masalah yang baru saja dia alami.
“Aku senang dengar kamu panggil saja dengan sebutan itu.”
“Aku?”
“Maaf, aku pengin aja biar nggak kelihatan formal kalau bicara sama kamu.”
__ADS_1
“Iya, senyamannya Kak Yusuf aja. Kak, maaf ada yang harus saya lakukan. Assalammualaikum.”
“Iya, sudah. Wa’alaikummussalam.”
Shasya langsung menutup telponnya dan merebahkan tubuhnya dikasur.
“Setelah ada orang yang nggak baik ke gue, ada yang bisa mengobatinya sekarang.” Gumam Shasya.
Sore menjelang, sekarang Khaira sudah berada dikostannya Shasya.
“Shasya, maaf gue tadi belum ada di Kampus. Makanya gue nggak bisa lindungin lo.” Ucap Khaira sambil memeluk Shasya dari samping.
“Iya, nggak pa-pa. Gue juga nggak enak kalau harus ngelibatin lo sama urusan gue.” Ucap Shasya sambil memegang lengannya Khaira.
“Tapi kok lo nggak sedih sih?” Tanya Khaira sambil melepas pelukannya.
“Lo mau gue sedih?”
“Nggak sih, kayaknya gue baru aja mencium bau-bau kebahagiaan diatas kesedihan.”
“Nggak usah asal kalau bicara.”
“Beneran, pasti Bayu habis kesini iya buat kasih semangat ke lo.” Goda Khaira.
“Iya nggaklah, masa iya boleh ada cowok yang masuk ke kostan ini.”
“Maksud gue didepan sana loh, digerbang.”
“Oh, gitu. Tapi dia nggak kesini tuh.”
“Berarti kalau gitu, lo pasti habis telponan sama Pak Yusuf.” Goda Khaira yang langsung membuat pipi Shasya tiba-tiba merah merona.
“Oh, udah ketebak. Jadi benar Pak Yusuf telpon lo?” Tanya Khaira.
“Iya, tapi gue malu banget tau.”
“Kok malu, kenapa?”
“Karena gue nggak lihat dulu siapa yang telpon. Gue kira itu lo yang telpon gue, terus entah kenapa dengan tiba-tiba gue bilang kalau, gue nggak baik-baik aja. Gue butuh lo sekarang. Gitu, sambil nangis. ” Ucap Shasya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tawa Khaira menggelegar setelah mendengar cerita dari Shasya.
“Ah, lo nggak asik.” Ucap Shasya dengan cemberut.
“Maaf, pasti tadi lucu banget ekspresi lo. Coba lo ulang dong, gue pengin lihat.” Ucap Khaira dengan tertawa.
“Enak aja. Nggak.”
“Oke, gue nggak maksa. Oh iya, tadi pas gue pulang, gue ketemu sama Pak Hadi. Dia minta lo pergi ke ruangannya besok.”
“Oke, makasih infonya.”
“Tapi..”
“Tapi apa?”
“Tapi lo diminta ke ruangannya sama Kevin.” Ucap Khaira dengan ragu.
“Kenapa harus Kevin?” Tanya Shasya yang penasaran.
“Gue juga nggak tau.”
__ADS_1