
~"Ya Allah, hamba mohon. Jangan sampai pernikahan ini terjadi. Hamba mohon Ya Allah. Hamba yakin, kau pasti akan menolong hambamu ini. Ya Allah, jangan biarkan hamba menikah dengan seseorang yang tidak hamba cintai, Ya Allah."~
.
.
.
.
.
Hasan membawa Shasya ke kamar dimana Shasya disekap. Hasan menghempaskan Shasya diatas ranjang dengan kasar.
Hasan mendekati Shasya yang ketakutan. "JANGAN MENDEKAT. GUE MOHON JANGAN MENDEKAT." Teriak Shasya.
"Tinggal beberapa saat lagi, lo bakal jadi milik gue sepenuhnya." Ucap Hasan yang langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Shasya.
"Astaghfirullah hal adzim..." Mata Shasya tiba-tiba mengeluarkan air yang membasahi pipinya.
5 menit setelah Hasan keluar, ada 2 orang wanita masuk ke kamar Shasya sambil membawa beberapa koper.
"Kalian siapa?" Tanya Shasya yang berusaha bersikap tenang.
"Saya Miss Vina dan dia Ruby, asisten saya." Ucap Miss Vina sambil menunjuk kearah asistennya yang sedang menata barang bawaan mereka.
"Kalian ngapain kesini?" Tanya Shasya.
Bukannya menjawab, Miss Vina dan Ruby menarik paksa Shasya untuk duduk didepan meja rias. Shasya terus memberontak dengan tarikan paksa Miss Vina dan Ruby.
"LEPASIN.. LEPAS.."
"NONA, KAMI HANYA MENJALANKAN PERINTAH. JADI TOLONG, NONA BERSIKAPLAH DENGAN BAIK." Teriak Miss Vina.
"KALIAN MAU NGAPAIN?"
"Nanti Nona tau sendiri. Dan tolong, jangan memperlambat pekerjaan kami dengan sikap Nona."
Shasya duduk didepan meja rias dengan pasrah. Miss Vina terus memoleskan makeup ke wajah Shasya. Sedangkan Ruby sedang memilih gaun yang cocok dengan tubuh Shasya.
Shasya sangat risih jika dia harus didandani. Tapi, apa boleh buat? Dia tidak bisa memberontak. Karena Miss Vina dan Ruby hanya menjalankan tugas mereka.
__ADS_1
45 menit berlalu. Shasya sudah selesai memakai makeup dan hijabnya juga sudah tertata dengan rapi.
"Nona, silahkan pakai gaun ini." Ucap Ruby sambil memberikan sebuah gaun berwarna putih kepada Shasya. Shasya mengambilnya dengan ragu dan dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Didalam kamar mandi, Shasya menatap dirinya didepan cermin. "Makeup? Gaun? Gaun ini seperti gaun pengantin. Apa jangan-jangan? Nggak, nggak boleh. Gue nggak boleh nikah sama Hasan." Ucap Shasya.
"Ya Allah, hamba mohon. Jangan sampai pernikahan ini terjadi. Hamba mohon Ya Allah. Hamba yakin, kau pasti akan menolong hambamu ini. Ya Allah, jangan biarkan hamba menikah dengan seseorang yang tidak hamba cintai, Ya Allah." Batin Shasya.
10 menit kemudian. Shasya keluar dari kamar mandi. Saat dia keluar, Miss Vina dan Ruby sudah tidak ada di kamarnya. Namun, semua barang-barang mereka masih berceceran disana.
Shasya berjalan menuju meja rias. Dia menatap wajahnya yang terlihat sangat cantik dan berbeda dari biasanya. Shasya memakai gaun berwarna putih yang sangat cocok dengan model hijab yang dia pakai. Dan sangat pas dengan badan Shasya.
Tanpa terasa, satu butiran air keluar dari matanya. Namun dengan cepat, Shasya menghapus air mata itu. "Shasya, Lo nggak boleh menyerah. Yakinlah kepada Allah, pasti Allah akan menolong Lo." Ucap Shasya yang menyemangati dirinya sendiri sambil menatap wajahnya didepan cermin.
Seorang wanita masuk ke kamar Shasya tanpa mengetuk, dia adalah Bibi Una.
"Bibi Una." Ucap Shasya sambil membalikkan badannya.
"Nona Shasya.. Nona terlihat sangat cantik." Ucap Bibi Una sambil meneteskan air matanya.
Shasya memeluk Bibi Una. "Bibi jangan nangis."
"Maaf, Non. Bibi nggak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Nona Shasya."
"Nona. Jika pernikahan ini benar-benar terjadi, Bibi berjanji sama Nona. Kalau Bibi akan setia menemani Nona." Bibi Una tersenyum tulus kearah Shasya.
Shasya membalas senyuman Bibi Una. "Bibi nggak perlu berjanji sama Shasya. Karena Shasya yakin, pasti Allah akan menolong Shasya."
"Semoga saja, Non. Sebenarnya saya nggak tega, kalau harus melihat Nona Shasya menikah dengan Tuan Hasan."
"Insya Allah, pernikahan ini nggak akan terjadi, Bi. Aamiin."
"Aamiin. Maaf sebelumnya, Non. Saya harus membawa Nona ke bawah. Karena penghulunya udah menunggu." Bibi Una memegang kedua bahu Shasya dari samping. Shasya berjalan bersama Bibi Una keluar dari kamarnya.
********************
Di Kampung tempat kedua orang tua Shasya tinggal. Bapak Danang, Ibu Lastri dan Yusuf sedang berada di perkebunan teh milik Bapaknya Shasya.
"Pak, kenapa perasaan Ibu nggak tenang gini, Pak?" Tanya Lastri. Sambil duduk dibawah pohon dengan suaminya.
"Bapak juga, Bu. Bapak kepikiran sama Shasya." Ucap Danang.
__ADS_1
"Ada apa, Bu, Pak? Kok kelihatannya cemas gitu?" Tanya Yusuf sambil menghampiri Kedua orang tua Shasya yang sednag duduk dibawah pohon. Karena dia melihat kecemasan diwajah mereka.
"Hati Ibu nggak tenang, Nak. Ibu kepikiran sama Shasya." Ucap Lastri.
"Saya juga, Bu. Dari semalam, saya kepikiran Shasya terus. Saya telpon juga nggak diaktif nomornya." Ucap Yusuf.
"Apa kita ke Kota aja?" Lastri memberikan ide.
"Jangan, Bu. Sebentar lagi kan acara kelulusan Shasya. Pasti kita juga akan kesana. Iya, kita berdoa saja. Semoga Shasya baik-baik saja." Ucap Danang.
"Aamiin."
"Aamiin, Pak. Semoga Shasya baik-baik disana."
********************
Shasya dan Bibi Una menuruni tangga dengan perlahan. Berharap, mereka bisa mengulur waktu pernikahan.
Sedangkan Hasan sudah mulai marah, karena dia sudah menunggu lama kehadiran Shasya. Namun, amarahnya reda saat melihat betapa cantiknya Shasya yang sudah menuruni tangga demi tangga.
Hasan terpesona dengan kecantikan Shasya.
Sekarang, Shasya sudah duduk disamping Hasan. Air mata Shasya tiba-tiba menetes, teringat akan kedua orang tuanya. Entahlah, tiba-tiba saja wajah dan senyuman Bapak dan Ibunya memenuhi benak Shasya. Shasya menunduk dengan pasrah. Namun, hatinya terus berdoa agar pernikahan ini tidak akan terjadi.
"Bagaimana? Apakah sudah siap?" Tanya Penghulu.
"Siap." Ucap Hasan dengan semangat.
Penghulu mengulurkan tangan kanannya dan disambut dengan baik oleh Hasan.
"Saya nikahkan dan kawinkan saudara Hasan Nughoro bin Antonio Nughoro dengan saudari Shasya Syafa'atun Nissa binti Danang dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap Penghulu.
"Ya Allah, hambamu ini masih percaya kepadamu. Hamba yakin, bahwa engkau akan mengirimkan pertolongan kepada hambamu ini, Ya Allah." Batin Shasya.
Shasya terus meneteskan air mata dengan menunduk. Dia berharap, bahwa Hasan tidak akan pernah mengucapkan janji suci itu. Namun,..
"Saya terima nikah dan kawinnya Shasya Syafa'atun Nissa binti Danang dengan mas kawin....."
"HENTIKAN..."
Hasan langsung menarik tangannya yang sedari tadi berjabatan dengan Penghulu untuk mengucapkan ijab kabul.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Ya Allah." Batin Shasya.