Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Sudut Bibir Mengembang


__ADS_3

~Masya Allah, indahnya ciptaan Tuhan.~


.


.


.


Shasya dan Khaira bernagkat ke Kampus. Sesampainya di Kampus, Shasya langsung ke ruangan Hadi karena Shasya sudah membuat janji dengan Hadi.


"Assalamu'alaikum, Pak."


"Wa'alaikumussalam, silahkan duduk." Ucap Hadi dan dituruti oleh Shasya.


"Pak ini saya ingin mengajukan revisi bab terakhir. Mohon dikoreksi." Ucap Shasya sambil menyerahkan berkasnya kepada Hadi.


"Oh baiklah. Nanti saya akan koreksi." Ucap Hadi.


"Kamu nanti malam ada acara nggak?" Tanya Hadi.


"Tidak, Pak."


"Kamu mau nggak makan malam bersama dengan saya?"


"Insya Allah nanti saya usahakan, Pak." Ucap Shasya.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum." Sambungnya.


"Wa'alaikumussalam." Ucap Hadi sambil memperhatikan kepergian Shasya dengan senyum yang terus mengembang.


Shasya berjalan menuju Perpustakaan. Sesampainya disana, dia langsung memilih 2 buku yang ingin dia baca.


Shasya duduk disudut ruangan Perpustakaan, tempat biasa dia dan Khaira duduk jika disana.


"Assalamu'alaikum, Sha." Salam Khaira, Bayu dan Kevin.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Shasya.


Khaira, Bayu dan Kevin langsung duduk didekat Shasya. Bayu langsung mengambil buku yang tadi Shasya ambil, namun belum sempat membacanya. Alhasil, Bayu yang membaca buku itu.


"Sha, nanti lo nginap di rumah gue iya? Please." Ucap Khaira.


"Emangnya kenapa, Khai? Biasanya lo di rumah sendirian biasa aja." Celetuk Kevin.


"Ssttt.. diam, gue nggak bicara sama lo. Gue itu nanya sama Shasya."


"Emangnya lo kenapa, Khai?" Tanya Shasya.


"Iya nggak pa-pa, sekali-kali kan. Masa gue terus yang nginap di kost-an lo."


"Kan gue udah pernah nginap, Khai."


"Ayolah, Sha. Lo nginap di rumah gue. Orang tua gue nggak di rumah kok. Cuma ada Bibi Siti doang di rumah." Mohon Khaira dengan menggenggam tangan Shasya.


"Iya iya, baiklah. Tapi, nanti malam gue ada urusan sebentar. Kalau udah selesai, gue bakal langsung ke rumah lo." Ucap Shasya sambil tersenyum kearah Khaira. Namun, hal itu malah membuat Bayu dan Kevin terpesona dengan senyuman Shasya.


"Makasih, Sha."


"*Masya Allah, indahnya ciptaan Tuhan." Batin Kevin.

__ADS_1


"Masya Allah, senyumannya." Batin Bayu*.


"Oh iya Sha, gimana Skripsi lo?" Tanya Bayu.


"Alhamdulillah lancar, tinggal nunggu koreksian Bab terakhir dari Pak Hadi." Ucap Shasya.


"Bagus deh, kalau gitu Insya Allah kita bisa lulus tahun ini." Ucap Kevin dengan girang.


"Aamiin. Semoga aja kita lulus sama-sama. Masa kita berjuang dari awal bersama, lulus nggak barengan?" Goda Khaira.


"Nah betul itu. Makanya kita harus berdoa dan saling support." Ucap Kevin.


"Iya."


"Sha." Panggil Kevin.


"Ada apa, Vin?" Tanya Shasya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.


"Lo kalau lulus dari sini langsung kemana?"


"Insya Allah, gue langsung pulang kampung. Terus jalanin bisnis Bapak gue disana."


"Lo nggak kepikiran buat menetap disini? Atau cari kerja disini gitu?" Tanya Bayu.


"Nggak, Bay. Gue udah janji sama orang tua gue buat kembangin bisnis Bapak gue di kampung."


"Yah, Sha. Nanti kita jarang ketemu dong." Ucap Khaira.


"Jarang ketemu bukan berarti nggak ketemu kan, Khai? Lo tenang aja, kan produk Bapak gue dijual di kota, nanti kita janjian ketemu kan bisa." Ucap Shasya dengan menatap Khaira yang sedih.


"Iya udah, pulang yuk." Ajak Shasya.


********************


Sesampainya di kost-an, Shasya langsung mengambil beberapa pakaian untuk dia bawa ke rumah Khaira.


Sedangkan Khaira masih menunggu Shasya sambil berbaring diatas kasur.


"Sha, lo ngerasa nggak?" Tanya Khaira.


"Ngerasa apa, Khai?" Tanya balik Shasya.


"Kalau...."


"Kalau apa? Jangan buat gue penasaran."


"Kalau gue laper, Sha. Kita kan belum makan siang. Dan ini udah jam 2 tau, nggak." Gerutu Khaira.


"Maaf, Sha. Gue nggak bisa cerita sama lo." Batin Khaira.


"Ya Allah, Khai. Bentar gue masakin dulu. Lo tunggu disini, jangan kemana-mana."


"Ikut, gue nggak mau disini sendiri."


"Iya udah, ayo kita ke dapur bersama."


Shasya dan Khaira berjalan menuju dapur bersama yang ada dikostannya. Sambil membawa beberapa bahan makanan.


Shasya memasak untuk Khaira, sedangkan Khaira hanya duduk sambil menatap Shasya yang memasak.

__ADS_1


20 menit berlalu, sekarang Shasya dan Khaira sedang makan bersama.


Setelah selesai makan, Khaira mengajak Shasya ke rumahnya.


40 menit kemudian.


"Khai, bukannya ini mobil orang tua lo?" Tanya Shasya yang melihat mobil berwarna putih terparkir di depan rumah Khaira.


"Iya ini mobil Mama gue. Bukannya dia bilang nggak pulang iya." Heran Khaira. Khaira langsung menarik tangan Shasya untuk masuk ke rumahnya.


"Assalamu'alaikum,." Salam Kahira dan Shasya.


"Wa'alaikumussalam, Non." Ucap Bibi Siti yang membukakan pintu.


"Bi, Mama pulang?" Tanya Khaira.


"Iya, Non. Nyonya pulang, tapi Nyonya langsung ke kamarnya." Ucap Bibi Siti.


"Oh oke. Makasih, Bi." Ucap Khaira dengan menarik tangan Shasya menuju kamarnya.


Di kamar Khaira.


"Khai, lo nggak pengin ketemu sama Mama lo?" Tanya Shasya sambil duduk diatas kasur.


"Nggak, nanti juga ketemu." Ketus Khaira.


"Khai, lo nggak boleh benci sama orang tua lo. Bagaimana pun mereka yang udah merawat lo. Apa lagi Mama lo, dia udah bertaruh nyawa untuk lahirin lo. Lo nggak boleh benci sama dia." Ucap Shasya sambil memegang tangan Khaira.


"Sha, lo nggak tau. Bagaimana tersiksanya gue, setiap hari dengar orang tua gue berantem. Bahkan dari gue SMP sampai sekarang, Sha. Gue nggak tahan dengan semua ini. Lo tau kan, gue pernah kabur 5 kali dari rumah, tapi selalu aja anak buah Papa temuin gue dengan mudah. Gue capek, Sha. Gue pengin bisa kayak lo. Lo punya orang tua yang baik dan tulus sayang sama lo. Gue hanya pengin punya orang tua yang tulus menyayangi gue, Sha. Bahkan mereka nggak pernah memikirkan apa yang gue rasakan. Mereka hanya mementingkan ego mereka." Ucap Khaira yang tertunduk menangis.


"Khai, maaf. Gue nggak bermaksud buat lo sedih. Tapi, jika ini bisa buat lo lebih tenang, gue akan selalu ada buat lo. Menangislah, Khai." Ucap Shasya sambil memeluk Khaira yang terisak dengan tangisannya.


"Makasih, Sha. Lo selalu ada buat gue." Ucap Khaira dengan mengeratkan pelukannya.


"Iya, Khai. Sama-sama."


Jam 18.10, sesudah sholat Magrib, Shasya dan Khaira memilih untuk tadarus Al-Qur'an.


Namun, alunan nada-nada indah itu terhenti saat mendengar.


PRRAAANGGG.


Khaira dan Shasya langsung berlari menuju ke sumber suara. Terlihat pertengkaran hebat antara Mama dan Papanya Khaira diruang tengah.


"MAS, KAMU ITU BISA NGGAK SIH. NGGAK KELUAR SAMA PEREMPUAN MURAHAN ITU. AKU CAPEK MAS, SETIAP MINGGU KAMU GONTA-GANTI PEREMPUAN."


"JAGA SIKAP KAMU. AKU NIKAHIN KAMU KARENA TERPAKSA, JADI JANGAN HARAP AKU BISA PEDULI SAMA KAMU."


"MAS, KAMU INI BILANG APA, HAH? SETELAH 23 TAHUN KITA MENIKAH, MAS MASIH BELUM CINTA SAMA AKU? KITA SUDAH PUNYA ANAK, MAS."


"ITU KARENA DESAKAN ORANG TUA KITA UNTUK CEPAT PUNYA ANAK. SEBENARNYA, AKU NGGAK PERNAH CINTA SAMA KAMU. MAKANYA AKU SELALU KE LUAR KOTA, AGAR NGGAK SELALU KETEMU SAMA KAMU." Ucap Papa Khaira yang langsung pergi dari rumah. Mama Khaira pun mengejar Papa Khaira. Terjadilah aksi kejar-kejaran dengan mobil mereka.


Disisi lain, Khaira dan Shasya masih mematung dengan apa yang terjadi.


"Sha, maaf. Seharusnya lo nggak pernah dengar semua ini." Ucap Khaira yang mencoba bersikap santai.


"Nggak pa-pa, Khai. Ini bukan salah lo." Ucap Shasya sambil memeluk Khaira.


"Owh iya, Astaghfirullah hal adzim. Gue lupa." Ucap Shasya.

__ADS_1


__ADS_2