
~"Jangan, Khai. Nanti kalau orang tua Shasya shock terus sakit gimana? Selama kita masih bisa melakukannya, kita harus melakukannya sendiri."~
.
.
.
.
.
Khaira sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena dia melihat sebuah mobil mengikutinya terus. Untungnya, jalanan yang Khaira ambil lumayan sepi. Jadi bisa untuk menancapkan gasnya dengan cepat.
"Ya Allah, nih orang pasti suruhannya si Brengsek itu. Gimana ini? Kalau itu mobil ngikutin gue terus, pasti rencana gue sama Shasya bakal gagal. Enggak, nggak boleh. Rencana gue sama Shasya harus berhasil, karena sekarang Shasya sedang dalam bahaya. Bismillah." Khaira menambah kecepatan mobilnya. Terlihat didepan ada pertigaan jalan dan juga ada lampu lalu lintas. Khaira menambah kecepatan mobilnya dan berhasil melewati lampu lalu lintas sebelum berubah menjadi merah. Sedangkan mobil yang mengikutinya tadi, tidak melihat kearah lampu lalu lintas. Alhasil, mobil itu bertabrakan dengan mobil lain.
"Astaghfirullah. Mobil itu kecelakaan." Ucap Khaira sambil melihat spion mobilnya tanpa berniat untuk menghentikan laju mobilnya. Tapi, laju mobil Khaira melambat.
Setelah beberapa saat melihat kecelakaan itu dari spion mobilnya, Khaira langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
15 menit kemudian. Khaira telah sampai dirumahnya Kevin.
Tok... Tok... Tok... "Assalamu'alaikum."
Ceklek.
"Wa'alaikumussalam, Khaira? Lo ngapain kesini?" Tanya Kevin.
"Lo harus ikut gue sekarang." Khaira terlihat sangat khawatir dan panik.
"Kemana? Are you okay?" Kevin memegang kedua bahu Khaira.
"Pokoknya ayo cepat, udah nggak ada waktu lagi." Khaira menarik tangan Kevin untuk mengikutinya sampai ke mobil. Khaira menyuruh Kevin duduk dibangku sebelah kemudi. Dan Khaira yang mengemudikan mobilnya.
"Khai. Cerita dong ke gue. Ada apa?" Tanya Kevin yang mulai was-was dengan Khaira. Karena Khaira terlihat sangat panik dan dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
"Shasya diculik."
"What? Lo nggak lagi nge-prank gue kan?" Kevin terkejut mendengar ucapan Khaira.
"Nggaklah. Gue serius." Khaira memasang muka serius dan menghadap kearah Kevin sekilas.
"Terus? Kita harus gimana?" Tanya Kevin yang mulai khawatir.
"Kita harus bisa ketemu sama Kakeknya si penculik itu." Ucap Khaira.
"Penculiknya siapa? Dan apa hubungannya penculikan Shasya dengan Kakek si penculik?" Tanya Kevin.
"Penculik itu namanya Hasan. Dan soal itu gue nggak tau. Gue hanya disuruh mencari keberadaan Kakeknya Hasan dan membawanya ke tempat Shasya disekap. Karena hanya dia yang bisa mengendalikan Hasan."
"Terus? Kakeknya si penculik itu tinggal dimana?"
"Yang bisa menjawab itu adalah Nyonya Gunvita, Mamanya Hasan."
"Nyonya Gunvita tinggal dimana?"
"Itu juga nggak gue nggak tau."
"Nama suaminya siapa?"
"Tuan Andre."
"Kalau gitu, kita kerumah Bayu sekarang."
"Ngapain?"
"Udah nurut aja."
********************
Sekarang Khaira, Bayu dan Kevin sudah berada di rumah Bayu. Mereka semua duduk di Sofa ruang keluarga. Bayu terlihat sedang mengotak-atik laptopnya. Sedangkan Khaira dan Kevin terus memanjatkan doa untuk Shasya.
"Nah, dapat." Ucap Bayu.
__ADS_1
"Gimana, Bay?" Tanya Khaira.
"Nih. Baca sendiri." Bayu memberikan laptopnya kepada Khaira dan Kevin. Dan mereka pun membaca apa yang ada di laptop Bayu.
"Kalau gitu, kita kesana sekarang." Ucap Kevin.
"Ayo."
"Eh, bentar." Ucap Khaira menghentikan langkah Bayu dan Kevin.
"Ada apa?" Tanya Kevin.
"Apa kita perlu kasih tau ke orang tua Shasya?"
"Jangan, Khai. Nanti kalau orang tua Shasya shock terus sakit gimana? Selama kita masih bisa melakukannya, kita harus melakukannya sendiri." Ucap Bayu.
"Benar apa yang dikatakan Bayu. Kita kan nggak tau kondisi kesehatan seseorang. Mendingan kita aja yang selamatin Shasya." Ucap Kevin.
"Okelah kalau gitu." Ucap Khaira.
"Iya udah, ayo berangkat." Ucap Kevin dan mendapat anggukan dari Bayu dan Khaira.
.
45 menit kemudian, mereka bertiga sampai disebuah Butik yang cukup terkenal di Kota itu.
Khaira, Bayu dan Kevin langsung memasuki Butik itu.
"Mbak, kami bisa bertemu dengan Nyonya Gunvita?" Tanya Khaira kepada salah satu karyawan disana.
"Apa sudah membuat janji?"
"Belum, Mbak. Tapi ini sangat penting. Saya mohon, Mbak." Khaira memegang tangan karyawan wanita itu.
"Hmmm, baiklah. Mari saya antar ke ruangannya." Karyawan itu membawa Khaira, Kevin dan Bayu kelantai dua.
Tok.. Tok.. Tok..
"MASUK." Terdengar suara teriakan seorang perempuan dari dlaam ruangan.
Ceklek.
"Siapa?"
Khaira, Bayu dan Kevin memasuki ruangan. "Saya permisi." Ucap karyawan itu yang pergi meninggalkan mereka bertiga bersama Nyonya Gunvita.
"Kalian siapa?"
"Saya Khaira, Nyonya. Kalau ini Kevin dan Bayu." Ucap Khaira smavil menunjuk kearah Kevin dan Bayu.
"Ada apa kesini? Mau pesan dress? Jas? Kebaya? atau apa?"
"Maaf, Nyonya. Kami kesini hanya ingin bertanya kepada Nyonya."
"Sepertinya ada hal penting yang ingin kalian sampaikan."
"Iya, Nyonya. Ini sangat penting."
"Kalau gitu, ikut saya." Nyonya Gunvita keluar dari ruangannya dan berjalan kearah ruangan lain. Khaira, Bayu dan Kevin hanya mengikuti Nyonya Gunvita.
Ceklek..
Mereka semua memasuki ruangan yang cukup sempit dari ruangan tadi.
"Duduk." Ucap Nyonya Gunvita. Dan mereka pun hanya menurutinya.
"Baiklah. Kalian puas mau bertanya apa saja disini. Kalian nggak perlu khawatir." Sambungnya.
"Begini, Nyonya. Kami ingin tau tentang keberadaannya Kakeknya Hasan." Khaira terlihat sangat gugup.
"Ada perlu apa, kalian ingin tau keberadaannya Papa saya?"
"Teman kami diculik sama anak Nyonya, yaitu Hasan. Jadi, kami mau membawa Kakeknya Hasan kesana agar beliau bisa menyelamatkan teman kami." Ucap Bayu.
__ADS_1
"Siapa teman kalian?"
"Shasya."
"APA? SHASYA?"
"I..iya, Nyonya." Khaira tambah gugup dengan teriakan Nyonya Gunvita.
"Ada apa, Nyonya?" Tanya Kevin.
"Shasya yang telah melaporkan Hasan ke kantor polisi."
"Tapi, itu bukan salah Shasya."
"Iya, saya tau. Perbuatan Shasya sangat tepat. Karena Hasan telah melakukan pelecehan kepada temannya."
"Terus? Apakah Nyonya mau membantu kami?"
"Iya. Tapi, jangan sampai suami saya tau. Karena suami saya terus menyalahkan Shasya akibat perbuatannya itu."
"Terimakasih, Nyonya." Khaira tersenyum sambil menunduk, memberi hormat.
"Iya, sama-sama."
"Kapan kami bisa bertemu dengan beliau?"
"Besok. Nanti saya kasih tau tempat ketemunya dimana."
"Baik. Terimakasih, Nyonya. Kami permisi dulu."
"Iya."
********************
Keesokan harinya di rumah Khaira. Bayu dan Kevin menginap disana. Karena mereka khawatir dengan keadaan Khaira. Soalnya, Khaira memberitahu kepada Bayu dan Kevin kalau ada seseorang yang berusaha menerornya.
"5 menit lagi, Nyonya Gunvita sampai." Ucap Khaira yang duduk diteras bersama Bayu dan Kevin.
"Oke."
5 menit kemudian.
"Selamat pagi, Nyonya, Tuan."
"Pagi. Panggil Kakek saja." Ucap Kakeknya Hasan.
"Baiklah."
"Kita pergi kesana bawa mobil kalian aja. Soalnya, seluruh mobil saya sudah ada pelacaknya. Saya takut kalau suami saya tau."
"Baik, Nyonya."
Mereka berlima menaiki mobil Khaira dan Kevin yang mengemudikannya.
********************
Disisi lain. Shasya sedang duduk melamun ditepi kolam.
"Hello, Shasya." Sapa Hasan yang menghampiri Shasya. Shasya tidak menghiraukan sama sekali dengan sapaan Hasan. Hasan langsung duduk disamping Shasya. Shasya pun menggeser tubuhnya agar tidka terlalu dekat dengan Hasan.
"Kenapa geser? Sini deketan."
"Bukan muhrim."
Hasan menggeser tubuhnya mendekati Shasya. "Sebentar lagi halal kok. Lo tenang aja, Sayang." Hasan berdiri dan menarik paksa tangan Shasya.
"HASAN LEPASIN. AWW.. SAKIT." Shasya terus berteriak, namun tidak dihiraukan oleh Hasan.
.
Hasan membawa Shasya ke kamar dimana Shasya disekap. Hasan menghempaskan Shasya diatas ranjang dengan kasar.
Hasan mendekati Shasya yang ketakutan. "JANGAN MENDEKAT. GUE MOHON JANGAN MENDEKAT." Teriak Shasya.
__ADS_1
"Tinggal beberapa saat lagi, lo bakal jadi milik gue sepenuhnya." Ucap Hasan yang langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Shasya.
"Astaghfirullah hal adzim..." Mata Shasya tiba-tiba mengeluarkan air yang membasahi pipinya.