Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Tak Sanggup Untuk Bercerita


__ADS_3

~Nggak pa-pa, gue faham kok. Lagian, apa yang lo ucapin tadi pagi nggak salah, malah ucapan lo benar.~


.


.


.


Seorang Dosen perempuan dengan ciri khas baju dan hijab yang longgar pun memasuki ruangan.


“Assalammualaikum, selamat pagi.” Ucap Ida, beliau adalah Dosen yang mengajarkan materi Agama Islam.


“Wa’alakumussalam. Pagi, Bu.” Ucap serentak seisi kelas.


“Hari ini, kalian kedatangan Dosen baru. Silahkan Pak, bisa memasuki ruangan.” Ucap Ida.


Seorang Dosen laki-laki yang masih terlihat muda, memasuki ruangan dan membuat beberapa Mahasiswi terkagum-kagum dengan wajah blasteran milik Dosen baru itu.


“Assalammualaikum.” Ucap Dosen baru itu.


“Wa’alaikumussalam.” Ucap seisi kelas.


“Perkenalkan, nama saya Muhammad Hadi Saputra. Kalian bisa panggil saya Pak Hadi. Saya lulusan dari Jerman, tahun kemarin dan umur saya baru 25 tahun.” Ucap Hadi, Dosen baru.


“Pak Hadi udah punya istri belum?” Tanya Vina, salah satu Mahasiswi yang terkenal dengan geng-gengannya dan caranya berpenampilan yang terlalu ketat dan selalu memakai rok diatas lutut.


“Saya belum menikah.” Ucap Hadi sambil melihat kearah Shasya yang tampak acuh tak acuh dengan kehadirannya. Terlihat Shasya lebih fokus dengan apa yang dia tulis di bukunya dibanding melihat ke depan.


“Oke semua, kalian bisa bertanya apa saja kepada Pak Hadi. Karena dia yang menggantikan Pak Yusuf untuk mengajar kalian.” Ucap Ida.


“Baik, Bu.”


“Kalau gitu, saya permisi dulu. Assalamualaikum.” Ucap Ida.


“Wa’alaikumussalam.”


Setelah itu, Bu Ida melangkahkan kaki meninggalkan kelas.


“Oke, silahkan yang mau bertanya lagi. Saya beri kalian waktu 15 menit untuk tanya jawab dengan saya.” Ucap Hadi.


“Bapak udah punya pacar?” Vina bertanya kembali kepada Hadi.


“Insya Allah saya tidak ingin pacaran dan mencari pacar. Saya hanya mencari istri.” Ucap Hadi yang membuat ruangan menjadi gaduh dengan teriakan-teriakan dari kaum hawa kecuali Shasya yang masih asik dengan apa yang dia tulis.


Karena memang, Shasya tidak suka dengan hal-hal yang tidak penting kalau di kelas. Dia lebih memilih menulis atau membaca jika Dosennya sedang membicarakan masalah pribadi tapi itu hanya untuk Dosen laki-laki. Kalau Dosen perempuan yang berbicara, Shasya pasti selalu memperhatikannya walapun terkadang Dosennya curhat sekalipun.


“Ada yang bertanya lagi?”


“Pak, tipe istri idaman Bapak yang kayak gimana?” Tanya Vina, sepertinya hanya Vina yang berani bertanya dan tertarik dengan Pak Hadi.


“Insya Allah yang Shalihah dan tau agama. Jika saya melihatnya, terasa Masya Allah bahagia sekali dan menyimpan sejuta ketenangan jika saya memandangnya.” Jawab Hadi yang selalu menatap Shasya saat berbicara, walaupun Shasya terlihat seru dengan apa yang dia tulis.


“Pak, kenapa lihat Shasya terus?” Tanya Vina yang sadar akan tatapan Hadi yang selalu mengarah ke Shasya.


Shasya yang mendengar namanya disebut pun langsung menatap kearah Hadi sebentar dan langsung menundukkan pandangannya.

__ADS_1


Hadi yang tersadar, langsung mengubah topik pembicaraan dan langsung menerangkan materi.


Hari ini, Shasya hanya ada satu kelas saja. Dan sebelum pulang, dia disuruh menghadap ke Dosen pembimbingnya yang baru.


Shasya melangkahkan kaki sendirian menuju ke ruangan Dosennya. Tapi, tiba-tiba..


“Assalammualaikum, Sha.” Ucap Bayu yang menghampiri Shasya.


“Wa’alaikumussalam. Ada apa, Bay?” Tanya Shasya yang terus berjalan dan diikuti oleh Bayu.


“Lo mau kemana?” Tanya Bayu.


“Gue mau ke ruangannya Pak Hadi.”


“Oh, gitu. Mau gue temenin? Biar nggak berdua aja di ruangannya.”


“Nggak ngerepotin?” Tanya Shasya.


“Nggak sama sekali. Gue malah senang bisa nemenin lo.”


“Makasih.”


“Iya, sama-sama.” Ucap Bayu dengan tersenyum, walaupun Shasya hanya sesekali mau menatapnya jika berbicara. Shasya lebih memilih mengalihkan pandangannya jika berbicara dengan laki-laki, dan Bayu sudah hafal dengan tingkah Shasya.


“Bay, gue minta maaf soal tadi pagi.” Ucap Shasya yang menghentikan jalannya, namun dia masih setia dengan menundukkan pandangannya.


“Nggak pa-pa, gue faham kok. Lagian, apa yang lo ucapin tadi pagi nggak salah, malah ucapan lo benar, Sha. Iya, udah ayo lanjut aja jalannya.” Ucap Bayu yang mempersilahkan Shasya untuk jalan duluan dan mendapatkan anggukan dari Shasya.


Sesampainya di ruangan Hadi.


“Wa’alaikumussalam. Silahkan duduk.” Ucap Hadi yang sebisa mungkin untuk bersikap santai.


“Maaf, Pak. Saya kesini sama teman saya, kayaknya nggak enak kalau hanya berdua aja di ruangan pribadi Bapak.” Ucap Shasya dengan menunduk.


“Iya, nggak pa-pa. Saya ngerti kok. Oh iya, saya sudah dikasih tau semua oleh Pak Yusuf, jadi saya bisa lebih mudah menjadi Dosen pembimbing kamu.” Ucap Hadi.


“Alhamdulillah kalau seperti itu, Pak.” Ucap Shasya.


“Kita mulai bimbingannya besok saja, hari ini kita anggap sebagai perkenalan.” Ucap Hadi yang selalu menatap Shasya seperti tidak menghiraukan keberadaannya Bayu.


“Kalau gitu, saya permisi Pak. Kan Bapak pasti sudah tau saya dari Pak Yusuf.” Ucap Shasya.


“Saya ingin dengar langsung dari kamu.” Ucap Hadi.


“Baiklah, Pak. Nama saya Shasya Syafa’atun Nissa dan umur saya 22 tahun.” Ucap shasya yang masih tidak mau menatap Hadi.


“Kamu disini sama orang tua kamu?”


“Tidak, Pak. Saya disini ngekost dan orang tua saya ada di Kampung.” Ucap Shasya.


“Berarti kamu merantau kesini?”


“Iya, Pak. Insya Allah saya disini mau berjuang meraih mimpi saya.” Ucap Shasya.


“Kamu ada saudara disini?”

__ADS_1


“Tidak, Pak.”


“Oh, oke.”


“Maaf, Pak kami harus pergi. Soalnya ada urusan yang harus kami selesaikan.” Ucap Bayu yang faham dengan gerak-gerik ketidaknyamanan Shasya.


“Oke, silahkan.”


“Permisi, Assalammualaikum.” Ucap Shasya dan Bayu.


“Wa’alaikumsalam.”


Bayu mengantar Shasya pulang dengan jalan kaki, dan Bayu hanya mendorong motornya agar bisa berjalan dengan Shasya.


“Makasih, Bay.” Ucap Shasya, walapun dia tidak mau menatap Bayu.


“Makasih buat apa?” Tanya Bayu.


“Buat tadi, pasti lo tau kalau gue udah nggak nyaman kalu ditanya soal urusan pribadi.”


“Oh itu, iya sama-sama. Iya, tadi gue lihat gelagat lo kayak nggak nyaman gitu. Gue tau pasti lo belum bisa beradaptasi dengan orang baru.”


“Iya, Bay. Entahlah, susah banget buat gue untuk beradaptasi dengan orang baru.”


“Iya, lo dulu aja nerima gue sebagai teman lo harus nunggu lima bulan, baru lo bisa bersikap ke gue layaknya teman.”


“Masih ingat aja lo.”


“Iya kan gue harus berjuang buat bisa temenan sama lo.”


“Gue ini kayak kurang pergaulan iya, Bay.”


“Nggak kok, gue malah suka lo yang kayak gini, apa adanya dan nggak tau dengan dunia yang nggak baik.”


“Sebenarnya gue pernah berpikir, kenapa hanya beberapa orang yang mengerti dengan sikap gue. Mereka semua berpikir bahwa gue ini sombong dan sok suci didepan mereka.” Ucap Shasya sambil menatap lurus kedepan, sedangkan Bayu masih mendorong motornya disebelah Shasya.


“Nggak usah dengerin omongan mereka, ini hidup lo dan lo yang jalanin bukan mereka.”


“Eh, maaf Bay. Gue malah curhat sama lo.”


“Nggak pa-pa, gue malah senang bisa denger cerita lo.”


“Kita udah sampai.”


“Iya.”


“Makasih, Bay lo udah anterin gue pulang.”


“Sama-sama. Kalau gitu gue pamit pulang dulu. Assalammualaikum.”


“Wa’alaikumussalam, hati-hati.” Ucap Shasya.


Shasya memasuki kostannya, entah kenapa dia langsung menuju kotak merah yang diberikan Pak Yusuf kepadanya. Dia membuka kota itu dan menatap fotonya dan Yusuf yang telah diedit sempurna agar terlihat berdampingan.


Tiba-tiba, air mata Shasya menetes. Entah apa yang dirasakan Shasya sekarang, sepertinya dia sedang rindu dengan sosok Yusuf yang telah membimbingnya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2