
~Insya Allah, saya disini akan memantapkan hati saya untuk kamu jika kita berjodoh.~
.
.
.
“Pak Yusuf kasih foto ini, buku, kerudung sama surat buat gue.”
“Mana suratnya? Gue penasaran.”
“Enak aja, nggak boleh. Gue sendiri aja belum baca suratnya.”
“Maka dari itu, kita baca sama-sama.”
“Oke, gue ambil dulu.”
Shasya melakukan apa yang diinginkan Khaira, tanpa berpikir apa yang ditulis Yusuf dalam surat itu.
Shasya sudah memegang suratnya dan langsung diambil paksa oleh Khaira.
“Assalammualaikum, Shasya.” Ucap Khaira memulai membaca isi surat dari Pak Yusuf untuk Shasya.
“Wa’alaikummussalam.” Jawab Shasya.
“Shasya, walaupun saya baru saja menjadi Dosen pembimbingmu. Tapi saya sudah merasa nyaman didekatmu. Maaf, saya memang tidak berani mengungkapkan isi hati saya selama ini. Bahkan sampai saya dipindahkan di luar negeri. Jika suatu saat nanti saya kembali dan kamu belum ada yang membimbing dalam jalanmu untuk menyempurnakan ibadahmu, Insya Allah saya akan langsung menemui orang tuamu, jika kita berjodoh. Tapi jika kita tidak berjodoh, saya ikhlas dan saya akan bahagia jika melihatmu bahagia. Semangat belajar, semoga Skripsi kamu cepat selesai dan sidangnya lancar. Agar kamu bisa merayakan kelulusan bersama teman-temanmu. Insya Allah, saya disini akan memantapkan hati saya untuk kamu jika kita berjodoh. Salam hangat dari saya. Wassalammualaikum. Yusuf Sanjaya.” Ucap Khaira yang telah selesai membaca surat dari Yusuf untuk Shasya.
Khairan langsung bertingkah seolah dia yang telah mendapatkan surat itu, dia berjingkrak-jingkrak nggak jelas sedangkan Shasya hanya terdiam memahami apa isi surat dari Yusuf.
“Sha, kok lo diam aja?” Tanya Khaira.
“Gue, nggak ngerti dengan apa yang Pak Yusuf tulis di surat itu.” Ucap Shasya yang sedikit gemetar.
“Lo baik-baik aja, kan?” Ucap Khaira yang memegang kedua tangan Shasya yang sedikit dingin.
__ADS_1
“Hm, iya. Tapi..”
“Pak Yusuf itu cinta sama lo.”
“Gue harus apa?”
“Lo nggak usah ngapa-ngapain, lo jalani hidup lo seperti biasanya aja. Tadi kan Pak Yusuf bilang di surat itu, kalau jodoh nggak akan kemana. Sekarang yang terpenting, lo harus fokus sama mimpi lo.”
“Iya makasih, Khai. Lo bisa buat gue sedikit tenang sekarang.” Ucap Shasya sambil memeluk Khaira.
“Iya, sama-sama. Biasanya kan lo yang kasih gue pencerahan dan semangat buat jalanin hidup.” Ucap Khaira sambil mengelus punggung Shasya dan mendapat anggukan darinya.
“Iya udah, kita jadi nggak nontonnya?” Tanya Khaira sambil melepas pelukan Shasya.
“Jadi, udah gue siapin semuanya.” Ucap Shasya dengan menghapus air mata yang menetes dipipinya.
Akhirnya mereka menonton film Korea yang mereka suka.
********************
Sebelum sholat Fajar dan Subuh, Shasya selalu mandi terlebih dahulu tepatnya jam empat setelah dia membaca Al-qur’an.
Dan hari ini pun dia lakukan bergantian dengan Khaira. Setelah semua selesai, adzan telah berkumandang dan mereka melakukan sholat Fajar dan sholat Subuh. Setelah sholat, mereka membaca dzikir, membaca Al-Qur’an dan membaca amalan-amalan yang biasanya Shasya lakukan.
“Sha, gue baru sadar. Selama gue kenal lo, gue jadi lebih baik sekarang. Walaupun gue belum bisa istiqomah shalat Tahajjud, tapi gue mohon bimbing lo agar nantinya kita bisa bertemu lagi di Jannah-Nya.” Ucap Khaira.
“Amin, Insya Allah. Kita sama-sama belajar iya.” Ucap Shasya sambil tersenyum.
“Nggak salah kalau Pak Yusuf suka sama lo. Walapun lo itu lemot kalau diajak bicara soal perasaan, tapi Insya Allah lo pintar dalam agama. Kalau soal pelajaran, nggak usah ditanya lagi. Lo itu masternya.” Puji Khaira.
“Jangan dibahas lagi soal Pak Yusuf. Iya, Alhamdulillah semua itu Allah yang kasih. Kita sebagai hamba-Nya harus banyak bersyukur.” Ucap Shasya.
“Iya, Sha. Andai aja kalau orang tua gue mengerti agama. Pasti nggak akan kayak gini jadinya,” Ucap Khaira dengan tertunduk.
“Khai, lo nggak usah sedih. Lo minta sama Allah, lo harus berdoa buat orang tua lo. Insya Allah, doa dari anak sholihah didengar oleh Allah. Tetap semangat iya, serahkan semuanya kepada Allah. Pasti suatu hari nanti, sikap Mama lo akan berubah kok. Lo yang sabar iya.” Ucap Shasya sambil mengelus kepala Khaira.
__ADS_1
“Iya, Sha. Lo memang sahabat terbaik gue. Makasih atas apa yang selama ini lo lakuin buat gue.” Ucap Khaira sambil memeluk Shasya.
“Iya, sama-sama. Bukannya seperti itu iya yang namanya sahabat? Sahabat akan menjadi orang terdepan yang mendukung kita disaat suka maupun duka.” Ucap Shasya dan mendapat anggukan dari Khaira.
Mereka bersiap untuk berangkat ke Kampus. Shasya dan Khaira keluar dari kostan menuju gerbang depan. Mereka terkejut melihat Bayu dan Kevin sudah ada didepan gerbang kostan Shasya.
“Assalammualaikum.” Ucap Bayu dan Kevin bebarengan.
“Wa’alaikumussalam.”
“Sha, berangkat bareng gue yuk.” Ucap Kevin.
Kevin adalah teman Shasya, walaupun beda agama tapi Shasya mau berteman dengannya dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan. Sebenarnya Kevin sudah berkali-kali menyatakan cintanya kepada Shasya, tapi selalu di tolak. Namun, tidak mematahkan semangatnya buat merebut hati Shasya.
Sedangkan Bayu, dia juga teman Shasya. Dia Insya Allah Sholeh, dia termasuk ahli agama. Dia sangat mengagumi Shasya, namun dia tidak berani mengungkapkan perasaannya dan lebih memilih sebagai temannya.
“Maaf, gue sama Khaira mau jalan kaki aja. Dan maaf, udah berapa kali gue bilang jangan jemput gue, gue bisa ke Kampus sendiri.” Ucap Shasya yang tidak melihat kearah mata kedua laki-laki itu.
“Kita hanya khawatir sama lo.” Ucap Bayu.
“Iya, makasih kalian udah khawatir sama gue. Tapi, tolong kita ini bukan muhrim jadi jangan terlalu dekat sama gue. Dan gue udah berkali-kali bilang kan sama kalian. Kalian memang teman gue, tapi tolong jagalah jarak dengan gue. ” Ucap Shasya sambil mengalihkan pandangannya agar tidak menatap mata kedua laki-laki itu.
“Iya, Bay. Lo kan tau agama, kenapa lo mau ajak Shasya boncengan sama lo?” Tanya Khaira yang angkat bicara.
“Sebenarnya gue nggak mau ajak Shasya boncengan berdua sama gue, gue juga tau kalau Shasya bakal nolak permintaan gue. Gue hanya mau memantau dia berangkat ke Kampus dari belakang. Sebagai teman yang baik, gue nggak mau kalian kenapa-kenapa.” Ucap Bayu.
“Oke, gini aja. Kalian kan bawa motor. Nah, salah satu motornya biar gue pakai berdua sama Shasya nanti kalian boncengan berdua gimana?” Tanya Khaira.
“Oke, yang penting kalian nggak jalan kaki. Tapi gue heran sama kalian, kenapa nggak pernah naik motor atau mobil kalau ke Kampus, bukannya kalian anak orang kaya?” Tanya Kevin.
“Kalau nggak tau masalahnya, jangan banyak bicara. Dan itu nggak penting, ayo berangkat nanti telat lagi.” Ucap Khaira.
Shasya dan Khaira menggunakan motor Vario milik Bayu, karena motor milik Kevin adalah Moge. Jadi, Khaira tidak bisa menggunakan motor seperti itu dan Shasya pastinya tidak mau menaiki motor yang modelnya seperti itu.
Sesampainya di Kampus, mereka langsung memasuki ruangan karena Dosen sebentar lagi memasuki kelas.
__ADS_1
Shasya lebih memilih Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Sebenarnya dia ingin mengambil Fakultas Ilmu Pendidikan tapi tidak mendapat dukungan dari orang tuanya. Orang tuanya lebih menyarankan Shasya untuk memilih Fakultas Ekonomi. Entah apa alasannya, tapi dengan ikhlas, Shasya menuruti saran dari orang tuanya.