
“Hah? Cinta Segi lima? Apa itu?”
.
.
.
Keesokan harinya, Shasya duduk di Taman Kampus bersama Khaira.
“Sha, lo udah ketemu belum sama Bayu?” Tanya Khaira.
“Gue udah ketemu dia, kemarin.” Ucap Shasya.
“Terus apa kata dia, soal dia marah pas di Kampung?” Tanya Khaira.
“Dia sempet jawab kemarin.”
“Hah, kok bisa? Kalian bicara cuma berdua kan?” Tanya Khaira yang mengubah posisinya menjadi menghadap Shasya dengan kaki kanannya berada diatas kaki kirinya.
“Iya, gue sama Bayu bicara. Tapi..”
“Tapi kenapa?” Tanya Khaira yang memotong pembicaraan Shasya.
“Tapi, tiba-tiba ada Pak Hadi yang datang.” Ucap Shasya dengan sedikit berbisik.
“HAH? PAK HADI, KOK BISA?” Teriak Khaira.
“Ssstt, jangan teriak-teriak.” Ucap Shasya dengan nada pelan.
“Iya, maaf. Soalnya gue kaget sama apa yang lo bilang.” Ucap Khaira.
“Iya, nggak pa-pa.”
“Terus, Pak Hadi ngapain nyamperin lo sama Bayu?”
“Pak Hadi itu mau kasih novel ke gue, tapi karena dia lihat gue sama Bayu ada di Taman. Jadi, dia nyamperin gue sama Bayu disitu.”
“Oh, gue faham nih sekarang.”
“Bagus deh kalau lo faham.”
“Maksud gue, bukan soal Pak Hadi yang nyamperin lo sama Bayu di Taman.”
“Lah terus, lo faham soal apa?” Tanya Shasya.
“Gue faham sekarang, kalau ada cinta segi lima nih.” Ucap Khaira.
“Hah? Cinta segi lima? Apa itu?” Tanya Shasya dengan penasaran.
“Tau ah, lo nggak bakal ngerti.” Ucap Khaira.
“Kan lo belum coba, siapa tau gue ngerti kan.”
“Nggak usah, gue udah prediksi kalau lo nggak bakal ngerti.” Ucap Khaira sambil beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki meninggalkan Shasya yang masih bingung dengan apa yang dibicarakan Khaira.
__ADS_1
Setelah melewati kelas yang cukup melelahkan, akhirnya waktu telah menunjukkan jam pulang. Shasya yang sangat ingin segera pulang pun tidak bisa dan dia mengurungkan niatnya karena hujan tiba-tiba datang.
Padahal waktu telah menunjukkan pukul 15:00 dan adzan pun telah berkumandang. Tapi, Shasya sedikit lega karena kelas yang ditempatinya, dekat dengan Masjid yang ada di kampusnya. Sedangkan Khaira, ada bimbingan dengan Dosennya yang belum tau kapan akan selesai.
Shasya berjalan melewati beberapa kelas dan tak lama sampailah dia di Masjid. Shasya langsung berwudhu dan melaksanakan sholat sunnah terlebih dahulu sebelum sholat Asar.
Setelah beberapa lama, Shasya telah selesai melaksanakan sholat. Akan tetapi, air hujan masih jatuh ke bumi dengan deras tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.
Shasya memilih kembali lagi kedalam masjid karena dia tidak membawa payung. Shasya mengambil Al-Qur’an dan membacanya dengan suara yang sangat merdu. Siapapun yang mendengarnya, akan terbawa suasana alunan suara Shasya.
Kurang lebih 30 menit Shasya membaca Al-Qur’an, dia langsung menutupnya dengan do’a.
“Masya Allah, merdunya suaramu.” Ucap seseorang yang dari tadi berdiri dibelakang Shasya dan mendengar Shasya membaca Al-Qur’an.
Shasya langsung menoleh kebelakang.
“Pak Hadi?” Ucap Shasya langsung berdiri dari duduknya.
“Masya Allah, suaramu begitu merdu. Sampai air hujan pun berhenti karena tidak mau merusak suara indahmu.” Ucap Hadi.
Dan memang benar hujan telah reda dan Shasya tidak menyadarinya.
“Terimakasih atas pujiannya, Pak. Tapi saya harus pulang. Assalammualaikum.” Ucap Shasya dengan menunduk dan berjalan kearah pintu Masjid.
“Wa’alaikumussalam.”
Shasya menyusuri jalan yang selalu dia lewati saat berangkat maupun pulang dari kampus. Air terlihat masih menggenang dimana-mana.
Sesampainya di kostan, dia langsung membersihkan badannya dan langsung menuliskan sesuatu dibuku hariannya.
Mungkin, aku belum tau dengan apa itu cinta. Tanda-tanda cinta, bagaimana orang yang sedang jatuh cinta, bahkan bagaimana merasakan cinta itu.
Tapi aku tau, kalau Allah pasti akan mendatangkan seseorang yang telah dia takdirkan untuk aku cintai dan dia pun mencintaiku diwaktu yang tepat nanti.
Semuanya akan dimudahkan oleh Allah. Tapi, hatiku ini selalu berdegub dengan kencang jika berbicara dengannya.
Ya Allah, rasa apa ini. Tolong berikanlah aku petunjukmu*.
Setelah selesai menulis dibuku hariannya, Shasya langsung mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Magrib.
Setelah semua rutinitas malam Shasya lakukan, dia mulai berkutik dengan laptopnya kembali sampai larut malam.
Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 01:30 dan Shasya belum tidur sama sekali.
“Astagfirullah, gue belum tidur. Lebih baik gue tidur sekarang, nanti jam 3 bangun.” Ucap Shasya yang langsung menutup laptopnya dan membenarkan posisinya untuk tidur.
Shasya tertidur dengan pulas sampai dia tidak mendengar suara alarm. Shasya bangun jam 04:30 saat mendengar suara Adzan Subuh.
“Astagfirullah aladzim, gue kesiangan. Gue nggak sholat Tahajjud. Astagfirullah hal adzim.” Ucap Shasya sambil mengucek kedua matanya dan mengusap wajahnya.
Setelah melakukan kebiasaan paginya, Shasya langsung pergi ke kampus.
Sesampainya di kampus, dia langsung disambut tatapan sinis dari Vina dan teman-temannya. Dalam hati, Shasya bertanya “Ada apa?” karena dia bingung dengan sikap Vina.
Hari ini, Shasya sekelas dengan Khaira. Shasya pun langsung mengambil tempat duduk disebelah Khaira karena dibagku sampingnya masih kosong.
__ADS_1
“Assalammualaikum, Khai.” Salam Shasya dengan tersenyum.
“Wa’alaikumussalam. Bagus deh lo udah datang.” Ucap Khaira.
“Kenapa sih?, kok gue merasa aneh banget dengan tatapannya Vina.” Ucap Shasya sambil duduk dibangku.
“Lo belum tau?” Tanya Khaira yang mendekatkan wajahnya ke Shasya.
“Kalau gue tau, kenapa juga gue nanya sama lo?” Ucap Shasya.
“Oh iya juga ya.” Ucap Khaira sambil menggaruk kepalanya yang tidak merasa gatal.
“Kenapa sih?” Tanya Shasya yang penasaran.
“Ada yang menyebar hoax, tentang lo, Bayu dan Pak Hadi.” Ucap Khaira dengan serius.
“Hah?”
“Lo kan pernah tuh di Taman bertiga. Nah itu ada yang foto terus dibikin berita yang nggak-nggak soal kalian bertiga.”
“Kok bisa? Kan kita nggak janjian waktu itu.”
“Iya sih, tapi kan yang tau cerita aslinya hanya kalian bertiga sama gue. Mereka pada mengolok-olok lo, karena lo dekat sama Pak Hadi dan Bayu.”
“tapi kan, kalau Bayu kita selalu bersama juga nggak pa-pa kan?”
“Lah yang ini beda, lo itu dikata-katain sok suci dan mereka mengambil kesimpulan kalau lo yang menggoda mereka. Gue hanya ngomongin apa yang gue dengar, Sha. Gue nggak bermaksud ngomong kayak gitu.” Ucap Khaira sambil mengangkat kedua tangannya yang membentuk huruf V.
“Astagfirullah hal adzim. Terus apa hubungannya sama Vina?” Tanya Shasya dengan berbisik.
“Dia itu suka sama Pak Hadi, makanya dia nggak suka kalau lihat lo dekat sama Pak Hadi.”
“Allahumagfirlana walahu.”
Seorang Dosen memasuki kelas.
********************
Akhirnya jam pulang kuliah. Seperti biasa, Shasya berjalan menyusuri jalanan yang tidak begitu ramai. Langkah Shasya terhenti saat ada seseorang yang menghadangnya dijalan.
“Waktu itu gue marah, karena gue nggak suka kalau lo dekat sama Pak Yusuf maupun Pak Hadi.” Ucap seseorang yang langsung melangkahkan kakinya dengan cepat.
Sedangkan Shasya masih mencerna apa yang Bayu katakan. Iya, tadi Bayu yang tiba-tiba mengahadang jalan Shasya dan mengucapkan kalimat itu. Setelah itu dia pergi tanya salam.
“Maksud Bayu apa?” Tanya Shasya kepada dirinya sendiri sambil meneruskan jalannya.
Sesampainya digerbang depan kost, Shasya melihat seorang anak perempuan yang mendatanginya dengan membawa bungan mawar.
“Assalammualaikum, Kak.” Salam anak perempuan itu.
“Wa’alaikumussalam, ada apa Adik kecil yang manis?” Tanya Shasya dengan tersenyum melihat gadis kecil itu.
“Ini Kak, aku mau kasih bunga buat Kakak dari Kakak ganteng.” Ucap anak perempuan itu dengan menyodorkan setangkai bunga mawar yang dipegangnya. Shasya langsung mengambil bunga mawar itu dari tangan gadis kecil itu.
“Kakak ganteng?” Tanya Shasya.
__ADS_1