Cinta Suci Shasya

Cinta Suci Shasya
Diam Mendoakan


__ADS_3

~Sekarang lo maupun gue belum berani untuk saling menatap mata dengan waktu yang lama. Tapi kalau Allah meridhoi, suatu hari nanti, gue akan menatap mata lo sepuasnya.~


.


.


.


Keesokan harinya Shasya sudah diruangan Hadi bersama Kevin.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Hadi yang memecah keheningan.


“Maksud Pak Hadi apa?” Tanya Shasya dengan menunduk.


“Semua yang ada di Kampus sudah tau, jadi ceritakan semuanya.” Ucap Hadi.


“Begini iya, Pak. Apa hak Bapak buat ikut campur masalah saya sama Shasya. Bapak itu bukan apa-apanya Shasya, dan itu adalah urusan pribadi kami. Jadi Bapak tidak punya hak buat ikut campur masalah kami. Saya permisi.” Ucap Kevin dengan nada yang sedikit tinggi dan langsung menarik Shasya untuk pergi bersamanya.


Setelah agak jauh dari ruangan Hadi, Shasya langsung melepas paksa genggaman tangan Kevin dilengannya.


“Kevin, lo nggak sopan banget sih. Lo harus hargai gue sebagai perempuan, kita ini bukan muhrim dan lo berani pegang-pegang gue.” Ucap Shasya.


“Maaf, gue nggak sengaja Sha. Gue hanya kebawa emosi sama Pak Hadi.” Ucap Kevin dengan lembut.


“Astaghfirullah hal adzim, maaf gue nggak bermasuk bicara seperti itu ke lo.”


“Nggak pa-pa, gue ngerti kok.”


“Gue permisi dulu. Assalammualaikum.”


Shasya langsung melangkah pergi. Sesampainya di kelas, sepertinya Vina sudah tidak mencari masalah lagi dengan Shasya. Vina terlihat acuh tak acuh saat Shasya lewat didepannya.


“Ada apa?” Tanya Khaira yang penasaran.


“Pak Hadi tiba-tiba nanya ke gue sama Kevin soal kemarin.” Ucap Shasya.


“Terus apa hubungannya sama Pak Hadi?”


“Gue juga nggak tau.”


“Apa Pak Hadi suka sama lo?”


“Kalau bicara jangan ngawur, pastinya nggaklah.”


“Siapa yang tau masalah hati kan?”


“Hanya Allah Yang Tau.”


“Tuh kan, gue hanya menebak-nebak aja kok. Soalnya gue udah memperhatikan gerak-geriknya Pak Hadi kalau ada lo di kelas dan nggak ada lo di kelas.” Ucap Khaira dengan kening yang sedikit dia kerutkan.


“Udahlah, nggak usah dipikir. Biarlah itu menjadi rahasianya Pak Hadi sama Allah.”


“Okelah, kalau gitu.”


Tidak terasa kelas Shasya sudah selesai dan dia memutuskan untuk pulang ke kostan.


Dia memilih berjalan kaki jika pergi maupun pulang dari Kampus. Shasya sangat menikmati suasana jalan yang dia lewati.


“Walaupun nggak seasri di Kampung, tapi gue nyaman ada di Kota ini.” Ucap Shasya yang tanpa sadar sudah ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


“Huh, andai aja gue nggak sendiri disini. Pasti gue senang banget, apalagi kalau gue sama Bapak dan Ibu. Astagfirullah, Shasya lo nggak sendiri. Masih ada Allah Swt. Yang selalu bersama lo.” Ucap Shasya sambil memegang dadanya.


“Lo nggak sendiri kok, Sha.” Ucap seseorang yang tiba-tiba mengagetkan Shasya.


“Astagfirullah, pakai salam dong. Lo buat gue kaget aja.” Ucap Shasya.


“Maaf, Sha. Gue nggak bermaksud buat lo kaget. Assalammualaikum.” Ucap Bayu, iya Bayu. Dia adalah orang yang dari tadi mengikuti Shasya dari belakang.


“Wa’alaikumussalam. Kok lo jalan kaki?” Tanya Shasya.


“Gue pengin bicara sama lo hari ini, makanya gue sengaja nggak bawa motor.”


“Mau bicara apa?” Tanya Shasya yang terus berjalan dan tidak melihat kearah Bayu.


“Soal lo sama Kevin.”


“Itu, nggak usah dibahas lagi. Gue sama Kevin masih berteman dengan baik kok.”


“Bukan itu, maksud gue.”


“Terus apa?” Tanya Shasya dengan melihat wajah Bayu walaupun sebentar.


“Sekarang lo maupun gue belum berani untuk saling menatap mata dengan waktu yang lama. Tapi kalau Allah meridhoi, suatu hari nanti, gue akan menatap mata lo sepuasnya.” Batin Bayu.


“Bay.” Panggil Shasya yang melihat Bayu terdiam tanpa menjawab.


“Itu, Sha. Soal perasaan lo ke Kevin.”


Shasya langsung menghentikan langkahnya ditempat dan terdiam tanpa bicara.


“Shasya.” Panggil Bayu.


Tanpa sadar, perkataan Shasya tadi didengar oleh Kevin dari kejauhan.


“Oke, Sha. Gue akan berusaha berubah demi lo.” Ucap Kevin dari kejauhan dan langsung pergi meninggalkan Shasya dan Bayu yang tidak sadar akan kehadirannya.


“Maaf. Bay. Gue pulang dulu, makasih udah anterin gue.” Ucap Shasya.


“Tapi, ini belum sampai di kostan lo.”


“Nggak pa-pa, Bay. Gue pengin sendiri. Assalammulaikum.” Ucap Shasya yang langsung pergi meninggalkan Bayu.


“Wa’alaikumussalam.” Ucap Bayu yang melihat Shasya yang pergi menjauh.


Sesampainya dikostan, Shasya dikagetkan oleh kehadiran Khaira yang membawa sebuah kotak berwarna merah ditangannya.


“Assalammualaikum, Khaira. Kok lo udah ada disini aja?” Tanya Shasya.


“Iya, gue kesini bawa sesuatu buat lo. Sekalian gue mau nginep disini, boleh kan?”


“Tentu, boleh banget. Yuk, masuk ke dalam.”


Shasya membuka kostannya dan masuk ke dalam bersama Khaira.


“Nih, gue diamanatin sama Kevin buat kasih ini ke lo.” Ucap Khaira sambil menyodorkan sebuah kotak kepada Shasya.


“Apa ini, Khai?” Tanya Shasya yang penasaran.


“Gue juga nggak tau, tiba-tiba dia datang ke rumah gue pas gue mau ke kostan lo. Katanya sih hadiah pertemanan dari dia.”

__ADS_1


Shasya membuka kotak itu.


“Masya Allah, cantik banget Al-Qur’annya.” Ucap Shasya yang kagum melihat isi kotak itu yang tidak lain adalah sebuah Al-Qur’an berwarna pink dan sepucuk surat.


Khaira yang penasaran pun langsung merampas suratnya dan langsung membacanya.


“Shasya, mungkin gue nggak bisa mendapatkan cinta lo. Tapi gue makasih sama lo karena udah anggap gue sebagai teman. Semoga apa yang gue beli buat lo bermanfaat iya, Sha. Gue harap, suatu hari nanti gue bisa lebih mengenal lo dan gue juga akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi agar kita bisa mempunyai satu keyakinan.” Ucap Khaira yang membaca isi surat itu dengan suara lantang.


“Lo ini kebiasaan banget, suka baca surat orang.” Ucap Shasya.


“Habisnya gue penasaran sih. Eh, lo tau nggak apa makna suratnya?” Tanya Khaira.


“Apa?”


“Dia mau berubah, Sha.”


“Baguslah.”


“Bukan itu maksud gue, kayaknya dia bakal pindah agama deh.”


“Iya nggak pa-pa, dia pindah agama.”


“Tapi gue pikir, dia pindah agama itu karena lo deh.”


“Jangan bicara omong kosong.” Ucap Shasya menyentil bibir Khaira dengan pelan.


“Serius, Sha.”


“Kalau dia mau pindah agama, itu harus karena Allah bukan karena gue.”


“Demi cinta lo, mungkin.”


“Udahlah, Khai. Jangan bicara sesuatu yang belum pasti.”


“Iya iya.”


********************


Hari yang ditunggu Shasya dan Khaira pun tiba. Setelah melewati setengah hari perjalanan menggunakan mobil, Shasya dan Khaira sampai di rumah Shasya yang ada di Kampung.


“Assalammualaikum.” Salam Shasya.


“Wa’alaikumussalam.” Ucap Danang, bapaknya Shasya. Yang baru saja membuka pintu.


“Bapak.” Ucap Shasya yang langsung memeluk Bapaknya.


“Masya Allah, Shasya. Bapak kangen banget sama kamu, nak.” Ucap Danang yang mengeratkan pelukannya kepada anak sulungnya.


“BUK.. BUK.. SHASYA PULANG.” Teriak Danang memanggil istrinya.


Lastri, Ibu Shasya langsung berlari dari dalam dan memeluk Shasya.


“Masya Allah, nak. Ibu kangen banget sama kamu.” Ucap Lastri.


“Shasya juga kangen sama Bapak dan Ibu.” Ucap Shasya.


Khaira yang melihat keharmonisan keluarga Shasya pun, terselip sedikit rasa iri di hatinya.


“Andai orang tua gue kayak orang tua Shasya, pasti gue senang banget dan betah di rumah. Nggak kayak sekarang, Mama aja pulang malam terus dan nggak pernah perhatian sama gue. Kalau Mama pulang, pasti Papa sama Mama berantem terus.” Batin Khaira.

__ADS_1


__ADS_2