
~"Kenal? Berarti dugaan gue benar dong? Kalau Shasya nggak cinta sama gue." Batin Bayu.~
.
.
.
.
.
Setelah 2 jam berbelanja, akhirnya Shasya dan Khaira berjalan menuju kasir sambil membawa troli besar yang berisikan belanjaan mereka.
Tiba-tiba, "Assalamu'alaikum, Sha."
Shasya menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Wa'alaikumussalam."
"Eh Pak Hadi, ngapain disini?" Tanya Khaira.
Iya, memang Hadi yang telah mengucapkan salam kepada Shasya. "Oh saya lagi anterin Mamah saya buat belanja. Kalian sendiri ngapain?"
"Kami juga belanja, Pak. Nanti ada acara kecil-kecilan di rumah saya buat merayakan kelulusan. Iya nggak, Sha?" Khaira menyenggol lengan Shasya yang sedari tadi diam.
"Iya, Pak."
"Kok saya nggak diundang?" Tanya Hadi.
"Owh jadi gini, Pak. Memang yang ada diacara kami, cuma kami berempat. Soalnya kan kami juga udah sahabatan dari awal Kampus sampai lulus, Pak. Jadi kami rencanain acara ini." Hanya Khaira yang selalu menjawab pertanyaan Hadi. Sedangkan Shasya masih diam tidak mau berbicara.
"Memangnya siapa saja? Kok berempat?" Tanya Hadi yang penasaran.
"Oh itu, Pak. Saya, Shasya, Bayu dan Kevin." Khaira mulai merasa canggung karena Shasya tidak mau menjawab pertanyaan Hadi. Terpaksa dia yang harus menjawabnya.
"Oh gitu. Iya udah, have fun iya. Saya pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Makasih, Pak."
"Wa'alaikumussalam." Jawab Khaira dan Shasya.
Hadi pun langsung pergi meninggalkan Khaira dan Shasya yang melanjutkan jalan mereka menuju kasir.
"Dari tadi lo diam aja, kenapa sih?" Gerutu Khaira.
"Nggak pa-pa, Khai. Kan udah ada lo, jadi lo aja yang jawab."
"Lo tadi nggak lihat apa? Kayaknya Pak Hadi itu pengin banget kalau lo yang jawab pertanyaan dia. Sambil ngelirik lo tau nggak."
Salsa menghentikan langkahnya dan memegang kedua bahu Khaira sambil menatap matanya."Sssttttt... Khaira Sayang. Jangan ghibah, okay." Khaira hanya mengangguk pelan.
********************
Jam 20.00, Shasya, Khaira, Bayu dan Kevin sudah berkumpul ditaman belakang rumah Khaira.
Suasana disana tampak begitu berbeda. Biasanya Khaira dan Kevin yang selalu berantem, mendadak akur seakur-akurnya, bahkan sampai mau memanggang daging berdua. Sedangkan Bayu? Yah dia juga nampak sangat berbeda. Bayu yang biasanya cuek, ketus dan datar mendadak menjadi pribadi yang ceria dan selalu tertawa bersama sahabat-sahabatnya.
"Kuy, nih udah gue panggang semua dagingnya." Ucap Khaira.
"Woy, gue juga ikut kali. Sampai bau asap semua nih baju gue." Gerutu Kevin.
__ADS_1
"Udahlah jangan berantem. Tadi aja akur banget." Ucap Shasya.
"Iya iya."
"Nih, gue sama Bayu juga udah potongin semua buah dan udah buat minuman juga." Ucap Shasya.
"Uwih, kayaknya enak tuh." Ucap Kevin.
"Iya pastilah, kan gue juga ikut bantuin." Ucap Bayu dengan sombongnya.
"Sombong banget anda. Tapi gue suka lo yang kayak gini, Bay. Lo yang ceria dan suka ketawa sama kita. Bukan Bayu yang cuek, ketus, datar, dingin kayak Kulkas 10 pintu, dan wajahnya bikin gue enek sangking datarnya." Kevin memaki Bayu dengan lebay. Membuat Shasya dan Khaira menahan tawa mereka. Sedangkan Bayu, sudah naik pitam mendengar perkataan Kevin.
"APA LO BILANG?"
"Santai Bro. Disini kita mau senang-senang, bukan mau baku hantam." Ucap Kevin.
"Dasar lemes banget mulutnya, kayak emak-emak Kompleks yang lagi belanja sayur di Abang tukang sayur keliling." Cibir Bayu.
"Wait wait wait. Kok lo tau? Berarti lo pernah ikut dong?" Kali ini bukan cibiran dari mulut Kevin yang keluar, melainkan dari mulut Khaira.
"Hahaha.. betul tuh. Baru aja gue mau nanya kayak gitu." Tawa Kevin dan Khaira menggelegar sampai ke rumah tetangga.
"Udah-udah, jangan ketawa terus. Kasihan anak tetangga yang lagi tidur." Ucap Shasya. Padahal dia sendiri berusaha menahan tawanya agar tidak meledak-ledak saat mendengar ucapan Khaira dan Kevin.
"Nah gitu dong kayak Shasya. Yang selalu bisa menghentikan pembicaraan yang sangat amat receh itu." Cibir Bayu.
"Cih, emang kalau cinta itu buta. Semua yang dilakukan oleh orang yang lo cintai pasti lo anggap yang paling benar." Kevin pun tidak mau kalah mencibir Bayu.
Shasya memantung mendengar ucapan Kevin. Dia berusaha mencerna perkataan yang dilontarkan Kevin, walaupun terkesan tidak sengaja. Khaira yang menyadari perubahan sikap Shasya pun langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Eemmm.. Gimana kalau kita makan-makan sambil main." Ucap Khaira.
"Ih makanya dengerin dulu, permainannya apa." Kesal Khaira.
"Iya iya, lanjutkan."
"Kita main lempar pertanyaan aja. Caranya, nanti kita bakal nyanyi Reff sebuah lagu sambil muterin buah Apel ini. Misalnya, udah selesai nyanyi, terus buah Apelnya jatuh ditangan gue, berarti kalian, bisa kasih gue satu pertanyaan. Dan pertanyaan itu harus dijawab dengan jujur."
"Kalau nggak jujur?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Kevin.
"Iya harus jujur."
"Kan kita nggak tau, nanti pada jujur apa nggak." Ucap Bayu sambil menyuapkan daging kedalam mulutnya.
"Kalau gitu, mari kita berjanji." Ucap Khaira.
"Janji apaan?" Tanya Shasya.
"Iya, kita berjanji kalau kita akan berkata jujur."
"Boleh."
"Oke, kita berjanji dalam hati masing-masing."
.
Permainan pun dimulai. Orang pertama yang menyanyi adalah Khaira, karena dia yang memegang Apelnya.
Kamu kamu
__ADS_1
Yang terus mengerti aku
Tak pernah terlukiskan
Betapa besar hatimu
Kamu kamu
Dengarkan ini janjiku
Kau milikku, aku milikmu
Hingga akhir waktu
Apel jatuh ditangan Bayu.
"Oke, gue punya pertanyaan buat lo." Ucap Khaira.
"Apa?"
"Apa sikap lo selama ini, buat nutupin jati diri lo ke seseorang yang lo cintai?" Tanya Khaira dengan puas.
"Bukan. Karena gue udah jadi diri gue sendiri kalau lagi sama orang yang gue cintai." Ucap Bayu sambil sekali melirik sekilas kearah Shasya. Mata elang Khaira dan Kevin menangkap hal itu. Mereka pun mengangguk paham dengan jawaban Bayu.
.
Aku masih bisa berdiri dan menatap matahari
Meski tak lagi tempatku di hatimu
Tak perlu kumengejarmu karena kau takkan kembali
Cinta kini tak untukku
Cintamu bukan untukku
Bayu menyanyi dengan penuh penghayatan, seperti lagu ini sedang menceritakan isi hatinya. Suasana menjadi canggung, hingga Apel jatuh ditangan Shasya. Bayu terlihat sangat senang melihat Apel itu ada ditangan Shasya.
"Oke, gue kasih satu pertanyaan buat lo." Ucap Bayu dengan serius, sehingga membuat Khaira dan Kevin ikut-ikutan serius juga. Sedangkan Shasya mengangguk pelan mendengar ucapan Bayu.
"Siapakah seseorang yang beruntung itu, yang bisa mendapatkan cinta lo?" Tanya Bayu yang membuat Shasya terkejut.
"Kenapa Bayu tanya kayak gitu?" Batin Shasya.
"*Pertanyaan yang sangat bagus, Bay. Gue juga penasaran sama seseorang yang selama ini Shasya cintai dalam diam." Batin Khaira.
"Gue nggak terlalu kepo sih. Karena gue udah move on dari Shasya. Tapi, gue juga penasaran banget sama isi hati Shasya. Eh, kepo sama penasaran kan sama? Tau ah." Batin Kevin*.
Shasya nampak takut dan bingung harus menjawab apa. Karena dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Apakah ini rasa kagum? Atau rasa cinta?
"Sha? Lo nggak mau jawab?" Tanya Khaira.
"Eemmm, gue juga masih bingung dengan perasaan gue. Gue nggak tau apakah ini rasa cinta atau rasa kagum." Ucap Shasya dengan hati-hati.
"Tapi siapa orang itu?" Tanya Bayu.
"Itu privasi gue. Yang jelas kita semua kenal kok sama orang itu." Ucap Shasya dengan gugup.
"Kenal? Berarti dugaan gue benar dong? Kalau Shasya nggak cinta sama gue." Batin Bayu.
__ADS_1