
~"Sebenarnya gue nggak tega harus tinggalin lo disini sendirian, Sha. Semoga saja rencana kita nanti bakal berhasil. Aamiin."~
.
.
.
.
.
Hasan berjalan kearah Khaira. "Lo akan gue lepasin, tapi jangan sampai lo bukan mulut kalau Shasya ada ditangan gue. Kalau sampai itu terjadi, jangan harap lo bisa bertemu lagi dengan Shasya."
"Nggak, gue nggak akan biarin Shasya disini sendiri." Khaira langsung mengangkat wajahnya dan menatap Hasan.
"Owh, lo sahabat yang setia juga rupanya. Shasya, gimana? Sahabat lo nggak mau dilepasin?"
"Gue mau bicara berdua dengan Khaira." Ucap Shasya dengan ketus.
"Oke, gue kasih lo waktu buat ngomong sama sahabat lo itu. Tapi tidak lebih dari 5 menit." Hasan pergi dari ruangannya dan langsung menutup rapat pintunya.
"SHASYA LO GILA? GUE NGGAK BAKAL NINGGALIN LO DISINI SENDIRIAN." Bentak Khaira.
"Khaira, dengerin gue." Shasya memegang kedua bahu Khaira. "Lo harus percaya sama gue. Gue bisa jaga diri gue sendiri. Dan lo harus pergi dari sini. Lo harus bantu gue."
Khaira menatap Shasya. "Apa yang bisa gue bantu?" Tanya Khaira.
"Setelah lo bisa keluar dari sini..." Shasya melihat sekeliling dan dia melihat CCTV disana. Shasya langsung berbisik ditelinga Khaira. Khaira mendengarkan dengan seksama perkataan Shasya.
"Gimana?" Tanya Shasya setelah selesai membisikkan Khaira sesuatu.
"Apa lo yakin akan baik-baik aja?" Tanya Khaira.
"Gue yakin, Khai. Dia nggak akan bisa mencelakai gue."
"Baiklah, kalau gitu. Jaga diri lo." Khaira memeluk Shasya dengan erat.
"Iya, Khai. Lo juga." Shasya melepas pelukan Khaira.
BRAK.. Pintu terbuka.
"Waktunya udah selesai. Sekarang, ada dua pilihan lo. Lo mau keluar dari sini atau mati?" Hasan menatap Khaira dengan tajam.
"Gue bakal keluar dari sini."
"Pilihan yang tepat." Hasan menyeringai.
"PENGAWAL." Teriak Hasan dari depan pintu. Dan masuklah 2 pengawal ke ruangannya.
__ADS_1
"Tutup mata gadis itu dan kembalikan dia ditempat kalian culik tadi." Hasan menunjuk Khaira.
"Baik, Bos." Ucap 2 pengawal itu. Mereka langsung menjalankan perintah Bosnya.
"Sebenarnya gue nggak tega harus tinggalin lo disini sendirian, Sha. Semoga saja rencana kita nanti bakal berhasil. Aamiin." Batin Khaira.
********************
Sekarang Shasya berada dikamar yang dia dan Khaira disekap tadi. Shasya melantunkan beberapa ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dia hafal sampai dia tertidur.
Pukul 02.30 Shasya terbangun. Dia langsung mengambil wudhu untuk melaksanakan Sholat Tahajjud. Memang dikamar itu, Hasan telah menyediakan Mukena, Sajadah dan beberapa pakaian muslimah. Karena dia tau, seperti apa Shasya itu.
Setelah melaksanakan Sholat Tahajjud, Shasya kembali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an sampai waktu Sholat Subuh tiba.
Pukul 06.00, Shasya sudah selesai membersihkan badannya. Shasya yang merasakan bosan pun berusaha untuk keluar dari kamar.
Ceklek.. Ternyata, pintu kamarnya tidak dikunci. Saat keluar, Shasya langsung dihadapkan dengan seorang pengawal.
"Nona boleh keliling rumah ini. Tapi jangan harap Nona bisa keluar dari sini." Ucap pengawal itu dan langsung pergi meninggalkan Shasya.
Shasya berjalan menuruni anak tangga dan mencari-cari disebelah mana dapur berada. Saat menemukan dapur, dia melihat seorang ibu-ibu berhijab yang umurnya kurang lebih 35 tahunan. Dia terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Assalamu'alaikum." Salam Shasya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Nona butuh sesuatu?"
"Tidak. Saya kesini mau bantu Ibu memasak."
"Baiklah, Bibi Una. Apa yang bisa saya bantu?"
"Tidak usah, Non. Nona duduk saja."
"Nggak pa-pa, Bi. Shasya pengin bantu Bibi."
"Iya sudah. Nona boleh melakukan apa aja dan boleh memasak apa aja yang Nona pengin."
"Terimakasih, Bi."
"Terimakasihnya ke Tuan, Nona. Saya hanya Asisten Rumah Tangga disini. Jadi, semua bahan makanan disini, Tuan yang beli."
"Iya, Bi." Ucap Shasya dengan terpaksa.
Shasya memasak sarapan bersama Bibi Una.
Pukul 07.00, semua makanan yang mereka masak sudah siap dimeja makan. "Nona tunggu disini, biar Bibi saja yang panggil Tuan dulu." Ucap Bibi Una dan mendapat anggukan dari Shasya.
10 menit kemudian, terlihat Hasan berjalan menuju meja makan. Senyuman Hasan terus mengembang saat dia melihat Shasya yang berdiri disamping meja makan. Sedangkan Shasya, hanya bisa menunduk untuk menjaga pandangannya.
"Morning, Calon Istriku." Ucap Hasan dengan memberikan setangkai bunga mawar merah kepada Shasya. Shasya mengambil bunga itu, tanpa mau melihat kearah Hasan dan menjawab sapaannya tadi. Shasya berpikir, kan dia bukan calon istrinya Hasan. Ngapain juga harus dijawab.
__ADS_1
"Shasya my future wife. Sini sarapan sama gue." Ucap Hasan sambil menepuk bangku disampingnya. Shasya hanya menuruti perintah Hasan, karena dia juga lapar dari kemarin sore, dia belum makan apa-apa. Akhirnya mereka berdua sarapan bersama tanpa ada pembicaraan. Hanya suara alat makan saja yang bisa didengar.
Setelah selesai sarapan, Hasan langsung pamit untuk keluar. "Shasya, lo jangan berniat untuk kabur dari sini, kalau lo masih sayang sama sahabat lo yang kemarin. Jangan harap, walaupun gue lepasin dia, dia bisa berkeliaran seenaknya sendiri. Gue masih pantau semua aktivitas dia." Hasan menatap Shasya dengan intens. Sedangkan Shasya malah bersikap seperti malas mendengarkan ocehan Hasan.
"Gue pergi dulu sebentar." Hasan berdiri dari kursinya dan mencium puncak kepala Shasya, setelah itu dia pergi. Untungnya yang dia cium adalah hijab Shasya. Tetapi Shasya tampak kaget dengan perlakuan Hasan.
"Astaghfirullah hal adzim. Astaghfirullah hal adzim. Astaghfirullah hal adzim." Batin Shasya.
Bibi Una keluar dari dapur dan menghampiri Shasya. "Nona calon istrinya Tuan?" Tanya Bibi Una.
"Bukan, Bi."
"Tapi, kenapa sikap Tuan begitu manis kepada Nona?"
"Saya juga nggak tau, Bi."
"Nona sendiri kok bisa disini?"
"Bibi nggak tau? Kalau Hasan udah menculik saya, Bi." Shasta menatap mata Bibi Una.
"Astaghfirullah, yang bener Non? Bibi nggak tau, Non."
"Iya, nggak pa-pa. Oh iya, apa disini dekat dengan Perkotaan?"
"Jauh, Non. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke Kota. Dan disini hanya ada satu rumah, yaitu rumah ini miliknya Tuan Hasan."
"Apa disekitaran sini ada Pedesaan gitu, Bi?"
"Ada, Non. Nggak jauh kok dari sini."
"Oh gitu. Hmm, Bibi udah lama kerja disini?"
"Sebenarnya saya itu Asisten Rumah Tangga nya Tuan sama Nyonya Besar, orang tuanya Tuan Hasan. Namun, setelah Tuan Hasan keluar penjara, saya diminta untuk menjaga Tuan Hasan disini."
"Dimana orang tuanya Hasan sekarang?"
"Tuan dan Nyonya Besar ada di Kota, Non."
"Kenapa Hasan memilih untuk tinggal ditempat terpencil kayak gini?"
"Saya nggak tau pasti, Non. Yang jelas, rumah ini juga pernah dipakai Tuan Besar untu menyekap seseorang."
"Siapa, Bi?"
"Saya kurang tau, Non."
"Hmm gitu. Emmm, apa Bibi punya ponsel?"
"Punya. Tapi maaf, Bibi tidak bisa kasih pinjam sama, Non. Soalnya, Tuan Hasan udah berpesan seperti itu ke Bibi."
__ADS_1
"Iya udah. Nggak pa-pa, Bi." Shasta sedikit kecewa dengan perkataan Bibi Una. Tetapi, dia berusaha bersikap biasa saja.
"Ya Allah semoga saja rencana hamba dan Khaira berhasil. Hamba mohon Ya Allah, berikanlah hambamu ini jalan keluar tanpa harus melukai seseorang. Aamiin." Batin Shasya.