
~Gue senang Khai. Kalau lo bisa tersenyum kembali. Gue berdoa, semoga lo selalu bahagia Khai. Walaupun itu dengan atau tanpa gue disisi lo."~
.
.
.
.
.
Setelah dirawat selama dua minggu, akhirnya Bapaknya Shasya boleh pulang ke rumah.
"Bapak jangan sakit lagi iya. Bapak jangan terlalu kecapekan. Maaf, Shasya belum bisa pulang ikut Bapak pulang ke Kampung. Soalnya, Insya Allah dua Minggu lagi Shasya mau sidang kelulusan. Doain Shasya iya, Pak, Bu. Semoga sidangnya lancar, dan Shasya bisa cepat lulus."
"Aamiin. Insya Allah Bapak sama Ibu selalu doain kamu, Nak. Kamu nggak usah khawatir sama keadaan Bapak. Insya Allah Bapak baik-baik saja, Nak." Ucap Danang, Bapaknya Shasya.
"Iya, Nak. Insya Allah tanpa kamu minta doa dari Bapak sama Ibu, kami juga sudah doain yang terbaik buat kamu." Ucap Lastri, Ibunya Shasya.
"Masya Allah. Terimakasih, Pak, Bu." Shasya memeluk orang tuanya secara bergantian.
"Iya, Nak. Sama-sama."
Shasya dan orang tuanya berjalan menuju mobil mereka. Disana terlihat Yusuf sudah menunggu kedatangan mereka.
"Iya udah, Shasya pulang dulu ke rumahnya Khaira iya, Bu, Pak, Kak. Bapak sama Ibu juga hati-hati iya." Ucap Shasya yang langsung mendapat anggukan dari orang tuanya dan Yusuf.
"Iya, Nak. Kamu juga hati-hati iya. Jangan ngebut kalau bawa mobil."
"Iya, Bu."
"Seharusnya, kamu bilang hati-hatinya ke Nak Yusuf. Soalnya kan dia yang menyetir nanti." Goda Danang.
"Bapak apaan sih." Shasya tersipu malu dengan godaan Bapaknya. Sedangkan Yusuf sedari tadi terdiam dan tersenyum tipis mendengar perkataan Bapaknya Shasya.
"Iya udah, Shasya pamit iya. Bu, Pak, Kak. Assalamu'alaikum." Shasya salim kepada orang tuanya. Dan menunduk sambil menyatukan kedua telapak tangannya kepada Yusuf. Yusuf pun membalas perlakuan Shasya dengan hal yang sama.
"Wa'alaikumussalam."
Shasya langsung memasuki mobilnya dan langsung mengendarainya meninggalkan kedua orang tuanya dan Yusuf.
Sebenarnya Shasya sudah bisa mengemudikan mobil, tetapi dia lebih memilih untuk menggunakan motor kesayangannya saja untuk pergi ke Kampus.
Shasya juga lebih memilih dijemput supir pribadi Bapaknya ketika dia ada waktu untuk pulang ke Kampungnya.
Padahal orang tua Shasya memiliki beberapa mobil yang bisa dia pakai untuk ke Kampus, namun Shasya menolaknya.
Tetapi untuk kali ini, dia tidak bisa menolak permintaan Bapaknya untuk mengendarai mobilnya. Bapaknya juga sudah menyuruh orang untuk mengambil motor Shasya yang berada di rumahnya Khaira untuk dibawa pulang ke Kampung.
Satu jam kemudian.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Khaira membuka pintu rumahnya.
"Loh, Shasya. Lo udah balik? Kenapa nggak kasih kabar ke gue? Bapak gimana keadaannya? Udah baikan? Bapak udah boleh pulang nggak? Terus kalau belum boleh, lo bakal kesana lagi kapan?" Pertanyaan beruntun diajukan oleh Khaira kepada Shasya.
__ADS_1
"Khaira sahabat gue yang paling cantik. Gue capek, izinin gue masuk dulu iya." Ucap Shasya sambil memegang kedua pipi Khaira.
"Owh iya, gue lupa. Ayo masuk, gue tadi bikin kue."
"Bagus kalau gitu, gue lapar nih." Shasya dan Khaira berjalan bersama menuju meja makan.
"Nih, dijamin suka."
"Gue coba iya." Shasya mulai menyuapkan kue buatan Khaira kedalam mulutnya.
"Eemmm... enak banget. Resepnya dari mana?" Tanya Shasya.
"Dari Mbah Google dong. Masa punya Mbah nggak ditanya sih." Jawab Khaira dengan PD-nya.
"Iya iya, percaya deh. Tapi ini enak loh."
"Uh, makasih." Ucap Khaira yang mendapat anggukan dari Shasya. Shasya punlangsung melanjutkan makannya.
"Sekarang, jawab semua pertanyaan gue tadi." Ucap Khaira.
"Sebentar, gue habisin dulu."
"Oh iya."
10 menit kemudian.
"Sekarang, jawab."
"Iya iya, nggak sabaran banget sih."
"Lo juga sih, bikin gue kepo."
"Uluh uluh perhatian banget sahabatku ini." Khaira mencubit pipi Shasya dengan pelan.
"Ih, gue bukan anak kecil."
"Iya udah lanjut."
"Iya. Dan untuk Bapak, Alhamdulillah Bapak udah boleh pulang. Tadi itu, Bapak mau balik ke Kampung. Makanya, tadi pagi gue cepet-cepet kesana."
"Kok lo nggak ngajak gue?"
"Gue tahu kalau lo ada janji sama Dospem lo kan?"
"Iya, lo tau aja."
"Iya iya lah."
"Iya deh, Shasya emang the best."
"Sahabat siapa dulu dong."
"Sahabatnya Khaira." Khaira langsung memeluk Shasya.
"Gue senang Khai. Kalau lo bisa tersenyum kembali. Gue berdoa, semoga lo selalu bahagia Khai. Walaupun itu dengan atau tanpa gue disisi lo." Batin Shasya.
********************
__ADS_1
Hari yang ditunggu-tunggu Shasya, Khaira, Bayu dan Kevin serta semua Mahasiswa yang sudah bisa sidang.
Shasya duduk diruang tunggu hingga namanya dipanggil. Tangan Shasya dan bibir Shasya terus bergerak tanpa henti. Shasya terus berdoa dan berdzikir tiada henti sampai namanya dipanggil.
"SHASYA NURUL ZAHRA, masuk." Teriak seseorang.
Shasya langsung berdiri dan langsung memanjatkan doa sebelum masuk keruang sidang. Setelah dianggap cukup, Shasya langsung menyemangati dirinya sendiri dan memasuki ruangan sidang.
Entah sudah berapa lama Shasya didalam. Akhirnya Shasya keluar dengan lega.
Shasya langsung berlari ke kantin, untuk menemui sahabat-sahabatnya. Karena mereka berempat janjian untuk bertemu di kantin setelah selesai sidang.
"Gimana, Sha?" Pertanyaan pertama keluar dari mulut Khaira kepada Shasya yang baru datang.
"Alhamdulillah, gue lulus." Ucap Shasya dengan gembira.
"Alhamdulillah, kita berempat lulus semua." Khaira langsung memeluk Shasya dengan erat.
Sedangkan Bayu dan Kevin hanya menatap Shasya dan Khaira yang berpelukan, dengan gembira dan bahagia.
"Selamat iya. Kita masuk bareng, lulus juga bareng." Ucap Shasya sambil melepas pelukan Khaira dan sekilas menatap kearah Bayu dan Kevin yang masih duduk dikursi.
"Alhamdulillah, Sha. Selamat juga buat lo." Ucap Bayu dengan tersenyum.
"Iya, selamat buat lo." Ucap Kevin.
"Makasih."
"Oh iya, untuk merayakan kelulusan kita. Gimana kalau kita buat pesta kecil-kecilan. Cuma kita berempat aja, di taman belakang rumah gue nanti malam." Usul Khaira.
"Bukan ide yang buruk. Gue setuju." Ucap Kevin.
"Gue juga." Ucap Bayu.
"Gue juga setuju." Ucap Shasya.
"Oke, nanti biar gue sama Shasya yang belanja keperluannya."
"Kita patungan buat beli keperluannya nggak?" Tanya Kevin.
"Nggak usah. Alhamdulillah, Bapak tadi kirimin uang buat gue. Katanya sih uangnya bisa gue gunain buat apa aja. Bapak bilang sih, hadiah kelulusan. Soalnya sebelum kesini, tadi gue telpon Bapak. Dan langsung dikirimin sama Bapak. Jadi, uangnya buat kita aja."
"Alhamdulillah, rezeki anak Sholeh."
"Rezeki anak Sholehah juga."
.
Shasya dan Khaira belanja di Mall untuk keperluan nanti malam. Mereka membeli daging, sayur-sayuran, buah-buahan dan berbagai cemilan dan minuman untuk mereka nanti malam.
"Sha, nanti Barbeque an gimana?" Tanya Khaira.
"Boleh. Kalau gitu, beli dagingnya agak banyakan."
"Siap, Bu Bos." Ucap Khaira. Shasya terkekeh mendengar ucapan Khaira untuknya.
Setelah 2 jam berbelanja, akhirnya Shasya dan Khaira berjalan menuju kasir sambil membawa troli besar yang berisikan belanjaan mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba, "Assalamu'alaikum, Sha."
Shasya menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Wa'alaikumussalam."