
Pungguh dan sepupunya mengendarai motor dalam perjalanan pulang. Hati Pungguh masih diliputi amarah. Pikirannya masih terbayang-bayang gambar Srita yang dilihatnya dalam baskom di rumah Mbah Garong. Menjijikan rasanya melihat Srita dalam pelukan laki-laki lain.
Mereka membelah malam dalam kebisuan. Air pemberian Mbah Garong dipegang Pungguh erat-erat. Inginnya air itu bukan untuk jampi-jampi, tapi untuk dia siramkan ke muka Srita. Saking kesalnya dia.
Dua puluh menit terlewati. Mereka tiba di rumah Pungguh. Setelah motor dimatikan, Pungguh turun tapi tidak langsung masuk rumahnya. Rumah itu sudah sepi. Mungkin Simbah dan anaknya sudah tidur. Anak laki-lakinya semenjak ibunya tidak pulang jarang di rumah. Alasannya tidur di rumah temannya.
"Ahhhhhh!!!!!"
"brakkk"
Pungguh menendang bangku reyot yang ada di samping rumah. Bangku itu meleyot dan semakin ambruk.
"Kurang aj*r kamu Srita! Danc*k. Perempuan Lac*ur. Awas kamu Srita. Kamu tinggalkan anak dan suamimu. Demi laki-laki lain. Selingkuh rupanya kamu"
"Sabar Guh, eling ini udah malam. jangan jadi gila kamu karena Srita. Kita sudah dikasih jampi-jampi. Tinggal kita tunggu jam dua belas. Nanti kita lakukan apa yang diperintahkan Mbah Garong" Sepupu Pungguh berusaha menenangkan meski dia tahu tidak mudah menerima kenyataan yang dialami oleh Pungguh.
"Aku kecewa dengan istriku, mas. Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal yang tidak pantas. Memang aku sebagai suami banyak kurangnya, memang aku tidak kaya. Selama ini kebutuhan rumah tangga selalu kurang. Aku menyadari itu. Tapi aku selama ini sudah selalu berusaha. Aku mencari kerja. Aku tidak diam saja mas." Pungguh menyampaikan isi hatinya dengan perasaan nelangsa.
"Aku turut prihatin Guh" Sepupu Pungguh tidak dapat berkata-kata.
"Apa dia tidak ingat anaknya. Apa dia tidak ingat bahwa dia telah bersuami. Apa Dosa ku mas sampai begini dia memperlakukan aku. Meski aku kekurangan tapi aslinya sayang sama dia. Apa yang haru aku lakukan mas" lama-lama kalimat Pungguh semakin memelas
" Guh, kamu itu laki-laki. Jangan cengeng. Nanti saat Srita pulang kamu berhak menyidang dia, kamu juga berhak memberi pelajaran dia. Kamu sebagai laki-laki harus punya harga diri. Bila Perlu kamu kasih pelajaran sama istrimu. Coba kalau tetangga tahu, apa tidak tercemar nama keluargamu. Apa ibumu juga tidak akan sedih punya mantu tidak ada akhlak!"
"Apa aku harus memberi tahu kelakuan Srita pada ibu dan mertuaku mas?" Pungguh bertanya pada sepupunya
"Kamu pikir baik buruknya Guh. Kalau tidak kamu kasih tahu mereka tidak bisa memberi urun rembuk harus bagaimana. Tapi kalau kamu kasih tahu ya akan banyak orang yang kecewa, orang tua dan mertuamu. Apalagi jika anak laki-laki mu sampai tahu"
"Anak laki-lakiku itu jangan-jangan nurun ibunya, sak karepe dewe. Mau keluar mau nggak, ke mana-mana sesuka hatinya. Sekarang saja ntah ada di rumah ntah tidak. Butek aku kalau soal anak lanangku"
"Udah, sekarang jangan pikir anak Lanang mu dulu. Coba lihat jam sudah jam berapa. Kita harus memulai jampi-jampi ke istrimu" Sepupunya Pungguh mengingatkan persoalan penting mengenai jampi-jampi
Pungguh baru tersadar hari sudah mau jam dua belas. Dia masuk ke rumah lalu mencari album foto, dia lalu mencari foto Srita yg terlihat sudah mulai kusam karena sudah lama foto itu dicetak. Setelah menemukan foto Srita yang sesuai keinginannya dia kembali keluar. Sempat terlihat anak perempuannya sudah tidur bersama Simbahnya.
Pungguh berhenti sejenak. Hatinya terasa perih melihat anak perempuan dan mengingat kelakuan istrinya. Ntah setan apa yang merasuki hati dan pikiran istrinya.
Apa kamu tidak takut Dosa , Srita.
__ADS_1
Tak lama setelah memandang anaknya Pungguh keluar menemui sepupunya kembali.
"Mas, ini foto Srita. Bawa ke sini airnya. Aku jampi-jampi di sini saja ya"
Sepupu Pungguh menyodorkan air pemberian Mbah Garong. Saat air sudah ditangan Pungguh, dia membuka tutup lalu menuangkannya ke foto Srita
"Kanggem Srita, mimit mituno
, Katut, nunut, matur Batur Urip, Sigaran jiwo ji Siji" Pungguh membaca jampi-jampi dengan fokus, setiap selesai menyiramkan air ke foto, dia baca mantra. Total dia membaca sebanyak tiga kali. Setelah selesai dia diam sesaat.
"Kapan kira-kira jampi-jampi ini mulai bekerja Yo mas?" tanya Pungguh dengan suara pelan.
"Kita lihat saja besok, apakah Srita pulang. Kalau belum juga pulang kita tanyakan lagi sama Mbah Garong. Barangkali dia bisa memberi jampi-jampi lain"
"Aku benar-benar tidak menyangka mas. Istriku....." Pungguh tidak melanjutkan ucapannya. Dia meremas dan menarik rambut yang sudah lama tak dipotongnya.
"Sekali lagi aku turut prihatin Guh. Sing sabar. Manusia itu banyak ujiannya. Lihat aku. Usiaku sudah kepala empat, tapi aku belum menemukan jodohku. Apa aku tidak sedih? Aku sedih Guh. Kamu sudah ada anak tiga. Nah sekarang dirimu sedang diuji. Sing sabar. Aku cuma bisa menasehati. Aku juga tidak tahu sikapku akan seperti apa jika hal yang sama terjadi padaku" Sepupu Pungguh berusaha menasehati dengan bijak.
Mendengar nasehat sepupunya, Pungguh hanya diam saja.
"Guh, ini udah mau pagi. Aku pulang ya. Besok kamu kabari hasil dari pekerjaan kita" Sepupu Pungguh berpamitan.
"Yo Guh. Aku tak pamit"
Setelah kepergian sepupunya, Pungguh hanya termenung. Hari sudah menjelang pagi, tapi dia belum terasa mengantuk. Sepertinya matanya terlalu susah untuk dibawa tidur. kepalanya juga terasa berat memikirkan nasibnya yang dia alami.
Setelah sekian lama akhirnya Pungguh memilih masuk ke dalam rumah. Nyamuk-nyamuk sepertinya mengundang teman-temannya untuk mengeroyok Pungguh.
Setelah memastikan pintu tertutup dengan rapat dia membaringkan badannya di atas tikar di ruang tamu. Badannya lelah, Pikirannya juga. Akhirnya dia pun terlelap.
****
Pagi menjelang. Terdengar ayam tetangga berkokok.
"Le, le...." Sayup-sayup terdengar suara orang memanggil . Pungguh membuka mata yang masih terasa sangat berat. Rupanya Simbah membangunkan.
"Ya Mbah." Meski berat Pungguh tetap membuka matanya. Lalu duduk menghadap Simbah
__ADS_1
"Piye le hasil kamu ketempat Mbah Garong?" Simbah menanyakan hasil kepergian Pungguh meminta bantuan ke Mbah Garong.
Pungguh menarik napas dalam dan berat.
"Berat Mbah" lemah Pungguh menjawab
"Maksud kamu opo tho?"
"Srita selingkuh Mbah" jawab Pungguh lirih
"Opo!!" belum selesai Pungguh bicara Simbah sudah terkejut dan menyela.
"Dia bersama laki-laki lain, tapi Mbah Garong tidak tahu lokasinya di mana"
"Kamu tidak sedang ngaco kan le?"
"Serius Mbah. Aku melihat sendiri lewat air yg disiapkan Mbah Garong. Mas Supri juga melihat" Pungguh menjelaskan
"Ya Allah Gusti, Srita...., kok kamu tega nduk" Simbah terduduk lesu "Ora eling anak bojomu. Ora eling keluarga mu"
Pungguh tidak berkata-kata lagi.
"Terus sekarang piye le?" tanya Simbah
"Tadi malam Mbah Garong memberi air jampi-jampi agar disiramkan ke foto Srita. Jampi-jampi itu untuk memanggil Srita agar pulang. Tadi malam sudah aku siramkan. Hari ini menunggu hasilnya"
"Duh Gusti.... Opo salah anakku? kok koyo ngene digawe bojone" lirih suara Simbah sambil terlihat menyeka sudut matanya.
"Le...." Simbah menyentuh bahu Pungguh
"Yo Mbah"
"Mertuamu hari ini mau ke sini kan?" tanya Simbah
"Iyo Mbah"
" Nanti kalau mereka ujug-ujug marah, kamu yang sabar. Jelaskan yang kamu ketahui"
__ADS_1
Pungguh hanya tertunduk lesu.Belum bisa membayangkan apa yang nanti terjadi.