
Hari ini akan dilangsungkan sidang pertama gugatan perceraian Srita. Di undangan dicantumkan sidang akan dilakukan pada pukul 10.
Srita sudah janjian dengan Ainun. Ainun akan mengantar sekaligus menjadi saksi yang dihadirkan oleh Srita. Srita sudah siap-siap sejak jam 7. Jam 8 dia akan berangkat menjemput Ainun. Srita menitipkan anaknya yang kecil pada Simbah.
Simbah yang tidak lagi bisa menasehati Srita hanya bisa pasrah dengan keputusan yang diambil oleh menantunya. Dia tak henti-henti berdoa supaya anak dan menantunya tetap bisa bersatu.
Setelah Secil berada dalam gendongannya dia mengajak anak kecil tersebut main di samping rumah. Dia tidak berani mengajak anak tersebut jalan ke tetangga, karena sejak kejadian Srita kabur Simbah sering mendapat pertanyaan-pertanyaan dari tetangga. Apalagi sekarang Srita telah mengajukan gugatan cerai. Baginya seolah-olah semua orang akan menatap dan membicarakan keluarganya.
Sementara itu Pungguh masih bermalas-malasan. Sebenarnya dia tidak semangat sama sekali untuk hadir dipersidangan itu. Berhubung dia sudah diwanti-wanti oleh sepupunya agar hadir, dia nurut.
Jam 7 dia masih santai merokok. Dia bahkan belum mandi. Perjalanan sekitar satu jam ke kota kabupaten masih dirasa sempat untuk dia menghabiskan sebatang rokoknya. Dengan menikmati kopi yang dibuatnya sendiri dia mengisap rokoknya pelan-pelan.
Tiba-tiba tak lama kemudian dari luar terdengar suara motor. Pungguh beranjak melihat. Rupanya sepupunya telah datang. Bergegas dia membuka pintu.
"Lho Guh, kamu kok belum apa-apa sih!" kaget dia menegur
"Sebentar aku mandi dulu. Mau ngopi dulu apa bagaimana sampeyan mas?" tanya Pungguh
"Wes nggak usah, aku sudah ngopi di rumah. Kamu itu lho cepet mandi! Sudah jam berapa ini?"
"Ngopo tho mas buru-buru, yang mau cerai itu lho bukan aku" ketus Pungguh menjawab sambil melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
"Mbuh lah Guh. Sak karepmu" Sepupu Pungguh menunggu Pungguh mandi sambil mengambil tembakau milik Pungguh yang tergeletak di meja. Dia meramu tembakau dengan bumbunya. Lalu melinting dan membakarnya. Isapannya panjang lalu mengepulkan asapnya ke udara.
"Srita sudah berangkat tho Guh?" Sepupu Pungguh bertanya.
"Sudah, sebelum sampeyan datang tadi" sedikit teriak Pungguh menjawab dari kamar mandi.
"Bojo mu itu bener-benar sudah tak mau sama kamu guh" terdengar suara tawa kecil dari luar kamar.
Pungguh yang sedang mandi tak berusaha menjawab. Rasanya pertanyaan itu tak juga perlu dijawab. Semua keluarga juga sudah tahu tekat kuat dari Srita untuk tetap bercerai.
Sekitar 5 menit kemudian Pungguh keluar dari kamar mandi. Dengan rambut dan badan yang tidak di handuk i dengan sempurna.
"Sek yo mas" kata Pungguh sambil lewat.
Setelah Pungguh selesai mandi, masih harus menunggu dia siap-siap. Kembali kurang lebih 5 menit Pungguh baru selesai. Tapi dia duduk lesu di depan sepupunya.
" Apa rumah tangga ku benar-benar akan berakhir ya mas" Tanya Pungguh berat.
"Kalau gugatan cerai Istrimu tidak disetujui paling ya nggak terjadi perceraian to Guh. Kalau kamu masih sayang ya pertahankan. Kalau kamu rasa sudah cukup ya sudah setujui saja perceraiannya. Lha wong istrimu sudah tdk bisa dibilangi lg gitu lho. Istrimu itu sudah tidak mau sama kamu" sedikit kesal sepupu Pungguh menjawab.
"Udah ayo cepet to ah, kamu ini. Nanti terlambat kita. Malah dianggap tidak datang nanti. Kan repot kalau tiba-tiba kita sampai sana ternyata sudah diputuskan. Jadi duda kamu"
__ADS_1
Dengan lemah Pungguh beranjak dari duduknya.
"Ayo, Nanti tolong bantu aku yo mas. Mana tahu Srita ngomong macem-macem yang tidak bener"
"Wes to, ayo berangkat dulu. Nanti tinggal disambeli saja mulutnya Srita jika ngomong macem-macem " jawab sepupu Pungguh dengan asal saja.
"Mbah, aku berangkat" sedikit berteriak pungguh berpamitan pada Simbah yang ada di samping rumah.
"Yo le, tak doakan lancar" jawab Simbah
"Lancar cerai Mbah?" tanya sepupu Pungguh sambil nyengir
"Yo tidak. Lancar usahanya supaya tidak jadi cerai. Aku tidak setuju mereka bercerai"
"Tapi Srita sudah tidak mau menjadi menantu sampeyan Mbah" Sepupu Pungguh masih juga meledek Simbah
"Huss, ngomong apa kamu. Sudah sana pergi! Nanti terlambat!" Usir Simbah.
"Yoooo.... ini Pungguh ku antar. Semoga lancar jadi duda he..he...he"
"Opo sih mas!" Pungguh menyela.
__ADS_1
Dengan menaiki motor, mereka pergi berdua. Pungguh yang masih tidak mengharapkan terjadi perceraian berangkat dengan hati berat.