Cinta Tanpa Hati Srita

Cinta Tanpa Hati Srita
Jelang Sidang ke Dua


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dari sejak sidang pertama. Besok adalah sidang ke dua. Saatnya mendengarkan pembelaan dari pihak tergugat yaitu Pungguh.


Sejak kejadian perkelahian di kamar beberapa hari yang lalu, baik Srita maupun Pungguh saling diam diri. Tak ada sapa apalagi sekedar duduk bercerita.


Malam ini Srita kembali mewanti-wanti Pungguh agar hadir dipersidangan. Sementara yang diwanti-wanti seperti acuh tak acuh. Seperti yang pernah diucapkannya pada Srita dia tidak akan menceraikan Srita.


Srita menghadapi kenyataan itu seperti menggenggam bara. Bawaannya emosi. Dia merasa harapannya sulit untuk di capai.


"Mas, besok sidang ke dua. Jangan lupa datang" Srita menghampiri Pungguh yang sedang duduk di ruang tamu.


"Aku tidak akan datang" tanpa memandang Pungguh menjawab.


"Mas! Jangan mengada-ada. Kalau kamu tidak datang bakal lama selesainya" Srita mulai kesal.


"Terserah, aku tidak perduli" Pungguh masih juga asal menjawab.


"Kamu ya, aku makin kesel sama kamu mas. Aku kecewa. Padahal katanya kamu cinta. Tapi aku minta kebahagiaan saja kamu tak bisa memberi. Aku cuma minta kamu datang agar persidangan cepat selesai. Aku tidak menuntut kamu memberiku uang karena aku yakin kamu tak mampu" Srita nyerocos panjang.


"Jaga omongan kamu Srita!" Pungguh sontak berdiri

__ADS_1


"Apa, kamu mau menamparku lagi. Tampar, tampar saja. Sekalian aku jadikan untuk memperkuat alasan untuk menggugat cerai kamu"


"Mulutmu lama-lama makin ngelunjak. Aku tidak akan menceraikan kamu, titik" Pungguh ikutan kesal


"Mas! Aku cuma minta kamu datang. Tolong lah jangan macam anak kecil"


"Apa katamu? Anak kecil? Justru kamu yang sudah tidak waras. Keblinger sama laki-laki yang tidak jelas. Keblinger sama harta!"


Adu mulut tak terelakkan lagi.


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya besok kamu harus datang!" Srita meninggalkan Pungguh dan masuk kamar. Dia mengambil hpnya dan menghubungi Bagito.


Tak berapa lama nampak Bagito online.


"Kenapa sayang?" Bagito bertanya.


"Aku kesel sama suamiku. Dia bilang tidak mau datang ke persidangan. Kalau dia tidak datang kan nanti jadi lama mas selesainya. Aku sudah capek menunggu" Srita kembali mengirim ikon menangis.


"Kalau dia tidak mau datang tidak apa-apa sayang. Nanti jika dia tetap tidak datang maka akan dianggap tidak berniat menghadiri dan dianggap tidak peduli. Maka nanti tetap diputuskan tanpa kehadiran dia" Bagito menenangkan sekaligus menjelaskan.

__ADS_1


"Betulkah!" Srita terperangah


"Iya. Udah kamu jangan nangis lagi. Sidangnya besok kan? Kamu istirahat cepat biar besok tidak ngantuk"


"Kamu tidak kangen aku mas?" tanya Srita


" Siapa bilang? aku kangen sekali. Makanya kamu yang semangat. Berdoa biar cepat selesai sidangnya lalu kamu jadi istriku. Kita akan tinggal bersama"


"Aku sudah tidak sabar mas" Srita mengirimkan gambar lemah


"Sini, sini aku peluk dari jauh" Bagito mengirimkan ikon pelukan.


"Mas, kamu ke sini lah. Kita ketemuan di mana. Aku kangen" Srita mengharap


"Aku harus kerja sayang. Ngumpulkan uang untuk melamar mu. Untuk menikahi mu. Untuk membahagiakan dirimu setelah kita menikah nanti" Bagito membujuk


"Apa aku saja yang ke sana? tapi susah mas. Nanti malah heboh lagi aku dibicarakan orang di sini" Srita kembali mengirim ikon lemah lunglai.


"Sudah tenang dulu. Nanti kalau aku bisa minta libur aku ke sana. Nanti kita janjian ketemu di mana"

__ADS_1


"Bener ya mas" Srita berubah berbinar-binar meski tidak terlihat oleh Bagito. Dia mengirimkan ikon hati yang bertaburan


__ADS_2