
Dari masjid terdengar pengumuman orang meninggal. Nama bapak Truno disebutkan. Truno menangis terisak-isak sambil menutup telinganya. Dia merasa tidak sanggup mendengarkan dan menerima kenyataan bahwa bapaknya telah pergi.
"Bapaaaaak....." tangannya memegang badan bapaknya. Simbah yang duduk di sebelahnya mengusap-usap punggungnya dan sesekali memeluk.
"Sing sabar Le. Sing kuat. Doakan bapakmu" Simbah yang juga terisak-isak memberi nasehat pada Truno.
Sementara di sebelahnya, Marsa duduk menyandar pada badannya. Sedari tahu bapaknya telah tiada dia tidak berhenti menangis.
Tetangga yang mendengar kepergian bapak mulai berdatangan. Sepupu Pungguh yang dikabari oleh tetangga juga barusan datang. Dia memeluk Truno. Dengan terisak-isak Truno membalas pelukan pak dhe nya.
"Bapak, pak Dhe.... Huu...huuu...huuuu.... Bagaimana pak Dhe? Masalah ku belum selesai bapak sudah pergi. Orang tuaku sudah tak ada. Ibu pergi, sekarang bapak meninggal" suara Truno terdengar menyayat hati pak Dhe nya.
"Sabar yo le. Allah lebih sayang bapak mu. Kamu sing kuat. Kasihan adik sama Simbah mu" sepupu Pungguh mencoba menenangkan ponakannya. Hatinya juga sedih melihat nasib keponakannya. Ibunya pergi, sekarang bapaknya malah meninggal.
"Mas, kapan jenazah mau di mandikan? Airnya sudah siap" pak Modin menghampiri sepupu Pungguh menanyakan perihal pemandian jenazah.
"Kamu yang kuat No. Sekarang kita urus dulu jenazah bapakmu. Kasihan kalau dibiarkan lama-lama. Kamu Ikut mandikan" sepupu Pungguh mengajak Truno untuk mengurusi jenazah bapaknya.
"Kamu bantu angkat sini No"
Dengan tetap sambil menangis, Truno membantu mengangkat jenazah bapaknya.
"Kamu di sini saja le, ikut memandikan" kata pak Modin.
Truno tidak menjawab, tapi tetap tinggal di lokasi pemandian.
__ADS_1
"Bapak-bapak yang bantu mandikan jangan banyak-banyak biar lebih terkontrol. Keluarga silakan ikut. Bajunya digunting saja biar mudah" pak Modin mengarahkan.
"Nanti kamu siram pelan-pelan. Ditampung pakai jari-jari tanganmu supaya air tidak langsung mengenai badan bapakmu. Supaya tidak sakit. Kasihan bapakmu" Pak modin menjelaskan pada Truno.
"Nggeh pak"
Suasana memandikan sangat mengharukan. Tetangga semakin banyak yang datang. Simbah yang memeluk Marsa ikut mendekat ke pemandian.
"Ayo nduk ikut mandikan bapakmu" Simbah menggendong Marsa memasuki lokasi pemandian.
Marsa yang melihat bapaknya terbujur semakin mengeratkan pelukannya pada Simbah.
"Mbah, sini ikut nyiram" pak Modin memberi kesempatan pada Simbah untuk ikut menyiramkan air.
"Kamu juga nduk. Siram pelan-pelan" kata pak Modin sambil memberikan air segayung pada Marsa.
"Bapak....huuu....huuu...huuu...." Marsa menangis dalam gendongan Simbah.
"Doakan bapakmu yo nduk" Simbah juga ikut terisak-isak. Dia membawa Marsa duduk di ruang tengah yang sudah banyak tetangga.
"Sing sabar yo Mbah" Bu RT yang ada di ruang tengah mendekati Simbah.
"Maaf kan salah-salah Pungguh yo Bu RT" kata Simbah sambil terisak-isak.
"Tidak ada salah Mbah. Kalau pun ada sudah saya maafkan" Bu RT memeluk Simbah lalu memeluk Marsa.
__ADS_1
"Kamu jadi anak baik yo nduk. Sing akur sama mas mu. Jaga Mbah mu" Bu RT ikut menangis.
Marsa kembalikan memeluk Simbahnya. Tangisnya belum juga berhenti.
Tak lama kemudian jenazah sudah selesai di mandikan. Jenazah dibawa ke ruang tengah untuk dikafani. Simbah dan Marsa makin terisak-isak.
"Bapak.... Huuu...huu...huu..... Bapak...."
"Bapak.... Huu....hu.....huuuuu.... Bapak...." Marsa meratap sedih.
"Bapaaaaak......"
Setelah meletakkan jenazah bapaknya, Truno menghampiri adiknya lalu memeluknya.
"Bapak, mas....." Marsa memeluk erat mas nya.
Dua adik beradik saling tangis-tangisan. Tetangga yang melihat ikut meneteskan air mata. Sudah lah ditinggal ibunya, sekarang bapaknya meninggal. Kasihan sekali mereka.
"Truno, sini le, bawa adikmu! Lihat bapak mu dulu sebelum dikafani. Tapi jangan disentuh ya" pak Modin mengingatkan
Truno membawa adiknya lebih mendekat ke bapaknya. Simbah juga ikut mendekat di sebelah cucunya. Tangannya memeluk cucunya.
"Bapaaaak....." Suara Marsa terdengar pilu.
Para tetangga yang ada di ruangan itu mengusap sudut matanya.
__ADS_1
"Sudah ya, dikafani dulu. Sudah ya nduk. Doakan bapak nya" pak Modin mengingatkan.