Cinta Tanpa Hati Srita

Cinta Tanpa Hati Srita
Pulang ke Rumah Orang Tua


__ADS_3

Hari masih sangat pagi. Srita sudah terbangun. Dia sedang membuka-buka lemari pakaian yang isinya tidak lah banyak. Cuma beberapa baju yang masih bagus. Sisanya pakaian rumah yang ntah sudah berapa tahun tak terganti. Bukan warnanya saja yang pudar, bahkan ukurannya juga sudah melar, bolak-balik dicuci-pakai.


Srita sengaja bangun pagi. Dia ingin berkemas-kemas saat orang di rumah itu masih belum bangun. Dia dengan pelan mengambil tas pakaian yang juga sudah usang. Tas itu sudah pernah rusak resleting nya. Sudah pernah dijahit tangan oleh Srita untuk memperbaikinya.


"Aku tak perlu lah bawa baju-baju ku yang sudah jelek ini.Mas Bagito pasti mau membelikan ku baju-baju baru. Duuhh aku sudah tidak sabar jadi istrinya. Pasti hidupku akan lebih bahagia" Srita melanjutkan memilih-milih baju yang akan dibawa.


Setelah memasukkan beberapa helai baju miliknya, Srita memasukkan juga baju-baju Secil. Satu-satunya anak yang bakal dia bawa.


Tak lebih dari setengah jam dia selesai memasukkan baju-baju tersebut.


"Cukuplah ini saja yang ku bawa" Setelah mengemas baju Srita bangkit menuju ke belakang. Ternyata Simbah sudah ada di belakang.


"Sudah bangun tho Mbah" Srita menyapa mantan mertuanya.


Iya sekarang mereka hanya mantan mertua dan mantan menantu.


"Sudah nduk. Kamu ngopo tumben bangun cepat" Simbah bertanya


"Nggak papa Mbah" Srita menuang air minum ke dalam gelas lalu meneguknya. Dia melihat mantan mertuanya sibuk memasukkan kayu api ke tungku. Dia pasti mau masak air panas. Kebiasaannya pagi bangun tidur adalah masak air panas untuk membuat kopi dan mengisi termos.


"Mbah..." suara Srita memanggil.


"opo?" tanya simbah.


"Aku hari ini rencananya akan pulang ke rumah orang tuaku. Tidak enak sudah cerai tapi masih satu rumah dengan mas Pungguh." Srita menjelaskan


"Aku tidak ada ngusir kamu lho. Kamu masih bisa tinggal di sini jika kamu mau" Simbah menghentikan aktivitasnya dan memandang Srita.


"Nggak papa mbah. Aku akan tetap pergi hari ini" tegas Srita


"Anak-anakmu kepiye ta, kasihan lho"


"Kan ada bapaknya Mbah" Srita menjawab dengan santai.


"Ta!, aku sebenarnya pegel sama kamu. Kamu kabur dari rumah pergi bersama wong Lanang lain, bikin malu keluarga, aku masih menahan diri untuk tidak mencaci maki kamu. Kamu menceraikan anakku, lalu sekarang kamu mau meninggalkan cucuku begitu saja. Ora duwe otak kamu . Keblinger kamu, wes edan kamu. Selama Iki aku menahan diri, lama- kamu ngelunjak. Lama-lama hilang kesabaran ku. Anak ku iku kurang opo. Tidak pernah menyakiti kamu. Sayang anak-anak. Kerjo Yo rajin. Mung rezekinya saja yang masih kurang. Kok kamu tidak bisa sabar. Pegel aku sama kamu" panjang lebar Simbah mengutarakan isi hatinya yang kesal pada mantan menantunya.


"Mbah, aku bukan lagi istri mas Pungguh. Jadi aku boleh keluar dari rumah ini. Aku juga bukan menantu Simbah lagi" Srita menambah kan lagi


"Kamu itu ibu macam apa tho Srita. Kamu tidak mikir anak-anak mu!? Itu Marsa tidak kamu pikirkan. Dia masih kecil. Mau kamu tinggal begitu saja!? Bener-bener nggak duwe otak kamu. Aku tidak minta kamu mikirkan Pungguh, coba kamu pikirkan anakmu. Aku juga tidak minta kamu ngurusi kerjaan rumah ini. Aku masih bisa ngurusi anak cucuku" Simbah makin kesal.


"Aku merelakan kalian tetap tinggal di sini sampai anakmu tiga. Opo pernah aku njaluk uangmu? Opo pernah aku marah-marah ke kamu saat kamu tidak ngurusi kerjaan rumah? Aku mung njaluk pikirkan anakmu. Kasihanilah anak-anak mu" Simbah merasakan mendidih darahnya. Padahal selama ini Simbah adalah orang yang paling pengertian dan tidak banyak masalah.


"Marsa sama Truno nanti diurus sama mas Pungguh Mbah" Srita masih memberikan alasan.


"Pungguh pasti akan ngurus anak-anaknya. Kamu saja sebagai ibunya yang tidak perduli dan tidak mau mengurusi" Sewot Simbah menjawab kata-kata Srita.


"Aku tidak mau jadi mantan mantu yang tidak baik Mbah, makanya aku memberitahu Simbah soal aku mau pergi"

__ADS_1


"Karepmu! Kalau kamu sudah tidak sabar mau pergi yo sana . Aku bisa ngurus cucuku!"


"Ya sudah. Yang penting aku sudah memberi tahu Simbah" Srita melangkah pergi ke kamar mandi seolah tanpa merasa bersalah.


"Dasar mantu nggak duwe ot*k" Simbah masih menggerutu.


"Biarkan saja Mbah" Tiba-tiba terdengar suara Pungguh


"Lho sejak kapan kamu di situ Le?" tanya Simbah


"Aku mendengar obrolan Simbah sama Srita " jawab Pungguh


"Mantan istrimu memang gendeng. Ora mikiri anak. Edan" Masih saja Simbah menumpahkan kekesalannya.


"Kamu sing sabar yo Le. Kita urus anak-anak mu. Biarkan saja dia minggat! Aku kesel eram Le"


Pungguh tidak ada merespon kata-kata Simbah. Dia duduk di dipan yang ada di dapur. Baru bangun tapi pikirannya sudah kacau.


"Kamu mau dibuatkan kopi Le? Ini airnya sudah mateng" Tanya simbah


"Yo Mbah. Kopi pahit saja" Pungguh menjawab singkat.


Tidak lama kemudian Srita keluar dari kamar mandi dia hanya menatap Pungguh dan ibunya tanpa menyapa. Kedua anak dan ibu tersebut juga tidak ada menoleh ke arah Srita. Mereka seolah-olah sedang perang dingin. Pungguh melanjutkan menyeruput kopinya dalam diam. Sementara Simbah mulai menanak nasi.


"Lho, ibu mau ke mana bawa tas" terdengar suara Marsa.


"Ibu mau ke mana?" Truno ikutan bertanya.


"Ibu mau pulang ke rumah eyangmu. Kamu sama Marsa di sini saja"


"Maksud ibu?" tanya Truno lagi


"Ibu dan bapakmu kan sudah bercerai. Jadi tidak baik tinggal serumah. Makanya ibu mau tinggal di rumah eyangmu" jelas Srita


"Maksud ibu, ibu meninggal kan kami?!"


"Ibu sama bapak sudah bercerai Truno"


"Salah bapak apa bu? Salah kami apa?"


"Sudahlah Truno, sudah selesai"


"Ibu egois! Ibu memikirkan diri ibu sendiri! Ibu tidak sayang kami"


"Kalian tinggal sama bapak, juga masih ada Simbah"


"Bu, Simbah itu bukan ibu kami. Ibu yang harusnya bertanggung jawab bukan Simbah!"

__ADS_1


"Bu...., Marsa ikut ya" Marsa memegang tangan Srita


"Jangan Marsa. Kamu di sini saja sama mas, dan bapakmu"


"Aku mau ikut ibu, aku mau juga tinggal di rumah eyang" Marsa mulai menarik-narik tangan Srita


"Kamu di sini saja Marsa! Kamu jangan bikin repot ibu. Ibu masih harus ngurus adikmu"


" Srita mengibaskan tangan Marsa.


Marsa mulai menangis.


"Srita, kamu jangan keterlaluan pada anakmu!" suara Pungguh terdengar keras.


"Mas, aku harus ngurus Secil. Jadi kamu urus Marsa dan Truno"


"Dasar ibu tak berguna!" seru Truno


"Jangan lancang kamu Truno. Aku ini ibumu!"


"Ibu apa? Ibu yang meninggalkan anak-anaknya, ibu yang tidak memikirkan anak-anaknya, ibu yang lebih memikirkan diri sendiri. Jangan-jangan benar kan ibu sudah tidak sabar mau bersama laki-laki lain?"


"Jangan kurang ajar kamu Truno!"


"Bu...." tiba2 terdengar suara Secil memanggil. Dia yang masih tidur terbangun mendengar suara keributan di luar.


Srita menggendong anaknya yang kecil. Lalu mengangkat tas yang sudah disiapkan tadi.


"Bu jangan pergi" Marsa menarik tangan ibunya tapi tangannya yang kecil dikibaskan oleh ibunya.


"Srita apa kamu tidak kasihan pada Marsa? Aku memang bukan lagi suamimu. Tapi dia tetap anakmu" Pungguh mencoba memberi pengertian pada Srita.


"Ada kamu bapaknya, mas" Srita tetap melangkah sambil mengambil kunci motor.


Marsa mengejar ibunya sambil menangis. Secil yang melihat mbaknya menangis ikutan menangis. Apalagi saat Marsa menarik-narik tangan ibunya.


"Sudah lah Marsa. Kamu jangan cengeng" Lagi-lagi Srita mengibaskan tangan anaknya.


"Aku ikut Bu. Ikut ke rumah eyang. Aku janji Bu jadi anak baik. Aku akan jaga adik. Bu... Aku ikut" Marsa makin keras menangis.


Terjadilah tangis-tangisan antara mbak dan adiknya. Pungguh mencoba mengambil Marsa tapi anak itu menarik kuat tangan ibunya.


"Sudah nduk. Kamu sama bapak. Sama Simbah. Sama masmu juga" Pungguh membujuk


"Ibu jangan boleh pergi pak huu...huuu....huuu" makin miris mendengar suara Marsa menangis. Tapi Srita tetap menyalakan motornya sambil menggendong secil yang juga nangis.


"Sudah dik, biarkan saja ibu minggat! Kita sama bapak saja" Truno ikut membujuk adiknya. Pungguh menggendong Marsa. Sementara Srita melajukan motornya menjauh dari rumah. Srita meninggalkan orang-orang yang selama ini membersamainya.

__ADS_1


Simbah, anak dan cucunya hanya bisa memandang kepergian Srita.


__ADS_2