
Srita menghampiri Bagito yang asyik dengan hpnya. Dia lalu duduk tanpa bicara. Sesekali keningnya berkerut. Mukanya terlihat kecut.
Bagito melirik sekilas tapi tetap tak beralih dari layar hpnya. Terdengar suara Srita membuang napas kuat. Tangannya memijit-mijit kepalanya.
"Kamu kenapa sih sayang" Bagito bertanya tanpa menoleh. Nampaknya dia sedang asyik main game online. Seolah tak mau kehilangan momen kemenangan game nya.
"Mas, aku sedang kesal" dengan wajah yang butek Srita menjawab. Tangannya masih saja memijit kepala bagian samping.
"Masih soal ibu-ibu yang ngomongin kamu di warung?" ucap Bagito menebak penyebab kepusingan yang dirasakan Srita dengan tetap fokus ke hpnya.
"Iya. Bagaimana ya mas, Apa aku pulang saja dulu? Aku selesaikan urusanku di sana. Aku urus perceraian ku saja. Lalu kita bisa segera menikah. Tapi aku tak mau tinggal di sini mas. Tetanggamu suka menggosip. Mau tahu urusan orang saja" jawab Srita dengan wajah yang jelas nampak kesal mengingat bahwa dirinya digosipin orang.
"Mas, Aku bicara padamu!" suara Srita tinggi sambil menepuk Bagito kesal. Dia merasa Bagito tk menggubris ocehannya. Karena tk juga menanggapi.
"Iyaaa" ucap Bagito menoleh dan meletakkan hpnya "Bagaimana, bagaimana?" dia memandang Srita.
"Bagaimana kalau aku pulang dulu. Aku urus perceraian dengan suamiku, Aku selesaikan urusanku di sana. Lalu kita bisa segera menikah. Tapi aku tak mau tinggal di sini mas. Tetanggamu suka menggosip. Mau tahu urusan orang saja" Srita menjelaskan kembali ucapannya yang tak didengar dengan baik oleh Bagito tadi.
__ADS_1
"Tunggulah dulu, baru juga berapa hari kamu bersamaku. Aku masih ingin bersama kamu. Memel*k kamu. Ditemani kamu. Nantilah dulu. Sabarlah ya sayang. Ya..." dengan memelas Bagito bicara lalu memel*k srita. Dia melanjutkan bicaranya "Ya sayang, jangan pulang dulu. Di sinilah dulu bersamaku beberapa hari lagi. Kita bisa bersenang-senang sepuasnya sayang" wajah Bagito menunjukkan raut sedih. Dia membujuk Srita dengan harapan wanita itu mau mengurungkan niatnya untuk segera pulang.
Srita termenung mendengar permintaan Bagito. Dia terdiam dalam pelukan Bagito. Kata-kata Bagito benar juga. Dia baru menikmati kebebasannya. Sejenak melepaskan kesusahannya selama hidup di rumahnya. Dia bertekad untuk tidak ambil peduli dengan gosip ibu-ibu di warung.
Baiklah dia akan menikmati kebebasannya.
*****
Empat hari sudah berlalu sejak Srita kabur dari rumah. Dia menikmati kebersamaannya dengan Bagito. Bersenang-senang tanpa ingat dan memikirkan keluarganya di rumah risau mencarinya.
Suaminya masih juga kebingungan mencari Srita. Dia sudah menghubungi mertuanya, menanyakan ke teman-temannya, semuanya tak ada yang tahu. Nomor hp Srita sudah berulang-ulang dihubungi tapi tetap saja tak bisa ditelpon.
Hari ini orang tua Srita memutuskan akan datang. Setelah mendengar kabar bahwa anaknya tidak pulang dalam beberapa hari mereka sepakat untuk datang ke rumah anaknya. Ingin memastikan bagaimana kejadian sebenarnya. Mereka juga ingin menemani cucunya. Mereka merencanakan bakal tinggal beberapa hari sampai Srita ketemu.
Sementara itu Pungguh sudah habis akal, kemana lagi akan mencari istrinya. Semua orang yang menurut dia tahu sudah ditanyai. Sudah berulang-ulang minta tolong Bu RT untuk menelpon kan. Tapi nomor Srita tetap tak bisa dihubungi. Pesan yang dikirim pun tidak direspon oleh Srita. Hatinya sudah mulai kesal tapi juga khawatir. Apalagi Srita pergi membawa anaknya yang kecil.
Simbah juga tak bisa berbuat banyak. Dia hanya berulang-ulang menenangkan cucunya. Ke Pungguh pun dia hanya meminta bersabar dan berusaha mencari keberadaan istrinya. Melihat cucunya yang setiap saat menangis juga ikut menangis. Dia merasa kasihan melihat Marsa yang bingung mencari ibunya. Setiap saat menanyakan di mana ibunya.
__ADS_1
"Guh" tiba-tiba Simbah datang menghampiri Pungguh yang duduk sendirian di pinggir rumah. "Kamu belum ada makan sama sekali. Sana makan dulu. Kita perlu sehat Guh. Kalau kita sehat kita bisa tetap mencari istrimu" Simbah menasehati pungguh yang belum ada makan dari pagi tadi.
"Kamu lihat anakmu juga. Dari kemaren menangis terus. Disuruh makan juga susah" ucap Simbah yang merasa sangat prihatin dengan kondisi Marsa dn anaknya.
"Sebetulnya ke mana Srita ya Mbah. Apa aku perlu ke kecamatan untuk lapor polisi . Sudah empat hari dia belum pulang. Aku khawatir, dia juga membawa Secil. Kalau dia kenapa-kenapa aku kehilangan dua orang Mbah. Meskipun aku ini tidak begitu perhatian ke mereka tapi aku juga sayang ke mereka. Meskipun istriku itu banyak maunya, tapi dia tetap ibu dari anak-anakku. Apalagi melihat Marsa, aku makin bingung Mbah" Suara Pungguh menunjukkan suara orang putus asa. Habis akal dia . Tidak tahu harus berbuat apa dan kemana lagi mencari istri dan anaknya.
"Makan dulu le. Jaga awakmu. Besok mertuamu datang. Mungkin mereka punya pemikiran kalau kita ini harus bagaimana atau mencari ke mana" Simbah menenangkan hati Pungguh yang jelas-jelas tidak tenang. Apalagi besok mertuanya datang. Bisa saja mereka marah dan mikir macam-macam.
"Aku tidak selera makan. Tapi aku akan makan sedikit" seperti tanpa tenaga Bagito bangkit. Baginya sekarang makan bukanlah hal yang mendesak untuk dilakukan.
Belum lagi sampai sampai masuk rumah dia sudah menoleh lagi "Apa kita minta bantuan Mbah Garong saja. Dia kan dukun Mbah. Kita minta tolong terawang di mana Srita berada. Kan banyak Mbah tetangga kita kalau ada apa-apa minta tolong dia" mata Bagito berbinar saat tiba-tiba dia ingat soal Mbah Garong.
"Usulmu apik le. Kalau begitu nanti kamu minta antar sepupumu ke rumah Mbah garong. Tapi kita harus menyiapkan sesajen le untuk syarat. Waktu itu Simbah pernah lihat lek Karjo menyiapkan syarat yang diminta Mbah Garong waktu dia minta tolong terawang soal uangnya yang hilang" Simbah menyetujui usul Pungguh. Hatinya sedikit gembira saat ada secercah harapan. Mbah Garong sudah terkenal dan sering menolong orang.
Sepertinya Pungguh masuk rumah, sekarang Simbah yang gantian mikir. Dia memikirkan syarat untuk sesaji yang biasa diminta Mbah Garong saat menolong orang. Dia ingat masih punya ayam kampung warna hitam , tp itu satu-satunya ayam yang tersisa yang dia miliki. Kali ini dia harus merelakan ayam itu demi mencari cucunya. Dia sangat menyayangi cucunya. Dia juga harus menyiapkan kelapa hijau. Soal kelapa gampang dia bisa minta ke rumah sepupu Pungguh. Tinggal menyiapkan kembang setaman, rokok dan duit receh.
Aku harus nangkap ayam itu sekarang. Nanti biar Pungguh yang ambil kelapa hijaunya. Sekalian sambil pergi ke rumah Mbah Garong. Kembang setaman nanti aku minta sama Wati. Di rumahnya banyak kembang. Kalau duit receh rasanya aku ada menyimpan.
__ADS_1
Simbah merasa lega.