Cinta Tanpa Hati Srita

Cinta Tanpa Hati Srita
Gosip berlanjut


__ADS_3

Sesampainya di rumah Srita menutup pintu dengan kesal. Pintu itu mengeluarkan suara keras karena beradu dengan dinding.


"Lihat Secil, karena ulahmu, ibu-ibu di warung jadi penasaran dengan ibu. Asyik jajan-jajan saja kamu. Ayahmu tak ada memberi ibu uang. Selama ini selalu kurang untuk memenuhi kebutuhan. Apalagi jajanmu yang setiap hari itu" Rasa kesal membuat Srita ngomel panjang lebar. Dia bicara sampai rasa kesal di dadanya berkurang.


Secil melongo melihat ibunya ngomel. Anak kecil yang tak tahu menahu urusan orang tua itu hanya diam saja. Dia minta turun lalu membuka bungkusan yang berisi jajanannya. Tanpa merasa bersalah dia meminta ibunya membukakan jajannya.


Srita menjatuhkan badannya di kursi sambil menghembuskan napas kasar.


Semoga tidak ada lagi yang bertanya-tanya tentang aku. Bahaya juga kalau ada yang mencari tahu siapa aku. Aku kabur dari rumah kan ingin bahagia.


Saat siang menjelang terdengar suara motor di halaman. Srita langsung bangkit. Mengintai dari balik jendela. Setelah melihat siapa yang datang Srita bernapas lega. Dia membuka pintu.


"Kamu sudah pulang mas. Kamu bawa apa?" tidak sabar Srita mengambil bungkusan dari tangan Bagito.


"Itu makan siang untuk kamu. Sengaja aku beli supaya kamu tinggal makan. Aku belum sempat belanja. Jadi tk ada bahan masakan yang bisa kamu masak. Nanti kamu pergilah ke warung, belanja" Bagito berjalan ke belakang sambil melihat Srita yang sudah tk sabar untuk menikmati makanan yang dibawanya


"Aku tadi ke warung mas. Apa warung yang arah ke kanan itu yang kamu maksud tempat aku harus belanja" Srita bertanya sambil mengunyah makanannya. Dia seperti menikmati sekali. Memang jarang dia bisa makan enak sepuasnya. Meskipun itu cuma nasi bungkus.


"Iya. Kenapa?"


"Aku tadi ke sana. Banyak ibu-ibu yang sedang belanja. Ada yang kepo nanya aku"


"Kamu bilang sepupuku, kan? Udah tenang saja. Kamu jangan gugup kalau ditanya."


"Ini uang untuk kamu belanja. Pergilah! dapat kamu masak untuk sore" Bagito menyerahkan selembar uang seratusan.


Mata Srita berbinar-binar melihat uang berwarna merah. Hatinya senang Bagito dengan gampang mengeluarkan uang.


Wah, Jika mas Bagito begini terus aku bisa hidup senang. Mau apa-apa bisa. Beli ini beli itu bisa. Makan enak setiap hari. Apalagi saat aku sudah benar-benar menjadi istrinya, aku bisa beli perhiasan dan jalan-jalan. Aku bisa pamer ke teman-teman ku. Ahh bahagianya....


"Hei! Kamu kenapa"


Srita terkejut saat Bagito menggoyangkan badannya yang sedang mengkhayal.


"Ha...ha...ha... Aku sedang senang mas. Mengkhayal jika jadi istrimu"


"Cepatlah ceraikan suamimu . Agar kamu bisa segera jadi istriku. Kamu bisa hidup bersama ku. Kamu bisa hidup senang. Aku akan memanjakan mu. Tapi jangan kamu bawa semua anakmu itu. Biarkan bapaknya yang bertanggung jawab"


"Tenang saja mas. Aku pun ogah mengurusi semua anakku. Biar kan saja sama bapaknya. Kita akan bersenang-senang. Tak sabar aku menjadi istrimu mas"

__ADS_1


"Cepatlah cerai!"


Srita bangkit mengemasi bekas makannya. Wajahnya masih berseri-seri membayangkan jika dia jadi istri Bagito.


"Mas, aku titip anakku ya. Dia sedang tidur. Nanti kalau bangun, kamu temani lah sebentar. Kamu belajar jadi bapaknya sementara ha... ha... ha..."


"Enak saja dia bukan anakku"


"Tapi kamu akan jadi suamiku. Aku akan jadi istrimu. Jadi dia akan jadi anakmu juga. Iya kan sayang he... he..."


"Tapi yang satu ini saja ya. Jangan semuanya"


"Iya. Sudah aku pergi dulu"


"Jangan lama-lama Srita!"


"iyaaaa!"


*


Kali ke dua Srita ke warung. Dia berharap tak banyak ibu-ibu yang sedang berbelanja sambil menggosip. Kalau tidak pasti dia ditanya-tanya lagi.


Setelah mendekat ke warung,


Itu kenapa ibu-ibu masih juga ngumpul di sana. Apa mereka tak punya kerjaan selain ngumpul-ngumpul di warung. Aku harus bersikap biasa saja. Supaya mereka tidak curiga.


"Eh... Mbak Sepupunya mas Bagito. Mau belanja mbak?" Seorang ibu yang tadi pagi ada di warung juga menyapa Srita.


"iya bu"


"Cari apa mbak?" Pemilik warung gantian menyapa.


"Saya mau cari sayur sama ikan. Ikan apa yang ada bu?"


"Ini lihat dalam kulkas. Ada ikan serai, ikan gembung dan ikan tuna. Ayam juga ada mbak" pemilik warung membukakan kulkas sambil menjelaskan ikan yang ada.


" Saya mau ikan gembung setengah sama ayam setengah. Sayurnya saya mau kangkung satu ikat. Bayam satu ikat. Saya mau bawang merah, bawang putih dan cabe juga"


"Banyak belanjanya mbak. Bakal lama tinggal di sini?" Ibu yang duduk di depan warung nyeletuk.

__ADS_1


"Rencana begitu bu. Suami saya sudah tidak ada. Jadi mau cari kerja"


"Mbaknya beneran sepupu mas Bagito? Hati-hati lho mbak, meski sepupu kalau tinggal serumah bisa bahaya. Apalagi mas Bagito sudah lama menduda" Enteng saja si ibu bicara.


Deg, jantung Srita serasa mendadak berhenti.


"Iya, kan biasanya kalau berduaan yang ketiganya setan. Ha...ha...ha..." Satu orang lagi menambah bumbu di obrolan.


"Setannya setan mata keranjang"


"Ngomong-ngomong siapa nama mbaknya" Ibu yang punya warung ikut nimbrung obrolan.


" Srita, bu"


"Mbak Srita jangan didengerin omongan ibu-ibu di sini . Suka asal bercandanya. Nama saya bu Rita. Kalau mbak Srita suntuk di rumah ke sini saja. Kami sering ngumpul-ngumpul di sini. Tapi jangan ikut-ikutan mereka suka ngutang ya " Bu Rita bisik-bisik tapi suaranya tetap saja terdengar oleh yang lain.


"Tapi bener lho bu Rita. Ibu tidak ingat tetangga kita yang di ujung gang dulu. Katanya adeknya dari kampung, eh ternyata selingkuhannya. Makanya mbak Srita hati-hati. Apalagi laki- laki kalau sudah lama menduda"


" Mending mbak Srita cari kontrakan lain" Seorang ibu yang gemuk memberi saran


"Sudah ibu-ibu. Kasihan mbak Srita" Pemilik warung memberikan semua belanjaan Srita.


"Semuanya tujuh puluh delapan ribu mbak"


Setelah menyerahkan uang dan menerima kembaliannya Srita segera pamit.


" Saya permisi dulu ibu-ibu" Dengan langkah panjang Srita menjauh dari warung tempat gosip. Iya dia mulai memberi nama warung itu warung tempat gosip. Tempat ibu-ibu kurang kerjaan pada ngumpul.


"Mbak, hati-hati lho. Setannya mata keranjang" masih sempat juga mereka melontarkan kalimat untuk Srita lagi.


Huuuhhh. Dasar ibu-ibu kurang kerjaan. Senangnya ngumpul-ngumpul.


Srita mempercepat langkahnya. Begitu sampai rumah dia langsung meletakkan begitu saja belanjaannya.


"Mas!!" Srita menggoyangkan kuat badan Bagito yang tertidur di kursi.


"hah! Ada apa? Kamu mengejutkan aku" Bagito langsung duduk.


"Ibu-ibu di warung itu lho. Bilangin aku suruh hati-hati kalau berduaan dengan mu. Karena kalau berduaan yang ketiga adalah setan. Meskipun aku sepupumu" wajah Srita terlihat butek

__ADS_1


" Kan aku memang setan sayang. Setan yang menghantui mu jika dirimu tidak segera cerai dengan suamimu hee...he.... Kapan dirimu urus cerai sayang"


"Aku sedang kesel mas!"


__ADS_2