Cinta Tanpa Hati Srita

Cinta Tanpa Hati Srita
Membujuk


__ADS_3

Srita yang sedang berada di kamar tiba-tiba dikejutkan oleh kemunculan Pungguh dari balik pintu.


"Mau apa kamu mas!" spontan Srita menoleh.


"Srita ayolah kita bicara baik-baik" Pungguh mendekat menghampiri Srita. Dia duduk di pinggiran tempat tidur. Tempat tidur yang dulu menjadi tempat tidur mereka saat Srita belum kabur dari rumah.


Semenjak Srita kembali ke rumah, kamar itu sepenuhnya dikuasai oleh Srita. Dia tidak mengizinkan Pungguh untuk tidur di kamar itu. Pernah saat Pungguh mencoba mendekati Srita pada malam hari, yang terjadi malah diusir oleh Srita.


"Apalagi yang mau dibicarakan mas?" tanya Srita


"Kita sudah mau bercerai. Tinggal tunggu keputusan sidang maka kita akan resmi bercerai?"


"Untuk terakhir kali aku mohon Srita, cobalah kamu pikirkan. Anak-anak perlu kita sebagai orang tuanya. Kamu lihat Truno, semenjak kamu pergi dari rumah dan mendengar cerita tentang kamu, dia menjadi semakin liar. Dia butuh kita sebagai orang tua yang komplit. Bagaimana nanti saat kita tidak lagi bersama? Kamu lihat juga Marsa, selama kamu tinggal dia tidak berhenti-henti mencari dan menangis. Secil juga masih sangat kecil. Dia butuh aku sebagai bapaknya. Aku janji akan semakin giat bekerja. Aku janji akan memberimu kebahagiaan" panjang lebar Pungguh bicara.


"Ha...haaa...ha... Baru sekarang kamu mau berjanji mas. Selama belasan tahun ini apa usahamu untuk membuat aku bahagia. Kamu pikir aku percaya? Tidak mas. Aku sudah menemukan orang yang jelas akan bisa membahagiakan aku. Kamu jangan lagi membujukku"


"Kamu jangan mudah percaya dengan orang yang belum lama kamu kenal. Kamu belum tahu orangnya seperti apa. Bisa saja dia membohongi kamu. Bisa saja dia cuma mau main-main sama kamu. Bisa saja dia cuma pura-pura baik" Pungguh masih juga membujuk Srita


"Sudah lah mas kamu jangan mencoba menjelek-jelekkan. Lalu mempengaruhi ku. Sudah sana keluar!" Srita mengusir Pungguh.

__ADS_1


Tapi bukannya keluar Pungguh malah berusaha memeluk Srita. Srita yang kaget berusaha melepaskan diri dengan meronta-ronta.


"Jangan kurang ajar kamu mas!" teriak Srita


"Kamu masih istriku, aku masih suami kamu" Pungguh makin mengeratkan pelukannya dan mencoba menciumi Srita. Bib*rnya mencoba menci*m bib*r Srita dengan brutal.


Srita memukuli punggung Pungguh sekenanya. Tenaganya kalah dengan tenaga Pungguh. Dia masih meronta-ronta sebisanya. Pungguh makin liar dia mendorong Srita ke dinding dan memegang ke dua tangan Srita dengan satu tangannya, Lalu melanjutkan aksinya menci*mi Srita . Bib*rnya ******* seluruh bib*r Srita.


Saat ada kesempatan Srita menggigit kuat bibir Pungguh


"Ahhhhhh....!" Pungguh berteriak kesakitan. Dia melepaskan cekalan tangannya.


"Kamu benar-benar istri kurang ajar"


"Kamu yang keterlaluan!" balas Srita


"Kamu ingat Srita, keputusan belum ada. Jadi aku masih suami kamu!"


"Kamu menyakitiku mas"

__ADS_1


"Apa katamu, menyakitimu? Kamu tidak salah bicara!? Siapa yang selingkuh, siapa juga yang pergi dari rumah? jadi siapa yang menyakiti. Aku atau kamu!?" hardik Pungguh.


Pungguh yang selama ini bisa menahan emosi kini benar-benar melampiaskan emosinya.


"Aku tidak akan menceraikan mu!" Pungguh bicara keras sambil menunjuk Srita.


"Mas!!" teriak Srita


Braaakkk!!!, Pungguh keluar dari kamar sambil membanting pintu. Dia melangkah keluar rumah.


Srita yang tinggal di kamar menangis terduduk di balik pintu. Dia kaget sekaligus kesal pada Pungguh. Perlakuan pungguh barusan mengejutkan dia. Dia juga kesal mendengar ucapan Pungguh yang tidak akan menceraikannya. Jika Pungguh tetap tidak mau menceraikan maka bakal lama dia bisa menjanda. Bakal lama juga dia bisa menikah dengan Bagito.


"Haaahhhhhhh!!!!" dia teriak kesal sambil menangis. dia menjambak rambutnya sendiri


Sementara di luar rumah, Simbah yang sedang bersama anak-anak Srita terdiam. Sejak srita kembali dari kabur, bukan pertama kali dia mendengar anak dan menantunya berkelahi. Kali ini pun kembali dia mendengar perkelahian itu. Dia mengajak cucunya menjauh dari rumah.


"Ibu kenapa Mbah?" tanya Marsa


"Paling ibu capek" jawab Simbah asal

__ADS_1


__ADS_2