Cinta Tanpa Hati Srita

Cinta Tanpa Hati Srita
Masalah Baru


__ADS_3

"Aku pulang dulu Dod" Truno melangkah lemah. Badan terasa sakit akibat beberapa pukulan Komar yang mengenai tubuhnya.


"Ya" Dodi hanya menjawab singkat. Dia memandang sahabatnya yang perlahan menjauh. Dia prihatin dengan masalah temannya. Tapi masalah hidupnya juga sulit.


**


Truno berjalan kaki menuju rumah. Dia sempat berhenti sebentar dalam keraguan. Jika dia pulang maka bapaknya pasti akan menanyakan kenapa dengan mukanya. Tapi jika tidak pulang maka aku akan dicari.


"Ah, mending aku ke rumah pak Dhe dulu, di rumah juga pasti bikin butek"


Truno membalikkan badannya dan melangkah menjauhi rumahnya. Dia berjalan sambil meringis merasakan sakit bibirnya yang sempat berdarah akhirat pukulan Komar. Tidak kaleng-kaleng pukulan Komar. Bagian bawah bibir Truno luka robek. Dadanya juga terasa sakit terkena tendangan.


Masalah di rumah sudah cukup membuat nya emosi. Ditambah Komar menjelek-jelekkan ibunya. Meskipun mungkin itu kenyataan, tapi dia tidak terima. Menyakitkan sekali menghadapi kenyataan tentang ibunya.


Setelah cukup lama berjalan, dia sampai di depan rumah pak Dhe nya.


"Assalamualaikum pak dhe" Truno mencoba mendorong pintu yang sedikit terbuka.


"Wa'alaikumsalam, lho kamu No. Sini masuk" Pak Dhe menyuruh Truno masuk.


Truno duduk dengan lemah sambil sedikit meringis.


"Kamu kenapa? Itu muka mu kenapa? Kamu habis berkelahi tho?" Pak Dhe mendekati dan mencoba melihat dari dekat " Ini bibir kamu luka, Kamu beneran kelahi!!"


"Aku berantem sama teman ku, pak Dhe. Dia mengejek persoalan ibuku" Truno menjelaskan sedikit.

__ADS_1


"Oalah, kamu kelahi sama siapa, terus bagaimana anak itu" Tanya pak Dhe.


"Aku hajar dia, saat aku sudah berhenti dia malah mengejek lagi, ku hajar lagi"


"Astaga No, ke piye keadaan bocah itu? Anak siapa kamu pukuli?" pak Dhe bertanya lebih lanjut.


"Anak bapak Kepala Desa"


"Opoooo???!!!" Pak Dhe kaget luar biasa "Kamu nyari perkoro le, anak pak kades kamu pukuli. Duh Gusti.... Bapakmu sudah tahu atau belum?


"Belum pak Dhe" Truno menjawab lemah.


"Apes iki le"


**


"Mas, apa Truno di sini!"


Truno dan pak Dhe saling bertatapan kaget.


"Bapak mu No" pak Dhe berdiri membukakan pintu.


"Truno di sini tho mas?" Pungguh bertanya pada sepupunya.


"Iya, itu di dalam. Kamu kenapa Guh?"

__ADS_1


"Ponakan mu itu telah mukuli anak pak kades. Tadi dia sama bapaknya ke rumah mengadu padaku. Anak nya babak belur dihajar Truno katanya" Pungguh berjalan masuk mencari Truno


"Bapak!" meski sudah tahu bapak nya datang Truno tetap kaget ketika bertatap muka dengan bapaknya.


Plak!!, plak!!


Pungguh menampar Truno dengan dua kali pukulan.


"Guh, kamu tanya dulu kenapa dia menghajar temannya!" sepupu Pungguh mencela perbuatan Pungguh.


"Apapun alasannya dia telah membuat masalah" Pungguh menjawab


"Dia menghina ku pak, dia mengejek ibu kumpul kebo. Aku emosi" jelas Truno


"Sekarang masalahnya orang tuanya menuntut kamu. kalau kita tidak ganti rugi mereka mau melaporkan kamu ke polisi mereka juga masih meminta uang pengobatan"


Truno terbelalak. Dia tidak menyangka perbuatannya berakibat fatal.


"Dari mana kita dapat uang banyak No. Kamu mau dipenjara?! Kamu buat masalah saja!" Pungguh membentak anaknya.


Truno terdiam


"Aku minta maaf pak, aku hanya tidak rela di hina. Aku benci ibuku, semua masalah ini karena ulah ibu, pak!"


"Kamu menambah masalah hidup kita. Kamu tidak kasihan pada bapak mu" Pungguh menjawab lemah. Dia duduk sambil memijit pelipisnya "Besok pak kades ke rumah lagi"

__ADS_1


Truno makin terdiam.


__ADS_2