
Suasana di rumah Srita masih tegang. Masing-masing saling berdiam diri. Semua dengan pikiran masing-masing.
Kali ini kedua mertua Pungguh mendekati Pungguh yang ntah sudah berapa lama duduk di bawah pohon jambu.
"Guh, bapak sama ibu mau bicara" kata bapak mertua Pungguh
"nggeh pak"
"Tapi yo tidak di sini. Di dalam rumah. Nanti kita sedang bicara malah ada orang lewat terus mampir kan tidak enak"
Baru selesai bapak mertua Pungguh bicara, tiba-tiba sebuah sepeda motor terdengar memasuki halaman rumah Pungguh. Rupanya pak RT dan Bu RT Yang datang.
"Assalamualaikum" Pak RT memberi salam
"Wa'alaikumsalam " Pungguh dan bapak mertuanya serentak menjawab salam pak RT.
"Aku ini lewat, mau ke desa sebelah. Piye Guh, katanya istrimu sudah pulang. Tadi ada yang lihat Srita" Kata pak RT menyampaikan maksud kedatangannya.
"Monggo pak, Bu. Masuk ke rumah. Ngobrol di dalam saja" Ibunya Srita mempersilakan
"Aku ini cuma sambil lewat lho sebetulnya. Tapi yo nggak papa yo Bu sekalian ketemu Srita?" Pak RT menanyakan ke istrinya
"Iyo pak"
Pungguh mempersilakan tamunya masuk.
"Oalah ada tamu" Simbah muncul dari dapur
"Monggo duduk pak RT, Bu RT"
"Pripun kabare Mbah?" Bu RT menanyakan kabar Simbah
"Alhamdulillah sehat Bu" Simbah tersenyum
"Lho mana Srita? Katanya sudah pulang" Tanya Bu RT
Srita yang mendengar namanya di sebut, sedikit kaget.
__ADS_1
"Srita, sini ndok"terdengar suara ibunya memanggil. Lalu ibunya melongok ke kamarnya
"Ada apa tho Bu?" tanya Srita
"Itu lho ada pak RT sama Bu RT. Ibu yo Ndak tahu ada apa. Udah keluar dulu" Ibunya menyuruh Srita keluar.
Akhirnya Srita diiringi oleh ibunya keluar kamar.
"Pak RT, Bu RT " Srita menyalami keduanya lalu duduk di sebelah Simbah.
"Alhamdulillah kamu sudah pulang, Ta. Suamimu waktu itu kebingungan mencari mu. Kamu ke mana tho? Pada khawatir lho kamu kenapa-kenapa. Nomor hp mu juga tidak bisa dihubungi. Saya kirim pesan juga ndak kamu respon" panjang Bu RT menanyakan
"Maaf Bu RT , sampeyan ikut bingung. Saya sedang banyak pikiran Bu, jadi saya pergi ke rumah teman" Srita menjelaskan.
Pungguh yang mendengar alasan srita cuma bisa menghela napas.
Teman gundul mu, Ta. Jelas-jelas Selingkuhan kamu.
Pungguh ngedumel dalam hati.
"Oalah. Mbok yo ngasih tahu kalau ke mana-mana. Jadi ndak bingung semuanya. Kamu juga bawa anakmu. Belum lagi anak yang kamu tinggal itu nyari-nyari"
"Syukurlah kamu sudah pulang. Ya sudah kalau begitu kami tk pamit" Pak RT mengakhiri.
"Aku pamit yo Guh. Kamu udah nggak perlu bingung lagi, istrimu sudah pulang" Pak RT yang tidak tahu banyak persoalan dengan ringan berpamitan.
"Terimakasih pak RT" pungguh mengantar Pak RT hingga ke depan rumah .
Sepeninggalnya Pak RT dan bu RT pungguh kembali masuk ke dalam rumah. Iya duduk tak jauh dari mertuanya. Matanya tajam menatap Srita. Sementara yang ditatap hanya duduk dengan diam.
"Guh" Mertua pungguh memanggilnya. "sekarang kita bicarakan bagaimana kelanjutan rumah tanggamu"
"Srita, Bapak Bertanya sekali lagi. Apa benar kamu ingin bercerai dari Pungguh? Coba kamu pikirkan anakmu itu mau bagaimana jika kalian bercerai, anakmu itu sudah tiga. Anakmu butuh orang tua yang lengkap. Sudah banyak anak-anak orang itu yang terlantar karena orang tuanya bercerai. Bapak sebagai orang tuamu tidak setuju apabila kamu bercerai. Sebaiknya kamu minta maaf saja sama Pungguh lalu kamu perbaiki tingkah laku kamu. kalian bersatu mengurus anak-anak"
Srita hanya diam saja.
"Pendapatmu bagaimana Guh, apakah kamu bisa memaafkan Srita lalu bisa hidup kembali seperti sedia kala? Bapak tahu ini bukan perkara yang mudah untukmu tapi ini demi kebaikan anak-anak kalian" Bapak mertua Pungguh mencoba menasehati menantunya.
__ADS_1
"Jujur Pak, aku sangat sakit sekali Srita memperlakukanku begini. Aku masih belum bisa memaafkan, tapi aku tetap membuka peluang apabila Srita berubah. Apalagi anak-anak masih membutuhkan Srita" Pungguh menjawab dengan pelan.
"Nduk Ibu juga tidak setuju kalau kamu cerai dengan Pungguh. Anakmu itu loh masih kecil-kecil akan jadi seperti apa jika kalian bercerai. Ibu rasa simbah juga nggak setuju to? " Ibunya Srita mencoba memberi saran dan minta pendapat besannya.
"Iya nduk, simbah pun tidak setuju. Kasihan sama anak-anak" Simbah yang dari tadi diam saja ikut memberikan pendapatnya.
"Kamu kan juga tidak diam saja to Guh, kamu selama ini kerja?" tanya tanya bapak mertua Pungguh
"Aku kerja Pak, aku juga berusaha mencari pekerjaan lain yang menghasilkan" Pungguh meyakinkan Bapak mertuanya
"Bagaimana Srita?" Bapak Srita menanyakan kembali.
"Aku tetap mau cerai Pak" jawab Srita
"Opo?!!" Bapak dan ibu Srita terkejut mendengarkan jawaban Srita.
Sementara pungguh dan simbah hanya tertegun.
"Kamu wis edan Srita! Kamu tidak lagi mendengarkan kata-kata orang tuamu. Kamu juga tidak lagi memikirkan hati suamimu. Keblinger kamu!"
"Maafkan aku pak, Bu. Maafkan aku juga mas. Aku ingin bahagia aku sudah nggak kuat hidup menderita bersama kamu. Aku tetap ingin cerai dari kamu mas. Sementara masalah anak, aku akan bawa Secil. Sementara Truno dan Marsa silakan Kamu urus Mas"
Pungguh terperangah mendengar kata-kata Srita. Dia tidak bisa melampiaskan marahnya karena masih menghormati mertuanya. Sementara di dalam hatinya sangat mendidih.
"Ibu kecewa pada mu Srita. Ibu tidak menyangka anak perempuan Ibu berpikiran pendek seperti itu" Bu Samiah memalingkan muka dari anaknya.
"Sudah Guh, kamu biarkan saja Srita sama pilihannya. Nggak usah diurusi, orang keblinger nggak menerima nasehat orang tua. Wis edan dia. Marsha biar ibu yang urus. Tapi kamu ingat ya Srita jika ada apa-apa kamu jangan mencari ibu atau mencari suamimu" Bu Samiah semakin kesal pada Srita.
"Srita, apa sudah kamu pikir betul-betul keputusanmu itu .Aku masih bisa menerima kamu kembali. Aku menyayangimu, kamu Ibu anak-anakku. Aku akan bekerja lebih keras lagi agar bisa membahagiakanmu" Pungguh meyakinkan istrinya.
"Maaf Mas Aku tetap ingin bercerai" Srita sepertinya telah mantap dn teguh untuk bercerai.
"Edan!" Bapak Srita marah besar. Dia pergi keluar rumah sambil mengeluarkan rokoknya. Kepalanya sakit menghadapi kelakuan anaknya. Dia menyalakan rokok dan duduk di teras.
"Kamu keterlaluan Srita. Aku tidak menyangka kamu setega ini" Pungguh berlalu dari hadapan Srita. Dia juga keluar menuju belakang rumah. Sama seperti mertuanya, dia menyalakan rokok lintingannya. Diusapnya kuat-kuat. Asapnya dia hembuskan kuat-kuat, berharap ikut mengeluarkan segala permasalahan.
Sekarang kepala Pungguh terasa mau pecah. Permasalahannya dengan Srita sungguh tak pernah hadir dalam bayangannya. Dia teringat dulu saat awal-awal Srita bersedia menerima sebagai suaminya yang rela menerima apa adanya Pungguh saat itu. Kini setelah sekian tahun ternyata rasa itu sirna dari hati Srita. Cinta Srita tanpa hati. Cinta Srita berubah karena harta.
__ADS_1
Berulang Pungguh menarik napas dalam-dalam, tapi beban di hatinya tak juga berkurang.