
"Guh, Pungguh. Udah siang kok belum bangun" sambil lewat dari depan menuju dapur Simbah memanggil-manggil anaknya.
"Bapak mu mana nduk. Udah siang begini belum bangun?" Simbah bertanya pada Marsa yang sedang duduk menikmati sarapan nasi goreng kampung yang dibuat Simbahnya.
Nasi goreng itu hanya memakai bawang merah, bawang putih, dan cabe diiris. Lalu dibumbui dengan garam dan penyedap. Meski nasi goreng sederhana tapi karena tangan Simbah makanan itu terasa nikmat.
"Mbah, nasi goreng ini makin enak kalau ada telor gorengnya" kata Marsa.
"Iyo nduk, nanti kalau ayam Simbah sudah bertelur, kita buat nasi gorengnya pakai telor ya. Kemaren pak Dhe mu ngasih Simbah ayam. Kamu kalau sore bantu ngasih makan yo, biar cepet besar ayamnya"
Marsa hanya mengangguk-angguk. Mulutnya terisi nasi goreng.
"Udah cepet dihabiskan, terus berangkat sekolah" Simbah mengusap kepala cucunya.
*
Truno keluar dari kamar mandi.
"Lho No, kamu kok belum siap-siap sekolah tho?" tanya Simbah ketika melihat cucunya yang laki-laki belum siap-siap ke sekolah.
"Lihat bibirku Jontor begini Mbah. Malu aku ke sekolah. Di sekolah pasti juga rame berita aku mukuli anak pak kades" Truno menjawab sambil duduk mengambil nasi goreng.
"Kamu kok tidak mikir dulu tho le kalau mau mukuli anak pak kades. Tadi malam pak kades marah besar Le sama bapakmu. Coba kamu pikir sekarang dari mana bapakmu dapat uang banyak. Kalau tidak dapat duit kamu mau dilaporkan polisi . Kamu opo tidak sedih le. Simbah ini sedih memikirkan nasib kalian. Kalau kamu dipenjara lalu sekolah mu bagaimana, kalau kamu dipukuli dipenjara bagaimana?" Simbah mengusap sudut matanya yang mulai basah.
Truno yang dinasehati panjang hanya diam saja. Nasi goreng yang sudah terlanjur diambil, perlahan mulai di suap kan ke mulutnya. Bibirnya yang jontor membuatnya sulit untuk membuka mulut.
"Nduk, tumben bapakmu jam segini belum bangun. Coba kamu lihat sana! terus bangunkan. Udah siang ini" Simbah menyuruh cucunya.
"Ya Mbah" Marsa yang telah menyelesaikan sarapannya berjalan menuju kamar.
"Pak, bapak!" Marsa menggoyangkan badan bapak nya.
"Pak, bangun, sudah siang! Bapak, suruh bangun sama Simbah. Udah siang Pak" Marsa mencoba membangunkan kembali.
__ADS_1
"Mbah! Bapak tidak mau bangun" Marsa teriak dari kamar, lalu dia berjalan ke dapur lagi.
"Ngopo to yo Pungguh kok tidak bangun-bangun. Tumben kok malas. Opo sakit bapak mu nduk?" Simbah bertanya
"Nggak panas kok badan bapak. Mas Truno saja yang bangunkan" Marsa kembali duduk.
"Sana No bangunkan bapakmu" Simbah menyuruh Truno.
"Bapak ini kenapa sih, sudah tua masih harus dibangunkan" Truno menggerutu tapi tetap sambil berjalan.
"Pak, udah siang lho. Kok belum bangun" Truno menyentuh bahu bapaknya yang tidur memunggunginya.
"Pak!" Truno menggoyangkan badan bapaknya.
Saat bapaknya tidak juga merespon, Truno menarik baju bapaknya. Badan bapaknya berubah terlentang. Tapi seketika Truno dibuat kaget. Bapaknya dalam posisi terpejam tapi lidahnya sedikit keluar. Badannya tidak bergerak sama sekali.
"Bapak....! Pak....! Bapak....!!!!" Truno menggoncang-goncang bahu bapaknya
"Mbah!!!! Lihat sini bapak kenapa!!!" Truno berteriak memanggil Simbahnya.
"Ono opo le?"
"Bapak, Mbah...." Truno menjawab tanpa melihat Simbahnya. Matanya masih terpaku melihat bapaknya yang belum juga bergerak.
"Ya Allah Gusti..." Simbah mendekati Pungguh dan menyentuh mulut Pungguh, dibenarkan posisi baring anaknya lalu dia mencoba memasukkan lidah Pungguh yang sedikit menjulur keluar. Lidah berhasil dimasukkan, posisi mulutnya sudah biasa. Simbah lalu memegang tangan anaknya memposisikan seperti orang sedang shalat dengan posisi tangan kiri diatas.
"Mbah, Maksud Simbah apa!" Truno memandang Simbahnya.
"Kamu ke rumah pak Modin sekarang! Bilang Simbah perlu Mastikan bapakmu. Cepat! " Simbah menyuruh Truno bergegas
"Bapak kenapa Mbah?" Marsa mendekati simbahnya.
Simbah tidak menjawab. Tapi dia memeluk cucunya, air matanya menitik. Memeluk cucunya lebih erat.
__ADS_1
"Bapak kenapa Mbah, kok Simbah menangis?" mata Marsa mulai ikut berkaca-kaca
"Kita tunggu mas mu manggil pak Modin Yo nduk"
Setelah tiga puluh menit kemudian, Truno datang bersama pak Modin. Pak Modin bergegas masuk rumah yang pintunya memang tidak ditutup oleh Truno saat pergi tadi.
"Assalamualaikum...."
"Wa'alaikumsalam" Simbah menyambut pak Modin
" Tengok kan anakku pak"
Pak Modin tanpa bicara langsung mengecek denyut nadi di tangan dan di leher Pungguh. Diulanginya sekali lagi.
Pak Modin memandang Simbah
"Innalilahi wa innailaihi roji'un"
"Ya Allah Gusti....." Simbah memeluk erat Marsa. "Bapakmu meninggal. Huuuu...huuuu...huuu"
"Nggak mungkin Mbah. Pak Modin jangan bohong!!" Truno marah pada pak Modin. "Bapak cek lagi pak. Ayo pak cek lagi!!!"
Pak Modin menuruti kemauan Truno. Setelah mengecek kembali dia menggelengkan kepala.
"Bapakmu sudah tidak ada le" suara pak Modin lemah
"Bapak!!!!" Truno memeluk bapaknya
"Bapak!!" Marsa melepaskan diri dari pelukan Simbah. "Pak bangun! Bapak...!"
"Bapak jangan pergi pak, jangan tinggalkan aku pak. Huuuu...huuuu..huuuu" Truno memeluk erat bapaknya
"Bapak... Aku sama siapa pak. Bapak janji ngantar aku ke tempat ibu. Bapak jangan meninggalkan. Huuu....huuuu.huuu. Bapaaaaak!" Marsa semakin menangis pilu
__ADS_1
"Aku minta maaf pak. Aku jahat. tapi kenapa bapak pergi dulu. Ku janji pak akan patuh pak. Bapak jangan pergi. Bapak... Huuu... Huuu....huuu..."