
Tiga hari sudah Srita berada di rumah. Selama itu dia dan suaminya lebih banyak saling diam-diam an. Komunikasi seperlunya.
Perang dingin sepertinya melanda rumah tangga mereka. Pungguh yang kesal pada Srita memilih banyak diam. Srita yang teguh dengan pendiriannya sudah tidak begitu peduli dengan suaminya.
Hari ini Srita dibantu Ainun Sepupunya, akan mendaftar kan gugatan perceraian ke kantor pengadilan agama yg ada di kabupaten. Tidak ada lagi kecocokan menjadikan alasan yang Srita sampaikan.
Dia sudah menyiapkan berkas pengajuan perceraian yang terdiri dari surat nikah asli, foto copy surat nikah, foto copy KTP, surat keterangan dari Desa, foto copy KK, akte anak, dan matrai.
Pungguh tidak bisa lagi mencegah istrinya untuk mengajukan gugatan cerai. Alasan anak tidak lagi jadi pertimbangannya. Dia tidak memikirkan bagaimana anaknya nanti.
Sepertinya Srita sudah gelap mata. Semua yang menasehati tidak ada yang didengarkan. Bahkan kedua orang tuanya .
Orang tuanya memilih pulang kerumahnya. Jika di rumah Srita bawaannya emosi kata bapaknya Srita. Kedua orang tua itu sudah habis akal membujuk Srita.
"Mas, hari ini aku mendaftarkan gugatan cerai. Nanti saat ada pemanggilan jangan sampai tak datang ya. Oh iya, aku tak mau mediasi. Aku inginnya cerai" Srita berbicara pada suaminya sambil lewat.
Meski sudah tahu istrinya akan menggugat cerai tetap saja kalimat yang disampaikan srita bagai petir di tengah cuaca panas.
"Soal anak, aku hanya mau bawa Secil. Marsa dan Truno sama kamu saja. Kamu ayahnya harus lebih banyak tanggung jawabnya" kembali Srita menyampaikan keinginannya.
__ADS_1
Pungguh yang sedang duduk hanya diam saja. Tak sedikitpun dia merespon ucapan Srita.
"Mas, Aku bicara padamu!" Srita meninggikan suaranya karena kesal Pungguh tk juga merespon.
"Kalau aku merespon memangnya kamu peduli, toh kamu tidak juga mendengarkan apa keinginanku"
Huuhhh....
Srita melenguh kasar
"Kamu sudah tidak mengindahkan ku, kamu juga sudah tak menganggap pendapat ku berguna. Sekarang terserah kamu. Lakukan sesukamu. Aku tidak perduli. Mata kamu sudah dibutakan, akal kamu sudah tidak bisa berpikir baik. Sana, minggat sama selingkuhan mu! Bila perlu minggat sekarang. Soal anak aku sanggup mengurusnya. Kamu sebagai ibu bukan lagi memikirkan kepentingan anak. Kamu sudah keblinger" Pungguh mulai meradang. Dikeluarkan semua uneg-uneg nya.
"Sana, sana. Silakan!"
"Nggak usah nyuruh-nyuruh. Kamu ngusir aku mas!?"
"Aku tidak mengusir. Kamu sendiri yang tidak ingin dipertahankan! Kamu pikir kamu saja yang bisa mendapatkan yang lain. lihat saja aku akan mendapatkan yang lebih dari kamu"
"Ha, ha, ha. Perempuan mana yang tahan hidup miskin mas. Aku saja yang bodoh mau bertahan lama hidup susah denganmu. " Dengan kencang Srita mencemooh Pungguh.
__ADS_1
"Kamu memang tidak bersyukur Srita. Cintamu palsu" Hatimu buta!"
"Mas, hidup itu tidak cukup hanya dengan cinta. Aku tidak kenyang makan cinta. Anak-anak bayar sekolah tidak dengan cinta. Susu anakmu juga tidak bisa dibeli dengan cinta. Pokoknya kamu jangan halangi aku untuk minta cerai. Titik" Berapi-api Srita membalas kata-kata Pungguh.
Brakkk, taaarrr
Bunyi gelas jatuh lalu pecah menghantam lantai. Rupanya Pungguh sudah sangat geram dengan omongan Srita. Dia membanting gelas yang terletak tak jauh darinya. Gelas itu pecah berderai. Kaca-kaca pecahannya berserak di lantai.
"Nggak akan! Pergi sana. Urus sendiri. Aku tidak akan hadir ke persidangan. Ora sudi!"
Braaaakk
Pintu terhempas kuat saat Pungguh keluar dari dalam rumah.
Mereka sudah tidak bisa lagi menahan diri. Omongan-omongan yang diluar kendali juga terlontar.
Srita yang melihat Pungguh membanting gelas cukup tercekat. Dia terkejut. Seketika dia terdiam.
Beberapa hari ini mereka memang tidak komunikasi dengan baik. Jika pun komunikasi ujung-ujungnya kelahi.
__ADS_1
Simbah yang mendengarkan perkelahian mereka hanya bisa mengurut dada. Pendirian mereka sama-sama teguh.