Cinta Tanpa Hati Srita

Cinta Tanpa Hati Srita
Anak-anak Mulai Tahu


__ADS_3

"Nduk, Secil, Marsa. Ayo makan dulu" Simbah memanggil cucu-cucunya


Ke dua anak itu berlari menuju dapur.


"Sini duduk yang baik" Simbah mengambilkan nasi untuk cucu-cucunya.


"Guh, Srita. Ayo makan, Truno makan!" Simbah kembali memanggil anak dan mantan menantunya. Ya, saat ini status Srita adalah mantan menantunya. Baik Simbah ataupun Pungguh belum ada membicarakan persoalan perceraian mereka.


Srita, Pungguh, dan Truno datang dari tempat mereka masing-masing. Truno duduk di sebelah Simbahnya. Srita duduk didekat anak-anaknya. Sementara Pungguh duduk agak jauh di sebelah Truno.


"Ni, telur untuk Secil. Suapi anak mu Srita. Ayo yang lain makan " Simbah mengambilkan nasi dan lauk untuk Secil.


Mereka makan tanpa suara. Masing-masing hanya fokus dengan makanan di piringnya. Kecuali Secil yang sesekali bicara pada Srita dan pada Marsa.


"Nanti selesai makan ada yang mau bapak omongkan" Tiba-tiba Pungguh nyeletuk.


Semua mata tertuju pada Pungguh. Srita yang sudah bisa menebak apa yang akan diomongkan oleh Pungguh hanya diam saja.


"Bapak mau bilang apa" Tanya Marsa yang masih menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Nanti bapak kasih tahu, selesaikan dulu makannya" jawab Pungguh.


Setelah lebih kurang 15 menit mereka menyelesaikan makannya masing-masing. Srita mengemas bekas makan yang ada di depannya dan membawanya ke belakang. Biasanya besok pagi piring-piring kotor itu akan dicuci.


"Bapak mau bilang apa?" setelah semua ngumpul Truno bertanya pada bapaknya.


Sebelum menyampaikan apa yang mau dibicarakan, Pungguh menarik napas dalam-dalam dan memperhatikan mantan istrinya. Srita yang merasa dipandang oleh Pungguh memalingkan muka.


"Mulai hari ini bapak dan ibumu berpisah...."


"Maksud bapak?" Truno spontan memotong pembicaraan bapaknya.


"Bapak dan ibumu bercerai" Pungguh menambahkan penjelasannya.


"Cerai itu apa pak?" Marsa yang masih belum tahu persoalan orang tuanya itu bertanya.


"Bapak tidak sedang bercanda kan? Apa benar yang dibilang bapak, bu!" Truno memandang ibunya.


"Bapakmu benar " Srita menjawab dengan suara pelan.


"Maksud bapak apa, kemaren ibu yang kabur dari rumah. Aku sampai malu diejek teman-teman ku. Aku malu teman-teman ku tahu ibu kabur dengan laki-laki lain. Sekarang bapak bilang kalian cerai. Kalian mau mempermalukan aku lagi!?" suara Truno meninggi.

__ADS_1


"Bukan bapak yang menceraikan ibumu. Ibumu yang menggugat cerai bapak. Tanya ke ibumu kenapa dia milih cerai" Pungguh memandang Srita.


"Bu, ibu mau membuat kami malu lagi. Apa kelakuan ibu yang kemaren tidak cukup untuk mempermalukan keluarga? Apa tidak ibu pikirkan bagaimana Marsa menangis setiap hari mencari ibu, apa ibu tidak pikirkan Simbah yang setiap keluar rumah ditanya-tanya tetangga?! . Apa ibu tidak pikirkan semua itu Bu!?" suara Truno makin sengit


"Kamu tidak tahu persoalan orang tua,Truno " bantah Srita.


"Persoalan apa yang tidak aku tahu? Aku sudah dewasa bu, aku sudah mengerti. Aku bukan anak kecil lagi. Apakah ibu pikir aku bodoh? Apa alasan ibu menggugat cerai bapak? Bukannya seharusnya bapak yang kecewa ke ibu karena ibu kabur dari rumah bersama laki-laki lain? Ibu tidak malu???" Truno makin berapi-api.


"Ibu bosan hidup susah Truno. Bapakmu tidak bisa memberi kebahagiaan kita. Coba kamu lihat. Hidup kita susah. Apa pernah kamu punya uang jajan yang cukup? Apa pernah kita makan enak? Apa pernah bapakmu ngajak jalan-jalan kita? Apa pernah ibu terbebas dari hutang di warung. Ibu capek, ibu ingin bahagia"


"Ibu mau bahagia, lalu kami bagaimana. Apa setelah kalian berpisah kami akan bahagia?" tanya Truno


"Kamu dan Marsa akan tetap di sini sama simbah mu. Berkurang tanggungan bapakmu. Dia tidak harus mengeluarkan uang belanja untuk ibu. Semoga cukup uang hasil kerja bapakmu untuk menghidupi kalian berdua. Biar ibu bawa Secil dan mencari penghidupan yang lain"


"Ibu egois! Dasar murahan!"


"Truno! Jaga omongan mu!" Srita berkata keras


Secil yang bingung dengan keadaan orang tuanya mulai terlihat takut.


"Aku kecewa pada ibu!" Truno melangkah pergi


"Truno, kamu mau ke mana le?" Simbah mencegah cucunya untuk pergi


"Bapak minta maaf le" Pungguh hanya tertunduk.


"Apa dengan minta maaf bapak bisa membuat hatiku baik-baik saja?!"


"Tapi sidang sudah memutuskan bahwa kami resmi bercerai"


"Kalian egois!"


"Silakan ibu pergi kalau mau pergi. Ibu juga sdh mengecewakan aku. Bapak jangan halangi ibu pergi. Biarkan saja. Kita bisa hidup tanpa ibu"


"Ibu mau ke mana Bu? Marsa ikut" Marsa mulai menangis.


"Kamu nggak usah ikut ibu, dik. Biarkan ibu pergi. Ibu juga tidak mau mengajak kamu. Kita tinggal sama bapak dan Simbah"


"Tapi mas, aku mau ikut ibu" tangis Marsa makin kencang.


"Kamu dengar tadi ibu tidak akan mengajak kamu!" tegas Truno pada adiknya

__ADS_1


"Truno, kamu jangan pengaruhi adikmu" Srita menegur Truno


"Apa? Apa ibu akan membawa Marsa? Apa ibu akan mengurus dia? Jangan-jangan ibu kabur kemaren dan sekarang menggugat cerai bapak karena ingin menikah sama laki-laki itu. Iyakan?"


"Jangan sok tahu kamu Truno"


"Sudahlah Bu. Aku bukan anak kecil lagi"


Secil yang melihat mbaknya menangis ikutan menangis. Simbah segera menggendong dan membawa ke belakang.


"Sudah le" Pungguh mencoba menenangkan Truno.


" Sudah pak. Bapak jangan baik-baik i aku. Aku kesal!" Truno beranjak dan pergi keluar rumah.


"Ibu.... Ibu mau pergi ke mana?" Marsa masih menangis dan mendekati ibunya. Dia memeluk erat ibunya.


Srita yang sedikit tersentuh mencoba memeluk anaknya.


"Ibu nanti akan tinggal di rumah eyang sama Adikmu. Kamu dan mas mu tinggal di sini"


"Aku mau ikut Bu. Terus kenapa ibu sama bapak tidak tinggal bareng lagi. Kenapa ibu tinggal sama eyang?"


"Karena ibu dan bapakmu sudah cerai"


"Apa itu cerai? Apa kalau cerai tidak bisa tinggal bersama?"


"Nggak bisa Marsa. Nanti kalau kamu sudah besar kamu akan mengerti"


Marsa makin menangis sejadi-jadinya. Dia makin erat memeluk ibunya.


"Sudah nduk, sini sama bapak" Pungguh mencoba membujuk putrinya. Hatinya perih melihat putrinya menangis sebegitunya.


"Aku nggak mau pak, aku mau sama ibu. Aku mau kita tetap tinggal bareng. Aku mau bapak sama ibu tetap ada"


Tanpa sadar Pungguh ikut menitikkan air mata. Sebelum jatuh air mata itu, dia menyeka dari sudut matanya.


"Aku tidak mau bapak sama ibu pisah. Nanti aku tidak punya ibu lagi. Aku mau bapak sama ibu tidak pisah. Aku mau bapak sama ibu tetap tinggal bersama. Kalau mau tinggal sama eyang kita bisa tinggal di sana sama-sama Bu"


Huu...huu...huuu.hu...


Tangis Marsa makin kencang.

__ADS_1


"Bapak, bilanglah sama ibu, pak. Ibu tidak boleh pergi. Ibu tidak boleh pergi Bu...."


__ADS_2