
Tadi malam Srita tak nyenyak tidurnya. Dia terbangun saat tengah malam. Ntah kenapa pikirannya selalu tertuju pada keluarga yang telah dia tinggalkan berhari-hari. Setiap bisa memejamkan mata sejenak pasti terbangun lagi.
Saat pagi menjelang dia sudah bertekad akan pulang. Dia khawatir ada yang terjadi dengan keluarganya. Setelah membulatkan tekadnya dia bisa tertidur sejenak sebelum akhirnya matahari muncul.
Ketika dia terbangun, dia tk menemukan Bagito. Dia bangkit lalu melangkah ke dapur. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Rupanya Bagito sedang di kamar mandi.
Sambil menunggu , Srita menjerang air panas di teko. Dia berencana membuatkan kopi untuk Bagito.
Terdengar pintu terbuka. Bagito keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk sepinggang.
"Kamu sudah bangun sayang. Aku lihat kamu tidur macam tak dengar langkah aku bangun" Bagito melihat secangkir kopi sudah terletak di atas meja. Dia menyeruput sedikit. Kopi itu masih sangat panas.
"Iya mas, beberapa kali aku terbangun malam tadi. Pikiranku tidak enak. Susah untuk tidur. Saat bisa tidur malah sudah pagi. Jadi kesiangan begini"
"Kenapa? Kurang permainan kita tadi malam? Nanti kita ulang lagi kalau kurang" dengan genit Bagito mencolek dagu Srita
"Nggak mas"
"Kamu jangan malu-malu Srita. Aku rela kok hee... hee... hee...." Bagito lebih mendekat lalu memel*k dan menci*mi leher Srita
"Betul mas bukan karena itu" Sita menegaskan
"Lalu kenapa sayang?" Sambil masih menc*mi Bagito menanyakan
"Aku kepikiran keluargaku mas. Ntah kenapa tapi aku khawatir terjadi sesuatu"
"Itu mungkin karena kamu memikirkan mereka sebelum tidur. Makanya terbawa-bawa dan mengganggu pikiran kamu" Bagito merenggangkan pelu*annya.
"Mas, pagi ini aku pulang dulu ya. Aku Pastikan dulu keluargaku. Sekalian aku akan urus perceraian ku"
"Jangan lah. Nanti kamu lama di sana. Aku bagaimana? Apa aku kurang mem*askan bagimu, apa aku tidak membuatmu bahagia?"
"Tidak mas, aku bahagia bersama kamu. Aku p*as dengan permainanmu" Srita tersenyum manis "Aku janji akan balik lagi ke kamu. Aku lebih memilih kamu dibanding suami ku"
Mendengar kata-kata Srita, Bagito tersenyum. Dia kembali memel*k Srita.
"Kita main lagi ya pagi ini sebelum kamu pulang. Kita p*askan bersenang-senang. Aku sudah terlanjur ketagihan melakukan permainan bersamamu Srita"
"Nanti anakku bangun"
"Nggak akan. Selama ini anakmu bangun siang"
Tanpa lama-lama Bagito sudah melucuti baju Srita. Handuk yang dia kenakan juga sudah lepas dari pinggangnya. Dia membimbing Srita menuju ruang tamu. Kali ini mereka melakukannya di kursi yang ada di ruangan itu. Mereka mengulang kembali permainan yang penuh ken*kmatan tadi malam. Bagito Seakan-akan tak pernah p*as. Mau lagi, lagi dan lagi. Selama Srita tinggal di rumah Bagito, ntah sudah berapa kali mereka melakukan hal yang tidak sepantasnya mereka lakukan. Mereka sama-sama lupa daratan.
__ADS_1
Setelah dua kali mereguk puncak ken*kmatan. Mereka sama-sama tersandar lemas.
Bagito memandang Srita
"Aku mencintaimu sayang. Jangan lama-lama kamu perginya, atau aku susul saja jika kamu terlalu lama di sana"
"Jangan! Aku janji akan segera menyelesaikan persoalanku. Akan aku urus perceraianku segera. Kamu akan menikahi ku kan mas?"
Srita bertanya sambil memandang wajah Bagito
"Tentu. Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Aku percaya"
"Bu..." Terdengar suara anak Srita memanggil.
Mereka bergegas memunguti pakaian yang berceceran.
"Kamu urus anakmu, aku akan mandi lalu membelikan mu sarapan sambil aku pesankan mobil untuk kamu pulang"
"Iya mas. Nanti setelah sarapan antar antar aku ke simpang ya"
****
Begitu sampai di simpang perhentian mobil Bagito menurun kan Srita.
"Iya mas" Srita memberi jawaban sambil tersenyum
"Aku akan menculik kamu jika kamu lama-lama di sana ha..haa... ha" Bagito mewanti-wanti sambil tertawa.
Srita telah menaiki mobil yang perlahan melaju di jalanan. Karena penumpang penuh dia mendudukkan anaknya di pangkuannya.
"Bu, kita pulang?" Secil bertanya
"Iya kita pulang"
"Hore pulang ke rumah Mbah" dia menggoyang-goyangkan badannya dengan gembira
"Duduk yang baik nanti jatuh" Srita memperbaiki letak duduk anaknya.
"Bu, kita jangan ke rumah teman ibu lagi ya. Aku tak ada teman di sana. Di rumah Mbah ada kak Marsa, ada ayah, ada Mbah juga" anak itu mengeluarkan uneg-unegnya dengan bahasa yang masih terpenggal-penggal.
"Kamu kalau tidak mau ikut ibu, kamu sama ayahmu saja. Tinggal di rumah Mbah" kesal Srita menjawab.
__ADS_1
wajah Secil berubah muram saat ibunya bilang mau ditinggal di rumah Mbah.
"Sudah jangan ngomong saja. Nanti orang lain terganggu"
Anak seusia Secil dipaksa memahami keinginan orang tuanya.
"Mau main sama kak Marsa, Bu"
"Ya nanti saat sampai rumah Mbah, kamu bisa main. Sekarang duduk yg baik dulu. Minum susu saja" Srita memberi botol susu ke anaknya lalu setengah membaringkan badan Secil di pangkuannya.
Setelah menghabiskan sebotol susu, anak itu mulai redup matanya. Kondisi perjalanan membuat matanya dengan mudah mengantuk. Srita yang lelah karena aktivitasnya tadi pagi dan kurang tidur pada malam harinya juga merasakan mengantuk. Dia menyandarkan kepala dan memejamkan matanya. Bukan berniat untuk tidur karena takut anaknya jatuh dari pangkuannya.
Seiring perjalanan yang semakin jauh meninggalkan tempat tinggal Bagito, Srita mulai memikirkan akan seperti apa kira-kira situasi di rumah saat dirinya sampai nanti. Selama dia kabur dari rumah tidak pernah sekalipun dia berusaha memberi kabar untuk keluarganya.
Apa kira-kira yang dilakukan suamiku saat tahu aku kabur dari rumah. Apakah dia mencari dan mengkhawatirkan ku. Semoga kabar ini tidak sampai ke orang tuaku. Apa mungkin mas Pungguh mencari ku ke rumah bapak.....
Halah biarkan saja jikapun dia mencari ke sana, paling dia yang disalahkan oleh orang tuaku. Kamu sih mas, tidak bisa membahagiakan ku. Aku kan capek hidup susah. Kamu juga tidak perhatian ke aku. Sebagai perempuan aku kan ingin hidup senang.
Tapi....
Jika mereka bertanya ke mana aku selama ini bagaimana. Huhhh.... Semoga saja anak ini tidak banyak bicara saat orang-orang di rumah bertanya.
Karena saking ngantuk nya akhirnya Srita tertidur. Mobil yang dia tumpangi terus melaju menuju kampung dia tinggal. Perjalanan sekitar dua jam akan membawanya kembali ke rumahnya. Tepatnya ke rumah mertuanya di mana dia numpang tinggal bersama keluarganya. Semua pikiran tentang akan seperti apa ketika dia pulang nanti terlupakan sejenak oleh rasa ngantuk yang menderanya.
"Permisi mbak" seseorang memegang bahunya.
"Ya..." Srita terbangun dari tidurnya
"Saya mau numpang lewat. Mau turun" penumpang yang duduk di bangku tengah di sebelah Srita menjelaskan.
"Oh iya, sebentar." Srita turun sambil menggendong secil untuk memberikan jalan pada penumpang yang mau turun.
Sekilas Srita melihat sekeliling, ternyata sudah dekat tempat tinggalnya. Hatinya mulai berdebar-debar. Membayangkan akan bertemu dengan dengan suaminya yang bisa saja sedang dalam kondisi marah, atau mungkin mertuanya yang juga akan marah.
Setelah masuk kembali ke mobil, Srita mulai mengatur napas sedikit menenangkan hatinya.
Kenapa aku jadi begini. Dia berkata dalam hati.
Sekitar 5 menit lagi dia akan sampai di rumah temannya tempat dia menitipkan sepeda motornya. Semoga Ainun tidak banyak bertanya-tanya.
Akhirnya dengan berbagai alasan dia telah mengambil motor dan mengendarai menuju arah tempat tinggalnya.
Dua puluh menit Waktu yang dia pakai untuk sampai ke tempat tinggalnya terasa cukup cepat.
__ADS_1
"Srita!!!!!"
Suara cukup keras menyambut saat Srita baru saja belok ke arah rumahnya.