
Sidang pertama perceraian Srita akan dilaksanakan dua hari lagi. Srita sudah tidak sabar menunggu waktu itu. Dia sudah bertekad meskipun nanti disuruh mediasi dan berdamai dia tidak akan mau.
Baginya berpisah dari Pungguh adalah mutlak. Di tempat terpisah Bagito sudah menunggu untuk menjadikan dia istrinya. Tentunya dengan kebahagiaan yang dia harapkan dan Bagito janjikan.
Dia sudah mengabari Bagito bahwa waktu sidang akan dilakukan dua hari lagi. Mereka berdua, dua manusia yang bahagia dengan segera dilaksanakannya sidang perceraian itu.
Dilain pihak, Pungguh merasakan kian sakit hati saat menerima undangan sidang pertama gugatan perceraian yang dilayangkan oleh Srita. Meski begitu dia masih berharap rumah tangganya bisa diselamatkan. Dia rela menerima kembali Srita meski tahu hal yang telah Srita lakukan. Baginya rumah tangga dan anak-anaknya lebih penting.
Siang ini dia ke rumah sepupunya. Menyampaikan perihal undangan sidang perceraiannya. Selain minta tolong diantar ke kota dia juga minta tolong untuk menemani saat persidangan.
Pungguh tidak mungkin berangkat dengan Srita karena istrinya itu sudah mewanti-wanti tidak mau berangkat bersama. Srita akan berangkat bersama Ainun, sepupunya.
"Ngopo to Guh, kamu kok loyo begitu. Sudah, lepaskan saja jika Srita itu memang sudah tidak mau lagi bersama kamu" Sepupu Pungguh menegur Pungguh yang kelihatan lesu saja.
__ADS_1
" Aku kepikiran anak-anak, mas. Kasihan kalau harus berpisah dengan ibunya. Apalagi Srita sudah bilang ke aku bahwa dia hanya akan membawa anakku yang kecil. Lha Marsa kan juga masih kecil, tentu dia akan kehilangan ibunya. Terus aku juga pasti berat berpisah dari Secil. Apalagi Truno, sejak ibunya pulang dan tahu bahwa ibunya kabur dari rumah bersama selingkuhannya, sikapnya semakin memberontak" Lesu Pungguh berbicara. Beban berat terasa menghimpitnya.
"Kalau aku menolak bercerai , apa perceraian ini bisa dibatalkan mas?" tanya Pungguh
"Ya aku tidak tahu Guh, lha aku saja masih jomblo. Aku tidak tahu soal perceraian"
"Besok temani aku lho mas" Pungguh mengingatkan
"Iyo gampang, besok lusa tho?" tanya sepupu Pungguh.
"Ntah mas, aku tidak kenal. Orang mana juga aku tidak tahu. Yang jelas Srita itu sudah keblinger. Mosok cuma kenal lewat hp sudah berani sampai minggat nemui" Suara Pungguh terdengar kesal "Edan memang bojo ku"
"Kemaren aku kaget lihat Truno siang-siang tidur di belakang rumah. Rupanya habis kelahi dengan Srita. Kelewatan memang sekarang bojomu. Tidak lagi memikirkan anak. Truno itu sudah besar lho Guh. Salah bergaul malah bahaya. Apalagi orang tuanya begini"
__ADS_1
"Iyo mas. itu juga aku khawatirkan. Terkadang aku juga tidak sabar menghadapi kelakuan dia sekarang. Asal ada masalah dia pergi. Sama aku yo sering kelahi. Pernah tak gaplok lho saking jengkelnya" kata Pungguh
"Lihat itu anak si Parno, orang tuanya bercerai, anaknya jadi rusak. Jangan sampai Truno jadi anak yang nggak bener. Apalagi dia sering ngumpul sama teman-temannya . Banyak aku lihat anak-anak ngumpul-ngumpul merokok. Nongkrong rame-rame"
Pungguh terpekur mendengar omongan sepupunya.
"Mertuaku tidak setuju lho mas aku bercerai. Srita sama bapaknya sempat marah-marah an. Ibunya juga tidak setuju. Tapi Srita tetap juga mau bercerai. Opo tak santet saja ya mas selingkuhan Srita itu. Minta tolong Mbah Garong"
"Ngawur kamu Guh. Dosa itu!" terbelalak mata sepupu Pungguh "Biar kan Srita saja yang rusak. Kamu jangan ikut-ikutan ngawur"
"Tapi saat sakit begini aku memang pingin nyantet laki-laki kurang ajar itu"
" Kalau mau nyantet, bojomu itu juga pantas disantet. Wong yang kabur nemui laki-laki itu malah bojomu" ketus suara sepupu Pungguh.
__ADS_1
"Yo wes, sekalian saja dua-duanya disantet" kata Pungguh
"Ngawur kamu! Aku menyarankan itu bukan beneran" makin terbelalak sepupu Pungguh.