
"Assalamualaikum...." Pungguh membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci.
"Kamu sudah pulang le?" suara simbah menyapa.
"Sudah Mbah. Marsa di mana Mbah?" Pungguh menjawab sekaligus menanyakan keberadaan anaknya.
"Itu tidur di kamar, sudah makan dia. Paling capek pulang sekolah" jawab simbah.
Pungguh menuju kamar, dia melihat anaknya sedang tidur nyenyak. Pelan-pelan dia duduk di pinggiran tempat tidur. Lama dia memandang anaknya. Hatinya pedih mengingat peristiwa hari ini. Sejak keluar dari persidangan maka dia dan Srita resmi bercerai. Itu artinya dia dan istrinya akan segera berpisah. Itu juga berarti bahwa anak-anaknya akan kehilangan ibunya.
Pungguh mengusap rambut anaknya. Matanya berembun membayangkan kehidupannya yang akan datang. Saat Srita memutuskan hanya akan membawa anaknya yang paling kecil, otomatis anaknya yang lain akan tinggal bersamanya, tanpa seorang ibu yang biasa mengurusi.
"Le...." Simbah muncul dari balik pintu kamar yang tidak ditutup oleh Pungguh "Bagaimana sidang tadi?" Simbah bertanya pelan.
Sebelum menjawab, Pungguh berjalan keluar.
"Aku dan Srita sudah resmi bercerai Mbah" Punggung menjawab dengan lesu
"Oalah....Gusti .... " Simbah tidak melanjutkan kata-katanya. Dia spontan memeluk anaknya.
"Kok koyo ngene rumah tangga anakku, kebangetan Srita.... Koe sing sabar yo Guh, rezeki lan jodoh ikut saking Gusti Allah" Simbah memeluk erat. Terdengar suaranya mulai menangis.
"Yo Mbah" Pungguh hanya menjawab singkat
"Terus sekarang Srita di mana? Anak-anak mu piye Guh?" tanya Simbah
"Srita belum pulang. Paling nanti tetap ke sini . Lha wong baju-bajunya masih d sini. Soal anak-anak, dia hanya akan membawa Secil. Marsa dan Truno tetap bersama aku"
"Marsa itu masih kecil le. Kamu ingat waktu Srita kabur dia tk mau makan, nangis terus. Apalagi ini nanti ibunya pergi meninggalkan dia"
"Bagaimana lagi Mbah. Itu kemauan Srita. Aku sudah tidak bisa mempertahankan rumah tangga ku. Aku juga tidak bisa mempertahankan dia. Simbah mau kan menolong membantu menjaga anak-anak ku?" Pungguh bertanya memelas sambil menatap Simbah. Matanya berkaca-kaca.
"Yo pasti mau le. Mereka cucu-cucu ku. Aku akan merawat mereka sampai besar. Sampai umur ku habis" jawab Simbah pasti.
__ADS_1
"Terimakasih yo Mbah. Aku janji Mbah, akan kerja lebih giat lagi. Aku janji anak-anak ku ora bakal kehilangan kasih sayang dari ku. Aku akan cukupi kebutuhannya" dengan penuh tekad Pungguh bicara
"Opo setelah ini Srita akan langsung pergi Guh?" tanya Simbah lagi.
"Aku tidak tahu Mbah. Terserah dia. Paling dia pulang ke rumah orang tuanya. Itupun kalau orang tuanya menerima dia. Wong mertuaku saja tidak setuju kami bercerai. Kalau dia mau pergi ke mana yo terserah dia. Aku tidak perduli"
"Setelah ini kamu harus pergi ke rumah mertuamu Guh. Kamu harus jelaskan baik-baik. Kamu dulu melamar Srita baik-baik. Sekarang setelah bercerai kamu harus tetap menjaga silaturahmi dengan mereka. Mereka itu baik pada kita" Simbah menasehati Pungguh.
"Kapan-kapan aku kesana Mbah. Aku mau menenangkan diri dulu" kata Pungguh
"Yo le, sak karepmu"
"Aku bingung Mbah. Bagaimana kalau Marsa bertanya soal orang tuanya yang tidak lagi bersama"
"Kepiye-kepiye anakmu harus tahu. Anakmu harus bisa menerima keadaan. Sing penting kamu harus lebih perhatian ke anak-anak mu Guh. Terutama si Truno. Kelakuannya akan makin susah diurus kalau kamu tidak memberi perhatian lebih ke dia. Kalau Marsa biar Simbah yang urus" Simbah meyakinkan anaknya. Dia sangat prihatin akan perceraian Pungguh.
"Mbah...." tiba-tiba terdengar suara Marsa memanggil.
"Ibu mana Mbah?" Dia bertanya sambil duduk dekat Simbah. Dia masih sedikit lesu karena baru bangun tidur.
"Ibu mu nanti pulang" Simbah mengelus-elus kepala Marsa.
"Kok lama. Ibu ke mana sih Mbah" anak itu bertanya kembali.
Pungguh hanya memandang anaknya dengan sedih.
"Ibumu masih ada urusan. Sana kamu mandi biar seger. Nanti kita petik kelapa muda yo nduk. Enak ini pasti panas-panas minum kelapa muda" Simbah mengalihkan pembicaraan agar Marsa tidak terus-menerus menanyakan ibunya.
"Siapa yang metik? Kan tinggi Mbah" tanya anak itu.
"Tenang saja. Kita suruh bapakmu manjat. Bapakmu kan pinter kalau manjat kelapa. Wes sana kamu mandi biar seger" Simbah lagi-lagi menyuruh Marsa mandi.
Dengan malas-malasan Marsa pergi ke belakang untuk mandi.
__ADS_1
"Sana Guh, kamu petik kan kelapa muda!" perintah Simbah.
"Aku sedang rungsing begini sampeyan suruh manjat kelapa"
"Lha wong cuma manjat kelapa lho Guh"
"Itu lho Mbah di luar ada mas Parto. Biar dia saja yang manjat " Pungguh menolak dengan lesu.
"Oalah ada dia tho di luar. Ya sudah aku minta tolong dia saja. Kamu sudah makan belum? sana makan. Jangan sampai sakit kamu" Simbah berjalan ke depan.
" Aku sudah makan Mbah tadi di luar" Jawab Pungguh.
"Opo iya Pungguh wes makan to?" tanya Simbah sama Parto. Dia khawatir anaknya hanya asal menjawab.
"Iya sudah Mbah. Tadi tak suruh makan sekalian pas ngopi. Kasihan dia. Rumah tangganya Bubrah"
"Iyo le. Bagaimana lagi, aku yo sedih. Kamu sering-sering ke sini le, ajak ngobrol. Kasihan dia pasti rungsing"
"Tenang Mbah. Sampeyan percoyo karo aku. Nanti sekalian tak carikan jodoh yang baru"
"Walah.... Kamu saja belum dapat jodoh gitu lho. Kok mau nyarikan Pungguh jodoh" sangkal Simbah berseloroh.
" Ya makanya nanti sekalian aku nyari jodoh juga" jawab sepupu Pungguh tersebut sambil nyrenges
"Halah mboh. Wong baru saja cerai kok sudah mikir cari jodoh lagi. Mikir anak dulu"
"Kalau cepet dapat ganti kan malah tidak rungsing lagi. Ada yang nemani. Ada yang bantu ngurus anak" jawab sepupu Pungguh
"Yo nanti lah. Aku mau minta tolong petik kan kelapa muda untuk Marsa. Biar anteng tidak nanya-soal ibunya terus. Kemana tho Srita kok belum pulang?" tanya Simbah
"Tadi sama Ainun. Paling singgah ke mana dulu. Nglencer paling. Dia kan seneng sudah cerai. Beda sama Pungguh " Sepupu Pungguh terlihat mencibir
Simbah terlihat muram.
__ADS_1