
Hari ini Srita mendaftarkan gugatan perceraiannya. Dia diantar Ainun, sepupunya. Sementara anaknya yang kecil dia titipkan pada mertuanya.
Perjalanan ke kantor pengadilan agama yang ada di kota Kabupaten memakan waktu 1 jam. Mereka berboncengan mengendarai motornya Ainun.
Setelah mengisi formulir berupa identitas dan lainnya dia menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan dan telah dilengkapinya.
Petugas memberikan banyak pertanyaan terkait gugatan cerainya. Seperti hak asuh anak, harta gono-gini, dan alasan mengajukan perceraian .
Petugas juga menanyakan kembali keteguhan Srita untuk bercerai.
Srita juga diberikan penjelasan-penjelasan lainnya terkait pemanggilan sidang, saksi yang harus dihadirkan, dan proses mediasi.
Setelah menyelesaikan proses pengajuan cerainya, ia sejenak duduk di kursi yang ada di teras kantor pengadilan agama.
Srita mengambil hp dari dalam tasnya. Dia menulis pesan yang ditujukan ke Bagito. Lelaki yang di gila-gilai dan sudah beberapa hari ditinggalkannya.
"Mas, aku sedang di pengadilan agama. Aku sudah mendaftarkan perceraian ku" Dia mengirim pakai ikon senyum setengah tertawa.
Tak menunggu lama terlihat Bagito mengetik pesan.
"Sayaaang, aku senang dapat kabar seperti ini. Aku sudah tak sabar menjadikanmu istriku" Bagito membalas dengan bertaburan ikon tanda cinta.
"Aku juga mas. Tak sabar ingin menjadi istrimu" Tak kalah Srita mengirimkan ikon pelukan dan tanda hati.
"Aku kangen kamu sayang, rasanya sudah lama kamu meninggalkan aku" terlihat ikon sedih dari Bagito.
"Ha...ha...ha.... Sabar mas. Ini aku juga sudah berusaha. Sabar ya. Nanti saat aku sudah jadi istrimu akan selalu bersama mu" Srita kembali mengirimkan ikon pelukan.
"Berapa lama aku harus menunggu mu? Bisa tidak kamu menemui ku lagi? Aku kangen kamu sayang" Bagito mengirimkan gambar orang lemah terkulai.
"Aku juga kangen. Tapi sepertinya susah mas jika aku harus ke sana lagi. Permasalahan di sini setelah aku pulang sangat panas. Apalagi kedua orang ku juga tidak menyetujui perceraian ini. Aku juga tidak mau jadi omongan orang sekampung. Kepergianku kemaren saja sudah bikin heboh. Sabar ya"
"Aku tidak sabar" jawab Bagito
"Sudah dulu ya mas. Aku akan jalan pulang" Srita mengakhiri obrolannya
"Ya lah" ikon menitikkan air mata dikirim oleh Bagito
Srita kembali menyimpan hpnya lalu mendekati Ainun yang telah menunggunya.
"Sudah?" tanya Ainun
__ADS_1
"Ya. Mari kita pulang Nun" jawab Srita.
Ainun sebagai sepupu telah berulang kali menasehati Srita agar memikirkan kembali keputusannya. Dia juga tidak menyetujui keputusan yang dibuat sepihak oleh Srita. Tapi apa daya, Srita begitu kukuh untuk bercerai.
Berbagai nasehat yang dia berikan tak mempan untuk Srita merubah keputusannya. Pada akhirnya dia menyanggupi mengantar Srita pengajukan gugatan cerainya.
"Ta, Siapa saksi yang akan kamu bawa untuk hadir dipersidangan" Sambil jalan menuju motornya Ainun bertanya pada Srita
"Ntahlah nun, aku belum terpikir siapa. Jika aku bawa orang tuaku, mereka saja tak setuju aku bercerai. Apalagi kalau aku bawa Simbah, dia pasti berpihak pada mas Pungguh. Menurut kamu, Sepupu mas Pungguh bagaimana?" Srita menjelaskan sekaligus bertanya.
"Aku kan kurang tahu Ta, bagaimana dia. Bisa saja dia juga berpihak pada Pungguh" jawab Ainun
"Atau kamu saja Nun" Srita tiba-tiba nyeletuk
"Apa! Aku? Kamu sudah gila ya Ta. Aku ke sini cuma menemani kamu. Bukan lalu kamu jadikan saksi untuk perceraian kamu. Nggak, aku tak mau" Ainun mendadak menghentikan jalannya dan marah pada Srita yang tiba-tiba ingin menjadikan dia saksi perceraiannya.
"Tolonglah Nun. Kan kamu sepupu aku. Masa' kamu tidak mau menolongku. Kamu juga kan tahu bagaimana kehidupan ku bersama mas Pungguh" Srita memelas berharap pada Ainun.
"Ta, aku saja tidak setuju kamu bercerai. Bagaimana bisa aku jadi saksi perceraian kamu" Ainun tetap menolak menjadi saksi.
"Nun, tolonglah aku, Aku tk punya orang lain yang aku mintai tolong. Aku janji tak akan menyusahkan kamu lagi setelah ini. Aku juga janji jika perceraian ini lancar aku akan memberi mu uang sebagai tanda terimakasih. Mau ya?" Srita tetap meminta tolong meskipun Ainun Menolak.
Ainun membuang napas kasar. Dia bukan mata duitan. Tapi dia memang tidak setuju Srita bercerai. Dia meneruskan langkahnya dan meninggalkan Srita di belakang.
"Nun, mau ya, tolonglah aku" yang kesekian kalinya Srita memohon.
"Nggak!" Ainun tetap meneruskan langkahnya
"Nun!" Srita berteriak
Ainun mengentikan langkahnya. Lalu berbalik badan.
"Nun, cuma kamu yang aku rasa bisa membantuku. Tidak kah kamu kasihan padaku. Aku ingin hidup bahagia tanpa kekurangan Nun. Orang tuaku tidak setuju aku bercerai. Siapa lagi yang aku harapkan Nun. Kamu lah penolongku" mata Srita berkaca-kaca, memelas mengharap bantuan Srita.
"Baiklah. Tapi aku terpaksa melakukannya" Ainun pasrah dan menerima permintaan tolong dari Srita.
"Terimakasih Nun. Aku janji tak akan melupakan kebaikan mu" mata Srita berbinar lalu memeluk Ainun. "Kamu memang sepupuku yang terbaik Nun"
Ainun hanya menghela napas melihat sepupunya. Mereka berdua lalu melanjutkan langkah menuju tempat motor Ainun terparkir.
Setelah menyerahkan kartu parkir, Ainun memasang helm lalu melajukan motornya ke arah pulang. Perjalanan kali ini mereka tempuh dengan matahari yang cukup terik.
__ADS_1
"Nun nanti kita singgah makan di warung ya" Srita sedikit berteriak supaya Ainun mendengar, karena angin cukup kencang.
"Memangnya kamu ada uang Ta?" Ainun balik bertanya
"Ada, kemaren pacarku memberikanku uang" Jawab Srita.
"Apa? Pacar?" dalam keadaan kaget, Ainun spontan memelankan laju kendaraannya.
"Jadi benar gosip yang beredar bahwa kamu kabur dari rumah menemui selingkuhan mu?" tanya Ainun penasaran.
"Kamu dengar dari siapa?" Bukannya menjawab Srita malah balik bertanya.
" Nggak penting dengar dari siapa, kamu jawab saja benar atau tidak bahwa kamu kabur dari rumah menemui selingkuhan mu?" lebih lanjut Ainun bertanya
"Iya benar" Srita akhirnya menjawab.
"Kamu ya Srita, benar-benar kelewatan" Suara Ainun terdengar geram.
"Nun, sudahlah. Aku sudah tidak sanggup lagi hidup dengan mas Pungguh. Aku ingin bahagia. Sekarang aku sudah menemukan orang yang bisa membahagiakan ku" jelas Srita
"Iya tapi tidak begitu caranya" kesal Ainun menjawab.
"Sudahlah Nun, ini di jalan lho. Bawa motormu baik-baik saja. Nanti kita kenapa-kenapa" Srita mencoba mengakhiri pembahasan soal kaburnya dia.
"Aku tidak menyangka saja" ucap Ainun
Setelah sedikit perdebatan, Ainun kembali melajukan motornya. Dia merasa tak habis pikir dengan keberanian Srita. Apalagi sampai mau menggugat cerai suaminya. Padahal anaknya sudah tiga. Dia geleng-geleng kepala sendiri.
Setelah lebih kurang setengah jam mengendarai motornya, mereka singgah di rumah makan Padang. Mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing.
Sambil menunggu makanan datang, Ainun kembali bertanya-tanya pada Srita.
"Orang mana pacarmu ta? Kamu yakin sudah mengenalnya? Hati-hati lho jangan sampai kamu cerai dengan Pungguh kamu malah lebih menderita?"
"Apa sih Nun, kok kamu ngomong begitu" Srita mendelik matanya mendengar omongan Ainun.
"Ya kan aku bertanya, apa sudah kamu pastikan dan kamu kenal dengan baik selingkuhan mu itu" suara Ainun sedikit keras
"Nun, jangan keras-keras suaramu!" Nanti ada yang dengar.
"Halah ta, lagian gosip tentang kamu kabur itu lho sudah menyebar. Percuma kamu tutup-tutupi" Ainun mencibir omongan Srita yang takut jika ulahnya banyak yang tahu. Padahal banyak tetangga juga sudah tahu.
__ADS_1
"Mosok sih Nun, pasti ada tukang sebar gosipnya ini" Srita tetap tak percaya jika berita kaburnya sudah menyebar. Apalagi berita kaburnya ternyata menemui selingkuhannya.
Pelayan datang mengantarkan makanan. Ainun cuma menjawab dengan mengangkat bahunya tanda membenarkan kata-katanya.