
Begitu selesai menyiapkan semua kebutuhan sesaji yang diperlukan, Simbah memberikannya kepada Pungguh.
"Guh, ini kamu bawa ke rumah Mbah garong. sebelum ke sana kamu minta kelapa hijau dulu ke sepupumu. Karena kelapa hijau itu salah satu dari bagian sesaji" Simbah menjelaskan ke Pungguh. " Nanti ketika di sana kamu tanya betul-betul, yang jelas di mana Srita, ke arah mana, bagaimana kondisinya" lebih panjang penjelasannya dalam mewanti-wanti Pungguh.
" Yo Mbah aku tak pamit dulu" Semua kebutuhan sesaji yang disiapkan Simbah dibawa Pungguh dalam kantong kresek . Ayamnya dimasukkan dalam kardus yang dilubangi. Dia tidak lupa membawa senter, karena dipastikan dia malam baru pulang.
Pungguh menaiki sepeda menuju rumah sepupunya. Sepeda itu menjadi satu-satunya kendaraan yang bisa dia pakai saat ini. Karena motor yang biasa dia pakai di bawa Srita entah ke mana.
Hari sudah sangat sore ketika Pungguh sampai ke rumah sepupunya. Karena memang dia berangkat dari rumah sudah sore.
Setelah menyampaikan niat dia datang, dua saudara itu mengambil sebuah kelapa yang sedang berbuah dan kebetulan belum begitu tinggi. Kelapa itu mereka masukkan dalam kantong kresek. Sekarang bawaan Pungguh menjadi dua kresek dan satu karton berisi ayam. Ayam itu bergerak-gerak seolah merasa tidak nyaman dalam kurungan karton.
Dengan mengendarai motor, Pungguh dan sepupunya menuju rumah Mbah Garong. Rumah Mbah Garong terletak di desa lain. Bertetangga desa dengan tempat tinggal Pungguh.
Setelah memakan waktu lima belas menit akhirnya mereka sampai. Rumah Mbah Garong terlihat pintunya terbuka. Setelah mematikan motor dan menurunkan bawaannya, mereka melangkah menuju pintu
"Kulo nuwun" Pungguh mengucapkan salam khas Jawa di depan pintu.
"Kulo nuwun" Sekali lagi Pungguh mengucapkan salamnya.
"Monggo" Terdengar suara berat dari dalam rumah, lalu terdengar langkah kaki dari dalam rumah.
"Mari masuk" Mbah Garong mempersilakan tamunya dan menyuruh mereka duduk . "Sampeyan dari mana? Ada apa ke mari" Tanya Mbah Garong sambil memandangi kedua tamunya. Dia hanya basa-basi bertanya. Padahal dia sudah tahu maksud kedatangannya tamunya.
"Saya Pungguh mbah dan ini sepupu saya. Begini Mbah, Sudah 4 hari istri saya belum pulang-pulang. Saya sudah mencari-cari belum dapat kabar dan tidak tahu dia ada di mana. Saya mau minta tolong Mbah untuk melihatkan kira-kira apa yang terjadi dengan istri saya" Pungguh menjelaskan kedatangannya menemui Mbah Garong.
"Kamu sudah sediakan sesaji yang saya perlukan?" tanya Mbah garong
" Sudah Mbah, Monggo dilihat dulu" barang-barang yang Pungguh bawa disorongkan ke hadapan Mbah Garong.
Mbah garong manggut-manggut.
"Ada satu yang kurang!"
Penyataan Mbah Garong membuat Pungguh terkejut.
"Apa kira-kira Mbah?" Pungguh mencoba menanyakan
"Ada satu kembang yang belum ada di sini, yaitu kembang kantil. Tapi tidak apa-apa. Di belakang rumahku ada"
__ADS_1
"Bu, tolong ambilkan kembang kantil dua buah. sekalian ambilkan arang, terus bawa ayam ini ke belakang" Mbah garong berbicara sedikit kuat. Karena istrinya berada di bagian ruang lain.
Setelah meminta tolong istrinya, Mbah Garong terlihat bangun dari duduknya. Ternyata dia mengambil golok dan satu baskom sedang. Istrinya muncul menyerahkan barang yang diminta oleh Mbah Garong.
Kelapa yang dibawa Pungguh diraih oleh Mbah Garong. Kelapa itu dikupas bagian atasnya, lalu dibuka sebagian tempurungnya. Airnya dikeluarkan lalu ditumpahkan ke dalam baskom. Bunga-bunga yang dibawa Pungguh ditambah bunga kantil dimasukkan semua ke dalam baskom.
"Kemari kan tangan kananmu" Mbah Garong meminta Pungguh agar memberikan tangannya. Dia lalu meraih dan membalikkan telapak tangan Pungguh, memegang jari jempolnya. Setelah itu dia menorehkan arang ke kuku jari jempol Pungguh.
"Ikuti kata-kata ku dan tutup matamu" Perintah Mbah Garong
"Titi lan toto, Toto neng nggon-nggon nane. Moro Toto loksono. Sirep dedep garwo"
Mbah Garong membaca mantra dan menyuruh Pungguh mengikutinya. Mantra itu dibaca tiga kali. Pungguh pun mengikuti sebanyak tiga kali. Lalu tangan Pungguh dimasukkan dalam baskom berisi air kelapa dan kembang setaman.
"Mantapkan hatimu, minta tolong ke Gusti Allah agar dilihatkan dan diberi petunjuk di mana istrimu berada" dengan tenang dan perlahan Mbah Garong berbicara pada Pungguh.
" Kamu siap?" tanya Mbah Garong
" Siap Mbah" tegas Garong menjawab
" Buka matamu perlahan, lalu aku akan mengeluarkan semua kembang setaman ini. Setelah airnya tenang kamu akan bisa melihat istrimu"
Mbah Garong mengeluarkan semua kembang setaman. Meletakkannya begitu saja di sebelah baskom.
Gledug!!!
Pungguh spontan jongkok yang awalnya duduk bersila. Dia makin mendekat memandangi air dalam baskom.
Sepupu Pungguh kaget melihat Pungguh yang tiba-tiba merubah posisi duduknya. Dia ikut mendekat dan mencoba melihat apa yang ada dalam baskom. Tapi dia tidak melihat apapun. Dia memandang Pungguh yang masih menunjukkan wajah kaget.
"Danc*k!!!
Terdengar Pungguh mengumpat dalam bahasa Jawa. Wajahnya merah padam menunjukkan bahwa dia sedang marah.
" Begitu rupanya kelakuan kamu Srita!"
"Wong wedok Lac*r!
Buggg!!!!!
__ADS_1
Pungguh meninju kan tangannya ke lantai lalu mengusap kasar mukanya.
"Ada apa tho Guh?" Sepupu Pungguh merasa penasaran apa yang menyebabkan Pungguh begitu marah sekali.
"Istriku itu Lac*r! Dia sedang berpelukan dengan laki-laki lain" dengan nada tinggi Pungguh menjelaskan ke sepupunya yang tidak bisa melihat apa yang dilihat Pungguh
"Danc*k!! Dia mengumpat lagi.
"Perempuan Lac*r"
"Apa sepupuku ini bisa sampeyan buat bisa melihat juga Mbah. Untuk saksi" tanya Pungguh berharap.
Mbah Garong memandang sepupu Pungguh. Merasa ditanya lewat pandangan dia hanya mengangguk-angguk.
Mbah Garong menorehkan arang ke kuku jempol tangan sepupu Pungguh. Lalu memasukkan tangannya ke dalam baskom kemudian mengeluarkan kembali.
"Setelah airnya tenang lihatlah ke situ!" perintah mbah Garong.
Dengan tidak berkedip dan tak sabar sepupu Pungguh memusatkan matanya ke air dalam baskom. Seperti yang dialami Pungguh pertama-tama bayang samar yang dia lihat, lalu bayangan itu menjadi jelas.
Diapun lebih kurang dengan Pungguh, melonjak kaget melihat gambar jelas yang ada di permukaan air dalam baskom. Dia memandang Pungguh lalu beralih memandang Mbah Garong. Matanya seolah bertanya-tanya.
" Iya, itu yang dilihat Pungguh" Mbah Garong meyakinkan sepupu Pungguh.
"Sekarang di mana mereka ini Mbah?" tanya Pungguh. Suaranya masih bernada marah.
"Mereka jauh dari sini. Aku tidak bisa melihat di mana arah lokasi mereka. Yang jelas mereka sedang ada di sebuah rumah"
"Lalu bagaimana aku bisa menyusul mereka jika aku tak tahu di mana mereka" Lemah suara Pungguh. Dia mengusap muka secara kasar dengan kedua tangannya sambil membuang napas kuat.
"Iya Mbah, apa tidak ada cara untuk mengetahui di mana lokasi mereka?" Sepupu Pungguh ikut menanyakan. Dia ikut merasa geram dan kasihan pada Pungguh. Tidak menyangka akan kelakuan Srita. Perlahan dia mengusap-usap punggung Pungguh memberi kekuatan.
"Aku tidak bisa mengetahui di mana tepatnya lokasi mereka. Tapi aku bisa mengirim jampi-jampi supaya dia tergerak hatinya agar segera pulang. Aku akan bawakan air untuk kamu teteskan ke foto istrimu. Lalu kamu baca juga jampi-jampi yang aku tuliskan. Kamu lakukan nanti tepat pukul dua belas. Lalu kamu ulangi dua jam setelah itu. Besok Istrimu akan segera pulang" Mbah Garong memberi menjelaskan pada Pungguh.
Beberapa saat ruangan itu hening. Mbah Garong mengambil pena lalu menuliskan jampi-jampi dalam secarik kertas.
Mbah Garong memberikan kertas itu pada Pungguh.
"Sekarang kamu boleh pulang"
__ADS_1
Pungguh menerima kertas jampi-jampi yang diberikan padanya, lalu memasukkannya ke dalam kantong celananya. Dia berpamitan dengan wajah yang masih menyimpan rasa amarah dan kesal.
"Sabar yo Guh. Nanti tak kawani dirimu boco jampi-jampi untuk Srita. Memang kelewatan tenan Srita itu"