
"Kedua belah pihak silakan bertemu dulu di ruang mediasi. Sidang dilanjutkan Minggu depan" hakim mengetuk palunya ke meja.
Srita terduduk lemas. dia berharap sidangnya bisa segera putus tanpa mediasi. Sayang harapannya tidak dikabulkan oleh hakim. Mereka disuruh mediasi terlebih dulu. Diharapkan dari mediasi ada kesempatan untuk mereka bersatu kembali. Harapan hakim tak sama dengan harapan Srita.
Di sisi lain terlihat sebaliknya. Pungguh bernapas lega karena hakim masih memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukan mediasi. Dia masih berharap Srita mau merubah keputusannya untuk tidak melanjutkan perceraiannya.
Dari kejauhan Pungguh menatap Srita yang sampai saat ini masih berstatus istrinya. Lama Pungguh menatap istrinya. Sementara yang ditatap saat sempat melihat ke Pungguh segera melengoskan wajahnya. Dia segera bangkit menuju ke kursi yang ada di belakang. Lalu terduduk lemas disebelah Ainun.
"Ibu Srita dan bapak Pungguh, silakan masuk ke ruang mediasi" panggil petugas
"Aku ke sana dulu Nun "
"Ya..."
Mereka dipertemukan dalam sebuah ruangan yang ada dua orang petugas. Laki-laki dan seorang perempuan. Mereka disuruh duduk bersebelahan. Suasana hening menyelimuti ruangan tersebut.
Mula-mula mereka ditanya bergantian mengenai rumah tangga mereka. Srita lebih banyak berbicara dibandingkan Pungguh.
Banyak nasehat yang diberikan oleh petugas mediasi, namun bagi Srita hanya diterima lewat telinga kanan lalu keluar lagi lewat telinga kiri. Dia tetap kukuh untuk bercerai.
__ADS_1
Pungguh yang dihadapkan pada sikap Srita hanya bisa pasrah. Sepertinya tipis harapan Pungguh untuk mempertahankan rumah tangganya. Ketidak kemampuan Pungguh dalam membahagiakan versi Srita, menjadi alasan kuat untuk Srita menggugat cerai.
Petugas mediasi dalam menghadapi sikap Srita hanya bisa menyarankan pada Pungguh untuk bersabar dan berusaha. Barangkali menjelang sidang ke dua, Srita mengubah sikapnya dan mau menarik laporannya.
Setelah satu jam berada dalam ruangan mediasi, akhirnya mereka keluar. Sebelum sampai pintu Srita mendekati Pungguh.
"Pokoknya apapun yang terjadi aku tetap ingin bercerai Mas. Tolong jangan kamu persulit. Apa kamu tidak mau sedikit berkorban untuk aku agar aku hidup bahagia. Katanya kamu cinta aku. Kamu tunjukkan lah, pengorbanan terakhir mu"
Pungguh spontan berhenti dan memandang Srita dalam.
"Hatimu sudah benar-benar tertutup kah Srita?" tanya Pungguh.
"Jangan ditanya lagi mas. Sudah jelas. Tak perlu aku jelaskan lagi panjang lebar "
"Mas, jangan buat aku makin kecewa padamu. Aku ingin kita pisah baik-baik. Tolong kabulkan keinginan ku" Srita menatap lekat pada Pungguh.
"Baik untukmu tapi tak baik untukku dan untuk anak-anak kita" kata Pungguh ngeloyor pergi.
Srita hanya menatap punggung Pungguh yang berjalan menjauh. Dia melanjutkan langkahnya mendekati Ainun.
__ADS_1
"Ayo kita keluar Nun. Kita cari makan. Aku lapar, tadi pagi aku tk sempat sarapan" Srita mengajak Ainun keluar.
"Kamu sih tadi pagi terburu-buru berangkat saja" Ainun mengekor langkah Srita dari belakang.
"Apa hasil mediasi kalian?" tanya Ainun.
" Pokoknya aku tetap akan bercerai" jelas Srita.
Ainun hanya geleng-geleng kepala.
"Keputusan hakim membuatku makin lapar Nun. Yok lah cari makan yang dekat-dekat saja. Kalau bolak balik sidang banyak juga habis duit ya Nun. beli bensin. Makan lg" Srita bersungut-sungut sendiri
"Ya terserah kamu mau dilanjutkan atau tidak" Ainun merespon dengan asal.
"Tetep lanjut lah. Kan aku sudah ditunggu jandanya ha..haaa.... Nanti kalau aku sudah menikah lagi aku undang kamu Nun khusus untuk merayakan. Kalau aku sudah hidup senang, kapan-kapan aku bawa kamu ke rumah ku" Srita yang tadinya kesel mendadak bahagia saat membayangkan bisa segera menikah dengan yang lain.
"Ta, memangnya apa kerja pacarmu?" tanya Ainun
"Dia mandor Nun. Gajinya besar. Nggak pelit lagi sama aku. Pokoknya aku bakal bahagia menikah dengan dia" Srita menjawab sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Semoga kamu benar-benar bahagia sesuai keinginan mu. Jangan saja salah milih. Melepas yang sudah ada demi mendapatkan yang lain"
**