Cinta Tanpa Hati Srita

Cinta Tanpa Hati Srita
Hati Pungguh


__ADS_3

Siang ini Semua anggota keluarga yang dewasa berkumpul di ruang tamu. Setelah perseteruan antara Srita dan orang tuanya, suasana menjadi hening. Masing-masing memilih diam.


Srita memilih berdiam diri di kamar. Kedua orang tuanya duduk-duduk di ruang tamu. Ibunya Srita masih merasa lemah menerima kenyataan tentang anaknya. Simbah yang tak tahu harus berbuat apa memilih ke dapur menyiapkan masakan alakadarnya. Bagaimana pun besannya harus disuguhkan makanan. Simbah memasak dengan pikiran menerawang jauh.


Sementara itu Pungguh lebih memilih duduk menyendiri dibawa pohon jambu. Hati dan pikirannya panas. Istri yang dicari berhari-hari, yang dikhawatirkan kenapa-kenapa ternyata malah mengkhianati. Hatinya sakit sekali. Dia menyalakan rokok kembali. Ntah sudah lintingan yang ke berapa. Rokoknya dia isap dalam-dalam lalu asapnya dihembuskan asal sj. Menggambarkan betapa rusuh pikirannya sekarang.


Kedua Anak Srita yang masih kecil tak memahami permasalahan orang tuanya. Secil yang kangen dengan kakaknya sekarang sedang main berdua di samping rumah. Bagi ke dua anaknya itu bertemu saudaranya dan bermain bersama sangat menyenangkan. Apalagi Marsa yang selama ini kecarian ibunya sudah terobati karena ibunya sudah pulang. Mereka tidak mengetahui permasalahan besar sedang menimpa keluarganya.


"Guh...." tiba-tiba suara Simbah mengejutkan Pungguh " ini Simbah buatkan kopi pahit"


Setelah meletakkan kopi buatannya, Simbah ikut duduk dibawah pohon jambu.


" Menurut Simbah, aku harus bagaimana Mbah?" Pungguh bertanya tanpa menoleh


" Orang berkeluarga memang banyak persoalannya. Dari yang ringan sampai yang berat. Jika sukses melewati semuanya maka kebahagiaan akan kita peroleh" Simbah memberikan petuahnya.

__ADS_1


"Persoalan ini serius Mbah. Aku sampai sakit kepala memikirkannya"


"Le... Orang pemaaf itu mulia. Memaafkan juga bisa mencegah kerusakan. Jika kamu bisa memaafkan Srita maka rumah tanggamu bisa diselamatkan. Anak-anak mu tidak akan kehilangan salah satu orang tuanya. Apalagi anak Lanang mu, sekarang saja kelakuannya sudah susah diurus apalagi nanti saat tahu rumah tangga orang tuanya bubrah" panjang Simbah menasehati Pungguh.


" Simbah dengar sendiri, Srita yang mau pisah. Aku mungkin bisa memaafkan dan menerima dia kembali tapi dia yang tidak mau lagi melanjutkan rumah tangga ini" Pungguh termenung dalam.


" Kamu harus mencoba dulu Guh. Bicara baik-baik berdua. Mertuamu bisa jadi penengah saat nanti dibutuhkan" Simbah melanjutkan nasehatnya


"Aku masih teringat bayangan dalam air di baskom Mbah Garong " Dengan nada kesal Pungguh merespon nasehat orang tuanya.


"Susahnya aku menghilangkan bayang-bayang itu" Pungguh dengan sedikit kesal membuang puntung rokoknya


"Aku butuh sendiri Mbah. Aku hrs mengambil keputusan terbaik


"Nanti jangan lama-lama ya. Masuk rumah temani mertuamu makan. Ibu mertua mu

__ADS_1


masih kaget itu"


Pungguh diam sj.


"Aku memang miskin Mbah, tidak salah yang disampaikan Srita. Aku tidak bisa memenuhi semua keinginan dia"


"Guh, kamu jangan putus asa


yg menjadikan orang susah atau senang itu Gusti Allah. Kamu masih bisa bekerja, masih bisa menjadi kaya" Simbah kesel karena Pungguh mencoba menghilangkan peran Gusti Allah


"Udah masuk rumah sana. Temani mertuamu sarapan"


"ya Mbah" Pungguh menjawab lemah. Meskipun iya masih menyimpan rasa kesal


" jaga sikapmu le" Simbah mengkhawatirkan anaknya

__ADS_1


Pungguh berdiri sambil menarik napas panjang, lalu beranjak masuk.


__ADS_2