
"Hei, cepat sekali kamu ke sini lagi. Bukannya tadi kamu pulang lambat. Lho ini baju mu masih baju tadi. Kamu tidak mandi Truno?" Dodi teman sekolah Truno yang selalu standby di pangkalan nongkrong menegur Truno. Dia kaget Truno kembali secepat itu dan masih pakai baju yang dikenakannya tadi.
Truno yang ditanya temannya tidak menjawab. Dia menjatuhkan diri pada kursi yang menjadi tempat tongkrongan mereka.
"Kamu kenapa tho No, wajahmu butek banget?" Dodi bertanya pada temannya.
"Aku ribut sama bapak ku" Truno menjawab dengan ketus.
"Lha ngopo? ribut lagi, soal ibumu lagi?" Temannya sudah bisa menerka permasalahan yang sedang dialami Oleh Truno. Beberapa bulan belakangan ini Truno memang sering pergi dari rumah saat menghadapi permasalah orang tuanya.
"Kenapa sebanyak ini orang di dunia, aku yang menjadi salah satu korban keegoisan orang tua. Mengapa bukan ibu orang lain saja yang kabur dari rumah. Mengapa bukan mereka-mereka yang belum punya anak yang bercerai agar anak-anak tidak merasa susah" Truno menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan berat.
"Ntahlah No, terkadang memang ribet urusan orang tua. Aku juga tidak bisa memilih nasib yang terjadi padaku. Kamu tahu sendiri ibuku sudah meninggal saat aku SD. Waktu itu adikku masih kecil. Bapak ku kawin lagi. Istri baru bapakku tk mau kami tinggal bersama bapak. Bapakku nurut saja pada ibu tiriku. Kami dititipkan ke Bu Dhe. Bu Dhe ku judesnya luar biasa. Beginilah nasibku sekarang. Aku lebih memilih di luar rumah. Karena saat di luar aku terbebas dari omelan budeku yang pedes mengalahkan cabe rawit cangak"
"Nasib adikmu bagaimana?" tanya Truno penasaran. Dia teringat dengan Marsa adiknya. Ntah akan seperti apa nasib adiknya nanti.
"Sama saja. Setiap adikku menangis bude selalu membentak-bentak. Kalau pak Dhe sedang di rumah kami masih dapat pembelaan. Tapi pak Dhe ku jarang di rumah. Jadi ya begitulah, kami selalu dimarahi. Kalau urusan makan, kami harus menunggu Bu Dhe dan anak-anaknya selesai makan. Tapi aku masih bersyukur pak Dhe ku sangat sayang pada kami. Kami dilarang putus sekolah, meski Bu Dhe berkali-kali membujuk pak Dhe agar kami tidak usah sekolah lagi. Menghabiskan uang katanya"
"Miris sekali nasibmu, jangan-jangan aku juga bakal mengalami nasib seperti kamu" Truno menanggapi dengan membayangkan nasibnya.
"Ya tidak mungkin lah No. Orang Tuamu masih ada. Simbah mu juga masih ada"
"Iya, tapi mungkin saja kan bapakku juga menikah lagi, lalu seperti bapakmu yang dikuasai oleh istri barunya. Meskipun ibuku masih ada tapi dari sekarang saja dia sudah tidak peduli. Saat dia pergi, dia tidak menghiraukan Marsa menangis-nangis ingin ikut. Ibuku tetap tidak mau membawanya"
"Terus tadi kamu kelahi dengan bapakmu karena apa?"
__ADS_1
"Bapakku akan mengantar Marsa bertemu ibuku. Padahal jelas-jelas ibuku menolak mengajak Marsa. Aku sudah terlanjur kecewa pada ibuku. Jadi saat bapakku berencana akan mengantar Marsa menemui ibuku, aku menentangnya. Akhirnya bertengkar lah kami" jelas Truno
*
"Eh sudah ada Truno. cepet amat kamu sudah ada di sini. Kamu suntuk ya di rumah? Bagaimana kabar ibumu? Sudah dapat bapak baru, apa kumpul kebo dulu ha....ha...ha..."
Bugh!!! Bugh!!!! Bughhh!!
Tiba-tiba Truno memukul temannya. Temannya yang tidak menduga akan mendapat pukulan dari Truno terhuyung-huyung.
"Lancang mulutmu" kata Truno
Truno belum puas. Dia menarik kerah baju temannya lagi menendang perut temannya menggunakan lutut.
Truno yang sedang kesal karena permasalahan di rumah ditambah kesal akan ucapan temannya tidak menghiraukan teriakan Dodi. Dia masih juga memukuli Komar. Sementara Komar saat ada kesempatan membalas pukulan Truno. Situasi saling pukul terjadi cukup lama. Dodi tak kuasa melerai. Malah dia sempat mendapat pukulan nyasar dari Truno karena mencoba menghadang.
Dodi yang kesakitan akibat pukulan temannya meringis kesakitan. Dia terduduk sambil memegangi mukanya.
"Truno, Komar, Sudaaaahhh!!!" sekali lagi Dodi berteriak. Tapi teriakannya tidak digubris oleh kedua temannya. Baku hantam terus berlangsung.
Dodi kembali mencoba menarik salah satu dari mereka, tepat ketika pukulan Truno keras menghantam dagu Komar. Komar terjengkang dengan mulut berdarah. Kondisinya babak belur dihajar Truno. Kelihatan perkelahian tidak seimbang.
Dodi mencoba menahan Truno agar tidak lagi memukul Komar.
"Tuno, sudah. Komar sudah babak belur!" Dodi mengingatkan.
__ADS_1
Truno hanya memandang temannya yang barusan menjadi lawan duelnya.
"Hati-hati mulut mu kalau bicara. Sekali lagi kamu ulangi, habis kamu!" Truno menunjuk ke muka Komar.
"Dasar anak tukang selingkuh, memang kenyataan ibu kumpul kebo" Komar masih punya nyali untuk bicara.
Mendengar Komar masih juga menghinanya, Truno maju kembali untuk memberi pukulan pada Komar tapi Dedi menarik tangannya.
"Sudah Truno! jangan kamu hajar dia lagi. Kalau dia melapor ke orang tuanya, bisa bahaya kamu" nasehat Dedi
Mendengar kata-kata Dedi, Truno mengurungkan niatnya.
"Apa! Kamu takut ku adukan ke orang tua ku?" Komar malah mengejek dan memanas-manasi.
"Kurang ajar kamu!" Truno menghampiri Komar dan menendang badannya dengan sekuat tenaga "Kamu rasakan ini"
Truno menduduki badan Komar lalu bertubi-tubi memukuli muka Komar.
"Truno!!!! Ingat bapaknya bisa memenjarakan mu!" sekuat tenaga Dodi menarik Truno. "Komar! kamu jangan memancing amarahnya lagi. Sebaiknya kamu pulang saja. Habis kamu nanti dihajar Truno kalau masih di sini"
"Kamu lihat saja nanti Truno. Aku tak akan mendiamkan masalah ini. Kamu tunggu saja" Komar mengancam Truno sambil mencoba bangkit dan beranjak pergi.
"Apa! kamu mau mengadu ke orang tuamu? ngadu sana, aku tidak takut. Cemen kamu!" Truno membalas ancaman Komar.
Sepeninggal Komar, Truno dan Dodi hanya saling diam. Truno diam membisu, mencoba meredakan amarahnya. Sementara Dodi hanya memandang Truno dengan kesal. Dia sudah bisa menduga pasti orang tua Komar tidak terima anaknya dipukuli.
__ADS_1