
Tiga hari telah terlewati pasca Srita mendaftarkan perceraian. Dia menunggu-nunggu surat panggilan untuk sidang pertamanya.
Siang ini dia sedang menemani anak tertuanya yang baru pulang sekolah untuk makan.
"Le...." panggil Srita pada anaknya
"hmmm...."Truno menjawab panggilan ibunya hanya dengan bergumam.
"sejak ibu pulang kamu kok sampai sekarang seperti menjaga jarak dengan ibu. Kamu masih marah sama Ibu ya le?" Srita mencoba bertanya pelan.
Truno memandang ibunya dengan tajam.
"Awalnya aku senang ibu pulang. Tapi ketika aku tahu ini ke mana selama kabur dari rumah, aku malu punya ibu seperti ibu. Ibu macam perempuan tidak bermoral! Satu kampung tahu semua bagaimana kelakuan ibu!"
Srita tertegun mendengar kata-kata Truno yang terdengar kasar.
"Kamu ngomong apa ke ibumu?" Srita bertanya kesal
"Aku rasa ibu dengar apa yg aku omongkan" Truno tk mau mengulangi kata-katanya. Baginya ibunya cukup jelas untuk mendengar.
__ADS_1
"Bu, banyak orang membicarakan ibu. Bahkan berani bertanya padaku, ke mana ibumu kemaren? Kenapa ibumu pergi dari rumah? Opo bener ibumu kabur sama laki-laki lain? Aku malu bu! sekarang ibu bertanya apakah aku marah??? Iya, aku marah! aku benci ibu! teman-temanku mengolok-olok aku. Puas ibu? Puas? Puas membuat aku malu?" berapi-api Truno menyampaikan kata-katanya.
"Kamu tidak mengerti apa yang ibu rasakan. Nanti kalau kamu dewasa akan mengerti" Srita mencoba memberikan pengertian.
"Aku sudah dewasa bu! Aku sudah bukan anak kecil lagi" ketus Truno mengeluarkan kata-katanya.
"Baik kalau begitu. Sekalian ibu mau memberi tahu bahwa ibu dan bapakmu mau bercerai"
Truno menghentikan makannya. Matanya terbelalak seakan tidak percaya apa yang disampaikan oleh ibunya.
" Bagus Bu, setelah kabur dari rumah, lalu selingkuh, sekarang bercerai" Truno menghempaskan piring makannya.
"Aku makin kecewa pada ibu" Truno meninggalkan makannya yang belum selesai
"Mau ke mana aku apa ibu peduli, ibu urus saja urusan ibu" tanpa memperdulikan ibunya Truno keluar dari pintu samping. Langkahnya panjang-panjang. Hatinya teramat kesal pada ibunya. Orang yang seharusnya mengurus dan memperdulikannya seakan-akan tidak sedikitpun memikirkan perasaannya.
Truno yang selama ini lebih banyak di luar rumah, sekarang semakin punya alasan untuk tidak berlama-lama di rumah. Keadaan rumah sekarang semakin membuatnya tidak nyaman.
Sambil melangkahkan kaki, Truno belum punya tujuan mau ke mana. Padahal dia baru saja pulang sekolah. Teman-teman sekolahnya pasti belum ada yang ngumpul di tempat tongkrongan. Selama ini mereka ngumpul setelah hari mulai sore. Sambil duduk-duduk mereka biasanya balapan motor atau sekedar mengendarai dengan cara jumping atau menguji keterampilan mengendarai motor dengan berbagai gaya.
__ADS_1
Truno memang tidak punya motor karena sudah beberapa kali minta ke bapaknya belum juga dibelikan. Tapi dia telah pandai mengendarai motor. Dia belajar dengan temannya yang telah memiliki motor sendiri. Dia juga telah pandai jumping di jalanan. Terkadang saat berboncengan dengan temannya dia juga melakukan jumping.
Kaki Truno terus melangkah. Tak terasa dia sampai tak jauh dari rumah pak dhe nya. Akhirnya dia memutuskan ke rumah pak dhe nya.
Tanpa memanggil atau masuk rumah, dia langsung menuju teras belakang rumah pak dhe nya. Dia menghempaskan badannya di kursi belakang. Tak tahu mesti ngapain dia membaringkan badannya pada kursi panjang yang ada di sana.
Mungkin keluarga pak Dhe nya sedang istirahat siang di dalam. Terdengar suara TV tp tk ada suara orang.
Truno memejamkan matanya. Lelah pulang sekolah akhirnya terasa. Untung tadi sempat makan beberapa suap jadi tk terasa lapar kali perutnya. Lama-lama terdengar dengkur halus. Dia tertidur.
Baru sebentar Truno memejamkan mata terasa ada yang menggoyang-goyangkan badannya.
"Le, le, ngopo turu neng kene?" rupanya pak Dhe nya yang membangunkannya.
" Pak Dhe...., iya aku ngantuk tadi. Sepertinya pak Dhe sedang istirahat jadi aku baring saja di sini" Truno menjelaskan
" iya tapi kenapa di sini, nggak di rumah mu. Malah dibelakang sini?" tanya pak Dhe
"Aku sedang kelahi dengan ibuku tadi. Jadi aku keluar tapi tidak tahu mau kemana siang-siang begini"
__ADS_1
"Sana tidur di dalam. Makan dulu kalau belum makan" pak Dhe menyuruh Truno masuk rumah
"Ya pak Dhe" Truno yang memang masih ngantuk masuk rumah. Rasa ngantuk nya lebih besar daripada rasa laparnya.