
"Srita!!!!!"
Suara cukup keras menyambut saat Srita baru saja belok ke arah rumahnya. Rupanya itu suara Simbah yang kaget melihat Srita datang. Dia sedang menyapu halaman ketika melihat motor belok ke rumahnya dan ternyata itu Srita.
Simbah bergegas mendekati Srita sambil meletakkan begitu saja sapu yang tadi dia pakai. Dia meraih cucunya dan memindahkan dalam gendongannya. Secil diciumi berulang-ulang.
"Oalah nduk, kamu ke mana saja? Simbah kebingungan mencari-cari, khawatir kamu kenapa-kenapa."
Pungguh yang ada di dalam rumah, mendengar suara Simbah menyebut nama Srita bergegas keluar. Matanya seakan tak percaya melihat Srita ada di depannya.
"Srita!" hati dan pikiran Pungguh berkecamuk. Dia ingat jampi-jampi yang diberikan oleh Mbah Garong.
Ternyata benar-benar manjur jampi-jampi dari Mbah Garong kemarin. Akhirnya Srita pulang.
Tapi seketika wajah Pungguh berubah menunjukkan emosi saat dia ingat gambar Srita yang sedang pelukan dengan laki-laki lain dia lihat di baskom yang ada di rumah Mbah Garong.
"Srita!" sekali lagi Pungguh meneriakkan nama Srita. Dia melangkah mendekati Srita.
Srita yang mendengar suara tinggi Pungguh terkesiap.
"Kamu dari mana saja. Istri kurang aj*r. Ke mana kamu selama ini? Siapa laki-laki yang bersamamu?"
Srita terkejut mendengar kata-kata Pungguh.
Dari mana mas Pungguh tahu kalau aku bersama laki-laki lain.
"Apa maksud mu mas? Laki-laki mana? Aku ke rumah temanku" Srita berusaha mengelak dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Pungguh mengikutinya dari belakang.
"Srita, kamu jelaskan kamu ke mana!, dan siapa laki-laki yang bersamamu?" Suara pungguh makin keras.
"Laki-laki mana, kamu jangan mengada-ada " Srita masih berusaha mengelak.
"Kamu jangan membohongi aku Srita. Aku melihat dirimu dalam terawangan Mbah Garong. Kamu sedang berpelukan dengan laki-laki lain!" masih dengan suara keras Pungguh mencecar Srita.
Srita terkejut spontan membalikkan badan menatap Pungguh.
"Jadi kamu sudah tahu mas? Bagus lah aku tk perlu menjelaskan lagi"
"Jadi kamu benar-benar bersama laki-laki lain? Kamu selingkuh Srita!"
"Iya, aku sudah tidak kuat bersamamu mas. Aku memilih pergi. Segera ceraikan aku mas"
"Ngomong apa kamu Srita!" Pungguh membentak Srita
"Ceraikan aku mas!" Dengan jelas Srita berkata.
"Kamu sudah tidak waras Srita. Berhari-hari kamu pergi meninggalkan keluargamu membuat semua orang bingung lalu kamu pulang tiba-tiba ngomong ngawur kamu!"
" Aku serius mas. Aku sudah menemukan orang yang bisa membahagiakan ku. Aku bosan hidup susah mas. Aku capek. Ceraikan aku"
Plakkk tangan Pungguh spontan melayang ke muka Srita
"Kamu menamparku mas??? Bagus!, semakin aku jadikan alasan untuk minta cerai dari mu. Ayo tampar lagi, tampar lagi!!!" Srita memajukan badannya ke depan Pungguh.
"Kamu sudah tidak waras Srita! Kamu sudah punya anak 3. Kamu tidak pikir bagaimana dengan anak-anak kamu!"
"Mereka anakmu juga mas, menjadi tanggung jawab kamu"
"Kamu tidak boleh sesuka kamu Srita"
"Apa, kenapa ? Apa aku tidak boleh bahagia? " Srita bicara sambil melangkah ke dapur
"Tapi kamu menyakiti aku, menyakiti anak-anak mu!"
"Kamu tidak sadar mas. Aku hidup susah selama bersama kamu. Jadi biarkan aku mencari kebahagiaan ku. Aku mau cerai!"
"Srita!"
Gubrak!!!!
__ADS_1
Dingklik kecil melayang membentur dinding ditendang oleh Pungguh. Simbah tergopoh-gopoh masuk rumah. sebelumnya dia hanya mendengarkan percekcokan anak dan menantunya dari luar rumah.
Srita terkejut melihat dingklik kecil melayang dan menimbulkan suara sangat keras.
"Aku capek mas, aku mau istirahat"
"Kita belum selesai bicara Srita! Nanti orang tua kamu akan datang ke sini"
"Diurus nanti saja mas. Aku mau istirahat dl"
Pungguh menjambak rambutnya. Dia keluar rumah sambil membanting pintu dapur. Simbah terkejut, sementara Secil seketika menangis. Anak itu kaget dan merasa takut. Dia mengeratkan pelukannya pada badan Simbah.
Srita membaringkan badannya pada kasur kapuk tipis yang sudah dimakan usia. Dia menarik napas berat.
Ternyata mas Pungguh pergi ke dukun untuk mencari ku. Tapi bagus juga. Aku tak perlu menjelaskan.
Kenapa orang tua ku juga ke sini. Berarti mas Pungguh mencari ku sampai ke sana. Tak apalah, jadi sekalian semuanya tahu meski orang tuaku pasti tidak setuju jika aku cerai.
"Srita...." terdengar suara Simbah memanggil dari luar kamar.
Srita bangkit dan duduk. Simbah masuk ke kamar sambil masih tetap menggendong secil.
"Nduk, Simbah mau tanya, sebetulnya kamu kemana selama ini? Semua orang khawatir mencari mu"
"Aku ke rumah temanku Mbah"
"Tapi kata Pungguh dia melihat kamu bersama laki-laki lain. Opo benar nduk?"
Srita menarik napas panjang lalu memandang Simbah.
" Bener Mbah, sekalian aku pulang mau minta cerai dari mas Pungguh "
"Opo!!! Kamu opo tidak memikirkan anak-anakmu, orang tuamu? Kenapa tho nduk?"
"Aku capek hidup susah Mbah. Sekarang aku menemukan laki-laki lain yang lebih dari mas Pungguh. Dia bisa membahagiakan ku, bisa mencukupi kebutuhan ku. Lalu kenapa aku tak boleh Mbah. Apa aku tidak berhak bahagia"
"Ndok, meskipun hidup kita kekurangan, tapi jika kita bersyukur, terus berusaha, insyaAllah ada saja rezeki untuk kita"
"Tapi ndok mas mu itu sangat menyayangimu"
"Sayang saja tidak cukup Mbah, sayang saja tidak bisa memenuhi kebutuhan. Rasa sayang tidak bisa dipakai untuk bayar hutang, tidak bisa dipakai untuk beli kebutuhan sekolah anak-anak"
Saat Srita dan Simbah sedang adu bicara, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Mereka menghentikan pembicaraan.
Simbah berjalan keluar melihat siapa yang datang. Dia membuka pintu dan kaget saat melihat ternyata besannya yang datang.
"Bagaimana kabare Srita, Mbah?" tanpa salam ibunya Srita langsung menanyakan perihal anaknya. Dia langsung mengambil alih Secil yang ada dalam gendongan Simbah.
"Srita baru saja pulang bu"
"Oalah cucuku.... Kemana kamu dibawa ibumu?"
Secil yang dari tadi hanya diam saja akhirnya bicara.
"Ke rumah teman ibu, eyang"
"Di mana rumah teman ibumu"
"Jauuuh, naik mobi. Secil dibelikan mainan"
"Siapa teman ibumu?"
"teman ibu, Bapak yang belikan aku mainan"
"Opo!!! Opo maksudnya bapak?"
Secil kaget melihat eyangnya kaget.
"Dimana Srita, mbah?" Bapaknya Srita yang tadi diam saja setelah meletakkan motornya mulai bicara
"Di dalam kamar, Monggo masuk"
__ADS_1
"Srita, Srita!" Ibunya Srita masuk terburu-buru. Dia sudah tahu letak kamar Srita.
"Ibu!" Srita menyapa ibunya yang tiba-tiba muncul di kamarnya
"Kamu ke mana saja tho nduk. Ibu khawatir saat suamimu mencari dan mengabari ibu bahwa kamu pergi tidak pulang-pulang " Bu Samiah memeluk anaknya.
"Aku ke rumah temanku Bu"
"Temanmu yang mana, kenapa tak memberi tahu suamimu kalau mau pergi. Semua kebingungan lho Srita " ucap Bu Samiah sambil mengelus pundak Srita. Dia duduk di pinggir tempat tidur.
Sementara itu setelah bapak Srita masuk rumah, dia juga ikut masuk ke kamar Srita.
"Suamimu mana?"
"Aku tidak tahu. Tadi keluar rumah"
Bapak Srita keluar dari kamar " Pungguh ke mana Mbah?"
"Mungkin di samping rumah" Simbah yang dari tadi berdiri di luar kamar langsung menuju ke belakang
"Guh, temui mertuamu dulu"
"Aku harus bilang apa Mbah? Srita pulang-pulang malah minta cerai. Aku sekarang sedang emosi Mbah"
"Jelaskan saja kejadiannya le. Baru nanti kita bicarakan. Rembug"
Mendengar kata-kata orang tuanya, akhirnya Pungguh masuk ke rumah. Setelah menyalami dia mempersilakan bapak mertuanya duduk.
"Bu, bawa ke sini Srita!" Bapak mertua Srita memerintahkan istrinya agar membawa Srita keluar.
Setelah semuanya duduk Bapak Srita mulai bicara.
"Kamu ke mana ndok selama beberapa hari ini? Ibu, bapak, anak, dan suamimu semua mengkhawatirkan mu"
"Aku ke rumah temanku, pak"
"Teman laki-laki tepatnya!" Pungguh menyela dengan ketus
"Maksudmu opo Guh?"
"Srita selingkuh pak!"
"Kamu jangan asal bicara Guh, menuduh yang tidak-tidak "
"Aku punya saksi pak. Aku awalnya ke tempat Mbah Garong untuk mengetahui di mana Srita tapi yang aku lihat malah dia sedang bermesraan dengan laki-laki lain. Sedang berpelukan. Selain Mbah Garong, sepupuku jadi saksinya!"
Bapak dan ibu Srita kompak memandang Srita dengan perasaan kaget.
"Opo benar itu Srita?" suara bapak Srita mulai meninggi.
Srita yang ditanya hanya diam
"Nduk opo benar yang dibilang suamimu?" Bu Samiah ikut bertanya.
"Jawab Srita! Sampaikan ke orang tuamu dengan jujur!" Pungguh ikut mendesak Srita agar bicara
"Benar pak" suara Srita hanya pelan. Tapi cukup membuat kaget kedua orang tuanya.
Ibu Srita terkulai di tempat tapi masih sadar.
"Kamu!!!" Suara bapak Srita terputus. Terlihat jika orang tua itu shock.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengan laki-laki itu Srita??!!!. Berhari-hari kamu pergi dari rumah! Kamu sudah bersuami. Kurang didikan apa kamu Srita?!"
"Pak, aku tidak bahagia dengan mas Pungguh. Aku sudah tidak mau lagi hidup susah. Aku menemukan laki-laki lain yang bisa membahagiakan ku. Aku ingin bahagia pak!"
"Kurang ajar kamu Srita! Bapak ibumu tidak ada mengajarkan tidak bersyukur. Pungguh itu suami yang rajin. Rezekinya saja yang belum baik"
"Kapan pak, kapan rezekinya baik? Pokoknya aku mau cerai pak!"
"Danc*k!!!" bapak Srita berdiri sambil mengumpat.
__ADS_1
Pungguh yang sebelumnya lebih dulu merasa marah dan kesal pada Srita hanya bisa menyaksikan perseteruan di depannya, sementara Simbah sudah dari tadi mengusap-usap air matanya .