
Hahh!! Srita kaget mendengar hpnya berbunyi.
Waduh! Kenapa Bu RT nelpon. Angkat tidak ya. Srita terpaku. Sampai dering terakhir Srita belum juga mengangkat panggilan. Hpnya berbunyi lagi berulang-ulang.
"Sayang, hpmu bunyi kenapa tak diangkat-angkat!" Bagito teriak.
"Iya.."
"Siapa yang nelpon?" Bagito muncul dari belakang.
"Bukan siapa-siapa. Nomor baru" Diam-diam Srita mematikan hpnya.
Kalau aku aktifkan hp ku pasti ditelpon-telpon terus. Mending aku matikan saja. Ada apa sih Bu RT menelpon ku. Apa ada pekerjaan untukku. Ah, biar sajalah. Kalau aku angkat malah nanti ada yang tahu aku di mana.
"Mas aku mau istirahat. Aku numpang di kamarmu ya"
"Srita, apa kita tidak tidur bersama? Aku kangen" Bagito mendekati Srita memberikan kode lewat matanya.
"Nakal kamu mas" Srita mencubit pinggang Bagito
"Nakal tapi kamu ngarep kan?" Bagito mencolek dagu Srita.
"Jangan ganggu aku dulu, tunggu anakku tidur"
"Oke sayang. Jangan lama-lama ya"
"Nak, ayo tidur dulu. Sudah malam" Srita mengajak anaknya tidur
"Apa kita tidak pulang bu?"
"Kan kita nginap di sini dulu beberapa hari.
Ibu buatin susu ya"
Secil mengangguk.
*
Sheet.... Sheet...
Srita menoleh ke pintu di mana Bagito berdiri. Dia memberi kode telunjuk di mulutnya, lalu bangkit keluar dari kamar.
Dengan tak sabar Bagito memeluk Srita, menci*mi lehernya. ******* bib*r Srita dengan rakus. Srita yang mendapat serangan dari Bagito membalas dengan lihai.
Malam itu menjadi malam mereka berdua. Ruang tamu menjadi saksinya. Srita tk ingat dengan anak dan suami yang ditinggalkannya. Dia tidak memikirkan bagaimana suami mengkhawatirkannya.
Mereka melempar baju ke sembarang tempat. Melanjutkan aksinya hingga pagi menjelang.
**
"Bu... bu.... ibu... " terdengar suara Secil memanggil ibunya.
Srita terbangun, matanya masih terasa berat. Rupanya hari sudah pagi dan anaknya terbangun. Dia bergegas memunguti bajunya dan memakai dengan asal saja.
"Mas, mas, pakai bajumu. Anakku sudah bangun !" Srita menggoyang-goyangkan badan Bagito, membangunkan.
"hahh, apa?"
"Pakai bajumu!"
Srita melangkah ke kamar.
"Eh... Anak ibu yang pintar sudah bangun. Nyenyak bobok nya?"
Secil tak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Bu, kapan kita pulang?"
"Nanti sayang kalau urusan ibu dengan teman ibu sudah selesai. Secil pinter, kan? Nanti main lagi dengan mainan yang kemarin ya"
"ya..."
"mau susu?"
"mauuu"
Srita mengelus rambut anaknya lalu beranjak keluar.
Di luar Srita berpapasan dengan Bagito yang baru keluar dari kamar mandi. "Aku suka yang tadi malam" Bagito membisikkan di telinga Srita.
"kamu ya...." Srita tersipu malu.
"Kamu juga suka kan, hee... hee. Nanti lagi ya"
" Apa sih kamu mas"
" Lho kamu jauh-jauh menemui ku, masa' tidak aku servis. Terus aku jg sudah lama menunggu mu masa' tidak kamu kasih hadiah"
"iya, iya" Srita melangkah kembali ke kamar memberikan susu ke anaknya.
"Srita, itu di lemari ada indom**. Kamu masak saja. Setelah ini aku pergi kerja dulu ya. Nanti siang tak belikan nasi saja. Kamu jangan keluar rumah dulu"
"Tapi mas kalau ada yang datang bagaimana?"
"Seperti yang aku bilang kemaren. Kamu bilang saja kamu itu sepupuku"
"Ya mas"
"Aku berangkat kerja dulu, ya . Kamu jangan ke mana-mana ya sayang. Mau cium tanganku nggak? he... he... Atau cium bib*r ku ?"
"Kamu tu ya mas" Srita melengos kan muka
"Yaaaaa, udah sana pergi. Cari duit yang banyak biar aku makin mencintaimu. Eh mas, tinggalin aku duit dong"
"Kamu mata duitan Srita" Bagito ngedumel tapi tetap mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu sambil melangkah.
"Kalau aku tidak mata duitan, aku tak meninggalkan suamiku mas" pelan Srita menjawab.
Setelah menutup pintu Srita menjatuhkan dirinya ke kursi .
Apa kira-kira yang terjadi di rumah. Apakah suamiku sibuk mencari? Apakah Marsa menangis? Ah biarkan saja. Aku bosan hidup Susah. lagipula mending aku dengan mas Bagito. Punya kerja bagus, Perhatian lagi. Aku pasti bahagia.
Maafkan aku mas. Coba kamu punya pekerjaan yang bagus dan punya gaji banyak. Aku pasti tetap memilihmu. Salahmu juga tak perhatian padaku. Memangnya hidup cukup dengan cinta. Cinta ku tanpa hati. Cintaku pakai uang.
Ha...ha... Haaa... Srita tertawa dalam hati.
Aku ngapain ya sambil menunggu mas Bagito pulang. Oh iya, ada apa semalam bu RT menelpon ku.
Srita beranjak mengambil hpnya.
"Secil sini, kamu mainan saja dulu. Nanti baru ibu mandikan ya"
Secil berjalan sambil menggigit botol susunya.
"Sini duduk sini"
Sambil rebahan Srita menghidupkan dan mengecek hpnya. Terlihat banyak panggilan tak terjawab tadi malam. Ada pesan juga dari nomor Bu RT "Srita kamu di mana. Suamimu mencari"
Srita mengabaikan pesan itu. Tanpa menjawab langsung menghapusnya.
Biarkan saja. Kalau aku jawab, mereka bakal tahu aku di mana. Jangan-jangan suamiku bakal menjemput ku. Ogah aku kembali ke dia. Kalaupun aku pulang, aku akan mengurus cerai denganmu.
__ADS_1
Srita beranjak ke dapur mencari indom*e yang dibilang oleh Bagito tadi. Selesai memasak dia memberi sebagian untuk anaknya.
"Bu nanti beli jajan ya"
"jajan?"
Secil mengangguk-angguk sambil membulatkan matanya lucu.
"Nanti ya, sekarang makan dulu. Setelah ini mandi"
Srita membiarkan anaknya makan sendiri. Sebagian berserakan di lantai karena tidak tepat masuk ke mulutnya.
Setelah sekian lama....
"Bu, sudah" dia menyodorkan piringnya.
"Ya, ya tunggu sebentar"
"Kapan kita jajan? Ayo bu beli jajan"
"Secil, yang nurut dengan ibu. Kita mandi dulu!"
Anak itu tertunduk mendengar suara ibunya yang tinggi.
"Kamu kalau tidak nurut dengan ibu, kamu ibu tinggal dengan bapakmu, mau?"
Secil menggeleng lemah.
"Kita mandi dulu. Setelah ini baru ibu cari warung. Lagipula tadi om Bagito sudah pesan agar ibu tidak keluar rumah. Kamu itu, jajan, jajan terus. Kamu pikir ibu banyak uang. Bapakmu itu tak ada memberi ibu uang"
Srita menarik anaknya ke kamar mandi. Sementara Secil melangkah dalam diam.
***
Sambil menggendong anaknya, Srita membuka pintu. Melongok keluar.
Di mana kira-kira ada warung. Semalam dari arah aku datang tak ada nampak warung. Coba aku jalan ke arah sana saja.
Setelah kira-kira 100 meter dia menemukan warung kecil. Ada beberapa orang yang sedang belanja.
"Cari apa mbak?" pemilik warung menyapa
"Cari jajanan bu"
"Oh ya, silakan dilihat-lihat"
"Mbaknya orang mana? Kok saya baru lihat" pemilik warung bertanya kembali
"Iya sayapun baru lihat" Ibu muda yang ada di warung menimpali
"Saya sepupu mas Bagito bu, baru datang dari kampung"
"O... sepupu Bagito"
"Sama suaminya ke sini?" tanya ibu warung
"Bu ini sudah jajannya, Berapa?" Srita tidak menjawab dan buru-buru membayar belanjaannya.
" Semua lima belas ribu"
Setelah membayar, Srita buru-buru pergi.
Dasar ibu-ibu, mau tahu saja.
"Lah, ditanya nggak dijawab. Buru-saja. Mencurigakan" Ibu-ibu di warung mulai menggosip.
__ADS_1
"Iya bener" ibu yang lain menimpali.
"Sudah-sudah jangan menggosip. Ayo cepat dibayar. Jangan ngutang terus. Bisa bangkrut aku kalau ibu-ibu ngutang terus ha...ha..." Pemilik warung memutus pembicaraan ibu-ibu yang hobi menggosip. Meskipun ibu-ibu di sana rajin ngutang tapi dia masih bisa tertawa.